
"Kamu yakin mau pergi?" tanya Patricia. Tania mengangguk. Ia semakin tidak tenang, apalagi setelah melihat surat pengunduran diri Andrean ke bagian kemahasiswaan. Ia kenal Andrean begitu bersemangat dalam belajar. Jika tiba-tiba ia mengundurkan diri, pasti ia sedang mengalami masalah yang berat.
"Kamu pikir karena apa Andrean out dari kampus?" Patricia masih penasaran akan hal itu. Mungkin saja Tania tahu. Tania menggeleng. Ia mencoba menemukan akar masalahnya dan selalu berujung pada kemungkinan keluarga Andrean bangkrut.
"Kamu sudah cari tahu kabar tentang keluarga Freiz? Aku nyoba bertanya pada pelayan di rumahnya saja, mereka sangat tertutup. Tidak ada artikel juga akun sosial media tentang Andrean dan keluarganya. Jika begini, satu-satunya cara hanya menyusul ia ke sana."
Patricia tahu jika keluarga kaya seperti keluarga Andrean sangat mementingkan privasi karena berita tentang mereka bisa saja merugikan bisnis keluarga. Bagian paling buruk, dimanfaatkan orang yang berniat jahat.
"Pergi dengan siapa?" tanya Patricia.
"Brussel dan Ed. Kebetulan Ed punya keluarga di Bandung, aku bisa menginap di sana. Kau memang tidak mau ikut?" tawar Tania.
"Well, tidak seperti kalian yang masih WNI, kamu tahu sendiri sejak kecil aku sudah menjadi warga negara Amerika," tolak Patricia. Orangtuanya memang orang Indonesia, tapi Patricia lahir di Amerika dan secara undang-undang kewarganeraan di sana, ia adalah warganegara Amerika. Ia bisa saja memilih dua kewarganegaraan tapi sampai usia delapan belas tahun. Di ulang tahunnya beberapa bulan lalu, orangtuanya memutuskan agar ia memilih Amerika.
Tania mengerti, dibandingkan dirinya, Patricia perlu dokumen yang ribet jika ingin ke Indonesia. ia laksana orang asing di rumah sendiri.
"Kalau benar keluarga Andrean bangkrut, kau mau menerimanya?"
Tania mengangguk. "Aku mencintainya, Patricia. Kalau ia benar dalam kesulitan finansial, aku akan bantu dia. Kalau perlu membawa ia kembali ke Manchester."
Akhirnya Tania pergi ke bandara bersama dua sahabat prianya menggunakan mobil Patricia. Mereka berangkat dari Manchester ke London dengan mobil. Setelah tiba di bandara, Patrici memeluk Tania dan memberikan semangat. "Semoga sukses dan membawa Andrean kembali."
Di mata Patricia, tubuh ketiga sahabatnya semakin menjauh. Patricia menghembuskan napas lega lalu berbalik dan lekas pulang. Tania duduk dengan perasaan was-was di hati. Ia tidak sabar bertemu Andrean, tapi masih ada delapan belas jam yang harus ia lalui hingga tiba di Tangerang dan sampai tiga jam setelahnya.
***
"Fir, mau dipijitin?" tawar Andrean ketika melihat telapak kaki Firli yang bengkak. Ia sebelumnya sempat diberitahu dokter jika semakin besar kandungan maka kaki si ibu jadi rentan bengkak. Firli menggeleng. Ia merasa tidak sopan jika suaminya menyentuh kakinya.
"Kalau begitu lekas tidur, sudah malam." Andrean menarik selimut dan menyelimuti istrinya hingga ke dada. Firli mengangguk, ia menghadap ke samping karena tidak kuasa jika harus tidur terlentang. Rasanya sesak.
Andrean tertawa melihat perilaku istrinya itu. Ia semakin erat memeluk Firli. "Sudah tidur, sudah malam. Nanti aku khilaf bagaimana? Kata dokter aku harus mulai naha diri, loh." Niatnya begitu, tetapi beberapa menit kemudian, Andrean yang mengangkat dagu Firli dan mencium bibir istrinya dengan penuh gairah. Ia tahu malam ini tidak akan mendapat jatah, tapi setidaknya sebagian nafsunya bisa sedikit tersalurkan meski itu karena tangan Firli yang bermain di simbol lelakinya.
"Sudah, ya. Capek!" keluh Firli. Andrean menganguk dan memperbaiki celananya lagi. Setidaknya ia bisa tidur nyenyak. Detik demi detik berlalu dan keduanya kembali hanyut dalam mimpi. Awalnya mimpi Andrean begitu indah. Ia melihat Firli memakai baju pengantin yang cantik. Kemudian ia melihat saat prosesi tujuh bulanan. Setelah itu mimpinya semakin buruk. Ia melihat Firli menangis karena melihatnya berciuman dengan Tania.
"Gak, Fir. Itu bukan Andrean, itu orang lain," lirih Andrean dalam tidur. Ia juga melihat Firli yang terjatuh dan mengalami pendarahan. Susah payah Andrean membawa Firli ke rumah sakit. Namun sayang, dokter bilang Firli dan bayinya tidak bisa diselamatkan. Andrean kaget bukan main, ia tersentak dan bangun tepat di samping Firli yang masih tertidur. Ia mengusap wajahnya lalu menempelkan keningnya di kening Firli.
"Aku gak akan ninggalin kamu sama perempuan lain. Mau itu Helen atau Tania. Aku mencintai kamu, anak-anak juga. Kalau kamu hilang, aku gimana? Aku gak mau hidup. Kamu bagian tubuh aku sejak aku berjanji menjadi suamimu di depan Tuhan."
Andrean mengecup kening Firli. Air matanya turun membasahi mimpi. Tidak, mimpi itu tidak boleh terjadi. Ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Firli darinya. Sadar akan air mata Andrean yang menetes ke wajah Firli, wanita itu membuka mata dan kaget melihat suaminya menangis. Firli bangkit dan memeluk Andrean. Pria itu masih saja berlinang air mata.
"Kenapa?" tanya Firli heran. Andrean menggeleng. Ia peluk istrinya semakin erat. Ia tidak mau menceritakan mimpi buruk itu, takut Firli ketakutan lalu stress. "Jangan menyembunyikan sesuatu begitu. Katakan! Aku jadi khawatir."
Andrean tetap menolak membahasnya. Ia lebih memilih mengusap air mata dan mengecup kening Firli lagi. "Jangan bilang kangen sama si Tania itu!" todong Firli. Andrean kontan menggeleng dengan wajah ketakutan.
"Lalu?" tanya Firli memaksa.
"Aku takut kamu pergi ninggalin aku." Begitu tulus pertanyaan Andrean hingga Firli ikut menangis. Ia pegang tangan Andrean. "Entah bagaimana caranya aku berbakti pada kamu. Selain menjaga ketika kamu mengandung, menemani kamu melahirkan dan bantu merawat anak kita. Aku akan selalu di sana sama kamu."
Tangis keduanya pecah pagi itu ditemani sinar matahari yang perlahan masuk mengintip diantara goden kamar yang tidak tertutup dengan sempurna. "Andai kalau aku diberi pertanyaan ingin menjadi apa di kehidupan selanjutnya. Aku masih tetap mau jadi suami kamu."
Firli tahu ia telah salah menilai suaminya. Mungkin hati pria itu pernah terpengaruh, tapi Andrean sangat patuh pada tanggung jawabnya. Lebih dari itu, rasa cinta Andrean pada Firli sudah dimulai sebelum mereka tahu cinta itu semacam apa. Firli mengenang masa itu, ketika masih empat tahun dan Andrean menemaninya bermain ayunan. Wajah lugu keduanya begitu lucu dan tawa menghiasi taman.
Saat itu hanya ada keduanya di sana. Firli menatap Andrean yang duduk di ayunan di sampingnya. "Rean lebih suka main dengan Firli apa dengan Louis?" tanya Firli karena merasa cemburu akibat belakangan Andrean sering main dengan Louis.
Andrean meraih tangan Firli dan memegangnya. "Louis hanya teman Andrean, tapi Firli lain. Rean gak mau nikah dengan Louis, tapi sama Firli mau."