Highschool Wife

Highschool Wife
Cita-cita



Firli terlihat sumringah sendiri sambil duduk di atas kursi di meja belajarnya. Pakaiannya telah berganti dengan piyama keropi berwarna hijau muda. Sementara Andrean sudah setengah terbaring di atas tempat tidur sambil bermain game kesukaannya. Ia belakangan sangat menikmati saat-saat bermain ponsel karena selama di asrama tak bisa melakukannya kecuali jam pelajaran. Itu pun dengan banyaknya situs yang diblokir. Sesekali Rean tertawa menikmati kemenangannya. Firli menggeleng-gelengkan kepala akibat tak paham dengan jalan pemikiran Andrean. Padahal ia baru saja diomeli oleh Bunda dan Ayah akibat insiden di ruang makan.


Namun Firli tak mau ambil pusing, ia tetap menuliskan semua peristiwa hari ini di buku diarinya. Itu memang kebiasaan kuno, tapi Firli suka. Mrs. Charlotte bilang membuat catatan review tentang kehidupan kita sebelum tidur membuat kita lebih bijaksana menghadapi kehidupan esok hari.


Bukan hanya diari, kadang-kadang Firli senang menuliskan postingan-postingan bermanfaat di facebook dibandingkan tebar foto yang menunjukan kekayaannya. Ia ingin menginspirasi dunia dan berbagi cerita tentang bagaimana ia menghadapi hidup dengan statusnya sebagai istri di usia muda. Karena Firli log in dengan akun palsu, tak ada satupun orang yang tahu jika pembuat postingan itu adalah dirinya.


"Ayo tidur!" panggil Andrean. Terdengar suara ponselnya diletakan di atas nakas coklat di samping tempat tidur. Firli menggeleng. "Kau mau menulis sampai kapan?" tanya Andrean.


Gadis itu berbali sambil tersenyum jahil. "Sampai aku menuliskan omelan Ayah dan Bunda padamu hari ini," kelakar Firli yang membuat Andrean wajah Andrean terlihat masam. Laki-laki itu akhirnya membaringakn tubuhnya kemudian menutupnya dengan selimut. "Tidur duluan saja," saran Firli yang langsung dituruti Andrean.


Ia sebenarnya masih belum mengantuk. Mungkin karena terlalu kepikiran dengan sikap Andrean pada Angie dan keluarganya. Selain itu perutnya terasa berat sehingga ketika berbaring terasa mual. Harusnya siang tadi di sekolah ia tak banyak makan. Kadang Firli juga malu jika Andrean memeluknya karena perutnya yang sedikit buncit.


Firli kemudian mengambil pulpennya lagi. Pulpen itu berwarna putih dengan bulu berbentuk bula di ujung atasnya sehingga terlihat lucu bergerak-gerak ketika Firli menulis. "Kau menuliskan diarimu sangat detail." ucap Andrean tiba-tiba sehingga membuat Firli tertegun. Gadis itu kemudian berbalik lagi dan melihat suaminya yang terbaring menghadap ke arahnya.


"Kau membacanya?" tanya Firli dengan nada sewot. Andrean mengangguk. "Inikan privasiku!" omel Firli. Ia takut Andrean juga membaca bagian diarinya tentang Rai.


Namun Pria itu malah nampak santai menanggapi Firli. "Sejak kapan dalam hubungan suami-istri ada privasi. KIta bahkan tidur di kasur yang sama. JIka kau mau kita juga bisa mandi sama-sama," kelakar Andrean yang membuat Firli kesal kemudian melemparnya dengan pulpen.


"Sejak dulu kau ini memang selalu melakukan hal seenak jidatmu. Pernahkan kau memikirkan perasaan orang lain?" Firli mengomel lagi tapi Andrean masih saja bersikap santai.


"Aku kan anak tunggal. Kenapa perlu belajar mengalah?" candanya.


Firli memukulnya dengan pulpen di tangannya. "Tapi kau punya istri, kan? Nanti kau juga punya anak. Harus belajar!" nasehatnya galak. Awal bertemu Firli sangat menghormatinya. Namun melihat perilaku Andrean semakin kemari semakin menyebalkan rasanya mubazir hormat padanya. Jika tidak dipukul begitu Andrean tak akan sadar.


"Emang kapan kita punya anak?" lagi-lagi ia bercanda dan membuat amarah Firli semakin tersulut. Kali ini ia biarkan saja, percuma juga meladeni Andrean jika sedang kumat.


"Kau tak ingin menjadi penulis? Hanya saja aku punya teman di Inggris yang sering menulis diari sepertimu. Akhirnya ia tulisakan dalam platform online dan mendapat banyak uang. Suatu hari nanti kau akan mendampingiku. Namun tetap saja kau harus punya cita-cita," nasehat Andrean.


Andrean geleng-geleng kepala. Ia acak-acak rambut istrinya. "Kau ini istriku, harusnya meminta izin padaku, bukannya pada orang tuaku," keluhnya.


"Habis kadang aku pikir Ayah dan Bunda itu orang tuaku," seloroh Firli.


Andrean manyun. "Kalau kau ini anaknya, lalu aku siapa? Kadang aku juga merasa seperti itu sih. Mereka sering marah padaku, tapi padamu paling hanya menasehati saja. Sepertinya aku yang menantu di rumah ini."


Mendengar itu Firli tertawa. Rasanya senang melihat Andrean cemburu buta begitu ketika membahas masalah perhatian orangtuanya.


"Aku izinkan kau, Bebeb. Lagipula kau juga harus memikirkan diri sendiri dan melakukan hal yang membuatmu senang. Jangan terlalu terpaku pada jadwal Mrs. Charlotte. Asal ...," ucapan Andrean terpotong.


"Asal apa?" tanya Firli.


"Asal jangan lupa manjain aku setiap hari," tambahnya. Firli hanya memutar kedua bola matanya akibat kesal.


Firli berbalik. Ia terdiam memikirkan saran Andrean. Selama ini dia memang tak pernah melakukan sesuatu yang ia inginkan. Mrs. Charlotte sering mengajarinya berenang, berkuda, bermain tenis, tapi Firli tak suka melakukan kegiatan yang mengeluarkan banyak tenaga fisik. Satu-satunya yang ia nikmati hanya menulis diari.


Ketika sedang berpikir itu Firli kaget karena tiba-tiba saja Andrean melingkarkan tangannya di pinggang Firli dan di bawah lututnya kemudian menggendong Firli ke tempat tidur. Gadis itu sempat berteriak dan memukul bahu suaminya tapi Andrean tak melepaskannya juga. Ia baru menurunkan Firli di atas tempat tidur, membaringkannya lalu menyelimutinya. "Tidur istriku, nanti kau sakit," ucapnya lembut kemudian mengecup pipi Firli. Andrean naik ke atas tempat tidur dan sedikit menyeret tubuh Firli tapi dengan lembut.


Ia mematikan lampu kamar dengan lambaian ke arah lampu kemudian menyalakan lampu tidur. Firli menatap suaminya yang kini terbaring di sampingnya. "Beb, mau dipeluk tidak?" tanya Andrean membuat Firli nyengir kuda sekaligus bergidik geli. Andrean itu memang kalau sudah gila tak bisa tertolong. Dulu waktu kecil ia pernah kabur dari TK membawa uang dua puluh ribu rupiah dan saat ditemukan justru terlihat senang. Bunda sempat bertanya alasan Andrean kabur, dengan datarnya ia menjawab ingin berkenalan dengan tukang jualan permen kapas. Mendengar kisah itu dari Bunda membuat Firli tak henti-hentinya tertawa.


"Ayang mau peluk Firli?" tanya Firli balas menggoda Andrean hingga senyum terkembang di wajah keduanya. Namun Andrean benar-benar melakukannya, ia memeluk Firli dan mengusap rambut gadis itu. Tak tahu mengapa, tadinya ia senang karena Rai kembali mengirim pesan untuknya. Namun perasaan saat Andrean memeluknya menutup perasaan itu. Firli lebih bahagia dengan Andrean kini.


"Tentang Bapakmu, jangan khawatir. Aku tak akan membiarkan ia mengambilmu. Janji!" ucap Andrean kemudian mengecup kening Firli. Kedua tangan Firli balas memeluk suaminya. Belaian hangat Andrean di rambutnya mengirim rasa nyaman yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Bukan hanya Andrean, Firli juga tak akan melepaskannya.