Highschool Wife

Highschool Wife
Selayaknya seorang istri



"Gue pulang ya, Fir!" pamit Nana. Saat itu mobil mini bus merah yang ia kemudikan merapat ke samping teras paviliun tempat Firli tinggal. Kasihan dia, harus menahan bau tubuh Firli hingga nekat menutup hidup dan mulutnya dengan sapu tangan. Iya, gara-gara jatuh ketumpukan sampah tadi siang baunya melekat di pakaian, kaos kaki hingga sepatu. Bukannya Firli tak berniat untuk menggantinya, hanya saja dia tak membawa pakaian ganti dan tak ingin Mrs. Charlotte datang ke sekolah hingga membuat semua tambah rumit.


Firli mendorong pintu mobil dengan tangan kirinya. Sebelum menurunkan kaki kiri Firli sempat memasang barisan gigi putihnya lalu ia tunjukan pada Nana. "Maaf ya nyuruh lo cuci mobil?" sesalnya. Untuk saja Nana hanya mengangguk seakan pasrah dengan bau sampah yang juga akan menempel di kulit jok. Firli kemudian turun, menutup pintu lalu melambai ke arah Nana. Ia melangkahkan kakinya menaiki tiga tangga teras paviliun. Di depan pintu seorang pelayang sudah berdiri akan menyambutnya. Padanya Firli melambai memberi sapaan yang seperti biasa ia lakukan. Namun pelayan itu langsung menutup hidung ketika menghidu aroma tak sedap dari tubuh Firli.


"Ya Tuhan Lady, pakaiannya kenapa?" tanya pelayan itu. Wajar jika ia sampai menganga melihat tubuh Firli yang tidak hanya bau, tapi juga kotor dan ada memar di pipi kananya. Dalam benak pelayan itu pasti memiliki berbagai macam prasangka. Lagi-lagi Firli hanya nyengir kuda. Dia mengoyang-goyangkan tangan kanannya tanda semua ini bukan hal serius. Firli terus berjalan santai melewati entrance paviliun kemudian naik ke tangga dan masuk ke pintu sebelah kiri dimana kamarnya berada.


"Aku mau mandi!" titah Firli pada pelayan di pintu tadi yang ternyata mengikutinya dari belakang. Segera ia lakukan titah dari majikannya itu sementara sang majikan duduk di lantai sambil bersila karena tak ingin membuat bau barang-barang di kamarnya. Ia melepas tali punggung tas satu persatu dari bahunya. Di kantong bagian depan tas Firli merogoh ponselnya yang sedari tadi menimbulkan getaran tanda ada pesan atau mungkin telpon yang masuk.


Grup *chat *kelas Firli memberikan notifikasi pesan hingga 999+, angka yang signifikan dan mencetak rekor pesan terbanyak GC tersebut sejak pertama kali dibuat. Hal itu karena biasanya hanya siswa populer di kelas yang sering mengobrol di sana sehingga siswa non populer seperti Firli lebih memilih hanya menjadi pengintip yang baik. Keributan ini juga terjadi di grup kwartet Firli. Tak tahu apa yang mereka obrolkan hingga notifikasinya jebol di angka 120+. Namun Firli lebih tertarik dengan pembuat pesan di GC kelasnya.


Elena : eh ganteng banget coba!


Widuri : sp tuh?


Putri : Serah lh si Rai jdian sm Gladis, msh punya dia gue!


Elena : Jomblo gk?


Mudah sekali ditebak, obrolan itu di dominasi siswi populer di kelas. Hanya saja yang sedang mereka bahas yang ganteng-ganteng. Siapa? Telunjuk Firli begitu cekatan menarik layar ponsel hingga pesan teratas muncul sebagai sumber utama obrolan ini terjadi. Hingga ia menemukan pesan dari Rahma, lengkap dengan foto yang menyihir siswi di kelas Firli dimana sejak awal menjadi budak cinta Rai kini berpaling begitu saja.


Rahma : Gue liat Gama sm cogan di dpn kelasnya!


Itulah, cowok di sebelah kanan foto yang membuat pesan di GC menjadi sebanyak itu. Lain dengan siswa lain yang begitu antusias menyambut kedatangannya hingga berencana berkenalan esok hari, Firli malah kalang kabut. Ia menggaruk kepala dengan kedua tangannya setelah melempar ponsel ke atas tas yang ada di pangkuannya. Rasanya ia ingin mengutuk diri sendiri karena selalu membuat masalah. Hanya satu harapannya, semoga esok ia diganggu segerombolan cewek bucin hingga lupa pada cewek pendek yang menabraknya kemudian tak mau tanggung jawab.


Rupanya obrolan tentang laki-laki itu terjadi juga di grup kwartet. Itu artinya foto cowok itu telah tersebar ke seantero sekolah tanda ia tak akan tenang karena diganggu para pemuja dadakannya. Firli tertawa puas tanda kemenangan dari sikapnya yang tidak bertanggung jawab. Firli memiliki pengalaman dengan Rai. Ketika MOS dulu ia juga dikejar-kejar selama hampir satu minggu sebelum akhirnya gadis-gadis bucin itu berhenti sendiri. Waktu seminggu cukup membuat murid baru itu melupakan Firli.


"Lady?" tanya seseorang datang dari pintu membuat Firli hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai. Firli menatap Mrs. Charlotte yang datang dari pintu masuk. Wanita itu kaget melihat anak asuhnya duduk di lantai dengan pakaian kotor. "Apa-apaan ini?" tanyanya. Tidak hanya Firli, pelayan yang keluar dari kamar mandi setelah menyiapkan alat mandi Firli juga ikut terkejut melihat kedatangan Mrs. Charlotte.


"Tadi aku jatuh ke tumpukan sampah karena lari-lari," jelasnya. Firli berdiri, melempar ponselnya ke atas tempat tidur kemudian menjinjing tasnyamenuju kamar mandi. "Maaf Mrs. Charlotte aku meninggalkanmu tadi. Aku pulang dengan Nana cepat-cepat karena tak tahan baunya," jelas Firli sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Melihat keadaan anak itu Mrs. Charlotte tak melarangnya. Memang lebih baik Firli cepat mandi dan membersihkan tubuhnya.


 


 


Menikmati tubuhnya yang wangi kembali serta pakaiannya yang nyaman membuat Firili merasa menjadi orang yang baru terlahir. Ia tersenyum di depan kaca di *walking closet *sambil sesekali berputar-putar mematut diri. Ia tengah senang hari ini karena menemukan ide terlepas dari ketidak bertanggung jawabannya pada pria yang ia tabrak. Perasaan senang yang kemudian hilang mengingat adegan romantis pasangan baru di halaman tengah sekolah. Firli mengepalkan kedua tangannya kemudian dia pukulkan ke meja kabinet tempat ia menyimpan aksesoris. Tak ada gunanya lagi Firli emosi, dia harus mulai menerima keadaan.


Firli menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan melalui mulut. Hal itu cukup menurunkan denyut jantungnya yang berlebihan. Banyak hal yang harus ia kerjakan, terutama menanyakan kabar Angie pada guru BPnya takut wanita jahat itu akan membalas dendam. Firli harus siap-siap, mencari sesuatu alat yang bisa melindunginya. Semprotan merica mungkin!


Dengan yakin ia melangkah keluar dari ruangan tempat seluruh pakaiannya di simpan itu. Firli menutupnya rapat-rapat karena Mrs. Charlotte sering mengomel jika melihat pintunya terbuka. Ia ingat hari ini akan menyelesaikan tugas rajutannya dari Mrs, Charlotte. Rencana yang akhirnya ambyar karena mendapati orang yang ia hindari sudah duduk manis di samping ranjang menatap ke arah Firli keluar. Dia mengenakan seragam sekolah seperti yang dikenakan laki-laki lainnya yang bersekolah di SMA Bimasakti. Firli menatapnya dengan mata terbelalak dan mulut menganga dari unjung kaki hingga ujung rambut.


Laki-laki itu duduk di sana sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Hanya kesal tersirat di wajahnya yang membuat mata coklat itu begitu saklek melihat ke arah Firli. Sedang si gadis lebih bingung lagi. Apa iya laki-laki ini begitu marah padanya hingga rajin mencari kediaman Firli dan menyusulnya? Kenapa para pelayan membiarkannya masuk?


"Apa seperti itu perilaku kamu? Sepertinya Mrs. Charlotte gagal mendidikmu dengan baik!" gerutunya. Firli mengatupkan mulutnya, laki-laki itu bahkan kenal Mrs. Charlotte. Dia melepas kedua tangannya yang tadi bersilang di dada dan menggunakannya untuk menopang agar tubuhnya bisa bangkit dari atas kasur. Kemudian tangan kananya dimasukan ke dalam saku blazer sehingga membuat pose sempurna yang membuat perasaan Firli melambuang. Dia ganteng banget, guman Firli. Sepertinya kini Firli lebih tertarik dengan ketampanan pria itu dibandingkan kesalahannya yang menabrak si pria kemudian tak bertanggung jawab. "Duduk di sofa!" titahnya sambil berbalik kemudian melangkah menuju sofa tamu di bagian kiri kamar. ia duduk di sofa yang mengarah ke ranjang. Anehnya Firli mengikuti saja dan duduk di sofa yang berhadapan dengannya.


"Maaf, kamu siapa, ya?" tanya Firli heran. Sejak tadi pertanyaan itu terus tertulis di benaknya.


Laki-laki itu menggeleng beberapa kali dengan ekspresi merajuk. "Istri macam apa kau sampai tidak mengenal suamimu sendiri? Aku Andrean, suami mu!" tegasnya. Tak tahu Firli harus bagaimana. Perasaannya bergejolak antara suka, duka dan tak percaya. Suka karena wajah pria itu terlalu tampan untuk ditolak menjadi suami, duka karena kedatangannya tentu membuat hidup Firli semakin terkekang, tak percaya karena ini seperti mimpi. "Salah Bunda dan Ayah  juga tak pernah membiarkanmu menghubungiku! Sikapmu malah tak terkendali seperti ini!" keluhanya.


Pertanyaan Firli selama ini terjawab sudah. Bagaimana ia akan membuat kesan pada Andrean ketika pertama kali bertemu lagi, jawabannya ia membuat Andrean kesal. "Ouh tentang aku yang menabrak Monsieur?" tanya Firli mencoba memberi kesan bahwa dia mengingat kesalahannya. Ia sengaja memanggil Andrean dengan sebutan Monsieur agar terdengar sopan.


"Aku menunggumu di depan sekolah sore tadi!" tandasnya. Firli berpikir mengingat apa yang terjadi di depan sekolah hingga ia temukan fakta ketika dirinya memutuskan kabur lewat pintu samping karena takut menghadapi Andrean. Jadi saat itu Andrean benar-benar menunggunya, bukan untuk marah tapi untuk menjemputnya pulang.


"Maaf Monsieur aku pikir tadi kau akan marah padaku setelahmenabrakmu dan semua kertas itu jadi aku kabur lewat pintu samping karena takut," jelas Firli.


Penjelasan yang membuat Andrean malah semakin kelas. "Karena itu aku bilang Mrs, Charlotte gagal mendidikmu. Harusnya aku tahu itu dan tidak mempercayakanmu pada siapapun bahkan Ayah dan Bunda," tekannya. Firli tak percaya, laki-laki yang akan sehidup semati dengannya ini ternyata lebih menakutkan daripada Mrs. Charlotte. Andrean yang ia kenal sangat lembut dan penyayang kini lebih seperti batu karang yang mengusir ombak yang akan menghantamnya.


"Aku akan mandi. Siapkan pakaianku, itu tugasmu!" titahnya. Firli tak mampu berkata lagi. Ia masih duduk di sofa sementara Andrean bangkit dan siap berjalan ke kamar mandi. "Kenapa kau masih duduk di situ?" tanyanya tegas hingga membuat Firli terkejut. Gadis itu lekas berdiri kemudian berlari ke *walking closet *untuk menyiapkan pakaian Andrean. Jantungnya hampir saja copot mendengar hardikan suaminya itu. Begitu membuka pintu *walking closet *dan menemukan banyak pakaian pria tergantung Firli menempuk kepalanya. Padahal tadi dia baru keluar dari tempat ini tetapi sama sekali tak memperhatikan pakaian-pakaian pria itu. JIka saja ia sadar mungkin ia tahu kedatangan Andrean sebelumnya.