Highschool Wife

Highschool Wife
Saat kita bersama



Andrean dan Firli berjalan sambil berpegangan tangan. Setelah perjalan panjang karena macet mereka baru tiba di tempat pukul tiga sore. Hujan baru turun dan membuat kabut tipis menghiasi tempat wisata dimana berbagai macam tempat yang memilki miniatur kota di duniaitu. Suhu dingin menusuk hingga ke tulang. Firli mendekatkan tubuhnya pada Andrean berharap itu akan terasa lebih hangat. Syukur suaminya dapat menyadari kode itu.


“Pak, beli jaket di mana, ya?” tanya Andrean saat ia membeli tiket masuk. Penjaga tiket itu menunjukkan sebuah toko oleh-oleh yang tak jauh dari jalan masuk. “Terima kasih,” ucap Andrean begitu manis.


Pasangan itu berjalan masuk ke dalam di atas jalanan paving blok yang cukup bisa dilalui sebuah bus. Hanya karena jalannya menurun dan licin akibat hujan, keduanya harus hati-hati. Beberapa orang menatap keduanya yang sama sekali tak ingin berjauhan. Andrea melepas tangannya lalu memeluk Firli dengan sebalah tangan sambil berjalan. “Dingin ya, sayang?” tanyanya. Firli mengangguk.


Tokoh oleh-oleh yang mereka datangi memiliki beberapa bagian. Ada café, tempat makanan dan juga souvenir. Di bagian souvenir itulah mereka memilih jaket untuk melindungi mereka dari suhu yang dingin khas pegunungan.


“Ini saja, ya?” tanya Firli memperlihatkan dua jaket berwarna abu-abu yang berpasangan. Tadinya ia pikir Andrean akan menolak, tapi laki-laki itu mengangguk. Firli juga meminta Andrean membelikannya sebuah topi yang memiliki telinga kucing di atasnya. Andrean tertawa melihat istrinya begitu lucu mengenakan topi dan jaket itu.


“Empat ratus ribu,” ucap kasir di toko tersebut. Andrean tersenyum kecut mendengarnya karena uangnya habis sudah terpakai hanya untuk membeli semua itu. Ia memberikan tiga lembar uang hasil kerja kerasnnya ke kasir.


Kemudian kedua pasangan itu berjalan keluar toko dan mengikuti beberapa orang yang menyusuri jalan paving menurun dimana sisi kanan dan kirinya ditanami pohon paku dan cemara. “Uang Rean habis loh,” celetuk Rean. Firli menatapnya heran. “Gak apa-apa, sih! Masih ada kartu ATM, kan!”


Firli menepuk bahu suaminya. “Nah, ituloh makanya jangan sok! Kita ini sudah terbiasa


buang-buang duit!” komentarnya memancing tawa Andrean.


“Kan kita anak orang kaya!” celetuk Andrean. Orang-orang yang mendengarnya menatap sinis mereka tapi keduanya tak peduli dan malah menikmati candaan tersebut.


Mereka berbelok ke arah kiri. Pohon cemara berganti menjadi pagar tembok khas istana Korea dengan genting di bagian atasnya berwarna hitam. Temboknya sendiri diberi cat putih dan terlihat garis bata yang menghiasinya. “Seperti di Deoksugung Doldam-gil, ya?” tanya Firli. Andrean malah menatapnya heran mendengar kata itu. Firli lupa jika beberapa bulan lalu ia pergi ke sana dengan Bunda. “Lupakan!” ucap Firli.


Lagi-lagi mereka berjalan memasuki kawasan rumah-rumah kayu korea. Ada kincir air mini di salah satu sudutnya. Kemudian mereka masuk ke dalam lorong dimana ada sebuah ruangan yang percis seperti tempat memeram kimchi. Setelah itu mereka keluar dan kembali masuk ke jalan menurun menuju dasar tempat wisata. Itu adalah sebuah jembatan besi menurun yang menghubungkan bagian atas tebing dengan dasarnya. Dari atas sana Firli bisa melihat beberapa atap khas padang, jepang, kubah dan juga atap rumah honai.


“Ayo!” seru Firli sambil berlari. Gadis itu meninggalkan Andrean yang lebih memilih berjalan santai menikmati udara. Firli mengambil ponselnya kemudian melakukan foto selfie. Akhirnya ia bisa juga jalan-jalan tanpa Ayah dan Bunda. Biasanya ia hanya bisa memajang foto formal karena malu jika harus berselfie ria di depan mertuanya.


Firli begitu lincah melewati satu per satu wisatawan sambil berlari. Sesekali ia berhenti, berpegangan di railing jembatang lalu tersenyum kemudian kembali berlari turun. Hingga akhirnya ia lelah sendiri karena jmebatannya ternyata sangat panjang dan berkelok-kelok. Firli berdiri di sisi jembatan dengan napas terengah-engah. Ia berbalik dan kaget karena tak menemukan Andrean di sana. Satu per satu wisatawan ia lihat namun tak satupun memakai jaket yang sama dengannya. Kecuali seseorang yang sedang mengobrol dengan wanita di atas sana. Firli mendengus kesal. Gadis itu kembali naik ke atas menghampiri laki-laki dengan jaket abu-abu. Semakin dekat ia semakin jelas melihat jika itu benar wajah suaminya.


Ada tiga gadis dekat dengan Andrean. Dari senyuma terlihat sekali mereka tertarik dengan suaminya itu. “Maaf, suami saya kenapa?” tanya Firli tiba-tiba datang memeluk lengan Andrean. Ketiga gadis itu sontak kaget dan menatap Andrean penuh tanya.


“Iya, ini istri saya,” ucapnya membuat ketiga gadis itu memasang wajah kecewa kemudian pergi. “Mereka cuman nanya jalan dan Andrean bilang gak tahu,” jelasnya karena mata istrinya sudah melotot seram.


“Siapa suruh ninggali, giliran suaminya digoda orang marah,” ledeknya.


Kali ini belajar dari pengalaman akhirnya Firli berjalan sambil berpegangan tangan dengan Andrean. Satu per satu wanita yang melihat suaminya ia pelototi bahkan ia maki. Sedang Rean hanya tertawa melihat perilaku istrinya. Sampai di daerah miniatur india, Firli tertegun melihat gerbang besar berwarna merah muda. Ia meminta Andrean memotretnya. Sebagai suami yang baik, Andrean menurut saja. Tak lama ia meminta bantuan pada laki-laki yang kemungkinan seusianya untuk memotret dirinya dan Firli. Foto mereka berdua untuk pertama kali. Firli upload foto itu ke media sosialnya. Ternyata dalam waktu sekejap instagramnya langsung mendapat komentar dari teman satu sekolahnya. Bahkan beberapa rekan bisnis Ayah Abellard yang melihat postingan itu ikut berkomentar.


Monsieur dan lady benar-benar pasangan serasi


Jadi cowok baru ganteng itu pacar kamu?


Komentar paling lucu tentu dari ketiga sahabatnya.


Nana : Jadi sudah rilis ini?


Ghea : Bulan madu, ya?


Elsa : Pilih-pilih lo! Giliran sama cowok ganteng aja mau diajak jalan!


Tidak hanya Firli, bahkan Andrean ikut tertawa ketika membacanya. Kemudian mereka kembali berjalan menuju gerbang jingga yang berbaris. Ada banyak pintu gerbang terpasang hingga Firli tak bisa menghitungnya. “Seperti gerbang di Fushimi Inari, iya kan?” tanya Andrean. Kali ini justru Firli yang tak mengerti. “Ada kuil di Kyoto yang punya 1000 gerbang karena banyaknya. Gerbangnya juga berwarna jingga,” jelas Andrean.


“Rean!” panggil Firli.


“Hmm,” jawab Andrean.


“Sini!” seru Firli agar Andrean mendekatkan wajahnya. Andrean menurut saja seruan istrinya. Ia dekatkan wajahnya dengan Firli. Sebuah kecupan tiba-tiba menempel di pipi Andrean dari bibir Firli. Gadis itu tertegun kemudian pipinya berubah merona. Setelah itu ia berlari meninggalkan suaminya.


“Hei, Nyonya Andrean! Mau kemana?” panggil Andrean melihat Firli berlari begitu saja.


Firli sempat berbalik menatap suaminya. “Aku malu, ih! Nanti dulu!” serunya lalu kembali berbalik dan berlari. Andrean tertawa melihat tingkah konyol istrinya itu kemudia mengejar Firli takut istrinya tersesat.