Highschool Wife

Highschool Wife
Aku juga berhak marah



Rasa kesal Firli sudah tak bisa lagi terukur. Ia masih berjalan di atas rumput hijau


sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal. Sementara di depan sana Andrean sedang tertawa bersama Helen. Firli merasa seperti bayangan yang terlihat tetapi tak dianggap. Sepertinya langit pun mendukung Firli hari ini karena matahari bersinar sangat terik di atas sana. Sayangnya kedua manusia itu tidak menyerah untuk tetap berjalan menikmati udara hari ini. Firli menggeleng-gelengkan kepala, napasnya sudah naik-turun secara cepat.


“Kamu ingat kejadian Evelyn?” tanya Helen sambil berjalan mundur di depan Andrean dengan centilnya. Andrean mengangguk.


“Tentu saja aku ingat, ia nekat manjat pagar sekolah pria hanya untuk memberikan surat cinta. Anak itu memang benar-benar sudah gila,” komentar Andrean.


“Kau lebih gila lagi karena meladeni suratnya. Aku pikir kau suka padanya waktu itu. Jika saja surat terakhir kau balas dengan penolakan,” celetuk Helen membuat keduanya tertawa. “Kau memang hebat!” Helen menepuk pundak Andrean. Ia masih berjalan mundur sambil sesekali tersenyum centil.


Firli sangat berharap ada batu besar di belakangnya hingga ia terjungkal ke belakang. Tangan Firli memetik beberapa daun teh-tehan kemudian memerasnya dengan kuat menggunakan tangan. Doa Firli terkabulkan karena setelah itu Helen benar-benar tersandung. Hampir saja Firli akan berjingkrak tanda senang, sayangnya Andrean malah menolongnya dengan meraih pinggang Helen. Sungguh posisi yang pas seperti adegan dalam drama Korea. Firli melempar daun yang sudah ia remas sambil menghentakkan kakinya.


Andrean membantu Helen berdiri. Gadis itu tersenyum. “Terima kasih Rean. Jika kau tidak menolongku, tak tahu apa yang akan terjadi barusan,” ucap Helen. Andrean mengangguk. Keduanya terus berjalan menyusuri jalan setapak di taman belakang paviliun Firli dan Andrean. “Wah! Kolamnya!” teriak Helen sambil menarik tangan Andrean ke sisi kolam.


Hati Firli semakin terbakan melihat tangan kedua manusia itu saling bersentuhan dan Andrean sedikitpun tak berusaha untuk melepaskannya. Dasar pelakor! Firli mengumpat dalam hatinya. Ia hanya melihat dari kejauhan karena Helen terus berusaha menjauhkan Andrean dari dirinya. “Ingat tidak waktu kita kecil kamu pernah jatuh ke kolam itu sampai kotor pakaianmu?” tanya Helen seolah hanya dia yang memiliki kenangan masa kecil dengan Andrean. Firli mengangkat salah satu sudut bibirnya. Jika saja kutukan itu ada, Firli ingin mengutuk gadis itu menjadi ulat bulu.


“Tentu aku ingat. Kemudian kau malah tertawa melihat semua itu, kan? Kau juga terus meledekku agar aku menangis,” balas Andrean.


Helen tertawa. “Aku senang melihatmu menangis karena itu sangat lucu tapi kau jarang sekali menangis. Kau malah tertawa saat itu dan marah saat beberapa pelayan memaksamu keluar dari kolam,” sambung Helen.


Tak ada kalimat lain yang Andrean katakan. Ia hanya memandangt lurus ke arah kolam. Kemudian ia mengambil batu dan melemparnya ke sana. “Kita sangat dekat saat itu hingga para pelayanmu bilang jika kita sangat cocok menjadi pasangan. Bahkan pelayan di rumahku pun mengatakan hal yang sama,” Helen lagi-lagi mengeluarkan kalimat yang membuat amarah Firli terpancing.


“Itukan hanya pendapat orang lain,” bantah Andrean. Firli tersenyum puas.


Helen melingkarkan lengannya di lengan Andrean. “Kau tahu sejak kecil aku ingin menikah denganmu. Aku pikir kau akan menjadi suami yang sempurna. Lagipula selama di London, kau yang paling baik padaku,” Helen tetap pada pendiriannya. Tangan Firli sudah mengepal, ia sudah pada setegah tingkat menuju ledakan besar.


“Aku baik padamu karena kau menyenangkan,” ungkap Andrean.


“Benarkah? Pantas saja kau hanya mengajakku saat kita kabur ke Harrods saat liburan itu. Aku masih ingat kau membelikanku sebuah tas mahal. Kau bilang tas itu sangat cantik jika aku kenakan. Namun aku tak mengenakannya,” timpal Helen.


Helen memutar bola matanya. Ia mulai kesal karena Andrean sangat tidak peka. Kemudian ia lingkarkan lengannya di leher Andrean. “Karena benda pemberianmu sangat berharga dan aku ingin menjaganya,” ucapnya. Kaki Firli sudah maju satu langkah. Andrean melepas pelukan Helen di lehernya. “Kau juga bilang jika aku wanita tercantik yang pernah kau lihat,” Helen semakin membakar perasaan Firli yang mendengarnya.


“Dia bahkan bilang wanita centil itu cantik?” gumam Firli. Kali ini kekesalahnnya bukan hanya untuk wanita itu tapi juga untuk Andrean. Laki-laki itu bahkan berbohong tentang wanita lain pada Firli. Tak pernah ada tapi buktinya makhluk itu kini ada di sini.


Helen tersenyum. Ia meletakkan tangannya di bahu Andrean kemudian wajahnya mendekat ke arah telinga pria itu. “Aku akan menunggumu meninggalkan wanita itu dan kembali padaku,” bisiknya. Firli tak mendengar hal itu tapi melihat wajah keduanya sangat dekat membuat Firli semakin emosi. Helen menjauhkan wajahnya.


“Helen tolonglah, jaga sikapmu! Banyak orang melihat dan itu tidak baik,” nasehat Andrean.


Helen sepertinya tidak peduli. Ia hanya berbalik dan menatap lurus ke arah kolam. “Salahmu sendiri kenapa tidak memberikanku kesempatan. Sehingga aku mencarinya sendiri,” tegasnya. Ia sudah berdiri dengan posisi sempurna di pinggir kolam. Dari belakang terlihat sangat menggoda jika saja Firli tak menendang bokongnya dan membuatnya tercebur ke kolam. Firli tertawa puas sementara Andrean tertegun melihat semua itu. Ia sama sekali tak menyangka istrinya bisa melakukan hal yang senekat itu.


“Kau!” Helen bangkit dan menunjuk Firli dengan tatapan marah. Tubuhnya sudah penuh lumpur kolam. Untung saja itu tak terlalu dalam. Andrean sempat ingin menolong Helen tapi Firli langsung menghalanginya.


“Perempuan kotor sepertimu yang menggoda suami orang memang patut diperlakukan seperti itu!” ledek Firli.


Andrean memegang bahu Firli. Ia menatap istrinya dengan tajam. “Lady, kembali ke kamar!” titah Andrean. Firli menggeleng. “Aku bilang kembali ke kamar sekarang juga! Aku suamimu dan sebaiknya kau menurut!” suara Andrean begitu keras membentak Firli hingga gadis itu tercengan. Andrean memanggil beberapa pelayan yang mengikuti mereka dari kejauhan.


“Bantu Nona Helan dan beberapa antar Lady ke kamarnya!” titahnya. Pelayan-pelayan itu mengangguk. Sebagian langsung menolong Helen dan sebagian lagi mengajak Firli kembali ke paviliun. Namun gadis itu tak terima. Ia tangkas semua tangan yang coba meraihnya kemudian menatap Andrean dan berbalik lalu berlari ke arah paviliun sendirian. Melihat itu Andrean menghembuskan napas pelan.


“Lihat apa yang dilakukan istrimu padaku. Apa wanita yang memiliki perilaku seperti itu pantas menjadi anggota keluarga Freiz?” keluh Helen sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan yang diberikan pelayan.


Andrean memutar bola matanya. “Sebaiknya kau membersihkan diri kemudian pulang,” saran Andrean.


“Kau sendiri pasti malu jika sampai semua orang tahu bagaimana sikap istrimu itu. Dia seperti wanita yang tidak dididik dengan benar,” tambah Helen.


Andrean berpaling pada Helen dengan kelopak mata yang terbuka. Ia melipat tangannya di depan dada. “Saat kau bilang dia seperti wanita yang tidak dididik, aku yang merasa tersakiti. Aku suaminya dan aku yang mendidiknya selama ini. Ia selalu tumbuh menjadi wanita anggun yang sopan. Hanya saja apa yang kau lakukan tadi sungguh keterlaluan, jadi jangan salahkan istriku!” tekan Andrean.