
“Andrean!” panggil Firli. Gadis itu mengejar suaminya yang sudahmengenakan pakaian rapi dan berjalan keluar paviliun. Namun Andrean tidakmenggubris. Ia pulang ke rumah dari sekolah sendirian tanpa menunggu Firli. Untung saja ia cukup bertanggung jawab meminta Pak Bram menjemput istrinya.
Sepulang ke rumah, Andrean lebih memilih istirahat di salah satu kamar tamu di rumah utama. Karena Ayah dan Bunda sedang ada pertemuan di Jakarta, jadilah Andrean bebas bersikap di rumahnya. Tinggallah Firli yang merenung sendirian mencari cara meluluhkan hati Andrean. Hingga akhirnya pukul delapan malam Andrean kembali ke kamar, meski terus dihujani pertanyaan, ia tidak memberikan satu pun jawaban.
Pria itu lebih memilih masuk ke dalam walking closet untuk mengganti pakaiannya kemudian pergi ke luar kamar. Jelas karena khawatir Firli berinisiatif mengejarnya. “Andrean! Mau kemana?” tanya Firli sambil memegang lengan Andrean dengan erat. Namun Andrean lebih memilih menepis tangan Firli dan menatapnya tajam.
Firli mengusap tangannya yang lumayan terasa sakit karena kekuatan Andrean saat menepisnya. “Urus apa yang menjadi urusanmu sendiri!” ucapnya sinis sambil berjalan pergi dengan cepat. Mendengar itu Firli hanya bisa menatap suaminya dari kejauhan keluar pintu dan naik ke dalam mobilnya.
Gadis itu terduduk lemas di anak tangga. Ia kemudian memeluk lututnya sambil berusaha menahan tangis. Beberapa pelayan yang melihatnya merasa iba. Banyak diantara mereka merasa heran melihat gadis semuda itu sudah harus dihadapkan pada kemelut rumah tangga.
Tak lama Firli berlari ke kamarnya kemudian menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. Para pelayan itu sudah tahu jika Firli akan menangis di dalam kamar dan baru keluar jika ia sudah merasa tenang.
Benar saja, Firli memilih menenggelamkan wajahnya di atas bantal kemudian menangis sambil meredam teriakannya dengan menutup mulutnya dengan benda empuk itu. Jika sudah merasa lebih tenang, Firli akan melempar bantalnya lalu berguling ke bagian tempat tidur Andrean. Merasa tempat itu kosong, Firli akan menarik bantalnya lagi dan menangis.
Setelah puas dengan bantal, Firli turun dari tempat tidur dan berlari ke walking closet. Ia membuka lemarin Andrean takut semua pakaiannya hilang. “Ngapain juga dia kabur dari rumahnya. Kalau mau, aku yang dia usir!” omel Firli sambil menangis tersedu-sedu. Ia kesal, marah tapi juga sedih. Sesekali Firli menangis lalu mengomel kemudian menangis lagi. Ia ambil kemeja Andrean lalu memeluknya erat.
“Padahal baru beberapa jam marah, tapi rasanya setahun! Andrean!” lirih Firli. Punggungnya ia sandarkan di lemari coklat muda milik Andrean dan kakinya selonjoran di lantai marmer coklat. Tidak ada suara lain yang menimpalinya. Hanya ada beberapa lemari di sana yang memiliki fungsi masing-masing baik untuk menggantung pakaian atau menyimpan aksesoris.
Firli melihat wajahnya di dalam pantulan kaca tempat mematut pakaian. Kemudian ia menangis lagi meratapi ekspresi menyedihkannya. Jika saja ia tidak mendengar bunyi ponsel, mungkin Firli tidak akan keluar dari tempat itu. Mendengar suara ponsel wanita manapun akan lupa segalanya. Buktinya Firli gerak cepat mengambil ponselnya ketika berdering. Ketika ia melihat layar ponselnya dan melihat nama Elsa di sana, Firli menunduk sedih.
“El?” sapa Firli.
Suara paraunya membuat Elsa bisa menebak jika gadis itu sedang menangis. “Jadi beneran kata Misyel kamu berantem sama suami kamu?” tanya Elsa. Firli tetap mengangguk meski tahu Elsa tidak akan melihatnya. “Kamu pasti nyari suami kamu, kan?” tanya Elsa.
“Kok tahu?” tanya Firli heran.
“Ini kapan?” tanya Firli.
“Sekarang kita ada di restoran yang sama. Sepertinya karena suami kamu itu hanya baru bertemu aku sekali, dia gak ngeh itu aku,” jelas Elsa. Firli mengangguk-angguk. “Untung belum aku sapa dia,” tambahnya.
“El, jangan sapa Andrean. Kamu video call aku dan kameranya kamu hadapkan ke dia. Jangan bicara sepatah kata pun,” pinta Firli.
Elsa mengiyakan permintaan sahabatnya itu, ia matikan telponnya lalu ia pindah ke layanan video call. Langsung Elsa membalikan kamera depan ke kamera belakang agar Firli bisa melihat suaminya. Firli tidak salah melihat. Kamera ponsel Elsa sangat jahat hingga terlihat jelas wajah Andrean dan Helen. Mereka memang tidak berdua, hanya saja duduk bersebelahan. Bagian paling menyebalkannya Helen tetap melancarkan serangan yang sama, ia sangat menempel pada Andrean seperti ulat.
“Makasih Elsa. Sudah cukup, biarkan saja,” ucap Firli terdengar kesal.
“Yakin?” tanya Elsa.
“Dia sudah kasih aku jawaban apa yang harus aku lakukan,” ucap Firli. Elsa mengerutkan dahi tapi tak lama Firli mematikan video call-nya. Jujur itu membuat Elsa khawatir. Firli itu mudah sekali terluka karena sikap seseorang. Bagaimana bisa ia menghadapi hal serumit ini. Elsa mengepalkan tangan, ia juga merasa kesal melihat perempuan di samping Andrean yang begitu lekat pada pria itu. Namun mengingat Firli dan Andrean terikat dalam urusan rumah tangga, rasanya tidak pantas Elsa ikut campur.
Sementara itu Firli terdiam melihat keluar jendela. Ia meremas ponselnya kemudian melemparnya ke atas nakas di samping tempat tidur. Firli turun dari kasurnya kemudian berjalan keluar kamar. “Lady hendak kemana?” tanya seorang pelayan yang melihat Firli berjalan menuruni tangga kemudian berjalan mendekati pintu ke luar.
“Ke rumah utama,” jawab Firli pendek. Gadis itu berjalan menuruni pintu ke teras kemudian turun ke jalan yang lapisi aspal menuju pintu belakang rumah utama. Pintu besar dari kayu jati dan dicat coklat tua itu memiliki kaca
persegi di bagian atasnya sehingga bisa melihat langsung ke balik pintu. Firli membuka pintu itu yang terhubung ke lorong dengan tembok bercat putih, lorong yang terhubung ke ruang tamu umum. Firli duduk di atas salah satu sofa tamu. Ia memeluk bantal sandaran kursi sambil menatap kosong ke arah pintu utama.
Gadis itu yakin Andrean akan pulang melalui pintu itu dan masuk ke dalam kamar tamu di rumah utama ini. Dia tidak akan tidur di paviliun untuk menghindari Firli. Karena itu, istrinya akan menunggu di sini sampai ia pulang dan menanyakan tentang kepergiannya malam ini. Jam demi jam berlalu hingga Firli merasa bosan. Ia sempat menonton tayangan channel luar negeri melalui televisi flat di ruangan itu. Namun pikiran yang terganggu membuat Firli tak bisa menikmati hiburan bahkan menolak saat ditawari camilan. Penantian itu berakhir hingga pukul dua belas malam ketika hari akan berganti.