
Siapa bilang setelah melakukan hal yang "benar-benar" antara suami-istri akan semakin lengket? Lain ceritanya jika itu Firli dan Andrean. Pagi buta sekali Firli sudah bangun dan membersihkan diri. Ia mengendap-endap takut Andrean terbagun dari tidurnya.
Syukur, hingga Firli mengenakan seragam dan menyiapkan keperluan ujian, Andrean masih tidur terlelap. Bahkan Firli sengaja diam-diam keluar dari paviliun dan meminta Pak Bram mengantarnya ke sekolah.
"Ini masih jam lima pagi, Lady. Memang apa yang akan Lady lakukan sepagi ini di sekolah?" tanya Pak Bram.
Firli berpikir sesat. Ia mulai menyusun alasan. "Itu, aku baru sadar belum mengerjakan tugas. Kalau aku kumpulkan pagi sekali, masih sempat tiba di meja guru," jawab Firli.
Syukur saja Pak Bram memercayainya. Padahal murid mana yang mengumpulkan tugas rumah ketika ujian. Bersama Pak Bram, Firli naik mobil menuju sekolah. Tak seperti biasanya ia melihat pemandangan jalan sangat sepi. Syukur ketika tiba di depan gerbang, penjaganya sudah membuka pintu sehingga Firli bisa masuk.
"Makasih, Pak!" seru Firli sambil menutup pintu mobil. Ia berlari menuju roof top. Tempat itu paling aman untuk bersembunyi dari Andrean.
"Sekarang aku memang selamat. Namun bagaimana aku menyelamatkan diri darinya ketika jam istirahat dan pulang?" pikir Firli.
Ketika ia tiba di roof top, Firli duduk di sudut dekat pot bunga besar dan tinggi. Ia memegang jantungnya yang berdebar kencang.
Tiba-tiba bayangan apa yang ia lakukan dengan Andrean tadi malam muncul dalam ingatan. Wajah Firli memerah, malu. "Kenapa aku bisa melakukan itu?" Firli menepuk kepalanya sendiri.
Begitu bangun dan melihat keadaanya tanpa sehelai pakaian pun, Firli kaget luar biasa. Saking malunya, ia tidak ingin bertemu Andrean. Bahkan nekat kabur meski ada rasa perih di ************ hingga sedikit sulit saat berjalan.
"Jika Andrean bangun dan bertemu denganku, dia akan bilang apa? Apa dia akan meledek seperti biasa? Apa akan kecewa karena aku gendut?" keluh Firli. Semua ini sungguh membuatnya stress.
Tanpa sadar, Firli menghabiskan banyak waktu di sana hanya untuk berpikir. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ketika melihat nama Andrean di layar, Firli bingung tidak keruan. Ia tidak berani mengangkatnya. Ia takut karena malu tapi takut juga Andrean marah jika telpon tidak diangkat.
Sementara itu, Andrean masih berjalan dengan selembar handuk melingkar di bagian bawah tubuhnya. Sejak tadi ia menelpon istrinya dan tidak sekali pun diangkat. Ada laporan dari Pak Bram jika Firli pagi-pagi sekali ke sekolah. Itu membuat Andrean khawatir.
Ia takut Firli celaka atau mungkin kesakitan karena ketika bangun menyingkap selimut, ia melihat darah di atas kasur. Andrean mengecek seluruh tubuhnya dan tidak ada satu pun luka di tubuhnya. Mungkin itu darah Firli. Namun Andrean bingung bagaimana bisa Firli berdarah karena seingatnya tadi malam mereka tidak main cakar-cakaran.
Andrean bergegas ke kamar mandi. Ia bersihkan tubuh dan mengenakan seragam lengkap. Syukur tadi malam keperluan sekolahnya sudah siap di dalam tas. Pak Bram sudah siap di depan teras untuk mengantar Andrean ke sekolah.
***
"Kalian bertengkar?" tanya Ghea begitu menemukan Firli bersembunyi di rooftop. Jika saja pulpennya tidak ketinggalan di sana kemarin, Ghea tidak akan bertemu Firli.
"Aku tidak bertengkar," jawab Firli sambil menunduk.
"Lalu masalahnya apa?" tanya Ghea bingung.
Firli memainkan telunjuknya di atas rumput. "Aku malu. Aku tidak berani melihatnya. Pokoknya malu," jawab Firli. Ia memegang dadanya lagi dan jantungnya kembali berdebar.
Ghea mematung. Memang apa yang Firli lakukan hingga ia semalu itu pada suaminya sendiri. "Kamu joget-joget gila terus tanpa sadar Andrean lihat?" tanya Ghea. Firli menggeleng. "Kamu kentut depan dia?" tebaknya lagi.
Kali ini Firli kembali menggeleng. "Aku tahu, Andrean datang ke toilet waktu kamu lagi boker?"
Firli menatap Ghea dengan kesal. "Mana ada seperti itu. Ini jauh lebih memalukan!" tekan Firli.
Ghea semakin bingung. Apalagi yang paling memalukan daripada sedang BAB dilihat orang?
Lagi-lagi ponsel Firli berbunyi. Kali ini yang menelpon Nana. Firli sedikit lega karena Andrean berhenti menelponnya.
"Bersama Ghea di loteng atas. Kenapa?" jawab Firli.
Nana menghembuskan napas lega. "Kenapa aku telpon tidak di jawab?" tanya suara pria tiba-tiba dari ponsel Nana. Mendengar suara itu, kontan membuat Firli langsung memberikan ponselnya pada Ghea.
"Halo!" sapa Ghea.
"Lho? Firli mana?" tanya suara pria itu.
"Andrean?" tebak Ghea.
Andrean berdecak di seberang sana. "Iya, Firli mana?" tanyanya lagi.
Ghea menatap Firli yang sudah berdiri sambil bergetar dan memperlihatkan wajah memohon agar ditolong. Ghea tersenyum geli.
"Memang kamu apakan Firli sampai begini?" todong Ghea.
Andrean jelas tersentak ditanya seperti itu. Mana mungkin ia katakan jika ia dan Firli tadi malam melakukan hubungan suami-istri. "Apa Firli sakit?" tanya Rean. Ia masih mengingat bercak darah di atas tempat tidur dan itu semakin membuatnya khawatir.
"Dia bilang sakit perut dan sedang di kamar mandi," jawab Ghea.
Firli melotot karena Ghea justru membuatnya semakin malu saja. "Sakit perut?" tanya Andrean.
"Hanya diare," dusta Ghea lagi. Kali ini dia terkena pukulan Firli. Namun Ghea justru terlihat senang atas apa yang ia katakan.
Andrean menunduk. Ia semakin khawatir. "Dia di kamar mandi mana? Biar aku panggilkan dokter. Tolong jaga dia dulu sampai aku ke sana," ucap Andrean.
Firli menepuk jidat. Sementara itu Ghea bingung sendiri. Niat hati menyebunyikan Firli, ia malah mengundang Andrean datang.
"Aku tidak diare, kok! Hanya lupa tadi tidak ke kamar mandi dulu!" celetuk Firli. Karena sejak speaker ponselnya dalam mode aktif, Andrean bisa mendengar suaranya meski ponsel masih di tangan Ghea.
Firli mengambil paksa ponselnya lalu menutup telpon dari ponsel Nana. Setelah itu dia memukuli Ghea dengan gemas. "Karena kamu! Sekarang Andrean akan semakin mencariku!" omel Firli.
Ghea menoyor jidat Firli. "Apa gak mikir, Neng. Di sini kamu bisa sembunyi. Kaliankan tinggal satu rumah, satu kamar juga. Pasti ketemu!" goda Ghea.
Sial! Firli menepuk keningnya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak bertemu Andrean ketika pulang ke rumah? Jika ingat itu rasanya ia ingin menangis.
"Ghea, sampai aku tidak malu lagi pada Rean, aku tinggal di rumahmu, ya?" pinta Firli.
Ghea mengangguk. "Bisa mati aku kalau Tuan Muda Freiz tahu aku melarikan istrinya," tolak Ghea.
Firli memohon dengan wajah penuh ratapan seperti orang yang di usir dari tempat tinggal. "Daripada begitu, lebih baik kamu menghadapi suamu kamu, 'kan?" saran Ghea.
Firli menggeleng. "Aku malu!"
**Maaf Upny sedikit telat. Episode kali ini mudah-mudahan suka. Aku baca komentar readers semua dan membuatku terhibur. Mudah-mudahan ke depannya "highschool wife" semakin disukai. Aamiin 🙏
tidak lupa mengingatkan untuk follow instagram \= digi8saikai_nha agar bisa mengintip novel author lain dan juga karya baru author. Terima kasih**.