Highschool Wife

Highschool Wife
EXTRA PART 5



"Yuhu, mau difoto lagi," seru Rio. Ia tidak mau diam hingga pelayan yang sedang mematut jasnya kelimpungan sendiri. Sejak tadi bergerak ke kanan dan kiri seperti cacing kepanasan.


"Nanti foto baru kita katanya ada di majalah." Lain dengan Gio yang sudah pas dengan setelannya. Ia lebih tenang ketika didandani.


Firli sama sibuknya. Ia sedari tadi masih belum memutuskan dasi apa yang akan dikenakan suaminya.


"Kenapa lama sekali sih, Mah?" tanya Andrean. Pria itu sedari tadi berdiri di belakang Firli sambil sesekali menggaruk kepala karena bingung.


"Ini foto keluarga untuk majalah bisnis. Kalau sampai aku salah pilih, nanti mereka bilang aku ini bukan istri yang pengertian."


Firli melipat lengannya di depan dadan. Ia melihat dasi merah dengan garis navy dan dasi biru dengan garis kotak-kotak merah maroon.


"Mungkin ini saja." Akhirnya ia buat keputusan juga. Firli lekas melingkarkan dasi biru di kerah kemeja abu-abu suaminya.


Akhirnya Andrean bisa bernapas lega. Ia dekati istrinya dan menunduk karena Firli sama sekali tak sampai untuk mengikat dasi.


"Kamu tinggi banget, sih?" protes Firli.


Andrean tertawa. "Rio sama Gio saja sudah sampai di bahumu kepalanya. Setahun lagi mungkin anak-anak lebih tinggi dari kamu," ledeknya. Firli sampai menepuk bahu Andrean dengan keras.


"Apalah aku ini, dicintai juga diledek. Cintamu itu tak jelas bentuknya."


"Kalau gak begitu, pernikahan kita gak asyik sayang," ucapnya dengan nada bercanda.


Melingkar ke kanan dan kiri, akhirnya Firli selesai mengikat dasi. Ia rapikan kerah kemeja suaminya. "Miss, bawakan jas yang tadi aku ambil," titah Firli pada pelayan yang sejak tadi membawa nampan berisi sepatu. Pelayan itu mengangguk lalu menyimpan nampan di meja dan mengambil jas.


Jas abu-abu itu ia berikan pada Firli. "Memutar," pintanya pada Andrean. Pria itu menurut begitu saja.


Firli memakaikan jas pada suaminya. Begitu Andrean kembali berbalik, ia kaget luar biasa. "Kamu ganteng banget!" serunya.


"Dari masa kapan, baru sadar sekarang?"


Jika ingat kejadian beberapa hari lalu, Firli rasanya ingin tertawa. Kalau di rumah Andrean sering memakai kaos dan celana jeans. Beda saat ia sedang bekerja sebagai Chairman di Freiz grouph.


Waktu itu, Andrean mengantar Rio dan Gio ke sekolah. Seperti biasa karena buru-buru ia pakai kaos dan celana jeans juga jaket. Ketika menitipkan anak-anak pada guru yang bertugas menyapa di depan pintu sekolah, Andrean mendapat ucapan yang membuat Putra, yang juga mengantar anaknya di waktu yang sama tertawa.


"Kok diantar Kakak, Mamah sama Papahnya mana?" tanya guru itu sambil meraih tangan Gio dan Rio.


Jelas Andrean mematung hingga bibirnya gemetaran. Tak sekalimat pun bibir Andrean ucapkan, hanya senyum dan anggukan kepala. Mendengar cerita itu dari Rio, Firli sampai tertawa.


"Makanya, kalau punya anak itu usia dua puluhan, bukan belasan," ledek Firli.


Mereka turun ke ruang tengah. Di sana sudah disulap menjadi studio foto oleh fotografer sebuah majalah terkenal.


"Sudah siap, Pak?" tanya Malik, sekretaris Andrean yang baru setelah Salina akhirnya dipecat karena kinerjanya.


"Anak-anak, ayo!" panggil Firli pada kedua putra kembarnya. Rio dan Gio menghampiri. Mereka mendekati spot foto yang sudah diberi background hitam.


"Permisi, Nyonya Freiz posisinya duduk. Tuan Firgio dan Andrio berdiri di samping lalu Monsieur Andrean berdiri di belakang." Foto grafer itu mengarahkan posisi mereka.


Keluarga itu mengikuti arahan. Mereka tidak ingin foto ini gagal karena akan dimuat di majalah internasional. "Apakah sudah siap?" fotografer sudah siap di depan kamera.


Firli merapikan roknya. Rasanya ia menjadi ratu sendiri karena di sisi-sisinya ada dua pangeran tampan dan satu raja ganteng.


Saat fotografer siap menghitung, tiba-tiba Rio ingat sesuatu. "Peri mana, Mah?" tanya Rio.


Firli menepuk jidat. Saking lamanya ia menyiapkan Andrean sampai lupa jika alasan mereka foto keluarga lagi bukan hanya karena majalah, juga karena adanya anggota baru.


"Miss, putriku mana?" tanya Firli.


"Sampai lupa sama putrinya." Mrs. Charlotte datang sambil menggendong Peri. Putri kecil Firli dan Andrean itu mengedipkan mata. Ia tertawa ketika melihat Firli.


"Maafkan Mamah ya Periku sayang," ucap Firli sambil menggendong Firli dan mendudukan bayi sepuluh bulan itu di pangkuan.


"Iak ... ye ...," celoteh Peri. Rio mengecup pipi adik kecilnya. Gio tak mau kalah, ia mencubit gemas putri kecil berambut coklat itu. Matanya bulat dan kulitnya putih. Meski memiliki garis wajah seperti ayahnya, mata Peri mirip dengan Firli.


"Putri cantik, sekarang foto dulu, ya?" ucap Andrean lalu mengecup kening Peri.


Akhirnya keluarga itu mengambil foto lagi dengan adanya Perirana Andreva Freiz di sana.


🌿🌿🌿


**YEAY... akhirnya resmi tamat. Makasih banyak ya yang sudah mengikuti kisah keluarga Andrean selama ini.


Jangan lupa ramaikan juga novel author yang baru "Ayah Dari Anakku" bantu like, komen dan ajakin gengnya agar baca. Supaya novel itu gak tenggelam layaknya novel ini πŸ˜€


Makasih banyak yang sudah menunggu extrapart highschool wife. Jangan lupa Follow ig author digi8saikai_nha


Aku sayang kalian semua. Sampai jumpa di "Ayah dari anakku" yang hari ini update 8 chapter sekaligus, lho**!