
Firli tersenyum sendiri. Ia melihat wajah seorang bayi laki-laki yang tidur di sampingnya. Bayi yang lucu dan menggemaskan. Lain dengan Andrean yang malah tersenyum melihat perilaku istrinya. "Tidak ingin punya yang seperti ini?" tanya Andrean.
Firli menggeleng. "Kalaupun aku ingin punya, yang kau inginkan hanya prosesnya saja!" keluh Firli membuat wajah Andrean memerah. Firli tersenyum menang.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Andrean berdering. Lekas ia bangun dan mengambil ponsel di atas nakas. Telpon dari ayahnya. "Ada apa, Yah?" tanya Andrean.
Terdengar suara napas pria yang berada di seberang sana sangat khawatir. "Berikan bayinya pada Mrs. Charlotte. Salah-salah kalian malah membuatnya sakit," nasehat Ayah. Andrean mendengus kesal. "Ayah sudah menemukan keluarganya. Besok polisi akan mengantar mereka pada kalian di rumah. Sambut yang sopan!"
"Lagipula bayinya tidur. Ia akan terbangun jika Rean memindahkannya," protes Rean.
Jelas sekali itu membuat Ayahnya kesal. Memang bukan sekali Andrean tidak mematuhi Abellard, sehingga ia sudah terbiasa dengan semua itu.
"Maka dari itu, bersikap lebih dewasa dari putramu. Sehingga ia bisa lebih menghormatimu," ledek Anita yang duduk di samping Abellard. Mendengar itu membuat Abellard kesal. Ia manyun lalu memberikan ponselnya pada Anita.
"Nak, biar nanti Bunda minta Mrs. Charlotte mengambil bayi itu dari kamar kalian. Belum saatnya kalian mengurus bayi sekecil itu," nasehat Anita.
"Iya, Bun," jawab Andrean. Abellard sampai kaget mendengar Andrean menurut begitu saja.
"Bunda dan Ayah pulang lusa. Kau hati-hati menjaga Lady di rumah. Jangan bertengkar lagi! Ingat, kalian bukan anak kecil!" tekan Bunda. Andrean hanya mengangguk-angguk. Ternyata ada saja yang mengadukan pertengkaran Firli dengannya kepada kedua orang tua mereka.
Setelah itu Anita mematikan ponselnya. Abellard menggeleng-geleng. Di luar jendela salju turun tipis. Butiran putih itu turun di atas sebuah danau yang memiliki warna biru jika terlihat dari atas gedung hotel mewah itu. Anita mengambil koran yang sedang Abellard baca. "Kau dan dia memang sangat mirip," ucap Anita sambil tersenyum.
"Karena itulah aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Kami sama-sama sulit dimengerti oleh orang lain," keluh Abellard.
Anita memutar kedua bola matanya. "Aku mengerti kalian berdua," protesnya merasa tidak dianggap. Abellard tersenyum malu.
"Ia senang sekali bayi itu ada di rumah, sepertinya itu karena keinginannya memiliki adik," celetuk Abellard. Begitu Anita menatapnya dengan tajam, pria itu langsung pura-pura terbatuk. "Memang kenapa? Kita masih muda," lanjut Abellard.
Hangatnya perapian membuat suasana semakin romantis diantara keduanya. Di depan mereka sebuah kursi kayu berwarna coklat tua hanya berisikan sebuah bantal kursi. Anita memeluk Abellard. "Rasanya baru kemarin kita melihat Andrean belajar berjalan dan tiba-tiba naik ke atas kursi itu sendiri. Sekarang kita berada di sini tanpa dia," ucapnya. Mendadak Anita ingin menangis jika mengingat masa-masa ketika Andrean masih kecil.
"Sekarang ia sudah memiliki pemikiran sendiri. Ia sudah bisa melawan dan juga sudah bisa membuat sebuah keputusan. Ia tahu apa yang terbaik untuknya juga untuk istrinya," timpal Abellard.
"Andai Andrevan masih bersama kita juga," tiba-tiba Anita mengucapkan sesuatu yang membuat luka di hati Abellard kembali perih.
Negara itu mungkin tidak memiliki salju yang jatuh tipis di atas sebuah danau, tapi butiran halus hujan yang jatuh di kolam besar di belakang paviliun Andrean dan Firli menimbulkan suara lagu yang merdu. Mrs. Charlotte tidak jadi membawa bayi itu. Ia sudah Andrean peringatkan untuk menutupi kebohongan Andrean malam ini. Semalam saja, ia ingin merasakan memiliki keluarga kecilnya dengan Firli.
"Bunda dan Ayah sedang di Kanada?" tanya Firli. Ia sudah terlihat mengantuk tapi memaksakan diri melihat wajah bayi mungil di sampingnya. Andrean mengangguk. "Bagaimana rasanya selalu ditinggalkan orang tuamu?" tanya Firli.
Andrean tersenyum. "Aku tidak meninggalkan mereka, aku yang pergi," ralat Andrean. Firli menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Lagipula aku sudah cukup besar untuk selalu mengekor pada orang tuaku, kan?" Andrean mengusap rambut bayi di sampingnya lalu menatap Firli.
"Kadang aku berharap Bunda dan Ayah adalah orang tuaku," ucap Firli membuat jidat Andrean berkerut. "Banyak orang yang heran sebenarnya. Setiap kali Bunda dan Ayah datang membawa raportku, mereka tidak bisa melihat kemiripan di wajah kami," tambah Firli sambil menahan tawanya.
Namun Andrean malah tertawa lepas. "Jelas sekali itu!" ledeknya. Iyalah, Bunda Anita sangat tinggi dan berahang tirus. Ayah Abellard sangat kental dengan wajah pria Prancisnya. Bagaimana bisa mereka memilik anak dengan rahang bulat dan wajah sangat khas orang Indonesia?
"Kau malu menikah di usia semuda ini?" tanya Andrean. Sebenarnya sudah sangat lama ia ingin menanyakan hal ini pada istrinya.
"Dulu ia, sekarang tidak," jawab Firli. Andrean mengangkat sebelah alisnya. "Karena semua perempuan di sekolah iri padaku. Siapa juga yang tidak ingin punya suami setampan ini. Mana ia datang secara cuma-cuma," jawab Firli sambil tersenyum.
Andrean mengusap poni rambut Firli yang panjangnya menutupi setengah alis mata. "Aku yang menyesal sepertinya," canda Andrean. Jelas sekali Firli langsung mendengus kesal. Tiba-tiba bayi yang tidur di tengah mereka menangis. Andrean dan Firli kaget. Keduanya langsung bangkit.
Firli menggendong bayi itu dan membuatnya semakin keras menangis. Andrean tertawa. "Ada yang dengan sentuhanmu, istriku!" ledeknya. Ia langsung membawa bayi itu dalam dekapan Firli lalu menggendongnya dan mengayun pelan. Bayi itu mendadak diam sambil menatap mata Andrean. Firli menggerak-gerakkan bibirnya ke kanan dan kiri karena kesal.
"Jangan-jangan bayi ini anakmu dengan wanita lain," canda Firli. Andrean mencubit pipinya. "Habisnya ia betah sekali di dekapanmu," protesnya. Firli selalu ingin menggendongnya, tapi lagi-lagi bayi itu menangis. Sepertinya Andrean benar, ada yang salah dengan sentuhan Firli.
Gadis itu berjalan menutup gorden pintu kaca menuju balkon. Padahal sudah malam tapi gorden itu dibiarkan terbuka.
"Besok bayi ini akan dibawa pulang orang tuanya," ucap Andrean. Firli menunduk kecewa. Namun ia ingat jika hal yang lebih baik adalah membiarkan anak ini bersama keluarganya. "Jika mereka datang lebih pagi, bagaimana jika siang hari kita ke makam Mamah?" tawar Andrean. Firli mengangguk senang.
Ia mendekati Andrean lalu menyentuh dengan lembut pipi bayi di dekapan pria itu yang ternyata sudah kembali tertidur. "Kau ingin punya anak apa punya adik?" tanya Firli. Andrean menggeleng. "Aku sudah punya kau. Bahkan kau lebih manja daripada anak dan adik," ledeknya lalu tertawa lagi.