
"Ada apa ini, Monsieur?" tanya Mrs. Charlotte melihat Andrean membawa bayi dalam pelukannya sementara Firli mendorong sebuah trolly bayi.
"Ada ibu yang nitipin bayinya. Sudah sampe empat jam gak balik juga," jawab Firli.
"Saya sudah membuat laporan pada petugas. Di CCTV terlihat perempuan itu keluar dari gerbang perumahan. Ia juga sempat menitipkan KTP sebelum masuk dan mengambilnya kembali," jawab Andrean.
"Ada informasi tentang alamatnya?" Mrs. Charlotte bertanya lagi. Andrean mengangguk. Kemudian perempuan itu mengambil bayi laki-laki itu dari gendongan Andrean, anehnya ia malah menangis.
Firli tertawa. "Mrs, makanya jangan galak-galak. Bayi saja sampai seram," ledek Firli yang disusul pelototan tajam dari suaminya.
"Monsieur dan Lady lebih baik istirahat dulu. Biar bayi ini saya urus sampai orang tuanya ditemukan," usul Mrs. Charlotte. Wanita itu bergegas meninggalkan teras paviliun sambil menggendong bayi itu menuju rumah utama sementara Andrean dan Firli masuk ke dalam paviliun.
"Aku mandi duluan!" ucap Firli tak sabaran. Ia melempar tas ke atas sofa lalu berlari ke kamar mandi. Andrean geleng-geleng kepala. Semakin sini istrinya itu semakin diluar kendali. Tapi ia justru ingin tertawa melihatnya.
Andrean duduk di atas sofa. Beberapa pelayan membawakannya biscuit dan teh. Setelah itu mereka pergi.
Andrean memukul jidatnya. Bagaimana bisa ia kecolongan seperti itu dengan memercayai ibu tadi. Harusnya ia lebih hati-hati.
Lumayan lama Firli di kamar mandi hingga akhirnya keluar dari walking closet dan sudah berganti pakaian. "Kamu mandi sana! Aku mau ke Mrs. Charlotte dulu lihat dedek bayi," ucap Filri senang.
"Kenapa gak punya sendiri saja," celetuk Andrean.
Firli memeletkan lidah ke arahnya. "Belum mau dipanggil ibu-ibu," jawab Firli lalu berjalan keluar kamar.
Sementara Andrean pergi mandi, Filir menyusuri tangga sambil melompat-lompat girang. "Ada apa, lady?" tanya seorang pelayan.
"Itu ada bayi lucu di rumah utama," jawab Firli senang. Kemudian ia berlari kencang ke rumah utama.
Firli bertanya kepada beberapa pelayan mengenai keberadaan Mrs. Charlotte hingga menemukannya di kamarnya. Kamar Mrs. Charlotte ada di paviliun lain bersamaan kamar pelayan lainnya. Hanya lebih besar dan fasilitasnya mewah. Ia ditempatkan di sana agar bisa mengawasi para pelayan.
"Mrs!" panggil Filri. Ia mengetuk pintu lalu masuk setelah mendapat izin. Mrs. Charlotte sedang membuat susu formula karena sepertinya bayi itu haus dan lapar.
"Apa tidak apa-apa ia diberi susu formula?" tanya Firli.
Mrs. Charlotte menggeleng. "Dia sudah lebih dari enam bulan, makanya sudah bisa membalikan tubuh sendiri dan mengangkat kepalanya ketika menelungkup," jawab Mrs. Charlotte.
"Aku tidak tahu itu," ucap Firli.
Firli mendengus. "Aku 'kan ingin kuliah," keluh Firli.
Mrs. Charlotte tersenyum. "Lady tahu jika perempuan itu makhluk paling hebat? Dulu, Mamah Lady juga Madam Anita mengandung ketika sedang kuliah. Namun keduanya mampu lulus dengan IPK tinggi." Mrs. Charlotte masih sering memberikan motivasi.
Firli menatap bayi kecil di atas tempat tidur Mrs. Charlotte. Seperti apa bayinya dengan Andrean nanti? Apa akan tampan seperti Andrean atau justru lucu dan tembam seperti Firli? Sejenak ia jadi merasa tidak sabar memiliki bayi sendiri.
Firli naik ke atas tempat tidut Mrs. Charlotte dan duduk di samping bayi itu sambil memegang tangan bayi dan mengeluarkan celotahan lucu.
"Lady ingin memberikan bayinya susu?" tawar Mrs. Charlotte sambil memberikan botol susu kepada Firli. Gadis itu mengangguk sambil membawa botol susunya. Ketika Firli mendekatkan karet dot ke dekat bibir bayi, ia langsung membuka mulutnya sambil menatap penuh antusias ke arah botol hingga membuat Firli tertawa. Bahkan ketika dot sampai menempel ke bibir, ia langsung menyedotnya dengan kuat. "Dia lapar," celetuk Firli.
"Iya, dia lapar dan haus. Tadi sudah saya minta pelayan untuk membuat makanan pendamping ASI," timpal Mrs. Charlotte.
"Kasihan bayinya. Kenapa ibu itu meninggalkan bayinya begitu saja?" keluh Firli.
"Saya sudah menelpon polisi untuk menangani kasus ini. Apalagi dia menitipkannya pada anak di bawah umur. Monsieur Abellard juga sudah mengetahuinya," timpal Mrs. Charlotte.
Terdengar suara pintu diketuk. Mrs. Charlotte beranjak membuka pintu dan terlihat Andrean muncul dari sana. Ia menatap Firli yang sedang memegangi botol susu bayi itu. "Wah, anda lihat! Dia sudah cocok menjadi ibu muda," ledek Andrean.
Firli mendengus kesal. Ia mengambil sebuah bantal dan melemparnya pada Andrean. Pria itu tertawa, ia berjalan mendekati Firli dan berdiri di samping tempat tidur. Melihat Andrea, bayi itu langsung mengangkat kedua tangan dan kakinya lalu ia gerak-gerakan seolah meminta Andrean gendong.
"Kenapa? Kau mengingat wajah papah, ya?" ledek Firli. Andrean mencubit lengannya hingga gadis itu menyeringis.
Karena merasa tidak tega, akhirnya Andrean menggendong bayi itu dan mengambil botol susu dari tangan Firli. Ia menggendong sambil memberikan bayi itu susu.
"Apa lebih baik bayinya saya bawa ke paviliun? Di sini terlalu berisik, apalagi jika para pelayan sudah kembali istirahat," saran Andrean. Mrs. Charlotte mengangguk. "Apa anda sudah menyiapkan pakaiannya juga? Saya takut sampai besok ibunya tidak ditemukan," lanjutnya.
"Nanti saya antarkan bayinya ke paviliun. Saya akan mandikan dulu. Lagipula baju bayi yang baru dibeli harus dicuci bersih dan dikeringkan dulu. Mungkin nanti malam baru saya antarkan. Lebih baik Lady dan Monsieur istirahat dan mengerjakan tugas terlebih dahulu," saran Mrs. Charlotte. Andrean mengangguk. Ia mencolek lengan Firli dan memberi kode agar gadis itu mengikutinya.
Firli mengangguk. Ia turun dari tempat tidur dan mengikuti Andrean ke luar kamar. Ketika keduanya telah jauh dari kamar Mrs. Charlotte dan mulai berjalan keluar paviliun ke dua Andrean menuntun Firli. "Kamu suka bayi itu?" tanya Andrean. Firli mengangguk. "Tapi?" lanjut Andrean.
"Tapi dia pasti kangen ibunya. Firli juga sering kangen Mamah sampai ingin menangis," jawab Firli. Mendengar itu hari Andrean sedikit terenyuh. Anggap saja hari ketika gadis ini dibawa ke rumahnya adalah hari dimana Firli dibohongi. Andrean juga sama. Ia hanya diberi tahu jika hari itu ia diminta memberikan Firli hadiah ulang tahun. Keduanya baru tahu untuk mengikrar janji pernikahan ketika keduanya dipertemukan di ruang aula tempat keluarga Freiz mengadakan pesta.
"Mau menengok Mamah?" tawar Andrean. Firli menatapnya Andrean dengan wajah penuh kekaguman. Kemudian gadis itu mengangguk. "Setelah kencan ganda itu bagaimana? Besok kita masih harus mengurus bayi. Mudah-mudahan ibunya dapat ditemukan," saran Andrean.
Mata Firli berbinar. Ia sungguh senang mendengar suaminya memahami perasaannya. Ia kira Andrean akan marah jika mendengar Firli menyebut nama mamahnya. Bagaimanapun ia sudah menjadi bagian keluarga Andrean, bukan lagi keluarganya sendiri.