Highschool Wife

Highschool Wife
Perbandingan persahabatan dengan cinta



"Hei, Firli!" terdengar seseorang memanggil, Tak lama manusia itu menyikut lengan Firli kemudian menghadanganya. Sungguh Firli tak ingin bertemu lagi dengannya. Hanya membuat emosi saja kemudian Firli harus menelannya bulat-bulat karena tak berani melawan. Firli berpaling, ia hanya menatap dinding putih di sampingnya. Sementara Gladis menhadapnya semakin dekat.


"Bagaimana rasanya dibenci cowok gue?" Dia memberi penekanan pada kata cowok gue. Sepertinya ia ingin menunjukkan dimana keberadaannya. Apalah arti seorang sahabat dibandingkan pacar. Pria tentu hanya akan mendengarkan pacarnya karena sahabat tak bisa memenuhi perasaan cintanya.


"Gue gak mau bahas itu, Dis. Lo tahu sendiri gue sama Rai sudah selesai. Gue terima hubungan lo berdua jadi ya sudah. Gak usah lo ungkit lagi," tekan Firli. Sepertinya sekolah ini sudah sesak, setelah ia menyingkirkan Angie sekarang giliran Gladis yang memberinya masalah.


Sepertinya Gladis masih belum menyerah. Terbukti ia masih menghadang Firli ketika gadis mungil itu akan meninggalkannya. "Selama ini lo sudah cukup bersenang-senang sama cowok gue. Jadi, lo gak bisa menderita hanya sesingkat itu." Gladis menunjuk wajah Firli kemudian sedikit mendorong bahu gadis itu.


Firli cukup tertegun dengan sikap Gladis. Apa ini yang Rai maksud dengan baik hati? "Hai, Rai!" panggil dia tiba-tiba sambil menengok ke belakang Firli sambil melambai. Firli menengok dan menemukan Rai di sana berjalan mendekati mereka.


Gladis tak tinggal diam, perempuan itu berjalan mendekati Rai kemudian merangkulnya manja. "Kelas kamu sudah selesai, sayang?" tanya Gladis. Rai sempat menengok ke arah Firli dengan curiga. Tatapan tak mengenakan, sungguh tak seperti dia biasanya. "Iya baru selesai. Kita makan ya?" Rai mengusap rambut Gladis dengan mesra kemudian mencium pipinya.


Gladis menggeleng. "Kalau sama Firli juga?" tanyanya sambil melepas pelukan kemudian menunjuk Firli. "Dia sudah minta maaf sama aku," tambahnya.


"Gak usah Gladis, gak apa-apa. Lagipula aku sudah punya janji," tolak Firli. Dia berusaha untuk menunjukan sikap yang manis. Namun Rai sepertinya masih belum percaya. Itu sangat menyakiti hati Firli. "Aku pergi dulu!" Firli undur diri dengan nafas yang terasa sesak. Ia berbalik sambil berusaha menahan air matanya. Dia rindu pada Rai yang dulu begitu lembut padanya.


Gladis menatap Rai. "Kamu kok dingin sama Firli? Diakan sahabat kamu," ucap Gladis. Dia benar-benar sukses berakting lembut di depan Rai.


"Kecuali dia benar-benar menerima kamu, aku gak masalah," ucap Rai dingin. "Ayo makan!" Rai mengecup pipi Gladis kemudian berjalan menuju kantin.


Gladis sempat tersenyum puas kemudian ikut menyusul kekasinya. Sementara itu Firli menyembunyikan diri di bilik toilet. Ia duduk di atas closet sambil sesekali mengusap air matanya yang terus keluar. Ponselnya terus berbunyi tetapi ia tak berniat sedikitpun melihatnya. Ia hanya ingin sendirian.


🌟🌟NEXT🌟🌟


 


Nana sedang kebingungan menunggu Firli di taman. Ia sudah berkali-kali menghubungi gadis itu tapi hasilnya nihil. Nana juga sempat mencari Firli ke kelasnya dan teman sekelas Firli mengatakan jika si mungil itu sudah lama meninggalkan kelas. Jadi Firli kemana?


Akhirnya Nana memutuskan untuk tetap di kursi taman yang kini masih ia duduki. Lagipula ia tak terlalu lapar. Tadinya ia ingin menunjukan pada Firli kamera polaroid yang baru dibelikan oleh papanya. Namun gadis itu menghilang begitu saja. Ghea juga, sejak ia mulai mengenakan rok ke sekolah dan mengurai rambutnya, ia jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan evano. Biarlah, Nana pikir memang sudah saatnya Ghea berpaling dari Putra. Kemudian Elsa, wanita itu semakin nempel saja dengan Misyel.


"Kameranya bagus," komentar seseorang. Tanpa sadar sejak tadi ada seseorang yang duduk di sampingnya dan memperhatikan ketika ia sedang melihat-lihat kameranya. Nana tentu mengenalnya karena pria itu belakangan sering mendekatinya. Itu bukan hanya sekedar perasaan Nana tapi Gama memang sering mengiriminya puisi-puisi.


"Mau pegang?" tawar Nana. Gama mengangguk kemudian gadis itu memberikan kameranya pada Gama.


Laki-laki itu memeriksa setiap sudut bagian kamera itu. "Memang hasil fotonya gak blur?" tanya Gama.


Nana sedikit berpikir. Ia sempat mencobanya beberapa kali kemarin dan memang hasilnya tak terlalu jelas tapi sudah terasa cukup baginya. Kemudian Nana mengangguk. "Tapi gak terlalu sih. Masih dominan jelasnya, Gam," jawab Nana.


"Coba lihat lensanya baik-baik. Lensanya kotor," tunjuk Gama. Nana mencoba melihat bagian yang Gama tunjuk tapi ia tak melihat apapun. Apa karena kaca mata?


"Masalahnya perempuan kebanyakan seperti ini. Mereka punya barang-barang elektronik tapi gak tahu cara merawatnya. Karena itu butuh tangan pria dalam hal seperti ini," cerosos Gama. Nana hanya nyengir kuda. "PInjam kain kacamata mu!"


Nana merogoh saku blazer kirinya dimana ia biasa menyimpan kain untuk mengelap kaca matanya yang sering kotor apalagi jika sedang panas begini. Kain itu ia berikan pada Gama. Pria itu langsung membuka bagian tabung yang melindungi lensa kamera kemudian memberikan tabung itu pada Nana sementara ia mengelap bagian lensa dengan kain kaca mata. Tak lama ia meminta Nana memberikan tabung itu kembali dan memasangnya.


"Ayok selfie!" ucap Gama tiba-tiba sambil merangkul Nana. Tak tahu mengapa gadis itu menurut saja. Ia menatap ke arah lensa kamera yang Gama pegang sambil mengangkat dua jarinya. Gama menekan tombol shutter kamera tersebut dan tak lama kertas foto keluar. Kertas itu Gama kibas-kibaskan beberapa kali dan akhirnya terlihat jelas gambar Nana dan Gama di sana.


"Wah, gambarnya jadi jelas. Makasih Gama!" puji Nana. Kemudian Gama memberikan kamera kepada pemiliknya lagi. Ia juga nampak senang melihat Nana puas dengan hasil kerjanya. Ia berharap Nana bisa mulai membuka hati untuknya walau sedikit.


"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba berdiri menghadap kedua pasangan belum *deal *itu.


Gama tersenyum. "Gak ada apa-apa. Cuman lo ganggu bener!" protesnya sambil meninju pelan perut pria itu. "Ini Andrean Freiz, Na. Teman Gama waktu *key stage *2 di London," Gama memperkenalkan temannya itu. Nana menganguk sambil menatap Andrean. Sama seperti gadis lain, Nana juga ikut kaget melihat wajah tampan laki-laki itu.


"Katanya lo mau makan bareng gue sama istri," tagih Andrean. Gama mengangguk kemudian bangkit. "Nana mau ikut?" tawar Gama. Nana menggeleng. Ia tak enak jika harus bergabung dengan mereka. Lagipula dia masih harus mencari Firli.


"Ya sudah, kita duluan ya," pamit Gama. Ia berjalan dengan Andrean di sampingnya sementara Nana masih terdiam melihat mereka menjauh.


Tak lama Nana tersenyum sendiri. "Laki-laki itu ganteng banget," gumamnya. Nana memasukan kain kaca matanya ke saku blazer. Kemudian ia mengambil ponsel untuk menghubungi Firli. Tak lama ia tertegun. "Andrean Freiz? Kok namanya belakangnya sama dengan Firli?"


Nana mencoba mengingat-ingat saat Firli bercerita tentang suaminya. Firli sempat menunjukan nama dibelakang cincinnya. Nama itu yang coba Nana ingat baik-baik. "Andrean!" pekik Nana. Akhirnya ia ingat kemudian mengangguk-angguk. "Jadi dia suami Firli? Beruntung banget itu anak punya suami ganteng begitu. Manis lagi!" ucapnya sendiri. Untung saja tak ada seorang pun di sana, jika tidak orang akan mengangapnya gila. "Sekarang itu cewek kemana lagi?" pikir Nana.