
"Aww!" pekik Firli saat Andrean mengoleskan obat luka. Bukannya bersimpati, Andrean malah tertawa. Suara Firli memecah keheningan paviliun sore itu. Andrean duduk di samping ranjang, sementara Firli setangah berbaring.
"Sudah jelek, kena cakar. Semakin acak-acakan ini wajah," ledeknya. Ia dengan sengaja mengusap wajah Firli dengan gemas. Karena tangan Andrean terkena lukanya, Firli lagi-lagi menyeringis. Ia menepis tangan suaminya.
"Gini ya kalau berantem dengan kucing," celetuknya. Andrean lagi-lagi tertawa. Ia menutup kotak P3K dan menyimpannya di atas nakas. Sementara kapas bekas yang sudah diteteskan obat, ia buang dengan cara dilempar ke tempat sampah.
"Bukannya itu keluarga beruang?" ralat Andrean. Firli mengangguk sambil tertawa. Namun mata Andrean terlihat nakal. "Kebetulan Bapaknya 'kan Bapak kamu, jadi ....." Andrean tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aku juga beruang begitu?" Firli melotot. Bahu Andrean terangkat. Ia mengusap rambut Firli kemudian mengecup keningnya.
"Beruang yang aku cintai," ucap Andrean. Firli menunduk malu kemudian memukul pelan lengan suaminya. Sempat ada jeda diantara mereka berdua. Firli menatap wajah Andrean lekat-lekat. Ia ingat dengan ancaman Andrean pada Angie dan keluarganya dulu. Apa ia benar-benar akan melakukannya?
"Apa hukuman yang didapatkan Angie?" tanya Firli penasaran. Ia memelintir ujung lengan kemeja Andrean.
"Aku meminta Bu Helda mengeluarkannya dari sekolah. Lagipula banyak siswa di sana yang menjadi korbannya," jawab Andrean. Firli menelan ludahnya. Benar, Andrean tidak pernah main-main dengan acamannya. Ia dan Ayah Abellard tidak jauh berbeda.
Memang cukup beralasan. Sejak dulu Angie memang sering menjadikan siswa lain bulan-bulanan. Itu semua ia lakukan untuk menunjukkan kekuasaannya. Terlebih wajah cantiknya sangat menjual.
"Kau sudah bicara dengan Rai?" Walau napasnya terdengar berat, tapi Andrean sudah cukup dewasa untuk menerima kedekatan istrinya dengan pria itu. Bagaimanapun, Rai adalah orang yang menemani Firli selama ia pergi.
Firli menggeleng. Lain dengan Andrean, Firli malah merasa tidak enak jika harus membahas Rai di depan suaminya. "Rai orang yang dewasa, ia akan lebih mudah menyelesaikan masalahnya."
Andrean mengangguk-angguk. Obrolan mereka terpotong karena bunyi ketukan di pintu. Kontan kedua pasangan itu melihat ke arah pintu.
"Sepertinya aku menganggu," ucap seorang perempuan yang tengah berdiri di depan pintu. Firli mengangkat sebelah alisnya. Wanita itu memiliki wajah kebaratan. Bahkan rambutnya berwarna coklat. Tubuhnya tinggi dan berkulit putih langsing. Benar-benar wanita idaman para pria sejagat raya.
"Siapa lagi wanita itu!" batin Firli.
Andrean berdiri dan berjalan menuju pintu sementara si wanita berlari lalu memeluknya. Jelas Firli langsung ikut berdiri, hanya saja ia hanya bisa diam di samping tempat tidur.
"Wow, tampan sekali kamu sekarang!" puji perempuan itu. Ia mengacak-acak rambut Andrean gemas dan bagian paling menyebalkan, Rean diam saja diperlakukan seperti itu.
"Aku rindu kau. Apa kabar Aussie?" tanya Andrean.
Perempuan itu terlihat berpikir. "Jembatannya masih ada di sana. Kapan-kapan main, lah!" serunya. Andrean mengangguk.
"Coba ku lihat!" Perempuan itu berjalan sedikit mundur lalu memperhatikan tubuh Andrean dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Pantas saja Si Helen itu membicarakanmu terus di grup. Hatiku juga ikut bergetar melihatmu," celetuknya.
Andrean mencubit gemas pipi perempuan yang ada di depannya. Dengan jahil, ia juga menggelitik. "Bilang saja kau juga suka padaku sejak dulu!" todongnya.
Perempuan itu tertawa. Ia mencoba menepis tangan Andrean yang terus menggelitikinya. Sementara itu, Firli berkacak pinggang. Napasnya sudah naik turun tidak karuan. "Dia tidak suka aku dekat dengan pria lain. Sementara dia sendiri nempel seperti tikus terkena lem!" umpatnya dalam hati.
"Hmm, masih lebih cantik diriku sebenarnya," tambahnya. Mendengar itu Andrean malah tertawa. Mati Helen, muncul satu lagi. Resiko memiliki suami tampan memang menyebalkan.
***
Lagi-lagi Ghea terpaku dengan buku-buku di toko. "Elsa nyebelin! Masa minjemin novel saja gak mau. Emang aku gak bisa beli?" Dia mengomel sendiri sambil mencari novel yang menjadi tujuannya.
"Kita bertemu lagi." Seseorang mengejutkan Ghea. Ia melihat ke arah kanan dan melihat Putra sudah berdiri sambil bersandar pada rak.
Ghea mendengus. "Sial banget aku!" umpatnya.
Putra cekikikan. Tidak lama ia dekatkan wajahnya pada Ghea. "Sepertinya kamu tidak menggubris peringatanku."
Daripada mendengar ocehannya, Ghea lebih memilih kembali mencari novel yang ia cari. "Kamu masih dekat dengan Evano." Putra masih mengikutinya.
Lagi-lagi Ghea tidak memedulikannya. Putra tidak menyerah begitu saja. "Kau masih cinta padaku atau hatimu benar-benar sudah buta olehnya?"
Ghea menggebrak rak buku hingga membuat beberapa orang di sana melihat ke arah mereka. "Katakan! Pasti ini perintah pacarmu, 'kan?" todong Ghea.
Putra menggeleng. "Kalau kau bilang pacar itu Arlitha, aku dan dia sudah selesai," jawab Putra.
Ghea tertawa. "Bagaimana mungkin, kau itu budak cintanya," ledek gadis itu.
Putra malah ikut tertawa. "Dulu iya, sekarang sudah taubat. Sejak terkena hukuman skorsing. Bahkan pipiku kena tampar Papa," ucapnya.
Ghea terdiam. Ia menatap Putra. "Anak kebanggan Papa akhirnya terkena tampar juga," tambah Putra.
Ghea tahu benar masalah dalam keluarga pria itu. "Bukannya itu bukan pertama kali." Akhirnya Ghea menimpali. Putra menelan ludahnya. "Harusnya kau jangan membuat masalah di sekolah," nasehat Ghea.
Putra mengangguk. Ia mengambil sembarang novel dari rak. "Andai saja kisah cinta ibuku semanis dalam novel, pahitnya tidak akan dirasakan anaknya juga."
Ghea terkejut karena novel yang Putra ambil adalah novel yang ia cari-cari. Ia langsung merebutnya dari Putra. "Kalau kamu gak mau beli ini, biar aku yang beli."
Putra mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap cover buku itu. "Rindu mantan?" Putra membaca cover buku kemudian tertawa.
Ghea dibuat salah tingkah olehnya. "Jangan salah sangka! Aku gak pernah menganggap kamu mantan! Menurutku, hubungan kita dulu hanya sahabat!" tekannya.
Putra meraih tangan Ghea. "Dengar! Jika akhirnya kau bersama dengan Evano, aku harap kamu orang pertama yang bisa merubahnya. Aku tidak pernah mengharapakan kamu kembali padaku, hanya saja aku ingin kau mendapatkan orang terbaik."
Setelah itu Putra melepas tangan Ghea. Ia tersenyum lalu berbalik meninggalkan gadis itu di sana. Ghea menatap punggungnya yang semakin menjauh. Hatinya sesak. Perasaan kecewanya tidak mampu menutupi rasa sakit ketika ia kehilangan. "Andai saja dulu kamu tidak meninggalkan aku, kita masih bisa bahagia hingga sekarang."