
Andrean dan Firli tidak berhenti mengernyitkan dahi. Pemandangan di depan keduanya sungguh membuat mata yang melihat merasa bingung. Jangankan Andrean yang seorang pria dan sudah jelas pasti sulit menahan godaan duniawi, Firli yang sama-sama perempuan saja mendadak salah tingkah melihat Gladis memakai rok levis di atas lutut hingga hampir berbalapan dengan rok artis Korea. Jika itu Firli, jangankan berada di tempat umum, di dalam rumah sendiri saja malu jika sampai dilihat Andrean.
"Pacarnya baik-baik saja?" tanya Andrean sambil berbisik takut terdengar oleh kedua makhluk yang berada di hadapan mereka.
Firli celingukan menangkap betapa ramainya restoran asia yang bernuansa serba ungu itu. Kemudian ia kembali menatap rok Gladis yang karena pemiliknya tidak memasukan kaki dengan sempurna ke batas meja, sehingga pemandangan kulit putih di atas kakinya sangat sempurna.
Firli geleng-geleng merespon pertanyaan Andrean. Sementara itu menunggu pesanan datang, Gladis bersidekap di atas meja sambil memandang Andrean sementara jelas wajah Rai terlihat kesal.
"Jadi kamu sekolah di London?" tanya Gladis. Andrean mengangguk. "Kenapa? Memang di Indonesia tidak ada sekolah yang bagus?" lanjutnya terkesan ingin tahu urusan orang lain.
"Aku dan Firli menikah di usia 11 tahun, karena itu harus tinggal terpisah, 'kan?" Jawab Andrean.
Gladis menatap Firli sambil tersenyum membuat garis matanya melengkung sempurna sehingga terlihat manis. Namun Firli sebal melihatnya.
"Jadi sekarang kalian tinggal terpisah?" lagi-lagi Gladis bertanya. Firli mengangkat salah satu sudut bibirnya. Kemudian mengambil tissue di atas meja dan meremasnya.
"Kami tinggal satu rumah," jawab Firli blak-blakan. Jelas sekali tersirat wajah kecewa Gladis mendengarnya.
"Juga satu kamar," tambah Andrean sambil bersandar di kursi dan melipat kedua tangannya di dada. Rai hampir menjatuhkan ponsel di tangannya mendengar itu. Namun tak tahu mengapa Firli justru senang mendengarnya.
Mata Firli dan Gladis sempat bersinggungan. Jelas sekali Gladis sedang membuat suatu pertarungan dengannya. "Baguslah," komentar Gladis tapi napasnya terdengar berat.
"Rai, bisa ambilkan aku air minum?" pintanya. Padahal gelas air putih tidak begitu jauh dari tangannya. Rai menurut saja, ia membawakan gelas itu lalu ia berikan pada Gladis.
Jika itu Firli, Andrean pasti sudah menendangnya dari rumah. Firli sempat berpaling pada suaminya. Melihat perilaku Gladis membuat Andrean geleng-geleng. "Fir, jangan gitu kamu!" nasehatnya sambil sedikit berbisik. Firli manggut-manggut.
"Durhaka kalau aku begitu," jawab Firli sama-sama berbisik.
Tidak lama seorang pelayan membawakan makanan utama. Menunya chiken cordonbleu dengan saus coklat agak sedikit manis dan juga salad aneka sayuran serta sepotong lemon. Konon menurut Gladis itu adalah menu paling terkenal di restaurant ini. Firli dan Andrean menurut saja. Alasannya karena Firli selain makan dengan alasan bisnis di restaurant dengan bintang lima, ia pasti makan di rumah akibat tidak boleh keluar rumah sembarangan. Sementara Andrean sejak kecil di London dan masih belum tahu banyak tentang pergaulan di Bandung.
"Aku harap kamu suka," ucap Gladis pada Andrean. Rai sempat melirik ke arah kekasihnya, ia pikir ucapan itu untuk dirinya. Namun melihat mata Gladis mengarah pada Andrean, membuat pria itu kecewa.
Telinga Firli dibuat panas mendengar Gladis mengucap kata 'kamu' pada Andrean hingga berkali-kali. Selain tidak sopan, juga terdengar sok akrab.
"Ouh iya, di London kamu tinggal di rumah pribadi?" tanya Gladis. Tangannya memang memotong daging ayam di atas piring tapi matanya kelayapan ke suami orang lain.
"Wah, keren! Aku selalu ingin sekolah asrama di sana. Nanti aku tanya-tanya tentang asrama khusus mahasiswa boleh?" Terlihat binar di mata gadis itu.
Andrean menggeleng. "Semua yang urus orang tuaku. Bagaimana bisa aku tahu masalah itu."
Ingin rasanya Firli memberikan puluhan kecupan untuk Andrean setelah mendengar itu.
"Makan dulu, Yang. Ngobrolnya nanti lagi. Kamu belum sarapan, 'kan." Rai sangat pengertian pada wanita itu. Sejak tadi sibuk dengan Andrean membuat Firli lupa memperhatikan Rai. Kasian sekali pria itu. Pasti ia kesal dengan perilaku Gladis.
"Ini juga lagi makan, kamu gak lihat?" ucap Gladis ketus. Garpu di tangan Firli rasanya ingin ia lempar ke wajah gadis itu. Dulu saja laganya selangit seakan benar-benar ingin mendapatkan Rai bulat-bulat. Sekarang Rai diperlakukan seakan barang yang ingin ia buang.
Rai tak berkata lagi. Ia lebih memilih melanjutkan makannya. "Aku dengar kamu sering main basket?" tanya Andrean membuka obrolan dengar Rai. Jelas lawan bicaranya kaget mendengar itu, apalagi hubungan mereka sudah dingin sejak awal. Rai mengangguk.
"Kapan-kapan aku boleh ikut? Bukan ikut klub, tapi hanya main senang-senang saja," tanya Andrean. Tidak tahu mengapa hari ini melihat Andrean rasanya manis sekali di mata Firli.
Rai mengangguk. "Monsieur senang bermain basket juga?" tanya Rai. Andrean mengangguk. "Kenapa tidak ikut klub?" tanya Rai penasaran.
Andrean menggeleng. "Karena klub persiapan masuk ivy league dan juga berkuda, aku tidak punya banyak waktu," jawabnya. Keluarga Freiz sudah jelas harus masuk ke universitas yang menjadi bagian liga Ivy. Bahkan dianggap sudah tradisi karena itulah Firli kadang merasa tradisi itu membuatnya beban batin.
Rai mengedip-ngedipkan mata. Rupanya menjadi anak orang terkaya di lingkaran penanam modal besar tidak seenak yang ia bayangkan. Rai sendiri hanya mengikuti les untuk menambah nilai dan grup relawan saja. Orang tuanya juga tidak banyak mengaturnya.
"Mungkin karena Monsieur anak tunggal. Lain dengan saya yang punya banyak kakak," timpal Rai.
Andrean mengangguk. "Bahkan urusan istri saja diatur. Pasti tidak enak, 'kan," komentar Gladis. Ia menatap Firli dengan tatapan nakal seolah menunggu saat-saat Andrean berkomentar jelek tentang pernikahannya.
"Kamu salah, aku yang sejak TK memaksa ingin menikah dengannya," jawab Andrean sambil tertawa. Gladis mengepal pegangan garpu dan pisau di tangannya.
Sejenak ada jeda diantara keempatnya karena jawaban Andrean yang membingungkan. Selama ini yang diketahui Rai dan Gladis, pernikahan dini para keluarga bangsawan diatur dalam sebuah perjodohan. Terdengar aneh jika anak yang masih di bawah umur meminta untuk dinikahkan. Jika ada permintaan pun, rata-rata keluarga mereka hanya menganggap itu bahan bercanda dan jelas tidak dituruti.
"Maksudnya?" tanya Rai tidak mengerti.
"Saat bayi, aku dan Firli di asuh Mrs. Charlotte. Saat itu mamah Firli harus bekerja sehingga neneknya memaksa ia dititipkan di pengasuh yang kompeten. Karena Mamah dan Bunda bersahabat, ia menawarkan Firli untuk di asuh bersamaku," jelas Andrean.
"Lalu?" Rai terlihat tidak sabaran mendengar cerita itu. Firli memang bercerita banyak tentang kehidupannya pada Rai, kecuali tentang Andrean.