
"Semua berkas pindah sudah siap, De?" tanya Anita melihat Andrean memasukan selembar demi selembar berkas untuk ia kirim ke imigrasi. Andrean mengangguk. Ia harap bulan Juli ini semua kebutuhan seperti izin tinggal sudah selesai dibuat.
Andrean mengangguk untuk menimpali pertanyaan Bundanya. "Karena ini pertama kali Firli pindah ke luar negeri, berkasnya paling lama diurus. Besok juga Rean harus tes kesehatan juga vaksin," jelas Andrean.
Anita merasa bangga pada putranya. Meski besar dengan kurangnya perhatian tapi ia begitu dewasa dan mandiri. "Kamu ini memang paling betah tinggal jauh dari Bunda dan Ayah," keluh Anita. Andai jika perusahaan tempat mereka berinvestasi bukan di Indonesia, mereka akan menyusul Andrean tinggal di sana. Sayangnya ia tahu, putranya yang satu ini paling tidak suka dibuntuti.
"Biarkan ia belajar berumah tangga, Bun," tukas Abellard. Andrean mengangguk-angguk. Akhirnya ia sependapat dengan Ayahnya.
"Heh, makan terus!" todong Andrean melihat Firli ngemil snack di atas meja. Gadis itu nyengir kuda.
"Aku rasanya belakangan ini selalu lapar," keluhnya.
"Kamu dari dulu memang begitu," ledek Andrean hingga membuat kedua orangtuanya tertawa. Firli mencubit suaminya.
"Bunda, Andrean itu kerjanya meledek Firli terus. Kesal jadinya!" protes Firli. Bukannya meminta maaf, Andrean malah memletkan lidah pada istrinya.
Malam semakin larut. Setelah semua berkas siap dan akan diserahkan pengacara Abellard ke kantor imigrasi, barulah Firli dan Andrean kembali ke paviliun dari ruang keluarga.
Seperti biasa, Andrean selalu menuntun Firli ketika berjalan pulang ke rumah mereka. Firli menatap bintang begitu keluar dari pintu belakang rumah utama. "Semoga Ghea baik-baik saja." Ia membuat permohonan.
Tiba dipaviliun keduanya langsung mengganti pakaian dengan piyama. "Peluk!" pinta Firli ketika ia berbaring di tempat tidur.
"Kalau aku khilaf bukan salahku," anc Andrean.
Firli nyengir. "Khilaf saja, aku mau juga kok!" pancingnya.
Akhirnya malam itu mereka benar-benar larut dalam kenikmatan. Berbagi sentuhan hingga mengeluarkan napas berat dengan bersautan. Gilanya semua itu mulai semakin terbiasa bagi Firli. Malah ia mulai berani mengundang Andrean dalam pelukan.
"Berhenti dulu," pinta Firli. Andrean manyun, padahal ia sedang dalam perjalanan menuju puncak. "Aku mau es krim." Mata Firli tiba-tiba berlinang.
"Kamu kenapa sih? Memang aku salah apa kamu sampai menangis?" tanya Andrean heran. Bahkan beberapa detik lalu Firli masih terlihat bersemangat.
Firli menggeleng. "Tidak tahu, ingin eskrim tapi rasanya sedih saja." Ia juga bingung menjelaskan rasanya. Akhirnya Andrean mengalah. Ia melepas tubuhnya lalu turun dari tempat tidur dengan bagian bawah tubuh yang diselimuti handuk.
Untung saja ia selalu menyediakan es krim di kulkas. Andrean membuka pintu kulkas besar di sudut kamar. Ia ambil sekotak es krim lengkap dengan sendok plastik yang masih menempel di tutup kotaknya.
"Ini." Andrean membuka tutup wadah es krim. Mendadak Firli kembali bersemangat. Wajah sedihnya berubah berbinar. "Bahkan mood kamu bisa berubah cepat begitu," komentarnya.
Firli menyendok es krim yang masih berada di tangan Andrea lalu memakannya. Ia tersenyum senang. Dalam sendokan kedua ia mengasongkan pada Andrean. "Firli mau kita makan giliran," pintanya terdengar memaksa. Andrean sempat menggeleng. Ia tidak mau makan tengah malam. Namun melihat mata tajam Firli akhirnya ia terpaksa menurut dengan memakan suapan es krim dari Firli. Istrinya menakutkan jika sedang marah.
***
2 bulan kemudian ...
"Kalian senang bisa kuliah tahun ini. Aku masih harus menunggu. Bahkan universitas swasta di sana saja pakai sistem tes," keluh Firli.
Elsa dan Nana memeluknya dari belakang. Firli tersenyum senang melihat bayangannya di kaca kelas memakai toga berwarna ungu dengan garis kuning. Sedang para pria menggunakan toga hitam dengan garis hijau.
"Andai Ghea juga di sini," keluh Elsa.
Sebulan setelah hari Ghea kabur dari rumah, orangtuanya menemukan ia disebuah kosan. Pada akhirnya orangtuanya memilih mengalah. Ghea ingin meneruskan kehamilannya.
"Putra datang?" tanya Elsa. Nana mengangguk. "Syukurlah, setidaknya harus ada yang mewakili membawa ijazah Ghea. Lagipula dia yang berbuat tentu ia yang bertanggung jawab," komentar Elsa.
"Kita juga perlu menyalahkan Evano. Jika saja ia tidak selingkuh, Ghea tidak akan balikan dengan Putra," ralat Nana.
"Aku dengar kemarin Evano baru dilabrak empat perempuan yang ia pacari bersamaan. Andrean yang bercerita," timpal Firli.
Malam ini setelah acara wisuda, mereka akan berkumpul di rumah Ghea. "Harusnya ini bulan enam, kan? Kenapa sudah ada hajatan?" tanya Elsa bingung.
"Sudah bulan tujuh. Kan kemarin Ghea bilang kalau tes pertama itu hitungannya salah. Ia juga telatnya tujuh bulan bukan enam," jelas Nana. Sebenarnya ia juga kurang mengerti karena tidak mengalami.
Firli nyengir sendiri. "Aneh melihat ia gendut begitu. Mana pakai rok terus setiap hari. Garangnya hilang," komentarnya.
"Kamu juga gendutan," timpal Nana sambil memegang pinggang Firli. Kontan Firli manyun. Ia juga sudah susah payah diet tapi setiap ingin makan dan tidak dituruti pasti ia menangis hingga baru berhenti setelah makan.
Setelah obrolan panjang itu, mereka langsung berlari ke aula. Briana sudah menunggu di depan pintu. Seperti biasa, gadis itu selalu membuat kaget dengan kecantikannya yang paripurna. Meski make up yang ia kenakan sangat sederhana.
"Bri, kamu gak pake make up juga cantik. Lha kita, no make up auto buruk rupa," keluh Elsa.
Acara hari itu diadakan dengan sangat formal. Dimulai dengan sambutan hingga ucapan pengangkatan wisudawan oleh kepala sekolah. Memang membosankan tapi snagat ditunggu-tunggu kehadirannya. Apalagi ketika murid paling berprestasi di sekolah diumumkan. Firli tanpa sadar naik ke atas kursi dan bertepuk tangan dengan keras saat Andrean dipanggil sebagai murid dengan nilai tertinggi.
"Aloha! Siapa dulu istrinya!" teriak Firli hingga Nana dan Elsa menariknya agar turun.
Andrean sendiri tertawa geli melihat perilaku istrinya. Setelah itu satu per satu siswa dipanggil untuk penyerahan ijazah serta piagam kelulusan. Peringkat 100 besar menpat piala. Firli tidak terlalu berharapa karena ia ada di jurusan ke 364.
Selesai prosesi, geng itu foto-foto di halaman sekolah. "Bapak muda ayok ikutan!" Misyel menarik Putra untuk ikut berfoto.
Diakhir sesi foto itu, Elsa dan Misyel semakin menjadi. Elsa menarik Briana sementara Misyel menarik Rai. Akhirnya kedua orang itu terpaksa berfoto berdua meski wajah mereka merona karena malu.
"Kalian mau foto wisuda apa foto keluarga?" komentar Gama begitu Firli dan Andrean berfoto dengan posisi terlalu formal. Firli duduk di kursi taman sementara Andrean berdiri di belakangnya.
Digoda seperti itu malah membuat Andrean merasa ditantang. Ia peluk Firli dari belakang lalu mencium pipi istrinya. Jelas wajah Firli yang terekam di kamera sedang membuka mata bulatnya dan mulut terbuka.