Highschool Wife

Highschool Wife
Dua jiwa berbeda



**Aku bertanya tentang pada siapa aku pertama kali jatuh cinta


Kemudian aku ingat pada sebuah pelukan hangat yang menghapus pederitaanku


Itu bukan milik sahabatku tapi suamiku


-Firli**-


**Bagaimana aku tak bisa menghapus rasa yang membuatmu dahaga agar cinta


jika pertama kali kau berjalan aku yang memapahmu


jika pertama kali kau belajar bicara, namaku yang kau sebut


Tak ada yang bisa mendapatkan itu, selain kau istriku


-Andrean**-


 


💘💘💘


 


"Tolong ambilkan teh!" titah Andrean pada seorang pelayan yang ia panggil ke kamar. Pria itu duduk di sofa berwarna orange cerah dari B&B Italia yang baru saja diganti. Ia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri dengan punggung yang bersandar sempurna pada sofa. Posisi santai laksana seorang raja, sementara ratunya duduk tegak di samping sambil menahan diri untuk tidak mengantuk.


Jelas sekali jam besar di dalam kamar menunjukan pukul 8 malam dan Andrean masih sibuk membuka buku Introduction International Relations karangan Robert Jackson dan Georg Sorensen yang diterbitkan Oxford University Press in New York. Buku bersampul biru itu kelihatannya lebih menarik dari pada keberadaan Firli di sini.


"Bukunya menarik ya?" tanya Firli membuka obrolan agar dia tak semakin tenggelam dalam kebosanan. Hanha jawaban hmm yang ia dengar dari Andrean, jawaban singkat yang membuat ubun-ubunnya seakan mendidih. "Kalau begitu Firli tidur duluan," pamitnya.


"Duduk!" titah Andrean tapi kedua matanya masih terpana pada halaman buku isinya penuh dengan bahasa Inggris itu. "Jika suamimu belum tidur, apa yang harus kau lakukan?" tanyanya.


Firli mencoba mengingat cerama Mrs. Charlotte tentang pernikahan. "Menemaninya," jawab Firli.


Andrean menutup bukunya kemudian menunjuk wajah Firli. "Pintar," pujinya. Sedikit pujian yang lumayan membuat Firli senang. "Duduk di sini, temani aku minum teh," kali ini nada bicaranya terdengar lebih lembut.


Tak lama pelayan datang dengan seteko teh, dua cangkir kosong dan camilan biskuit. Pelayan itu meletakkan nampannya di atas meja putih di depan sofa. Tadinya ia akan menuangkan teh itu tapi Andrean melarang. "Biar istriku saja," katanya.


Nafas Firli terasa melambung jauh dan tubuhnya bertambah hangat begitu mendengar Andrean memanggilnya istriku. Mungkin Firli tak beruntung karena tak pernah merasakan dipanggil 'pacarku' oleh seorang pria. Namun dipannggil istriku itu jauh lebih dari segalanya. Apalagi jika suaminya setampan ini.


Setelah Andrean mengambil salah satu cangkirnya kemudian Firli mengikuti. Ia juga menunggu Andrean meminum tehnya barulah ia mengikuti. Satu tegukan pertama membuatnya Firli tertegun. Bahkan baru di dekatkan ke mulut saja aromanya begitu menggoda. Rasanya asam dengan sedikit rasa pahit tapi tak terlalu menganggu di lidah.


"Asam," komentar Firli.


Senyum terkembang di wajah Andrean. Terlihat jelas lesung pipitnya. "Itu bergamot. Jeruk itu ditambahkan pada teh. Namun hanya minyak hasil ekstrasinya saja," jelas Andrean. Ia terlihat senang karena Firli begitu antusias mendengarnya. "Semua teh jika diberi minyak bergamot akan menjadi teh earl grey dan itu sangat terkenal di Inggris," tambahnya.


"Jadi kamu bawa ini dari Inggris?" tanya Firli yang tanggapi dengan anggukan Andrean. Firli memang bukan anak yang pintar, tapi sangat mudah penasaran akan sesuatu. Matanya bahkan berbinar sambil memperhatikan teh dalam cangkirnya. Ia mencium aroma berkali-kali lalu meminumnya seakan lupa dengan keberadaan suaminya di sana.


"Hei, kau tidak bertanya berapa lama aku di sini?" tanya Andrean.


Firli berpaling padanya. Ia menyimpan cangkir tehnya di atas meja. "Kelihatannya kau akan pindah ke sini. Berkas yang aku buat berantakan itu pasti berkas kepindahan, kan?" tebak Firli.


Andrean menggeser posisinya agar bisa berhadapan dengan Firli yang masih memegang cangkir tehnya. "Aku pindah sekolah ke sini dan kau tak heran?" pancingnya.


Firli menggaruk kepalanya kemudian nyengir kuda. "Itu sebenarnya yang ingin aku tanya, tapi lupa."


Andrean menarik Firli agar mendekat padanya, periaku yang tentu membuat gadis enam belas tahun itu kaget bukan main. Tak hanya itu, Andrean bahkan mengelus rambut sisi kanan Firli dengan tangan kanannya. Awalny Firli kira ia akan merasa tak nyaman, nyatanya Firli suka dibelai seperti itu oleh suaminya.


"Bukankah sudah waktunya aku merebut hatimu dari pria lain," celetuk Andrean hingga membuat Firli kaget dan bergerak mundur. Namun dengan sigap Andrean kembali menarik tangan Firli dan membawanya dalam pelukan. Hangat sekali dan rasanya sama seperti enam tahun lalu. "Ingat perkataanku ini. Aku suamimu dan kamu milikku. Seluruhnya. Termasuk hatimu. Jika laki-laki itu mengambilnya, aku akan merebutnya kembali. Karena itu milikku," Andrean selalu memberikan tekanan setiap dia mengatakan milikku.


Firli mengedip-ngedipkan mata. Laki-laki itu? pikirnya. Apa maksud Andrean, Rai? Namun ia tahu darimana? Jantung Firli berdebar, ia takut Andrean tahu semua itu walau dari perkataannya itu tak masalah.


Andrean tetap memeluk Firli dan membelai rambut belakang istrinya. Malam semakin larut dan suhu udara semakin dingin, tapi Firli tak merasakannya karena pelukan Andrean.


"Aku akan menjaga kamu sejauh yang aku bisa, membuat kamu bahagi dan berbagi banyak hal. Bantu aku untuk belajar membagi perasaan. Sudah terlalu lama aku hanya peduli pada diriku sendiri," ucap Andrean yang langsung dibalas anggukan Firli.


Malam itu terasa seperti mimpi bagi Firli. Keberadaan Andrean yang mendadak bagaikan khayalan. Firli memegang lengan Andrean yang kekar. Wajahnya semakin ia tenggelamkan dalam dada bidang suaminya itu. Kenyamanan ini membuatnya tak ingin lepas. Semakin lama Firli semakin tenggelam, matanya sedikit demi sedikit tertutup.


Aku harap, nanti pagi aku bangun Andrean masih di sini. Firli membuat permohonan selama kesadarannya masih ada hingga ia terlelap dalam mimpi.


Hanya Andrean yang masih terjaga. Ia menatap langit yang sudah gelap dan bertabur bintang. Angin sedikit meniup rambut Filri. Tangan Andrean semakin erat memeluknya.


"Aku pikir tadinya akan sulit menerimamu di sini," gumam Andrean. Ia tahu Firli tak akan mendengarnya karena gadis itu sudah terlihat lelap. Andrean mengusap rambut istrinya. "Sekarang kenapa aku tak rela kehilanganmu? Sepertinya perasaanku yang dulu tak berubah. Aku masih sayang kau," tambah Andream sambil mengecup kepala istrinya.


Andrean menarik napas panjang kemudian mengingat masa indahnya selama di London. Ia selalu mencari kebahagiaan dengan berkeliling mencoba menemukan sesuatu yang belum jelas rupa dan bentuknya. Terkadang hatinya gundah dan resah tanpa jelas apa penyebabnya. Namun kini semua terjawab, apa yang ia cari ada dipelukannya kini.