
“Fir, lo baik-baik saja kan?” Rai tiba-tiba muncul ketika Firli sedang
duduk di taman bersama Nana. Ia mengambil posisi duduk di samping gadis pendek itu. Rai memegang pipi Firli dengan gemas membuat rona merah timbul di pipinyan. “Perempuan kemarin bukan Bunda lo, kan?” tanyanya.
Firli mengangguk. “Iya, dia guru pribadi gue. Maaf ya Rai soal kemarin,” ia masih merasa bersalah pada Rai. Padahal Rai hanya berusaha berbuat baik padanya tapi malah menjadi korban kesinisan Mrs. Charlotte.
Rai mengedipkan matanya beberapa detik lalu mengangguk. “Pantesan saja,
seingat gue pernah liat Bunda lo dan dia lembut banget orangnya, gak galak kayak
kemarin,” celetuk Rai sambil menggaruk dahinya dan tersenyum kecil.
Nana bangkit dari tempat duduknya. “Kayaknya lebih baik gue tahu diri di
sini,” celetuk Nana. Firli tertawa sedang Rai terlihat tak mengerti apa maksud
perkataan Nana. “Lo berdua ngobrol aja dulu, gue mau ke perpus,” tambahnya.
“Hati-hati, Na!” Rai melambai pada Nana yang akhirnya berjalan pergi. “Dia
mau ke perpus tapi kok lewat sana?” Rai semakin bingung ketika Nana mengambil
arah yang salah sedang Firli masih tertawa karena menyadari keadaan.
“Gue ulang tahun minggu depan. Lo datang, ya?” Rai memberikan sebuah
undangan padanya. Firli menerimanya dengan hati bimbang. Bukannya ia tak mau datang, hanya saja dia tak yakin Ayah dan Bunda mengizinkan. Jikapun mereka mengizinkan Mrs. Charlotte tak akan membiarkan itu terjadi, apalagi gara-gara kejadian kemarin.
Firli menunduk tanda sedih. Sejenak terjadi keheningan diantara mereka.
Beberapa kali terdengar suara pemandu sorak yang sedang latihan di tengah
lapangan. Rai menepuk pundak Firli. “Lo pasti bosan banget kan dipenjara di
rumah?” tanya Rai. Pupil mata Firli membesar. “Iya, gue dengar saja dari Elsa
kalau lo gak pernah diizinin pergi ke luar rumah sama teman-teman lo. Maksud
gue, di jaman modern begini kok masih ada sih orang tua yang mingit anaknya,”
tambah Rai.
Mendadak Firli mengingat ucapan Ayah kemarin bagaimana ia takut Firli dicelakai orang. Meskipun Firli tahu itu tidak adil, Firli mencoba mengerti. Setidaknya meskipun itu orang tua Andrean, masih ada orang tua yang peduli dengannya.
“Hei, Rai!” sapa seseorang yang datang diantara mereka. Firli kaget luar
Gladis anggota Cheerleader sekolah. Ketika latihan ia pasti tanpa sengaja melihat Rai di sini. Tatapan tajam sempat diperlihatkan Gladis pada Firli.
Rai balas melambai pada Gladis . Bibinya melengkung memperlihatkan senyumnya yang manis. Lesung pipit terlihat di pipi Rai sementara mata hitamnya bersinar. Tak tahu mengapa tapi keadaan ini membuat Firli merasa tak enak. Rai tak pernah memandang perempuan dengan cara seperti itu.
“Hadiah dari gue gimana?” tanya Gladis. Rai menautkan kedua alisnya tanda heran. Seingatnya ia tak menerima hadiah dari siapapun belakangan ini. Gladis menatap Firli seakan menebak apa yang Firli pikirkan, untung saja Rai menangkap hal itu dan membaca keadaannya.
“Ouh itu, makasih ya. Tapi gue belum sempet buka. Waktu gue ganti baju ada
yang ngambil dari tas gue. Biasalah anak-anak cowok suka jahil,” dusta Rai. Sementara Firli mati kutu di sampingnya.
Gladis hanya ber-oh. Tak lama teman grup cheerleadernya memanggil dari tengah lapangan. “Gue latihan dulu, ya? Makasih buat udangan ulang tahunnya,” tambah Gladis lalu berjalan pergi meninggalkan Rai dan Firli.
Sepeninggal Gladis rasanya Firli ingin kabur dan tak kembali lagi ke sekolah itu. Tak tahu bagaimana ia membuat alasan pada Rai. “I … Itu … Rai … Gue bisa jelasin,” ucapan Firli terpenggal-penggal.
Rai terlihat sedikit kecewa. “Lo anak yang baik, gue tahu itu. Lagipula kita kenal dari kelas satu,” ujarnya. Justru apa yang diucapkan Rai itu semakin membuat Firli merasa bersalah. “Gue yakin lo punya alasan sendiri.”
“Gue takut sama Angie, Rai. Dia bilang bakalan bully gue kalau gue biarin lo deket sama Gladis,” akhirnya Firli terpaksa berkata jujur. Pengakuan itu sedikitnya membuat Rai merasa lega. “Maafin gue Rai. Bukannya gue bermaksud untuk ikut campur urusan prbadi lo,” tambahnya.
Tatapan Rai berubah hangat. “Maafin gue juga karena kegantengan gue ini lo sampai diancam fans gue,” celetuknya membuat Firli terdiam lalu tertawa keras. Setidaknya apa yang Rai ucapkan itu menghapus kekakuan diantara mereka.
“Sudah gak usah dipikirin, lagi pula si Gladis percaya kok. Dia anak yang baik,
kalaupun tahu juga dia bakalan maklum sama lo.”
Mendengar perkataan Rai itu membuat Firli tiba-tiba mematung. Gladis baik? Sebelah mananya? Firli rasanya mengerti mengapa banyak laki-laki terjerat cinta buta pada perempuan jahat karena kecantikannya. Jelas awalnya mereka tertipu sikap perempuan itu yang pura-pura baik. Namun Firli tak ingin memberitahu Rai yang sebenarnya. Lagipula jika ia bilangpun Rai tak akan percaya.
“Lo suka sama Gladis?” tanya Firli parau. Sebenarnya ia tak ingin menanyakan hal itu. Dia tak pernah berani menanyakan perasaan Rai tentang wanita, ia takut mendapat jawaban iya. Terlihat Rai terdiam, ia menggigit bibir bawahnya. Dia ragu, tak tahu ragu dengan perasaannya atau ragu untuk mengakuinya pada Firli.
“Gue kenal Gladis dari SMP. Lebih dulu sebelum kenal sama lo. Yah mungkin karena gue kikuk, gue gak pernah bisa deket sama dia. Maksud gue, gue takut kalau kita semakin dekat, dia kecewa dengan sifat gue yang kaku. Lo tahu sendiri gue ini gak romantis. Tapi Gladis selalu berusaha deketin gue. Gue pikir sudah waktunya gue harus berani. Gue bakalan nembak dia di hari ulang tahun nanti,” jelasnya.
Rasanya Firli menemukan hal lain tentang dunia ini yang sangat tidak adil baginya. Ia hanya baru pertama kali jatuh cinta, ia ingin cinta pertamanya berjalan sempurna. Ia ingin memiliki Rai walau dia tahu itu menyalahi norma. Namun meskipun Firli nekat tidak memedulikan statusnya, cinta pertamanya tetap tak akan terwujud. Cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan.
Rai memegang tangan Firli. “Gue tahu sikap gue selalu buat lo salah paham. Tapi gue beneran menganggap lo sebagai sahabat yang berharga. Enggak, gue pernah cerita kalau lo mirip adik gue, kan? Setiap lihat lo, gue ingat sama dia. Karena itu gue sayang sama lo. Tapi perasaan gue sama lo hanya sebatas itu. Maaf,” Rai melanjutkan penjelasannya dan itu semakin membuat hati Firli sakit.
Firli tak sadar telah menjatuhkan air matanya. “Jadi selama ini lo tahu gue suka sama lo?” tanya Firli. Rai mengangguk. “Lo tahu dan pura-pura gak tahu? Kenapa? Rasanya gue kelihatan bodoh di depan lo!” Firli bangkit dan menatap Rai dengan mata berkaca-kaca. Nafasnya semakin cepat dan ada sensasi menusuk hingga terasa sesak.
Rai berusaha menarik tangan Firli agar gadis itu mau kembali duduk. “Fir, gue cuman gak mau kehilangan lo. Gue sudah kehilangan adik gue karena kanker. Cuman lo yang bisa membuat gue yakin dia baik-baik saja di sana.” Tangan Firli
menepis tangan Rai dengan kasar. “Fir, gue harap apapun yang terjadi sekarang,
hubungan kita gak berubah.”
Firli mengusap air matanya. Ia berbalik lalu berlari meninggalkan Rai. Sedang Rai sendiri masih duduk di sana menyesali apa yang sudah ia katakan. Ia tahu Firli butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Ia akan menunggu hingga Firli merasa tenang. Namun perasaan Rai pada Firli benar-benar tulus. Dia tak pernah ingin menyakiti gadis itu. Karena hanya bersama Firli lah ia merasakan adiknya, Raya masih hidup dan bersamanya.