Highschool Wife

Highschool Wife
Jalan



"Si kembar hari ini gak rewel, kan?" tanya Anita. Hari ini mereka tengah makan malam bersama. Firli menggeleng. Hari ini morning sick-nya juga sudah mulai berkurang dan jarang terasa tendangan. Sepertinya ada waktu di mana kedua calon bayi ini juga merasa lelah. "Syukurlah. Mana Budan khawatir karena dengar dari Mrs. Charlotte kalau papanya malah kelayapan." Sindiri Anita begitu telak. Rasanya Firli tidak tahan ingin tertawa.


Andrean pergi dari siang dan baru pulang sebelum makan malam. Awalnya Firli sempat takut dia kabur, tapi Rai mengonfirmasi kalau mereka sedang hang out berdua. Meski Firli heran karena biasanya mereka jarang akur. "Dia pergi sama Rai Abyapta, Bun. Tenang, anaknya baik kok. Bunda jangan takut Andrean pulang dalam keadaan hamil."


Abellard dan Anita tertawa mendengar ucapan Firli barusan. Sementara korban ghibahan langsung mengacak-acak rambut Firli. "Main kelayapan gak menjamin akan celaka ya. Buktinya kamu, anak rumahan tetap saja hamil muda," balas Andrean. 


Firli memeletkan lidah pada suaminya. "Ini akibat papanya sering kelayapan!" Ia tidak mau kalah. Jadilah pasangan suami-istri muda itu saling ledek-ledekan. Anita tersenyum melihat perilaku keduanya.


"Ingat zaman kita dulu, ya." Abellard seakan melihat cerminan masalalunya dengan Anita. Namun Anita malah menggeleng. "Andrean jauh lebih ganteng dari pada kamu, Yah!" ledeknya. Jelas Abellard langsung mati kutu. 


Selesai makan, Andrean dan Firli berpamitan kembali ke paviliun. Firli rasanya mulai mengantuk. Padahal ia lebih sering tidur siang belakangan ini. Sejak hamil hidupnya seperti putri kerajaan. Kegiatannya hanya menonton, baca, tiduran, makan dan olah raga ringan. Ia ingin mulai menulis lagi, tapi kemalasan melanda dengan sangat luar biasa. 


"Mau kemana?" tanya Andrean karena Firli langsung berjalan ke arah yang berbeda dengannya. Sementara Andrean hendak duduk di sofa, Firli sudah tertuju ke tempat tidur. "Mau tidur, ngantuk," jawab Firli seraya mengucek kedua matanya. Andrean menggendong Firli dan membawanya ke sofa. 


"Habis makan gak boleh tiduran. Lebih baik kita ngobrol," sarannya. AKhirnya Firli memilih untuk mengalah. Mereka duduk bersebelahan. Andrean raih tangan Firli dan mengecup beberapa kali punggungnya. 


"Emang mau ngobrol apa?" tanya Firli penasaran.


Andrean berpikir sejenak untuk merangkai kata sebelum salah ucap dan kena omel istrinya lagi. "Begini, aku minta saran Rai tentang apa yang harus aku lakukan pada Ed dan lainnya. Tadinya Andrean mau pura-pura hilang saja, ganti nomor juga menutup privasi. Tapi Rai saranin supaya aku undang mereka ke rumah dan pertemukan sama kamu. Biar percaya."


Ingin ia menutup mata takut diomeli. Namun wajah Firli terlihat biasa saja. "Suruh datang ke rumah saja. Tapi inget! Ketemu di rumah di depan Firli, gak boleh diem-diem di luar!" tekan Firli.


Andrean mengangguk. Ia yakin  setelah pertemuan itu, mereka kapok melakukan hal yang sama. Bagian paling penting adalah Tania. Meski Andrean tahu itu kejam, ia harus bangunkan gadis itu dari mimpinya. Andrean tidak mau apa yang terjadi dalam mimpi buruknya kemarin jadi kenyataan.


"Kapan ketemunya?" tanya Andrean. Firli nampak berpikir. Ini tidak bisa ditahan lama lagi. "Lebih baik besok kalau memang mereka sedang di sini. Kalau mereka tidak tiba-tiba sibuk."


Andrean mengangguk. Ia raih ponselnya di atas meja lalu mulai menghubungi Ed. Akhirnya setela suara sambungan yang mengganggu, Ed mengangkat telpon dari Andrean juga. "Ed?" sapa Andrean.


Terdengar suara kekehan pria itu. "Sombong sekali kamu itu, baru nelpon sekarang. Malah biasanya kalau tidak dihubungi duluan tidak akan menghubungi," omel Ed.


"Andrean! Sini ke rumah saudara Ed, ada layangan bagus-bagus dari Bali." Seperti biasanya Brussel sering membahas hal kekanak-kanakan. Terdengar gelak tawa di seberang sana sementara Andrean masih merasa kaku. Beberapa kali ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya lagi. Bagaimana ia menyusun kalimat tepat agar tidak mencurigakan? 


"WHAT?" terdengar suara tidak percaya dari mulut ke dua pria itu. Andrean memutar bola matanya sementara Firli nyengir kuda. Ia akan berusaha berakting layaknya seorang istri yang membutuhkan suami siaga. 


"Kenapa kalian malah kaget begitu?" tanya Andrean bingung.


Ed menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Itu, kemarin bukannya kamu selalu menolak jika aku mau berkunjung."


Andrean tidak menepis bagian itu. Ia selalu beralasan karena ... "Itu kan karena urusan keluarga. Sekarang aku free, kok!"


"Yakin? Memang urusannya gak terlalu berat sampai akhirnya bisa selesai?"


"Gak kok, urusan keluarga biasa."


"Kalau gitu, kamu balik lagi ke Manchester, donk!" Brussel terdengar begitu berharap. Ia sama kehilangannya dengan Tania.


Ed mengangguk. "Iya, kasian Tania galau," pancing Ed. Andrean mendengus. "Kamu mau bilang sama Tania?" tawar Ed.


Firli berkacak pinggan sambil melotot. Ingin ia memaki tapi tempatnya kurang tepat.


"Gak usah, kalau mau dateng ya dateng saja. Nanti aku kirim alamatnya. Kalau mau aku suruh supirku jemput ke sana," saran Andrean.


Ed mengangguk. "Jemput saja. Aku gak tahu daerah ini. Sejak kecil sudah di Jakarta."


"Ok, nanti aku minta Pak bram jemput kalian. Kirim alamatnya saja."


Setelah saling tukar alamat, Andrean menutup sambungan telponnya. Rasanya lega karena jalan pertamanya berjalan mulus. Tingga besok bagaimana pasang skenario.


"Tergantung kamu mau ajak mereka ketemu di paviliun apa di rumah utama?"


Andrean nampak berpikir. "Kalau di rumah utama, Rean takut ada insiden dan malah membuat berisik. Di sini saja," sarannya.