Highschool Wife

Highschool Wife
Jalan pikiran Andrean



Hari Minggu pagi Firli sudah dibangunkan dengan suara gorden yang dibuka. Begitu keras hingga memekik telinga dan mengumpulkan kesadarannya. Andrean berdiri di samping gorden, memperlihatkan jika ia pelaku utamanya. Tak seperti biasanya ia semangat bangun pagi. Firli menutup wajahnya dengan bantal dan berharap laki-laki itu tak membangunkannya hanya untuk meminta ini dan itu.


"Tidur saja lagi, aku cuman mau kopi," ucapnya sambil meraih gagang telpon dan meminta seorang pembantu mengirimkan segelas kopi ke kamar.


Firli berguling ke arah kiri. Ia tutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Pelan-pelan ia tutup kedua matanya lagi. Tak butuh waktu lama ia masuk ke dalam alam bawah sadar dan mulai berjalan-jalan di dalam angan-angan. Beberapa menit kemudian ia dikagetkan dengan seseorang yang memeluknya erat. Firli terperanjat. Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya. Begitu ia menbalikan kepala, wajah Andrean ia temukan ada di depannya.


"Apa sih Rean, katanya cuman mau kopi," keluh Firli. Ia menoyor pelan wajah suaminya.


Rean menempelkan pipinya di pipi Firli kemudian menggeleng-geleng sehingga menekan kuat pipi gadis itu. Firli kesal lalu mendorong tubuh Rean hingga berguling ke kanan.


"Mandi, yuk! Kita jalan-jalan," ajaknya. Mendengar itu Firli langsung bersemangat dan bangkit dari keadaan berbaringnya. Kasur empuk itu sampai bergoyang-goyang ketika Firli terduduk dengan cepat.


"Ayo," jawab Firli


"Berdua? Mandinya?" tanya Andrean nakal. Bukannya mendapat jawaban malah sebuah bantal langsung melayang tepat ke wajahnya.


"Firli duluan!" bentak Firli langsung turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Ia bahkan menguncinya dari dalam agar Andrean tak masuk. Lama-lama Andrean membuatnya takut juga. "Dasar Rean!" omel Firli. Gadis itu bahkan menyiapkan air mandi sendiri. Untung pelanyan sudah mengganti handuk dengan yang baru tadi malam.


Sementara itu Andrean berjalan ke pintu setelah terdengar suara ketukan. Seorang pelayan sudah berdiri di balik pintu itu membawa sebuah nampan dengan secangkir kopi hitam di atasnya.


Andrean meminta pelayan itu menyimpan kopi tersebut di atas meja sementara dirinya berjalan ke arah pintu balkon dan membukanya.


"Apa perlu saya siapkan air untuk mandi?" tanya pelayan perempuan tersebut yang memakai dress berwarna hitam berlengan panjang dan rok selutut.


"Tidak perlu, Lady sedang mandi. Biar dia yang siapkan." Andrean telah membuka pintu balkon dan berdiri bersandar di sana. Ia nikmati udara segar yang masuk ke dalam kamar. Cahaya mataharipun masuk membuat tubuh terasa hangat dan nyaman.


Andrean ingat dengan kopinya. Ia bergegas menuju meja tamu di kamarnya kemudian meraih cangkir kopi itu dan meminum isinya. Kopi ini sudah dituakan selama 8 tahun sehingga aman diminum karena tak mengandung banyak asam. Harganya memang mahal, tapi ini kopi legendaris di Bandung. Kedainya sendiri ada di pecinan Bandung. Kopi yang menjadi favorit Ayah Abellard sejak muda dulu.


Andrean duduk di atas sofa sambil mengangkat salah satu kakinya ke sehingga bertopang ke kaki yang lain. Dia menyeruputnya lagi, berusaha menyesap aroma relaksasi yang bisa menentramkan jiwa. Belakangan hatinya sedang bergejolak parah. Andrean menatap pintu kamar mandi dan meyakinkan jika istrinya belum selesai membersihkan diri.


Andrean menyimpan cangkir kopinya kemudian mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia juga memukul pinggiran sofa karena kesal. Ia marah karena baik Ayah dan Bunda sangat lemah menghadapi masalah yang kini mereka hadapi.


Suatu kesalahan besar menikahkan Firli dengannya sejak kecil karena itu membuatnya merasa jika gadis itu adalah milikinya. Andrean merasa tersinggung setiap kali Ayah dan Bunda membuat keputusan tentang Firli tanpa menanyainya terlebih dahulu. Apalagi keputusan untuk memisahkan mereka selama enam tahun ini.


Tentang urusan dengan Bapak Firli, Andrean tidak setuju untuk mendekatkan Firli dengan Bapaknya lagi. Percuma, yang laki-laki itu inginkan hanya warisan dari nenek Firli. Dibandingkan dengan itu, uang sepuluh milyar yang seharusnya jatuh ke tangan Firli digunakan untuk masa depan gadis itu suatu hari nanti.


Walau Andrean mampu membiayai seluruh keperluan gadis itu, ia tak tahu kedepannya bagaimana. Andrean memang baru menapak ke usia yang ke tujuh belas. Namun ia lain dengan istrinya, ia lebih dewasa menyikapi kehidupan. Bahkan selama di London ia sudah memikirkan tentang masa depannya dan istrinya. Andrean ingin Firli juga bisa mengerti tentang keputusannya nanti.


Pintu kamar mandi sudah dibuka dan Firli keluar dari walking kloset sudah berpakaian rapi menggunakan over all pendek selutut dan kaus berwarna merah muda. Andrean bangun kemudian berjalan ke kamar mandi tanpa menatap istrinya lagi. Tentu itu membuat Firli bingung karena biasanya ia banyak meminta ini dan itu.


Kurang lebih satu jam Andrean di kamar mandi hingga akhirnya keluar dengan kemeja navy dan celana jeans abu-abu. Rambutnya basah, sepertinya ia baru memcuci rambut. Firli menatap cangkir kopi di atas meja yang baru habis setengah.


"Ini gak akan dihabiskan?" tanya Firli sambil menunjuk cangkir kopi itu. Andrean menggeleng. "Kalau begitu ayo kita ke rumah utama untuk menyapa Ayah dan Bunda juga sarapan," ajaknya.


"Kita makan di luar, lagipula kenapa kita harus menyapa mereka setiap pagi. Aku ini bukan anak-anak lagi," tolak Andrean yang membuat Firli tertegun. Ia tahu ada yang tidak beres dengan suaminya setelah dimarahi Ayah dan Bunda kemarin.


"Ada masalah? Bisa kamu cerita saja?" tanya Firli. Ia juga ingin menunjukan jika dirinya juga mencoba perhatian seperti Andrean.


"Kita makan di luar saja dan berjalan-jalan. Sudah enam tahun aku tidak melihat Bandung secara keseluruhan," ajak Andrean. Ia mengasongkan tangan tanda ingin Firli menyambutnya. Gadis itu mengangguk lalu berdiri dari sofa merah dan meraih tangan suaminya.


Andrean merangkul pinggang Firli kemudian mengecup keningnya. Ia menatap mata Firli dengan hangat. Tangannya mengelus pipi putih itu lalu bibirnya mulai turun mengecup bibir manis Firli. Sama sekali tak ada perlawanan dari Firli. Dia hanya membiarkan Andrean menyentuhnya.


"Sayang, kamu mau nurut sama aku, kan?" tanya Andrean.


Firli bingung harus menjawab apa. "Maksudnya mau kamu suruh ini itu?" kelakar Firli. Andrean menggeleng. "Lalu apa? Mau diajakin mandi bareng?" lagi- lagi ia berkelakar.


Andrean sampai bingung menimpalinya. Pria itu hanya membelai rambut Firli sambil tersenyum. "Yaiyalah bebeb, kalau gak nurut sama pacar gak akan ada efeknya. Kalau gak nurut sama suami, bisa durhaka istri kamu ini," tambah Firli.


Andrean tertawa mendengarnya. "Iyalah, memang kamu mau kehilangan suami seganteng ini?" balas Andrean bercanda.


"Ayo jalan-jalan!" tagih Firli tak sabar.