Highschool Wife

Highschool Wife
Insting



"Mau kapan keluar dari situ?" Firli terkejut mendengar suara seorang pria di balik pintu bilik toilet. Ia menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya. Beberapa kali pria itu mengetuk pintu sehingga membuat Firli ketakutan sendiri. Ia angkat kakinya ke atas kloset takut pria itu mengintipnya dari lubang ventilasi di bawah pintu.


Sepertinya Firli harus mencari bantuan. Siapa? Mungkin Ghea mengingat perempuan itu bisa bela diri. Tangan Firli mengambil ponsel dari saku blazer kanannya kemudian membuka kunci layar dengan sidik jari telunjuknya. Ia lama menekan nomor 7 pada model dial yang merupakan panggilan cepat ke kontak Ghea. Lumayan lama hingga akhirnya Firli dapat mendengar suara gadis itu.


"Ghe, gue butuh bantuan lo cepetan donk!" ucap Firli berbisik. Ia tak mau pria itu mendengarnya walau ia yakin dengan suasana toilet sesepi ini pasti suaranya akan tetap terdengar. Suara ketukan pintu semakin keras, pria tadi masih ada dibalik pintu.


"Dimana lo?" tanya Ghea.


"Toilet deket perpus. Cepetan!" bisik Firli tak sabaran kemudian menutup telponnya. Ia melihat layar utama ponsel itu, menggulir layar dan melihat banyak notifikasi terutama telpon dari Nana dan suamiku. "Suamiku?" pikir Firli, merasa heran dengan keberadaan kontak itu di sana karena merasa belum pernah menyimpannya.


"Kalau gak keluar juga gue dobrak!" ancam pria itu. Tak lama terdengar suara langkah kaki, banyak langkah kaki. Awalnya Firli pikir itu Ghea hingga mendengar percakapan mereka, Firli semakin yakin ia memang dalam bahaya.


"Masih belum keluar kecoanya?" tanya seorang wanita.


"Masih di dalam," jawab pria yang sedari tadi mengetuk pintu.


"Awas lo, gak guna!" bentak perempuan tadi. Tak lama Firli bisa melihat sepatunya dari lubang ventilasi pintu. "Keluar lo! Lo pikir bakalan selamat sesudah ngadu sama guru BP! Angile memang gak di sini, tapi gue sahabatnya yang bakalan ngasih lo perhitungan!" ancamnya.


Sepertinya Firli tahu siapa orang ini, Arlitha atau mungkin Bella. Laki-laki yang mengetuk pintu tadi kalau gak Putra pasti Ed. "Keluar!" bentak wanita itu lagi.


Jika itu Arlitha dan Putra sepertinya Firli salah sudah memanggil Ghea. Ini pasti akan semakin buruk. Sempat ia berpikir untuk meminta pertolongan pada Rai, tapi pria itu juga sedang marah padanya. Apa Misyel dan Elsa saja?


"Heh! Ngapain lo! Beraninya keroyokan!" Suara Ghea terdengar di luar. Bukannya tambah lega justru Firli khawatir pada sahabatnya itu.


"Ngapain juga lo ikut campur," balas pria yang tadi mengetuk pintu. Firli turun dari atas kloset dan membuka pintu toilet. Dia salah perhitungan karena saat itu juga dia langsung diserang oleh Arlitha. Iya, ternyata benar Arlitha dan Putra. Perempuan itu mencakar wajah Firli, untung Firli dengan sigap melindungi wajahnya sehingga lengannya yang kena cakaran maut Arlitha.


"Eh, sakit lo ya!" Ghea berusaha maju untuk melindungi Firli tapi Putra langsung menghadangnya. "Awas lo!" Ghea berusaha mendorong Putra tapi tubuh pria itu lebih besar darinya.


Sementara itu Arlitha terus mencoba menyerang Firli dan gadis itu terus berusaha mempertahankan diri. "Mati aja lo!" ancam Arlitha lagi, kali ini tangannya sangat cepat melayangkan tamparan ke pipi Firli. Tamparan yang keras hingga membuat pipinya panas dan nyeri. Firli sampai terdorong ke dinding.


Kali ini Ghea tak ingin tinggal diam menyaksikan sahabatnya disiksa. Ia menendang kaki Putra sekuat tenaga kemudian memelintir tanga pria itu. Cara yang tepat karena setelah itu Putra langsung beegeser dan membuka luang untuknya. Ghea berlari, meraih Arlitha lalu menjambak rambutnya hingga wanita itu berteriak kesakitan.


"Put, tolong gue dong!" pekik Arlitha sambil memandang Putra. Ia mencoba melawan tapi tiada daya menahan kekuatan Ghea.


Putra bangkit, ia mencoba memukul Ghea namun gadis itu berkelit. Ia mendorong Arlitha tepat ke arah Putra dan membuat keduanya jatuh tersungkur. "Rasain!" ledek Ghea dengan puasnya. Firli ikut bertepuk tangan merayakan kemenangan sahabatnya itu.


"Awaslo!" Putra bangkit sambil membantu Arlitha. Ia berjalan menghampiri Ghea kemudian meremas kerah kemeja gadis itu. Hampir saja ia memukul Ghea jika saja tak terdengar bunyi peluit yang dibunyikan Pak Fathur.


"Eleh-eleh, ngapain laki-laki di kamar mandi perempuan? Ini ada ribut apa pula?!" bentak Pak Fathur. Jelas Putra langsung melepaskan tangannya dari kerah kemeja Ghea.


"Ini pak, mereka ngeroyok teman saya!" jelas Ghea sambil menunjuk Firli. Gadis mungil itu mengangguk.


Β 


🌟🌟NEXT🌟🌟


Β 


Apalagi yang terjadi di ruangan BP selain ditanyai tentang masalah yang terjadi. Lagi-lagi seperti Angie, baik Putra maupun Arlitha tetap diam saja. Mereka bertindak sangat rendah karena tak sedikitpun memandang wajah guru ketika ditanyai. Benar-benar tidak sopan.


Sedang Firli dan Ghea sudah selesai memberikan kesaksian mereka. "Ada ya orang saking pengecutnya gak mau ngaku salah!" sindir Ghea.


"Diam lo!" sergah Arlitha. Ia bahkan menatap Ghea dengan tajam. Namum Ghea malah membalasnya dengan memeletkan lidah.


"Kau jawab ucapan temanmu itu, tapi kenapa tak bersua saat Bapak tanya?" tanya Pak Fathur dengan nada datar. Lagi-lagi Arlitha diam seribu bahasa.


"Ada, Pak?" tanya seseorang yang muncul dari arah pintu masuk. Seluruh orang di ruangan menatap ke arahnya. Firli melihat Andrean ada di sana dengan wajah pucat dan panik. Andrean melihat kesekitar hingga akhirnya menemukan Firli di salah satu kursi ruangan itu.


Kepanikannya semakin jelas melihat luka bekas cakaran di pipi Firli. Andrean mendekati istrinya sambil memeriksa luka cakaran di pipi gadis itu. "Ini kenapa? Siapa yang buat?" tanya Andrean.


Firli merasa kaget. Ia hampir tak percaya Andrean bisa bereaksi seperti itu melihatnya terluka. Tak hanya Firli, Ghea lebih kaget lagi melihat pria tak dikenal begitu khawatir pada Firli.


"Pak, keluarga kami menginvestasikan uang sebanyak itu pada sekolah ini agar kalian bisa memperlakukan Lady dengan baik. Nyatanya dia mengalami hal buruk seperti ini lagi," omel Andrean.


Lagi? Jadi Andrean tahu jika sebelumnya Firli juga sempat di bully? Padahal Firli sudah berusaha meminta pihak sekolah untuk menyembunyikan masalah itu dari keluarganya.


"Maaf Tuan muda, Kami sudah berusaha sebaiknya. Bahkan masalah kemarin sudah kami selesaikan," ucap Pak Fathur.


Seperti yang Firli duga sebelumnya, pihak sekolah sudah tahu siapa Andrean atau mungkin sejak dulu sudah tahu. "Saya harap anda selesaikan masalah ini juga," tekan Andrean.


"Pulang!" ucapanya dingin sambil menarik tangan Firli dan membawanya keluar ruangan. Ghea mengikuti dari belakang dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan tentang pria asing yang menolong mereka di ruang BP.


"Kenapa sulit dihubungi? Jika saja kamu angkat telpon dari suamimu ini, semua ini tak akan terjadi!" omel Andrean. Ia melepaskan tangan Firli begitu mereka sampai di teras depan. Ghea mengintip dari kejauhan, berusaha memastikan jika pria itu tak berbahaya bagi sahabatnya.


"Aku silent telponnya," jawab Firli ketakutan. Jika sedang mode galak begini Firli tak berani melawannya.


Andrean mengambil ponsel dari saku celana kanannya. Ia menghubungi seseorang dengan ponsel itu. Wajahnya masih terlihat marah. "Jemput sekarang, Pak. Katakan pada Mrs. Charlotte untuk menunggu di paviliun!" Setelah itu Andrean mematikan telponnya. Firli sampai bergidik. Andrean benar-benar seperti Ayah Abellard, jika marah menyeramkan.


"Dengar! Jika terus hal seperti ini terjadi, lebih baik kamu ikut denganku ke London! Di sini pun sama sekali tak ada perkembangan dengan prestasimu!" keluh Andrean. Firli mengangguk.