
"Bunda," panggil Firli sambil memeluk Anita dengan manja. Sengaja setelah mandi sore sepulang dari sekolah, Firli ke rumah utama dan menemui mertua perempuannya di ruang keluarga. "Firli boleh minta diusap kepalanya?" tanya Firli.
Anita mengangguk. Memang bukan pertama kali Firli bersikap manja padanya. Namun setelah Andrean kembali sikap itu mendadak hilang dan kini muncul kembali. Tentu itu mengundang keanehan di pikiran Anita.
"Ada apa?" tanya Anita. Ia memastikan jika tidak ada hal buruk terjadi dengan menantunya.
Firli menggeleng. "Jika Firli memaafkam Bapak apa tidak masalah?" tanya Firli.
Anita mengangguk. "Kamu sudah sangat lama berpisah dengannya. Sudah waktunya kamu memaafkannya. Pasti berat tapi apa yang sudah terjadi tidak akan berubah walau kamu membenci setengah mati. Hanya akan menyiksa diir kamu sendiri," nasehat Anita.
Firli mengerti. Bunda benar. Bapak memang salah di masalalu. Namun sebesar apapun Firli membencinya, Mamah tetap tidak akan kembali. "Bapak bilang, ia ingin mengajak Firli dan Andrean datang ke rumahnya," izin Firli.
Anita mengangguk. "Tentu Andrean harus mulai belajar mengambil hati mertua, kan?"
Firli mendongak dan menatap wajah Anita sambil nyengir kuda. Hari ini seperti biasa, Abellard dan Andrean masih berkutat dengan puzzle susun yang rumit. Puzzle kayu berbentuk bola itu memang sangat sulit disusun kembali.
"Bagaimana tes kamu kemarin?" tanya Abellard. Ia masih mencari bagian yang pas untuk di susun. Salah susunan saja akan membuatnya harus mengulang kembali.
"Lumayan, tes wawancara kemarin aku mendapat skor besar. Hasilnya keluar tadi pagi. Mereka menawarkan Manchester, Harvard dan Edinburgh university," jawab Andrean.
Abellard hampir menjatuhkan puzzlenya. "Kau diterima di tiga universitas itu?" tanya Abellard masih kaget. Andrean mengangguk hingga membuat mulut ayahnya terbuka lebar. "Wah, kau memang lebih pintar dari Ayah. Bahkan dulu, untuk masuk Manchester saja aku sampai tes beberapa kali," puji Abellard.
Andrean tersenyum. "Namun Ayah berhasil menaikan harga saham perusahaan saat itu. Ayah bukannya tidak pintar, hanya selalu sibuk," timpal Andrean. Ia mendengar bagaimana Ayahnya diam-diam meminjam uang dan menyimpan investasi di perusahaan kecil sehingga sukses di usia muda. Hal yang berani karena jika sampai gagal dan kakek tahu, ia bisa dihapus dari ahli waris.
"Bagaimana tidak begitu, saat itu Bundamu sedang mengandung Andrevan. Jika tidak mencari uang, aku memberi makan ibu dan kakakmu dari mana?"
Jawaban itu jelas mengundang tawa Anita dan Firli. "Bunda benar, Andrean sangat mirip Ayah," celetuk Firli. Anita mengangguk sambil tertawa.
"Mudah-mudahan saja kalian tidak punya anak dulu. Kami tidak ingin kalian mengulang kesulitan kami saat itu," komentar Anita.
Firli mengangguk. Pasti mertuanya masih trauma akan keadaan Andrevan. "Oh iya!" Andrean tiba-tiba mengingat sesuatu. "Aku sempat khawatir Firli hamil, tapi ternyata malah temannya yang hamil," ucap Andrean lagi-lagi membuat Abellard terkejut.
"Tadi kami ingin membahas ini. Kamu butuh bantuan Bunda dan Ayah," pinta Firli. Ia menjelaskan inti dari masalah Ghea hingga bagian Ghea kabur. "Bisakah Ayah mencarinya?"
Abellar mengangguk. "Kasian juga anak itu. Dia memang salah, tapi harusnya keluarganya tidak berpikiran sependek itu. Menggugurkan kandungan bisa beresiko juga untuk anak mereka. Sebaiknya dinikahkan saja, kan?" komentar Abellard.
"Lho, kan tadi Firli bilang anak itu tidak ingin mengungkap siapa yang menghamili," ralat Anita.
Andrean tertawa melihat ayahnya nyengir kuda diralat oleh ibunya. "Namun bagian yang membuatku heran, jika ia tidak ingin mengungkap ayah anak itu, kenapa harus kabur bersamanya?"
Firli mengangguk. "Mungkin karena mereka tahu hubungannya tidak akan direstui," komentar Abellard. Andrean dan Firli mencoba menelaah maksud dari ayahnya. "Aku yakin sejak awal orangtua mereka tidak ingin mereka berhubungan," jelas Abellard. Andrean menatap Firli.
Gadis itu mencoba berpikir bagian apa yang ia lewati. "Kamu sekelas dengan Putra, kan?" tanya Firli. Andrean mengangguk. "Apa dia masih sering pergi dengan seorang perempuan cantik? Kamu memang tidak kenal, hanya saja dulu mereka sangat menempel."
Andrean mengingat-ingat. Ia memang pernah melihat pria itu di dekati wanita yang lumayan cantik tapi tidak menghiraukan wanita itu. Selebihnya Andrean hanya melihat Putra dengan teman laki-laki. "Sepertinya tidak," jawab Andrean agak tidak yakin.
Firli menepuk keningnya. "Kemarin saat kita diminta mengemasi barang dari kelas, apa dia datang?"
Andrean menggeleng. Ia mengobrol dengan Gama di kelas hingga siang dan tidak melihat kehadiran Putra. Firli menarik napas panjang. Ia ingat alasan kenapa dulu Ghea dan Putra putus. Bukan hanya karena Putra direbut oleh Arlitha, tapi juga karena hubungan orangtua mereka tidak baik.
"Sudah, biar Ayah yang menemukan temanmu. Kamu harus fokus pada rencana setelah lulus kuliah." Anita mengusap rambut Firli. Tiba-tiba Firli ingat sesuatu.
"Hasil tesku keluar hari ini," pekiknya. Firli berlari menuju ruang baca dan mengambil laptop yang berada di sana. Laptop itu memang bebas digunakan dan biasanya menjadi tempat Andrean mencari referensi bahan ajar.
Jantung Firli berdebar dan tangannya mendadak terasa dingin serta berkeringat. "Biar Andrean buka saja," tawar Andrean. Ia menyimpan puzzle di atas meja lalu mendekati Firli yang duduk di pinggir meja dekat sofa. Ia nyalakan laptop lalu membuka browser.
"Apa password email kamu?" tanya Andrean begitu masuk di laman email. Firli mengetik sendiri password emailnya. Rupanya sudah ada email masuk sejak beberapa jam lalu dan itu dari universitas swasta yang menjadi incarannya di Manchester.
Firli memejamkan mata. Ketika Andrean membuka email, jawaban atas usaha Firli akhirnya terjawab. Terdengar suara napas Andrean yang berat. Firli membuka mata, ia langsung menelan pil pahit begitu menyaksikan surat penolakan dari kampus itu.
"Bahkan di universitas swasta saja aku ditolak," keluh Firli. Ia menunduk kecewa. Ingin rasanya ia menangis saat itu jika saja tidak malu pada mertuanya.
Anita mengusap punggung Firli. "Kau bisa mencobanya tahun depan. Sambil mendampingi Andrean di sana sambil belajar materi yang masih sulit kamu pelajari. Pasti kamu bisa."
"Lagipula kamu itu banyak bakat. Kamu bisa menyalurkan bakat kamu selama menunggu tahun depan. Banyak orang sukses karena bakatnya," timpal Abellard.
Rasanya Firli semakin kecewa saja. Bahkan mertuanya sebaik itu tapi ia tidak bisa memberikan hal terbaik. "Maaf ya, menantu kalian ini memang payah," ucap Firli lirih.
Andrean mencubit pipinya. "Lebih baik kau kembali menulis saja, bukannya kau ahli menarik perhatian orang dengan tulisanmu?" saran Andrean.
Firli mengangkat sebelah alisnya. "Novel yang sedang dibicarakan siswa di sekolah kita itu, kamu yang tulis, kan?"
Mendengar itu Firli menelan ludah. Wajahnya memerah hingga terasa panas. "Kenapa kau tahu?"
***
Beberapa minggu yang lalu ...
Akhirnya Andrean melakukan hal paling memalukan dalam hidupnya. Ia terpaksa membaca novel romansa yang digadang-gadang sangat disukai para wanita akibat keromantisan tokoh pria dalam cerita itu. Sebenarnya ini ide Gama agar Andrean membaca dan memprakteknnya dengan Firli.
Baru chapter pertama ia sudah bergidik jijik. Adegan demi adegan dalam novel ini sepertinya tidak pantas dibaca remaja seusia mereka. Apalagi yang belum menikah. Andrean mendapat pengecualian karena sudah beristri.
Namun semakin dalam ia membaca, adegannya semakin terasa janggal. Selain adegan romansa yang terkesan dibuat-buat, adegan dalam novel ini sangat akrab dalam ingat Andrean. Kenapa? Karena hampir seluruh bagian pernah ia alami dengan Firli.
Pria itu semakin curiga karena setting dalam novel benar-benar digambarkan sama dengan paviliun tempat ia dan Firli tinggal, sekolah hingga warna mobil.
Andrean mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Hingga akhirnya ia mulai melakukan kejahilan. Andrean membuka jalur masuk ke dalam server platform dan menelusuri id pengguna pemilik novel itu. Ia mencoba melihat riwayat publikasi, jam hingga akhirnya IP dari perangkat yang digunakan penulisnya.
IPnya berbagai macam hingga ada imei yang artinya juga postingan sempat dibuat pada ponsel. Namun IP dan imei perangkat itu tidak asing baginya. Andrean membuka komputer di perpustakaan paviliun. Hasilnya, ip itu mirip dengan ip perangkat yang digunakan untuk melakukan pengiriman data.
"Ish, dia pura-pura polos di depanku ternyata bisa menulis hal sevulgar ini di internet. Dasar istri nakal!" komentar Andrean. Tadinya ia hendak memarahi Firli. Namun melihat bagaimana istrinya tertidur pulas, niat Andrean diurungkan.
Dibandingkan memarahi, ia lebih suka melakukan hal lain yang lebih menyenangkan.
Keesokan harinya ketika bangun tidur, ia bisa melihat wajah panik Firli saat mengecek sesuatu di ponsel. Gadis itu bahkan terlihat pucat. "Ada apa?" tanya Andrean kura-kura dalam perahu. Firli tidak hanya menggeleng. Tentu ia tidak akan mengungkapkannya di depan suaminya. Namun Andrean tahu, Firli panik karena novelnya sudah terhapus dari peredaran beserta id kepenulisannya.
Jangan ditanya siapa pelaku utama kejadian itu karena jawabannya Andrean Petter Freiz.