
“Kenapa baru pulang?” tanya Firli sambil berdiri dari posisi duduknya di sofa. Ia mematikan televisi kemudian menghampiri Andrean yang berjalan masuk melewati pintu utama rumah tempat Ayah dan Bunda tinggal. Andrean sempat terkaget melihat Firli di sana. Namun pria itu lebih memilih berjalan pergi melewati ruang tamu dan berjalan menaiki salah satu tangga lebar menuju lantai dua rumah itu. Firli menyusulnya. “Aku kan tanya kamu dari mana?” Firli mengulang pertanyaannya.
Andrean menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap wajah istrinya dengan tatapan malas. “Bukannya sudah aku tekankan, urus masalah kita masing-masing!” tekannya.
Ucapan itu menusuk perasaan Firli. Namun gadis itu sudah cukup menangis untuk menahan rasa sakit kali ini. “Kita suami – istri, bukan dua orang yang sedang pacaran. Jangankan kemana kamu pergi, urusan kesehatan, keuangan hingga kebutuhan lain-lain menjadi urusan bersama,” ralat Firli.
Terlihat jelas sudut kiri bibir Andrean sedikit naik. “Aku pikir hubungan itu sudah hilang diantara kita berdua,” sindirnya.
Jari jemari tangan Firli rasanya gatal ingin menampar wajah Andrean. “Jadi karena itu kamu bisa pergi seenaknya dan bertemu Si Helen itu lagi di luar?” tegur Firli.
Beberapa detik Andrean terdengar kaget mendengarnya. Namun ia berusaha membuat ekpsresinya kembali normal. Andrean melipat lengannya di depan dada. “Memang kenapa? Dibandingkan istri yang dulu, Helen lebih mudah di atur,” Andrean semakin tajam mengungkapkan sindiran pedas.
Mata Firli semakin terbuka lebar. Ia menghela napas kemudian mendengus. “Kalau kamu pikir aku hanya istri yang dulu dan Helen lebih pas menjadi istri yang baru maka aku tidak punya hak diam di rumah ini!” bentak Firli. Dia tidak ingin banyak berdebat dengan Andrean. Firli lebih memilih berbalik lalu menuruni tangga menyusuir jalan yang sama dimana ia masuk ke dalam rumah ini. Sempat Firli berbalik tapi ternyata Andrean tidak menyusulnya. Pria itu terus naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamar tamu paling besar dan menutup pintunya.
Terdengar suara desahan napas Firli tanda menahan kesal. Dengan langkah yang sengaja dihentakkan, Firli kembali ke paviliun dimana ia tinggal. Gadis itu hanya mengambil jaket di lemarinya kemudian kembali ke luar paviliun. Rumah Firli itu sudah nampak sepi karena sepertinya pelayan sudah tidur nyenyak. Firli turun ke jalan di pinggir teras, menyusuri jalan aspal itu memutari rumah utama menuju gerbang luar. Beberapa penjaga menunggu di gerbang itu. Melihat Firli yang berjalan sambil mengenakan jaket dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket terlihat heran.
“Lady hendak kemana?” tanya petugas keamanan yang berjaga di pos dekat gerbang keluar.
“Minimarket,” jawab Firli pendek.
“Saya antarkan. Bahaya, Lady,” tawar petugas kemanan itu. Firli menggelengkan kepalanya.
Firli berjalan melewati gerbang di atas trotoar komplek dimana bagian sisi kirinya adalah barisan pohon cemara sementara sisi kanannya jalanan komplek. Firli melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul satu pagi. Biasanya jam segini Firli sudah tertidur pulas. Malam ini ia ingin memancing kekhawatiran Andrean.
Setelah tiba di minimarket, Firli sengaja membeli satu kotak Ice cream. Ia tidak memakan ice cream itu di meja yang sudah tersedia di depan mini market, tapi membawanya ke taman. Karena lampunya yang lumayan terang, Firli berani duduk di salah satu kursi taman itu. Ia membuka tutup eskrimnya kemudian mulai menggunakan sendok untuk menikmati krim dingin manis yang terbuat dari susu berasa coklat tersebut.
Firli tidak peduli dengan suhu dingin di sekitarnya. Ia menahan kedinginan hanya untuk menikmati makanan kesukaannya. Firli tidak pernah menolak es krim meskipun ia sedang flu atau demam. Ia selalu berpegang pada satu alasan, meskipun sakit ia akan sembuh walaupun makan es krim.
Hanya kenikmatan itu tidak bertahan lama jika saja tidak terdengar suara tidak wajar dari semak-semak. Jiwa-jiwa ketakutan Firli meronta. Ia mungkin bisa menepisnya karena perasaan kesal dan marah pada Andrean. Namun ternyata rasa itu tidak bertahan lama. Sambil menyendok es krim dan memasukannya ke dalam mulut, Firli melihat ke sekitar untuk menemukan sesuatu yang ganjil. Terutama pada tempat dimana sumber suara berasal.
“Tikus, mungkin,” Firli berusaha menenangkan diri. Namun tatapannya melekat hebat pada tempat yang sama. Kegelapan di titik itu menarik rasa penasarannya. Hingga gerakan semak-semak itu terasa tidak wajar. Itu bukan gerakan yang bisa diciptakan tikus ataupun kucing dan anjing. Intensitasnya terlalu cepat dan kuat. Mata Firli terbelalak, jantungnya bergerak lebih cepat. Ia bangkit. Rencananya ia akan pergi sambil membawa kotak es krimnya. Namun suara erangan yang keras membuat Firli kaget dan berlari meninggalkan kotak itu.
Gadis itu bergantian memajukan kaki kanan dan kiri melalui jalanan komplek menuju rumah. Ia sadar jika air matanya sudah keluar akibat ketakutannya. Bahkan tangannya bergetar hebat. Firli sempat berhenti, ia berbalik dan memeriksa kembali ke arah taman. Napasnya berburu dan ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri sambil merasa ngeri.
“Hei!” tegur seseorang membuat Firli kaget hingga berjongkok di jalan sambil menutup mata dan menangis. Ia memekik dan tangannya memeluk lutut dengan erat. Wajahnya pucat pasi dan ia mulai terisak-isak. “Kamu kenapa?” tanya orang itu sambil memegang bahu Firli.
Suaranya sangat Firli hafal. Gadis itu mencoba mendongak dan melihat wajah orang yang berjongkok di sampingnya sambil memegang bahunya. “Andrean!” rengek Firli sambil memeluk suaminya itu. “Ini Andrean, kan? Bukan hantu, kan?” tanya Firli memastikan sambil tersedu-sedu.
“Iya, ini aku.” Andrean balas memeluk Firli dan mengusap rambutnya. Sejenak ia ingin tertawa melihat perilaku istrinya. Ia menebak jika Firli berusaha kabur tapi kembali karena ketakutan. “Kamu lihat apa sampai ketakutan seperti ini?” tanya Andrean.
Firli menggeleng sambil menangis. Ia tenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu suaminya. “Rean jangan tinggalin Firli, aku takut. Ada hantu di sana,” rengek Firli lagi. Andrean kembali mengusap punggung istrinya. Ia berdiri sambil membimbing Firli untuk ikut berdiri. Andrean tersenyum lagi. Ia kasihan tapi juga puas karena bisa membuat kapok istrinya. Jika saja penjaga keamanan tidak menghubunginya dan mengatakan jika Firli pergi ke luar rumah, tidak tahu bagaimana nasib gadis ini. Ia pasti akan menangis ketakutan di luar sambil berteriak dan membuat gaduh seisi komplek.