Highschool Wife

Highschool Wife
Trap



"Sejak bayi kami main bersama seperti anak kembar. Ketika usiaku sebelas tahun, nenek dan kakekku berencana menikahkanku. Saat itu aku menangis dan meminta agar Firli yang bisa aku nikahi," lanjut Andrean.


Firli mengangguk-angguk walau dirinya sendiri masih diambang antara percaya atau tidak. Ia tahu benar jika pernikahan itu dilaksanakan secara mendadak dan tidak lama setelah Nenek dan Kakek Andrean meninggal. Justru Firli lebih percaya jika pernikahan itu terjadi karena wasiat. Tak tahulah, apa yang terjadi enam tahun lalu masih menjadi misteri baginya. Ia hanya anak yang baru menginjak remaja dan tiba-tiba dinikahkan.


Kencan itu dilanjutkan dengan kegiatan jalan-jalan di sekitar taman salah satu mall mewah di Kota Bandung. Bagian rooftopnya memang memiliki taman indah dengan banyaknya bunga matahari yang bermekaran. Sengaja mereka datang ke sana untuk mengambil gambar yang biasanya mereka temui di luar negeri.


Firli dan Andrean berjalan di depan sambil berpegangan tangan sementara Gladis dan Rai di belakang mereka. Tidak perlu ditanyakan bagaimana keadaan Gladis yang selalu kehilangan kesempatan mendekati Andrean. Ia bahkan menolak ketika Rai memegang tangannya.


"Sini aku foto," tawar Andrean. Firli mengangguk. Ia mengambil posisi diantara bunga matahari. Sementara itu Andrean bersiap mengambil beberapa gambar. Setelah lebih dari lima kali menekam shutter kameranya, Andrean meminta Firli melihat hasil gambar yang ia ambil. Gambar yang cantik hingga Firli sendiri kaget melihatnya.


"Wah, aku pikir jika aku difoto tidak akan sebagus ini," ucap Firli dengan mata berkelip-kelip. Gadis itu bahkan sampai beberapa kali menekan tombol scroll kanan dan kiri kamera SLR milik suaminya.


"Wah, iya bagus! Bisa fotokan aku juga," pinta Gladis tiba-tiba berdiri di samping Andrean dan melingkarkan lengannya di lengan Rean. Karena merasa tidak nyaman, Rean mencoba melepaskan lengan Gladis.


"Jika minta difoto berdirinya di sana, bukan di sini," tekan Andrean. Gladis nyengir kuda. Ia mengambil posisi cantik untuk di foto. Melihatnya membuat Firli kesal. Bahkan ia berpose seperti seorang model saja.


Andai saja jika wajah itu sebaik isi hatinya. "Andrean, bisa minta fotokan aku di situ?" pinta Gladis lagi. Ia menunjuk-nunjuk suatu sudut yang dipenuhi bunga aster merah muda. Terpaksa Andrean mengangguk dan mengikutinya sementara Firli terlihat kesal sambil berkacak pinggang.


Ia diam saja melihat Gladis dan Andrean dari kejauhan. "Maaf, ya. Aku juga gak tahu dia kenapa," ucapa Rain tiba-tiba hadir di samping Firli.


Firli sendiri juga kaget Rai sudah berada di sana. "Harusnya kamu bisa lebih tegas sama dia. Masa dari tadi dia atur-atur kamu terus," keluh Firli.


Rai memgangguk. Ia juga merasa tidak enak melihat Gladis terus seperti itu. "Kamu apa kabar?" tanya Rai merubah topik.


"Baik," jawab Firli.


Sempat ada jeda diantara keduanya. "Maaf soal permintaan Gladis. Aku juga sudah berusaha tidak mengganggu kamu dan suamimu," ucap Rai.


Firli mengangkat sebelah alisnya. "Waktu itu aku kirim pesan karena aku pikir kita sahabat dekat. Sudah lama aku tidak menyapa. Hanya karena itu. Tidak ku sangka kamu malah merasa tidak enak," sambung Rai.


Lagi-lagi Firli menggaruk kepalanya karena bingung. "Pesan?" tanya Firli.


"Iya, waktu aku kirim pesan menanyakan keadaan kamu," ucap Rai. Dia sendiri mulai merasakan hal aneh.


Firli berpikir sejenak. Seingatnya ia tidak ... pesan itu. Firli menatap ke arah Andrean, sepertinya ia mengerti apa yang sudah terjadi. "Ouh, iya. Maafkan aku juga. Aku tidak bermaksud apapun," timpal Firli. Rai mengangguk. Jika memang itu perbuatan Andrean lebih baik ia menutupinya.


"Aku harap kamu tidak kesal karena sikapku. Maksudku, sulit untuk menganggap kita tidak pernah dekat," lanjut Rai.


"Mereka dulu hampir tak terpisahkan. Firli sering mengekor Rai kemanapun. Aku ini wanita, aku mengerti perasaan wanita lain. Cinta pertama memang sulit dilupakan," komentar Galdis.


Andrean sama sekali tidak menimpali kalimatnya. Ia masih menatap Firli dan Rai yang tiba-tiba saling tertawa bersama. "Kamu itu tampan, kaya, pintar. Firli bahkan bukan apa-apa. Untuk apa kamu terus mempertahankan dia? Sementara Rai lebih dari apapun bagi dia. Lebih baik kamu mencari wanita lain yang jauh lebih pantas," lanjut Gladis meracuni.


Ia melingkarkan tangannya di lengan Rean. "Aku juga kecewa dengan Rai karena sikapnya pada Firli. Aku harap kita bisa berbagi kekecewaan itu bersama." Ia bahkan berani menyandarkan kepalanya di bahu Andrean.


Ketika itu pula Firli tanpa sengaja melirik ke arah keduanya. Tidak perlu ditanya lagi bagaimana perasaan Firli. Ia langsung berlari ke arah Andrean dan menarik Gladis dari suaminya. Sementara itu Rai masih melihat dari kejauhan sambil mengepalkan tangan.


"Dasar tidak tahu malu!" umpat Firli lalu menjambak rambut Gladis.


"Kamu juga, sudah punya suami masih saja nempel pada pacar orang!"   balas Gladis. Kedunya saling jambak-jambakan. Andrean berusaha melepaskan keduanya.


"Sedari tadi kamu yang nempel-nempel suamiku!" tekan Firli.


"Rai, bantu!" teriak Andrean. Barulah pria itu mendekat dan meraih Gladis. Rai memeluk Gladis dari belakang, begitupun Firli di pelukan Andrean.


"Dasar perempuan jelek! Mana pantas kamu dapatkan semuanya!" ledek Gladis.


Firli masih meronta-ronta berharap Andrean melepaskannya. "Ouh, jadi perempuan cantik seperti kamu baru berhak? Dasar sirik!" Firli balas mengatai.


Gladis merasa kesal, wajahnya memerah. "Harusnya aku yang lebih pantas jadi Nyonya Freiz. Kamu hanya modal beruntung saja!" timpal Gladis. Firli mengangkat-angkat tangannya mencoba meraih Gladis. "Kalau tidak dijodohkan juga, Andrean mana mau nikahin perempuan jelek seperti kamu!" tambahnya.


Mendengar itu rasanya hati Firli begitu sakit hingga ia meneteskan air matanya ketika marah. Rai melepakan Gladis kemudian menarik tangan gadis itu hingga menghadap padanya. Bagian yang paling mengagetkan, Rai menamparnya lumayan keras hingga Gladis limbung.


"Apa kamu selalu seperti ini? Kenapa kamu harus menginginkan milik orang lain? Apa kamu pikir bisa mendapatkan apa yang lebih dari orang lain? Dewasalah!" omel Rai. Gladis menatapnya dengan wajah terkejut.


"Tidak perlu takut ibuku ingin menjodohkan kita. Itu tidak akan terjadi. Hubungan kita berakhir," lanjut Rai.


"Kamu!" Bukannya menyadari kesalahan Gladis malah berteriak pada Rai.


"Yang kamu inginkan bukan aku, bukan juga Andrean. Kamu hanya ingin kedudukan. Wanita tamak seperti kamu memyedihkan!" tekan Rai lagi.


Setelah itu, pria itu berbalik dan pergi begitu saja. Andrean dan Firli sampai mematung melihatnya. Sementara itu, Gladis mengusap pipinya yang sakit sambil menunduk malu.