
Firli tertegun melihat Andrean, Anita dan Abellard tertawa puas. Akhirnya keceriaan keluarga itu kembali setelah satu minggu rumah ini sepi ditelan kegelapan. Foto Andrevan terpajang di dinding ruang keluarga. Walaupun foto itu diambil enam tahun lalu sebelum Revan tertidur pulas dalam waktu yang lama.
"Ayah sih, kenapa menggantungnya tidak hati-hati. Hampir saja fotonya jatuh," keluh Anita yang berhasil menangkap foro Andrevan sebelum jatuh ke lantai akibat Abellard salah menggantungnya.
"Bunda ini bagaimana, pinggang Ayah ini sakit keseleo," Abellard balas mengeluh.
Firli dan Andrean hanya bisa tertawa melihat Abellard memegangi pinggangnya. Lagipula ada banyak pelayan di rumah yang bisa diberi perintah untuk menggantungnya. Namun Abellard bersikeras melakukannya sendiri. "Seperti bukan laki-laki kalau tidak bisa melakukannya," katanya.
"Makanya jangan sok jagoan. Biasanya juga hanya berkerja di depan komputer dan kertas. Sok jagoan memegang palu dan paku," ledek Anita.
"Bunda ini! Kalian juga malah tertawa melihat Ayah begini!" Abellard berkacak pinggang.
"Dari tadi Rean sudah menawarkan diri." Andrean membantu Abellard berjalan menuju kamar dengan memapahnya. Sementara Firli berjalan sambil menuntun Anita.
"Tidak tahu kenapa, dia sekarang jadi lebih hangat," komentar Anita. Firli mengangkat sebelah alisnya. "Suami kamu ituloh, sekarang dia mau mengobrol lama dengan Ayah dan Bunda.
Firli tersenyum. "Dia hanya iri. Namun dalam hati ia sangat menyayangi Kak Revan," jawab Firli.
Anita mengusap rambut Firli. "Terima kasih, Nak. Kamu sudah mau mengerti tentang Rean," ucap Anita. Firli mengangguk. Jika bukan Firli, siapa lagi yang akan berbagi rasa dengan Andrean. Karena mereka akan bersama selamanya, semoga. Firli melihat punggung Andrean dari belakang.
***
Firli menutup gorden kamar. Padahal hanya satu yaitu gorden yang menghalangi kaca jendela dan pintu menuju balkon, tapi rasanya melelahkan karena ukurannya yang besar. "Lain kali kalau hendak tidur suruh saja pelayan yang menutup gorden, berat!" keluh Firli.
Rean memeluk bantal sambil memainkan ponselnya. "Kau cerewet seperti Bunda pada Ayah saja!" protes Rean.
Mulut Firli mendecak. Ia berjalan menghampiri suaminya dan langsung merebut ponsel dari tangan Rean. "Jam berapa ini? Cepat tidur, bukannya besok masih ada ujian sekolah?" titah Firli. Andrean mengangguk dan sedikit mengintip saat Firli mengunci ponselnya dan menyimpan di atas nakas. Firli berjalan memutari tempat tidur dan naik dari sisi lain. Baru saja ia akan terbaring, Rean memeluknya dari belakang.
"Aku stress. Bahkan ujian negara tidak memandang aku sedang sedih ataupun tidak," protesnya. Firli mengusap kepala Andrean yang bersandar di lengannya.
"Kau pasti bisa, bahkan tanpa belajar pun kau bisa melaluinya."
"Pikiranku sedang terganggu," keluh Andrean lagi.
Rean semakin erat memeluk istrinya. Kepalanya bangkit dari lengan Firli dan menatap wajah Firli dengan saksama. Beberapa detik kemudian, tatapan itu turun ke leher. Rean menyingkap rambut Firli yang menutupi leher gadis itu. Firli masih diam sambil beberapa kali menguap. Namun ia langsung membeku begitu merasakan ciuman Andrean di lehernya.
Bibir Andrean menjelajah, dari leher ke bagian belakang telinga kemudian menuruni sepanjang lengan. Firli bergidik geli dengan perasaan aneh yang mengusik batin. Ia geli, tapi menikmatinya.
Tak lama Rean menarik tubuhnya agar terbaring menghadap ke atas. Kemudian pria itu memposisikan dirinya agar berada di atas Firli. Jantung keduanya berdebar dan napas semakin memburu.
"Caranya?" tanya Firli bingung. Andrean tidak menjawab. Ia mengecup bibir Firli beberapa detik hingga gadis itu terpejam. Ketika matanya tertutup, Firli bisa merasakan tangan Andrean melepas satu per satu kancing kemeja tidurnya.
Tangan Firli hanya bisa meremas selimut yang masih berada di bawah tubuhnya. Begitu ia membuka mata, Andrean sudah duduk di atas tempat tidur dan siap-siap melepas kemeja yang Rean kenakan. Sementara itu kemeja Firli sudah terbuka.
Perasaan malu mulai menganggu, Firli berpaling ke arah kiri. Beberapa menit kemudian, Andrean mulai kembali menindih tubuhnya. Sempat Firli menahan tangan Andrean yang ingin melepas pakaiannya. Namun begitu Rean mengecup pipinya, ia biarkan begitu saja.
Ketika tidak satu helai pun pakaian yang membatasi mereka, Firli bisa merasakan tubuh Andrean terasa panas menyentuhnya. Ia bermain dengan tubuh Firli hingga membuat jantung dan darah Firli bergejolak semakin hebat.
Ini seperti adegan dalam novel yang Firli baca bersama teman-temannya. Bagaimana suami di novel itu mulai mengusik bagian-bagian sensitif di tubuh istrinya dan sejenak keduanya mulai tenggelam. Firli juga demikian. Tanpa sadar ia mengikuti permainan Andrean. Tangannya mulai nakal menuntun Andrean ke bagian yang paling ia inginkan untuk disentuh suaminya.
Hingga mulai mendapati puncak permainan, Firli merasakan rasa sakit dan perih yang terasa hingga ke ubun-ubun. Tangannya meremas rambut Andrean. Namun seakan kenikmatan yang ia rasakan melebihi rasa sakit dijambak istrinya, Andrean malah meraih bibir Firli dengan bibirnya dan menumpahkan keegoisannya di sana.
Setelah rasa perih itu, Firli mulai merasakan apa yang suaminya juga rasakan. Mereka mulai berbagi kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Andrean tidak peduli ujian esok hari ataupun kesedihannya kehilangan kakaknya. Saat ini, yang dia inginkan hanya memiliki istrinya untuk dirinya sendiri.
Ketika Firli merasa perutnya terisi sesuatu, gadis itu menatap suaminya. Ia mengusap pipi Andrean. Wajah pria di hadapannya nampak puas dan itu membuatnya lega. Rean mengecup kening Firli dan memeluknya lagi. Firli tersenyum. Akhirnya ia menjadi istri yang sepenuhnya untuk suaminya.
"Terima kasih," ucap Andrean berbisik di telinga Firli. Gadis itu mengangguk sambil menyentuh punggung Andrean.
Ketika Andrean turun dari atas tubuh Firli, pria itu kembali memosisikan tubuh Firli agar menghadap ke samping sehingga saling berhadapan dengannya. Andrean memeluk Firli erat dan Firli tenggelam dalam pelukan suaminya.
Bagian paling ia sukai adalah saat Andrean menepuk-nepuk punggung Firli dengan lembut dan membuat gadis itu terlelap untuk beristirahat setelah energinya terkuras banyak.
Napas Andrean yang tadinya sangat cepat mulai turun. Ia mengecup kening Firli dan menatap wajah istrinya yang sudah tertidur lalu tersenyum.
Rean mengusap rambut gadis itu. "Hei!" panggil Andrean.
"Hmm." Firli masih menutup matanya. Ia tidak kuasa bangun dari tidurnya. Firli merasa kalah.
"Bisa nanti kita ulangi lagi?" tanya Andrean.
Firli mengangguk. Andrean lagi-lagi tersenyum. Ia semakin erat memeluk istrinya. Malam semakin larut dan Andrean tidak peduli dengan suara getaran ponselnya di nakas, paling itu teman-temannya yang ingin mengajak bermain games.
"Selamat tidur, istriku!" ucap Andrean lalu kembali mengecup kening istrinya.