Highschool Wife

Highschool Wife
Pesta Pasangan Baru



Pesta kecil-kecilan itu diadakan di sebuah restoran dekat dengan sekolah. Sengaja Sultan Gama memesan sebuah ruangan khusus untuk merayakan beberapa hari jadiannya dengan Nana. Ruangan itu memiliki sebuah meja besar dengan beberapa kursi yang mengitarinya. Ada sebuah rak yang dihiasi dengan pot-pot kaktus dan frame berisi foto hasil jepretan yang sepertinya terlihat ahli dari hasil fotonya. Ruangannya sendiri memiliki jendela besar dari kaca dan menghadap langsung ke halaman luar. Di sana ada tujuh orang yang masing-masing memesan hidangan laut juga mie. Diantara mereka hanya Ghea yang datang sendirian.


“Gak takut jadi embek congek?” ledek Elsa. Ghea memukul lengannya. Lebih baik ia datang sendiri daripada harus memberi harapan palsu pada Evano. “Makanya move on, kamu sudah diajakin gelut masih saja nyimpen rasa sama dia,” sindir Elsa.


Ghea menunduk. “Namanya cinta pertama tidak semudah itu untuk dilupakan. Kalian gak tahu gimana baiknya putra sama aku dulu.” Ghea mengetuk-ngetuk telunjuknya di meja. Firli hanya bisa mengusap punggungnya. “Aku yakin, dia berubah kasar begitu pasti karena si Arlitha,” tebak Ghea.


Misyel menggeleng. “Karena cinta,” celetuknya membuat semua yang ada di sana tertawa kecuali Ghea yang langsung memeletkan lidah padanya. “Ouh iya, tentang masalah Rai, aku sangat meminta maaf pada anda, Monsieur,” ucap Misyel.


Andrean yang baru meneguk soda langsung menyimpang kaleng sodanya di atas meja. “Panggil nama saja, di sini rasanya aku jadi yang lebih tua. Padahal aku dan Firli lahir di bulan-bulan akhir,” timpal Andrean. Misyel mengangguk-angguk. “Aku juga minta maaf karena sudah cemburu buta. Hanya saja istriku ini terlalu menempel pada pria itu,” tambah Andrean.


“Itu karena wajah Firli hampir mirip dengan adiknya,” jelas Misyel. Andrean menatapnya heran. “Hanya saja adik Rai itu sudah meninggal,” lanjut Misyel.


Andrean menatap Firli. “Kamu kok bisa pasaran begitu,” candanya hingga membuat telapak tangan Firli menabok pipinya lumayan keras. Melihat itu teman-teman Firli bingung antara harus tertawa atau diam. Masalahnya Andrean itu pewaris keluarga kaya dan bisnis keluarga mereka rata-rata berjalan dengan investasi dari keluarganya. “Sakit,” keluh Andrean.


Melihat wajah meringis suaminya kontan membuat Firli mengusap pipi Andrean, tapi lagi-lagi ia menepisnya dan memalingkan wajah. “Kamu ngambek lagi?” tegur Firli. Andrean menggeleng. “Sebenarnya kenapa, sih?” Firli semakin memaksa hingga Andrean terpaksa menggeserkan kursinya.


“Aku sudah bilang baik-baik saja juga,” jawab Andrean tegas.


“Kalau baik-baik saja kenapa gak tidur barengan di kamar?” tanya Firli membuat Misyel dan Gama melongo. Cepat-cepat Andrean menutup mulut istrinya. Firli mengomel tapi dengan suara tak jelas karena mulutnya didekap.


“Itukan, di kamar ada tempat tidur dua,” dusta Andrean tapi ketiga teman Firli sudah lebih dulu tahu mereka tidur di kasur yang sama. Lebih baik Elsa, Nana dan Ghea bersikap pura-pura tidak tahu.


Tidak lama makanan datang. Kepiting, kerang juga ikan tersaji di atas meja dengan porsi besar. Beberapa menggunakan saus lava – serupa saus asam manis yang sangat pedas, sisanya dibakar dan disajikan mentah.


“Jadi intinya kamu sama Evano mau bagaimana? Dia chat aku terus nanyain kamu.” Misyel merubah topik.


Ghea menggeleng-gelengkan kepala. “Inginnya nerima, tapi setiap mau nerima malah merasa bersalah sama Putra,” jawab Ghea lirih.


“Dia saja gak merasa bersalah sama lu!” sindiri Firli.


“Lu juga susahkan move on dari di Rai!”  balas Ghea membuat Firli menoyor jidatnya.


“Gimana mau susah move on, suami aku seganteng ini. Kurang apa coba,” tukas Firli sambil menunjuk wajah Andrean hingga membuat pria itu terbatuk-batuk. “Sayang saja ambekan orangnya!” tiba-tiba Firli melancarkan serangan sindiran dalam tikungan setajam silet.


Kali ini Andrean melancarkan seragan dengan tatapan tajam. Firli nyegir kuda. “Aku marah gak mungkin kalau tidak ada sebabnya,” dengus Andrean.


“Jadi aku harus bagaimana dengan Evano?” tanya Ghea.


Elsa menepuk punggung Ghea. “Hal yang sama seperti Nana dan Gama,” jawabnya.


“Tapikan Nana sama Gama sama-sama jomlo,” kilahnya.


“Sahabat macam apa kau sampai mengungkap rahasia kelam seperti itu. Mana di acara syukuran jadianku lagi! Niat mau hancurin, ya!” omel Gama.


Andrean meneguk soda yang masih tersisa di kaleng yang ia minum. “Dia berkali-kali pacaran dan selalu perempuannya duluan yang nembak,” tambah Andrean.


Nana semakin dibuat penasaran. “Bukannya kalian asrama di sana jarang bertemu perempuan?” tanya Nana memancing cerita Andrean. Gama yang paling ketakutan di sini.


“Kitakan punya hari libur. Setiap minggu kita bisa keluar dan bergaul. Rata-rata perempuan di sana yang aku tolak pasti ngejar Gama. Hanya Gamamu itu terlalu baik, ia terima mereka tidak lama putus karena sikap dia yang dingin,” jawab Andrean.


Nana mengangkat sebelah alisnya. “Mereka yang nembak dan mereka juga yang mutusin,” timpal Gama memancing tawa teman-temannya. Hubungan aneh macam apa itu? “Kamu perempuan pertama yang aku tembak, beneran!” gombal Gama mengundang koor hu diantara mereka.


“Jangan sampai yang pertama kamu putusin, ya?” sindir Nana. Gama menggeleng sambil mengusap rambut Nana dengan gemas.


Firli menatap Andrean dan lagi-lagi suaminya itu memalingkan wajah. “Kamu kenapa, sih?” tanya Firli lagi. Andrean lagi-lagi menggeleng. “AKu itu suka takut kalau kamu diem begitu, pasti marah lagi,” keluh Firli.


Gama nyengir kuda. “Itu dia sedang mengalami masalah laki-laki,” celetuk Gama membuat Andrean melempar kaleng soda ke arahnya. “Kasian daripada istrilu uring-uringan mendingan ngaku kalau lagi dalam keadaan darurat negara,” jawab Gama.


“Darurat kenapa?” tanya Firli heran. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya. Namun teman-teman yang lain langsung tertawa terbahak-bahak. “Kalian jawab! Firli gak ngerti! Apa yang darurat?” paksa Firli. Namun bukannya menjawab semua diruangan itu lebih memilih untuk tertawa dan membiarkan gadis itu kesal sendirian.


“Ok Kalau begitu, Firli juga gak mau cerita tentang Gladis yang datang ke Firli minta ajakin Andrean kencan ganda,” Firli memancing pendapat mereka semua.


“Gladis? Pacarnya Rai?” tanya Nana penasaran.


Firli mengangguk. “Iya, di perpustakaan tadi ia ajakin aku untuk kencan ganda sama Rai dan Andrean. BelumFirli  jawab, sih. Dia terlalu mencurigakan,” jawab Firli.


Misyel mengangguk-angguk. “Gadis itu terlalu busuk hingga tidak bisa ku baca pikirannya. Namun Misyel jelas mencium aroma tidak sedap. Jangan sampai kepancing dan kamu lagi-lagi di adu domba seperti dulu!” Misyel memberi saran.


“Memang dia siapa?” tanya Andrean.


“Pacarnya Rai, dulu dia sering cari masalah dengan Firli. Kira-kira sikapnya mirip dengan si Angie itu,” jelas


Gama.


Andrean mengangguk-angguk. “Terima,” jawab Andrean. Semua orang di ruangan itu heran mendengar jawabannya. “Aku kan bilang, jika ada yang ingin bermain denganku maka aku ikuti permainannya dan jatuhkan,” ucap Andrean santai mengundang tepukan tangan dari semua orang di sana.


“Maksud lu permainan waktu lu bikin si Helen ketahuan orang tuanya ngambil jam rolex punya Papanya dan dia kasih ke pelayan di rumah lu buat minta informasi?”  ungkap Gama memancing Andrean memukulnya dengan tinjuan gemas ke lengannya. Gama tidak mau kalah, ia balas memukuli Andrean. “Lu duluan buka aib gue, sekalian saja gue buka!”


“Jadi kamu sama Helen itu kemarin buat itu?” tanya Firli curiga. Andrean menggeleng. Firli mengambil sesendok daging ikan lalu ia jejalkan di mulut suaminya. “Menyesal aku baper sama kamu!” protes Firli. Ia memalingkan wajahnya lalu kembali memakan daging kepiting dengan sumpit sementara Andrean susah payah memakan daging ikan di mulutnya.