Highschool Wife

Highschool Wife
Titik Balik



"Masih marah?" tanya Andrean ketika Firli turun dari mobil tanpa menunggu dirinya. Belum sempat Firli menjawab, ia dikagetkan dengan keberadaan Mrs. Charlotte di depan teras paviliun.


Andrean yang berjalan di belakang Firli ikut terheran-heran. Ia berhenti di samping istrinya. Mrs. Charlotte menunduk sebagai penghormatan. "Ada apa?" tanya Andrean. Ekspresi wajah Mrs. Charlotte membuat Andrean merasa tidak enak.


"Sebaiknya Monsieur dan Lady bersiap. Pakaian berkabung kalian sudah saya siapkan di kamar," jawab Mrs. Charlotte..


Andrean menarik napas panjang laku ia hembuskan perlahan. "Jangan dulu memerintah. Katakan ada apa?" paksa Andrean.


Mrs. Charlotte menunduk. Bibirnya terlihat bergetar seakan tidak sanggup memberitahu Andrean. "Monsieur Andrevan telah dinyatakan meninggal beberapa jam yang lalu," jawab Mrs. Charlotte.


Firli menatap Andrean. Wajah pria itu sejenak terlihat pilu kemudian dia mengusap wajah dan tersenyum. "Ayah dan Bunda ada di sana?" tanya Andrean. Anggukan Mrs. Charlotte membuat Andrean sedikit lega. Pria itu langsung berjalan menuju kamar dan Firli mengikutinya.


"Ganti pakaianmu dulu. Biar aku ganti di sini saja," ucap Andrean sambil menutup pintu kamar. Firli mengangguk. Gaun hitam sudah tersedia di atas tempat tidur. Ia ambil gaun itu lalu masuk ke dalam ruang ganti. Sebelum menutup pintu, Firli sempat menengok ke arah suaminya. Pria itu masih terlihat tegar.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Firli selesai ia mengganti pakaian lalu membantu Andrean memasang dasi. Rean mengangguk. Beberapa kali terdengar suara napasnya yang sedikit berat. Firli merasa jika ia tidak baik-baik saja.


Tiba-tiba Andrean tertawa. "Kakak sialan! Dia tahu saja aku ingin kabur dari keluarga ini, jadi dia pergi lebih dulu. Bahkan sebelum ia lakukan kewajibannya sebagai kakak," umpat Andrean.


Firli merapikan rambut suaminya. Terdengar bunyi ketukan di pintu. Firli meninggalkan Andrean di sana untuk membuka pintu kamarnya.


"Tamu sudah mulai berdatangan, Monsieur," ucap Mrs. Charlotte. Andrean berjalan ke arah pintu. "Apa anda akan menyambut mereka sendiri?" tanya Mrs. Charlotte. Rean mengangguk lalu berjalan keluar paviliun. Firli mengikutinya dari belakang. Ia bisa melihat punggung suaminya diantara kerumunan para penjaga.


Pintu belakang rumah utama terbuka. Rombongan itu berjalan melewati koridor menuju ruang tengah. Sudah banyak para pelayat yang datang dari kalangan pebisnis hingga sesama imvestor. Banyak diantara mereka kaget mendengar putra sulung keluarga ini meninggal karena selama ini mereka hanya tahu jika putra keluarga Freiz hanya Andrean.


Tatapan mata Firli terpaku pada Briana. Gadis itu masih berdiri mematung di pintu masuk. Rean menatapnya iba. "Fir, kamu temani Briana," pinta Andrean. Firli mengangguk.


Ia langsung berjalan menuju gadis itu. Briana tersenyum melihat Firli. "Bri," panggil Firli.


"Lebih baik begini, dia tidak akan sakit lagi," ucap Briana lirih. Firli menepuk bahunya pelan. "Jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Briana memang tersenyum tapi matanya yang basah tidak bisa berbohong.


Firli memeluknya erat. Ia mengusap punggung Briana. "Kamu jahat! Aku jadi ingin menangis," keluh Briana. Benar saja, tidak lama tangisnya pecah. Bahkan ia terduduk lemas di lantai.


"Kamu pasti kuat, Bri!" Firli memberinya semangat. Briana mengangguk. Ia mengangkat tangannya dan melihat cincin tunangan yang melingkar di jari manisnya. Calon suami yang ia tunggu akhirnya kembali untuk pergi selamanya.


"Apa aku begitu jahat hingga Tuhan menghukumku seperti ini?" tanya Briana dengan suara terpenggal-penggal.


Sementara itu Andrean menyapa satu per satu tamu. Banyak diantara mereka yang memuji ketegaran Andrean walau sebagian menggunjing jika Rean tegar akibat resmi menjadi satu-satunya pewaris.


Firli ingat gantungan kunci Andrevan yang masih Rean jaga dan ia bawa kemana-mana. Meski selalu mengumpat kakaknya, Rean sebenarnya sayang. Ia rindu dengan saudaranya. Meskipun karena Andrevan ia sering kehilangan kasih sayang, Revan tetap saudaranya.


Malam semakin larut. Andrean masih berdiri di pintu untuk menunggu kedatangan kakak yang tidak pernah pulang ke rumah sejak tujuh tahun lalu. Angin meniup tubuhnya. Andrean menahan rasa dingin yang mulai memenjarakan badan. Ia tidak memedulikan meski Mrs. Charlotte memintanya masuk.


"Monsieur, sebaiknya anda berbicara pada Monsieur Abellard." Mrs. Charlotte memberikan telpon pada Andrean.


"Ada apa?" tanya Rean ketus.


Abellard tersenyum kecil mendengar jawaban tidak sopan putranya. "Kau sedang emosi? Kenapa mengangkat telpon Ayah seperti itu, Nak?" tegur Abellard. Rean mendengus. "Apa kamu sedang bertengkar dengan Firli?" tanya Abellard lagi.


"Putramu meninggal kenapa masih sempat bercanda denganku?" Andrean balas menegur. Abellard mengusap keningnya.


"Ayah dan Bunda akan kembali sekitar satu atau dua hari lagi. Prosedur kepulangan kakakmu sangat banyak. Aku harap kamu bisa menjaga keadaan di rumah lebih kondusif," pinta Abellard.


Rean mengangguk. "Yah, katakan pada Bunda, jangan sedih. Rean di sini," ucap Rean lembut. Abellard mengangguk. Begitu telpon di tutup, kalimat Andrean sukses membuatnya menangis. Ia tatap istrinya yang tengah memeluk putra pertama mereka. Revan masih terbaring di ruang ICU dan satu persatu alat medis yang dipasang sebagai penunjang kehidupannya dicabut.


Baru saja kemarin ia merasa lega karena Revan membuka mata dan berbicara. Namun ternyata itu kalimat terakhirnya. "Bunda, Revan ingin pulang."


Setelah itu Revan kembali koma dan keadaanya semakin menurun. Hingga menjelang pagi waktu Amerika, detak jatungnya menghilang dan perlahan otaknya juga mulai tidak berdenyut.


"Kita pulang ya, Nak. Kamu pulang dengan Ayah dan Bunda ke rumah," ucap Anita lirih sambil mengusap rambut anaknya yang semakin menipis karena efek pengobatan.


Sementara itu Andrean berjalan masuk ke dalam rumah. Sudah tidak ada pelayat di ruang tamu utama. Hanya Firli dan Briana yang duduk di sofa. Rean mengusap rambut Briana. "Hei, dengarkan aku. Sekarang kau tidak terikat. Bahagialah dengan pria lain yang akan melindungimu," nasehat Rean.


Briana menggeleng. "Revan itu hidupku! Tanpa dia aku bisa mati!" Briana menatap Rean dengan mata yang basah. Air mata masih mengalir.


"Lalu apa kau jadi kehidupannya? Nyatanya kau masih ada di sini, dia tetap meninggalkanmu. Kamu berhak bahagia, Bri. Jangan menunggu kakakku terus. Dia sudah melepaskanmu," tekan Andrean.


Briana menggeleng. "Tidak ... kamu bohong! Dia tidak melepaskanku. Dia sayang padaku!" Briana menepuk-nepuk dadanya.


Rean mengusap tengkuk. Firli menggenggam tangan Briana. Ia tepuk pelan punggung tangannya. Briana tersedu-sedu. Bahkan pipinya basah. "Rean benar. Aku yakin Kak Revan ingin kamu bahagia. Karena kamu berharga. Dia tidak ingin kamu menunggu lama."


"Lupakan kakakku, Bri. Bahagialah."