
Tidak tahu karma macam apa yang tengah ia dapatkan ini. Apa di masa lalu ia pernah melakukan kesalah besar? Tania ingin mengutuk dirinya sendiri yang berharap terlalu tinggi. Ia pintar tapi kurang cerdas dalam menyikapi hidup, terutama dalam cinta. Tidak hanya mengharapkan pria yang tidak mengharapkannya, cintanya adalah dosa. Gadis itu kini hanya bisa tersenyum menutupi perasaanya yang pedih. Raganya seperti kehilangan tenaga.Β
"Halo, aku Firli. Aku istri Andrean," Firli memperkenalkan diri. Baik Ed, Brussel dan Tania hanya bisa mengangguk sambil tersenyum menyambut wanita yang sebelum ini keberadaannya mereka anggap hanya candaan.
"Aku pikir sekarang kalian akan berhenti menganggapku bercanda, kan?" tanya Andrean sambil tersenyum geli melihat wajah ketiga temannya yang pucat. Sama sekali ini jauh dari ekspektasi mereka ketika bertemu dengan Andrean.
"Zaman gini mana ada orang nikah muda. Lagipula, kapan kalian nikah sih? Tiba-tiba istri kamu hamilnya sudah besar gitu," komentar Brussel yang masih bingung. Ia mencoba mengingat-ingat pernah bertanya pada Andrean tentang cincin di jarinya. Saat itu Andrean memang menyebut itu cincin pernikahan tapi Brussel malah tertawa mendengarnya.
Firli tertawa. "Aku juga mikir begitu. Gara-gara dia, nih!" tunjuk Firli pada Andrean. Pria yang menjadi aktor utama dalam kisah ini malah tertawa. Ia jadi ingat kejadian saat keluarganya meminta ia menggantikan Andrevan. Tidak tahu ide dari mana, ia langsung memaksa agar Firli yang menjadi istrinya.
Ed rasanya terpancing dengan kalimat yang dinyatakan Firli. Ia menjadi semakin penasaran bagaimana bisa seorang yang tampan dan kaya seperti Andrean berani terikat dalam hubungan yang membuat ia terkekang.
"Aku sama dia sudah nempel dari bayi. Jadi pas orangtuaku minta aku menikahi seseorang, aku pilih dia. Lagipula kami menikah sudah lama. Sekarang hampir mau delapan tahu," jelas Andrean.
Tania hampir menjatuhkan cangkir teh di tangannya. "Delapan tahun?" tanyanya penasaran.Β
Firli mengangguk. "Kami menikah usia sebelas tahun. Enam tahun LDR karena Andrean sekolah asrama di London. Hampir dua tahun ini baru kembali menjalani rumah tangga dan punya bayi," cerita Firli.
Tania hanya ber-oh dengan suara yang parau. Tangannya masih gemetar. Bahkan kini ia tidak sanggup menatap Andrean dan istrinya. Sesekali mata Tania melihat ke sekeliling ruangan. Ia mencoba mengatur napasnya yang terasa berat. Firli melihat ekspresi wajah itu, wajah yang sama ketika ia mendengar hubungan Rai dengan Gladis dulu. Firli merasa kasihan juga, tapi ia harus melakukan ini demi ketenangan batinnya.
"Kamu Tania, ya?" tanya Firli. Tania terlihat kaget dan berpaling pada Firli. Mata keduanya saling bertatapan. Lain dengan Tania yang melihat Firli dengan tatapan kaget, Firli justru menatapnya dengan hangat. "Andrean bilang kamu sering bantu dia, makasih banyak," ucap Firli.Β
Wajah Firli seperti biasanya selalu terlihat cerah dan ramah. Wajah yang membuat Andrean merasa hangat. Alasan mengapa ia selalu terpaku pada gadis itu. Bahkan saat ini, mata Andrean masih menyorot ke arah wajah Firli yang tengah tersenyum. Itu bukan akting, ia benar-benar tulus melakukannya. Wanita yang di dalam hatinya selalu lugu dan baik hati.
Firli sendiri kaget merasakan sentuhan Andrean di kepalanya. Sementara Tania melihat satu hal yang berbeda. Ia merasa ada benteng yang sama sekali tidak bisa ia lalui untuk masuk dalam hati Andrean. Benteng yang dibangun bukan karena ikatan pernikahan. Andrean dan Firli memiliki ikatan sendiri yang tidak bisa dijabarkan.
Tania sadar jika ia berada di posisi yang salah.Β Ia mulai berani menatap Firli lagi. "Kamu gak kuliah?" tanya Tania.
Firli menggeleng. "Bayinya kembar, jadi mudah lelah. Jangankan kuliah, kegiatan sehari-hari saja masih kesulitan." Tawa Firli terdengar begitu renyah.
"Kamu hebat," puji Tania. Firli mengangkat sebelah alisnya. "Banyak wanita yang berjuang demi karir agar menjadi wanita hebat. Namun sedikit yang mengorbankan itu semua demi menjadi istri dan ibu di usia muda. Kamu harus meredam ego. Padahal di usia kita pasti masih memikirkan diri sendiri."
Seperti Tania yang kagum akan Firli, begitu juga Firli pada Tania. Gadis ini sangat bijak, pantas jika Andrean sempat tertarik. Lain dengan Helen yang sejak awal sudah memberikan lampu merah pada Firli.
"Aku gak mau munafik. Aku juga mau mengejar karir. Lain pas bayi ini hadir di rumah tangga kita. Ibu tetap saja ibu," jawab Firli tegas.
Pembicaraan berat kedua wanita itu membuat sebuah jeda diantara laki-laki yang ada di sana. Sama sekali tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke dalam jaringan otak mereka. Justru malah terasa aneh, bagaimana bisa dua wanita yang menyukai pria yang sama begitu akur. Sementara jika itu pria, sudah ada medan perang di sana.
"Kan kalau gini adem. Lain kalau sama Helen," celetuk Brussel. Ia jadi ingat diantara perempuan yang ada dalam hidup Andrean, Helen yang paling maju tak gentar.
Mereka yang ada dalam ruangan itu tertawa. Rasanya lucu ketika melihat repotnya Andrean menghadapi Helen. "Dari segi itu aku salut, dia punya tekad yang kuat. Sayang tekadnya tidak ia gunakan untuk hidup lebih baik."
Setelah obrolan itu, Andrean, Ed dan Brussel menghabiskan waktu mereka bermain game. Sementara Tania dan Firli melihat-lihat ruangan bayi. Gadis itu nampak terpukau dengan kamar bayi yang kontras, salah satu sisi biru dan sisi lain merah muda.
"Jadi bayinya kembar sepasang?" tanya Tania sambil membantu Firli memasang mainan di box bayi. Firli mengangguk. "Kamu tahu Andrean keluar dari kampus?" Sebenarnya dari kemarin ia ingin membahas itu. Ia masih menyayangkan karena Andrean termasuk pelajar yang cerdas.
Firli mengangguk. "Awalnya dia pulang karena ingin datang di pesta tujuh bulanan. Dia gak mau ngaku, takut kena marah. Akhirnya ngaku sendiri," jawab Firli.
Tania mengangguk. "Jadi itu keputusannya sendiri?" Pertanyaan itu mendapat jawaban berupa anggukan dari Firli. "Iya sangat bertanggung jawab. Kalian benar-benar dua kepribadian yang sama."
Firli mengangguk. "Sejak kecil ia sudah terbiasa mengalah. Ia harus jauh dari orangtua karena keadaan kakaknya. Bukan sekali dua kali ia merasa kesepian. Karena itu, ketika kami memiliki keluarga sendiri, ia mati-matian menjaga keutuhan rumah tangga. Karena dia ingin merasakan kehangatan keluarga seutuhnya."
Tania tersenyum. Anggapan ia tidak salah. Firli jauh lebih tahu tentang Andrean, lebih mengerti jalan pikiran pria itu dan lebih bisa menerimanya. Karena itu Tania sadar jika Andrean memang bukan untuknya.
πππππππππππππππ
Besok aku libur ya. Kalau ingin membaca karya author yang lain, di wp masih ada yg akan up untuk sabtu dan minggu. Rencananya novel author yang tamat juga akan dibawa ke wp dan hanya ada 50-an part saja. Tunggu saja author akan beri pengumumannya di kolom komentar novel ini nanti. Bisa dibaca gratis di WP, kok!