
🎶🎶 Ailee-like A first snow🎶🎶
Sebelum ku melepaskanmu,
aku tak tahu dunia yang kutempati sesunyi ini.
Bunga indah bersemi dan layu.
Musimmu tak akan pernah datang lagi.
Dibawah cahaya bulan yang terpancar malam itu bersamaan dengan angin yang berhembus pelan, Firli duduk menikmati suasana di ayunan. Menyendiri sudah bukan hal yang aneh untuknya. Dia sudah bukan anak berusia sebelas tahun lagi yang akan menangis ketika ditinggalkan. Malah karena sudah sering ia alami, Firli semakin kebal dengan kepedihannya. Pada akhirnya Mamah, Bapak dan juga Rai meninggalkan Firli.
Elsa, Ghea dan Nana menginap malam ini. Mereka duduk di sofa balkon yang menghadap ke ayunan tempat Firli berada. Mereka khawatir Firli mungkin saja nekat melakukan hal yang berbahaya. Karena itu tak sekalipun mereka berpaling dari gadis itu.
Mereka salah, Firli sudah terbiasa dengan kenyataan seperti ini. Toh ia tahu Rai memang bukan untuknya. Jika akhirnya Rai menjaga jarak darinya, itu lebih baik agar Firli lekas melupakan. Ia menenggelamkan kepalanya diantara dua lutunya yang ditekuk. Kakinya ke atas ayunan. Sementara kedua tangannya memeluk kedua lutut itu.
"Fir, gue bakalan minta Misyel jelasin sama Rai tentang kejadian tadi," ucap Elsa. Firli menggeleng. " Gue tahu, Fir. Lo mungkin bisa menerima Rai suka sama cewek lain. Tapi kehilangan Rai sebagai sahabat lo gak mungkin lo terima begitu saja. Selama ini kalian berdua dekat banget. Karena itu, walaupun gue gak bisa buat Rai suka sama lo, tapi gue akan berusaha supaya persahabatan kalian gak hancur," lanjut Elsa.
"Lagian Fir, biar Rai tahu sekalian seperti apa si Gladis itu. Lebih baik lo kemana-mana. Percuma cantik juga kalau isinya jin," Ghea menimpali.
"Lagian kenapa juga gak lo cerita sama Bunda lo, dia khawatir banget ngeliat lo murung tadi," Nana beberapa kali menatap ke arah pintu kamar Firli yang tertutup. Hanya pintu balkon yang sengaja dibuka agar udara segar masuk ke dalam kamar.
"Bunda gak boleh tahu perasaan gue sama Rai. Dia izinin gue pergi karena dia tahu Rai sama gue temenan," jelas Firli. Kali ini dia mengangkat kepalanya dan menurunkan kakinya. Kaki pendeknya menggantung di ayunan hitam bergaya 70an itu tanpa bisa menyentuh lantai.
Nana mengangkat bola matanya. Ia sudah sering kali mendengar ucapan seperti itu. "Wajar kan namanya juga anak remaja kalau suka sama cowok. Lagian juga cinta lo kan gak berbalas. Lagian Bunda lo ngapain sih ngelarang lo pacaran? Jadi jomblo kan gak enak," protesnya.
Ghea mengangguk-angguk sambil memasukan sepotong kue ke mulutnya. Gara-gara asyik mengobrol dengan Evano, ia lupa belum menikmati makanan apapun di pesta itu.
" Bunda lo pasti ngerti. Kelihatan banget dia sayang sama lo. Dia gak akan ngusir lo dari rumah cuman gara-gara jatuh cinta. Ya kali dia buang anak yang ia lahirin sendiri," saran Nana.
Mendengar itu Firli tersenyum perih. "Gue gak lahir dari rahim Bunda," ucapnya datar hingga membuat ketiga sahabatnya menganga. "Karena itu gue takut buat Bunda Anita kecewa," sambung Firli. Ia menatap ketiga temannya yang sudah membeku tak tahu bagaimana menanggapi apa yang baru saja Firli akui.
Nana mencoba mencerna pengakuan Firli. "Nyonya Freiz itu ibu tiri lo?" tebak Elsa. Firli menggeleng.
Ghea menaruh setengah roti di tangannya ke atas piring dan bersiap-siap mengeluarkan tebakan yang menurutnya itu paling tepat. "Lo anak hasil bayi tabung yang ditanam di rahim perempuan lain dan gue yakin perempuan itu Mrs. Charlotte," celetuknya malah semakin membuat Elsa dan Nana bingung sementara Firli membeku sambil membuka mulut.
"Lo kebanyakan nonton telenovela, ya?" ledek Nana. Punggung tanganya memegang jidat Ghea untuk memeriksa suhu gadis itu.
"Ya terus apalagi? Nyokap kandungnya bukan, nyokap tiri bukan, nyokap angkat juga bukan," protes Ghea.
Firli menghela nafas untuk mengumpulkan keberaniannya. "Dia mertua gue," aku Firli. Kali ini pengakuan itu sukses membuat Elsa dan Nana lebih kaget dibandingkan mendengar teori Ghea tentang bayi tabung.
Tak lama Ghea tertawa. "Lo kalo mau ngeprang gak usah kayak gitu lah. Gue tahu lo lagi patah hati, gak usah bikin kita jantungan."
Firli memperlihatkan cincin di jari manis kanannya. Ketiga temannya mendekat ke arah ayunan agar bisa dengan jelas melihat cincin mas putih dengan hiasan berlian biru itu. Firli membalikan tangannya agar ketiga temannya itu bisa membaca nama yang terukir dibalik cincinya.
"Andrean Petter Freiz," Nana membaca ukiran nama itu.
"Dia anak kandung Bunda Anita dan Ayah Abellard. Pewaris Perusahaan Freiz. Suami gue," jelas Firli.
Barulah ketiga temannya yakin jika Firli tidak sedang mengada. "Kalian gak benci sama gue kan mendengar ini?" tanya Firli.
Nana dan Elsa duduk di samping Firli. Sementara Ghea menyeret kursi di sudut sebelah ayunan tepat ke depan ayunan. "Keren!" komentar Ghea. "Kita semua di sini perlu ngejar-ngejar cowok kalau perlu melet supaya gak jomblo seumur hidup. Sementara lo jodohnya langsung dianterin. Emang ya lo, jodohnya VVIP," tambah Ghea.
"Gimana bisa kita benci sama lo? Ya gak lah, kita ini sahabat lo. Bukan teman kaleng-kaleng," Nana mencubit pipi Firli gemas.
Firli rasa ia salah menilai ketiga gadis ini. Setelah itu mereka sama sekali tak berubah. Hanya saja semalaman mereka begitu cerewet ingin Firli bercerita tentang pernikahannya.
"Jadi lo sudah sampai ngapain saja sama suami lo?" tanya Ghea nakal.
Firli menoyor jidatnya. "Apa yang lo harepin? Gue sama dia masih sebelas tahun, mana tahu urusan yang aneh-aneh begitu. kita cuman tahu kalau kita suami istri terus tidur satu kamar. Itupun ranjang dia sama gue beda. Dua bulan habis itu dia pergi ke London," jawab Firli.
Ia bercerita bagaimana sedihnya ia melihat Andrean melambai dari pintu pesawat jet pribadi milik perusahaan. Satu hal yang Firli pegang agar ia bisa melepaskan Andrean pergi, setelah tiba di London, ia akan menghubungi Firli. Nyatanya itu hari terakhir ia melihat dan mendengar suara Andrean. Setelah hari itu hingga enam tahun ini, Andrean tak pernah memberi kabar.
"Lo kangen sama dia?" tanya Nana. Pertanyaan itu memberikan serangan kejut di hati Firli. Iya, Firli kangen ingin bertemu. Tapi ia takut Andrean menjadi orang lain. Ia takut Andrean akan seperti Rai yang akhirnya akan membencinya. Firli takut Andrean tak menerimanya. Karena ia tidak memiliki fisik secantik Gladis juga tak pandai mencari perhatian.