Highschool Wife

Highschool Wife
Catatan kita hari ini



"Bayiku!" Seorang wanita yang terlihat masih muda langsung menghampiri bayi yang ada di dalam gendongan Andrean. Bayi itu sepertinya mengenali wajah wanita itu. Begitu tangannya mengulur, bayi itu menyambutnya dengan wajah senang.


"Terima kasih banyak," ucap wanita itu. Andrean mengangguk. Namun baik ia dan Firli sama-sama heran karena wajah wanita itu bukanlah wanita yang menitipkan bayi itu sebelumnya. "Sudah hampir satu minggu bayi saya hilang. Saya sudah merasa hilang harapan. Ouh, iya. Nama saya Prisil," keluh ibu bayi itu.


"Saya dan istri merasa bingung karena perempuan di taman yang menitipkannya bukanlah anda," ungkap Andrean.


Firli mengangguk-angguk sementara Mrs. Charlotte merasa kebingungan. "Kami sudah menangkap pelaku penculikan. Bayi Nyonya Prisil hilang di rumah saat sedang tertidur," jelas salah satu petugas kepolisian yang saat itu tiba di rumah keluarga Freiz. Andrean lagi-lagi mengangguk. "Bolehkan saya meminta keterangan anda, Pak?" izin petugas tersebut.


Mendengar kata 'bapak' ditunjukkan pada Andrean kontan membuat Firli tertawa kecil. Jelas Andrean langsung menatapnya dengan sinis. Setelah itu Andrean langsung mempersilahkan petugas tersebut untuk masuk ke ruang kerja keluarga di rumah utama. Sementara Firli, Mrs. Charlotte dan Prisil duduk di ruang tamu. 


"Nama dedek bayi siapa, Tante?" tanya Firli sambil tersenyum manis. 


Prisil nampak senang melihat mata Firli yang menatap bayinya dengan penuh rasa sayang. "Namanya Hendry," jawab Frisil. Bayi itu tertawa ketika namanya disebut hingga memperlihatkan cekungan manis di bawah lekukan garis matanya. 


Firli rasanya begitu gemas pada bayi itu. "Halo, Hendry!" panggil Firli. Hendry lekas tertawa lagi dan menyembunyikan wajahnya di pelukan ibunya. 


"Semalam Lady Firli dan Monsieur Andrean yang menjaganya," ungkap Mrs. Charlotte.


"Terima kasih Lady," ucap Prisil. Firli mengangguk. Ia ingin menggendong bayi itu, tapi apa daya. Setiap kali ia gendong Hendry pasti menangis. Firli jadi kasihan. Sepertinya memang ia harus banyak latihan dengan boneka kata Andrean.


"Ibu yang menculik bayi ini siapa?" tanya Firli penasaran. Prisil nampak bingung menjawabnya. Ia hanya tersenyum seakan sulit mengungkapkan isi hatinya. "Jika anda tidak berkenan bercerita tidak apa-apa," ucap Firli. 


Beberapa jam mereka mengobrol hanya tentang Hendry. Firli juga sempat dipanggil oleh petugas polisi untuk memberikan keterangan tentang ciri-ciri wajah wanita yang menitipkan Hendry dan kronologinya. Setelah semua selesai, mereka harus berpamitan pada Hendry dan ibunya. Walau hanya dua hari tapi sangat menyedihkan melihat Hendry akhirnya pulang. Firli hanya bisa melambai melihat mobil polisi meninggalkan halaman rumah keluarga Freiz. 


"Aku sedih," keluh Firli. 


"Rasanya ingin lekas lulus SMA," sambung Andrean. Firli menatapnya tajam. Ia mengerti maksud Andrean. "Sekolah setiap hari tidak terlalu menyenangkan, 'kan?" dusta Andrean. Firli memutar kedua bola matanya karena kesal dengan sikap Andrean.


"Tentu saja, takut Pak Bram menunggu lama," jawab Andrean. Pria itu meminta salah satu pelayan membawakan petugas valet mobil abu-abunya. Tidak lama kemudian salah satu petugas membawakan mobil abu-abu dengan merek ternama milik Andrean. Firli kadang merasa kesal melihat suaminya memiliki banyak mobil sementara dirinya tidak punya.


Tanpa aba-aba, Firli langsung duduk di kursi penumpang. Andrean mengikutinya dari belakang dan masuk melalui pintu pengemudi. "Ayo cepat!" titah Firli tidak sabaran hingga Andrean mencubit pipinya gemas. 


Mobil itu melaju melalui jalan kota Bandung. Komplek perumahan mereka hampir di sisi jalannya dihiasi pohon cemara sehingga terlihat asri. Rumah-rumah di dalamnya juga merupakan rumah-rumah besar dengan banyak paviliun dan halaman luas. Di depan gerbang, Andrean dan Firli harus mengonfirmasi kepergian ke petugas keamanan komplek.


Bandung siang ini masih sibuk. Kendaraan datang dan keluar masuk jalan hingga mengakibatkan kemacetan di jam-jam sibuk. Firli menatap ke luar jendela lalu kemudian berpaling pada suaminya. Ia merasa senang karena setelah kehadiran Andrean, ia bisa pergi dengan bebas keluar rumah tanpa Mrs. Charlotte dan Bunda. 


Mobil itu berbelok ke arah jalan pegunungan. Di sana ada lahan luas tempat keluarga besar Firli dimakamkan. Lahan yang terlihat asri dan mewah khas makam keluarga berada. Sekarang lahan itu di urus keluarga Freiz karena sama sekali tidak memiliki keturunan lain selain Firli. 


Makan di sana juga tertata rapi dengan dilapisi rumput-rumput hias dan juga bunga-bunga mawar. Firli dan Andrean melewati setiap makam menuju makam yang berada di urutan tengah. Di sana Mama Firli beristirahat untuk selamanya. Melihat makam itu tentu membuat Firli mendadak bersedih. Ia duduk berlutut di samping makam Mamanya. Awalnya ia ingin menahan tangis tapi akhirnya ia menangis juga. 


Andrean duduk di belakangnya sambil mengusap punggung Firli lembut untuk menenangkannya. "Mamah, Firli datang sama Rean. Ouh iya, Firli sempat ketemu Bapak dan juga perempuan yang buat Bapak ninggalin aku sama mamah. Firli kesal jadi tidak menyapanya. Firli gak akan mengakui dia jadi Bapak Firli. Dia juga gak mengenali Firli, kok!" 


Mendengar itu membuat Andrean tersenyum. Ia mengusap rambut istrinya dengan lembut. "Ma! Ini Andrean, menantu Mama. Maaf baru datang karena Andrean selama ini di London. Firli sekarang sehat, Mah. Dia makannya banyak, suka ngomel dan semakin manja," ucap Andrean.


Mendengar itu membuat Firli jadi kesal sendiri. Ia berbalik menatap suaminya. Bahkan air mata gadis itu sampai berhenti mengalir. "Kamu curang, ah! Aku ke sini mau menangis pada Mamah malah kamu buat ingin tertawa!" keluh Firli sambil memukul lengan Andrean gemas. 


Andrean tertawa. "Kamu itu tidak ada sopan santunya. Sudah lama tidak bertemu Mamah harusnya kamu cerita yang menyenangkan malah mengadu hal yang menyedihkan. Masa kamu butuh ibu kamu jika sedang sedih saja!" protes Andrean.


 Firli berpikir sejenak. Apa yang diungkapkan suaminya itu ada benarnya juga. Ia kembali melihat makam Mamahnya lalu mengusap batu nisan bertuliskan nama wanita yang melahirkannya itu. "Aku sekarang senang sekali. Di sekolah semua orang mulai mau bermain dengan Firli. Karena Andrean." Firli melirik tajam ke arah suaminya ketika menyebut nama pria itu. Lagi-lagi Andrean terkikik. "Ouh iya, Bunda Anita dan Ayah Abellard sayang sekali pada Firli. Kalau Andrean galak, mereka pasti memarahi Andrean," lanjutnya.


Andrean mendengus. "Perasaan di sini kamu yang galak," keluhnya sambil mencolek pinggang istrinya.


Andrean sempat berdiri dan kembali ke mobil karena cahaya matahari begitu terik. Ia membawa payung dan kembali lagi ke makam itu kemudian memayungi istrinya. Namun tidak lama Firli protes dan meminta agar mereka sama-sama berlindung di bawah payung itu. "Nanti kalau kulit kamu belang, aku yang rugi," canda Firli.