Highschool Wife

Highschool Wife
Tidak Sabaran



"Aku cantik, gak?" tanya Tania pada Ed dan Brussel. Gadis itu mengenakan dress merah lengkap dengan highheels. Brussel dan Ed nampak terpukau. Tania memang cantik dengan wajahnya laksana seorang model papan atas.


"Sudah, Tan. Kamu gak usah ditanyain lagi cantiknya. Cantik banget!" puji Ed. Sementara Brussel masih terpaku hingga tak mampu mengeluarkan pendapat.


"Aku yakinlah, begitu ketemu Andrean langsung lamar kamu jadi istri." Ed semakin menjadi sementara Tania tersipu malu dibuatnya. Angan-angan Tania melambung begitu tinggi. Ia membayangkan seperti apa dia bertemu orangtua Andrean.


"Ayo buruan pergi sebelum Tania pingsan karena gak sabaran!" ajak Brussel.


"Tania gak sabaran apa kamu yang kaget liat dia cantik banget?" goda Ed.


Pergilah ketiganya menggunakan mobil milik sepupu Ed menuju alamat rumah yang dikirimkan Andrean. Perjalanan yang cukup sulit karena mengikuti arahan maps malah membuat Ed salah jalan. Akhirnya harus memutar.


Tibalah mereka di depan perumahan mewah dengan keamanan ketat. Seperti yang dikatakan Brussel sebelumnya, mereka harus mendapat konfirmasi kedatangan dari pemilik rumah ke petugas keamanan.


"Gila, rumahnya besar-besar. Pantas saja di Manchester Andrean punya rumah sendiri. Beneran orang kaya dia," Brussel terpukau melihat pemandangan rumah-rumah besar di sana. Sebagian malah tak terlihat akibat pagar yang tinggi serta halaman depan yang luas.


"Beruntung nih Tania jadi calon istri orang kaya," timpal Ed.


Rumah yang Andrean berikan alamatnya berada dalam wilayah paling dalam dari perumahan itu. Semakin dalam harga tanahnya semakin mahal dan luasnya semakin besar. Pantas karena yang tinggal di sana kebanyakan pengusaha dan investor. 


"Yang ini?" tanya Ed tak percaya ketika melihat gerbang rumah yang sesuai dengan alamat yang Andrean berikan.  Petunjuk tentang gerbang warna hitam dan tembok abu-abunya memang benar. 


Brussel mencoba menyocokkan nama jalan dan nomor rumah sesuai dengan alamat di chat. "Iya bener, Ed. Ayok masuk saja." Mobil Ed mulai mendekati gerbang. Sebelum masuk mereka di sambut satpam rumah yang menanyai mereka beberapa hal hingga akhirnya dipersilakan masuk. 


"Aku beneran kaget, loh! Gerbangnya tinggi begitu, halamannya juga luas begini. Ini benar-benar rumah sultan." Brussel sampai menempelkan wajah ke kaca mobil saking terpukaunya melihat rumah itu. 


Tiba di depan teras rumah utama, ketiganya hendak turun. Namun seorang pelayan langsung menunjukkan jalan menuju paviliun yang memutari rumah utama. "Apa katanya?" tanya Tania yang merasa heran karena pelayan tadi bilang jika Andrean tinggal di rumah belakang.


"Jadi rumahnya ada dua?" Brussel ikut bertanya.


Ed mengangguk. "Iya, katanya ini rumah orangtua Andrean. Kalau Andrean tinggal di rumah belakang." Begitulah yang dikatakan pelayan pada Ed.


"Saking kayaknya, sampai punya rumah sendiri di dalam rumah," komentar Brussel.


Sementara itu Tania semakin gelisah. Ia tidak sabar bertemu pujaan hati yang sudah satu bulan ini tidak ia temui. Mobil Ed berhenti di depan teras paviliun. Seorang pelayan menyambut mereka di sana. "Selamat siang, Monsieur Andrean sudah menunggu di ruang tamu." Pelayan tadi mengantar ketiga tamu menuju ruang tamu yang tidak jauh dari entrance paviliun.


Ed dan Brussel masih terpukau dengan keindahan paviliun. Tembok putih nampak mewah dengan perabotan klasik berwarna keemasan. Beberapa bagian diberikan warna biru muda untuk mengimbanginya. Bahkan keramik-keramik mahal ikut dipajang bersama bunga-bunga potong yang diganti setiap hari untuk menghiasi ruangan.


"Silakan duduk." Pelayan tadi mempersilkan ketiga tamu duduk di sofa mewah berwarna gading dengan hiasan ukiran jepara. Brussel, Ed dan Tania masih menikmati indahnya lampu gantung kristal. 


Tidak seperti apa yang dikatakan pelayan tadi, Andrean belum datang ke ruang tamu. Akhirnya mereka bertiga masih menunggu di sana. Lumayan lama hingga yang ditunggu datang. "Andrean!" panggil Ed langsung memeluk sahabat yang lumayan lama tidak ia lihat. Andrean balas memeluk sambil tersenyum. Mata Tania berbinar. Ia lega karena kerinduannya akhirnya bisa ia tumpahkan. 


"Maaf, kemarin ada masalah keluarga. Akhirnya aku mutusin kuliah di Indonesia saja. Setidaknya sampai keadaan mendukung. Sepertinya juga aku akan pindah ke Aussie kalau-kalau kembali kuliah di luar negeri."


Mendengar itu Tania sedikit kecewa. "Memang kenapa? Lagipula tanpa kamu kelompok kita seperti kehilangan pemimpin. Selama ini kamu yang sering memberikan arah, kan?" 


"Gak apa-apa, kok. Hanya masalah intern keluarga dan gak enak kalau harus speak up ke luar. Lagipula bukan hal darurat yang besar. Ini masalah pribadiku sendiri. Lagi pula, sejak awal memang sudah berat pergi ke Manchester. Daripada gak tenang dan kuliah terganggu lebih baik keluar, kan?" jelas Andrean.


Ed manyun. "Padahal Tania, loh. Datang jauh-jauh, cantik-cantik cuman buat godain kamu supaya balik," goda Ed. Tania memukul lengannya sementara Brussel dan Andrean malah tertawa.


"Aku harap tanpaku, kuliah kalian lancar. Kalian ini pintar, pasti bisa," semangat Andrean.


Beberapa pelayan membawa camilan dan teh sebagai hidangan. Ed dan Brussel masih kagum dengan banyaknya pelayan di rumah ini. Sementara Tania masih kagum melihat Andrean mengenakan kemeja abu-abu dan celana jeans. Biasanya jika ke kampus ia mengenakan setelan kaos dan jaket.


"Kok kamu punya rumah sendiri. Tadi itu kami ke rumah depan. Tapi katanya rumah kamu terpisah." Ed masih merasa aneh dengan hal itu.


"Dulu ini rumah untuk kakakku setelah menikah. Tapi ia sakit dan harus dibawa ke Amerika. Sejak itu aku tinggal di sini," jawab Andrean.


"Ed mengangguk-angguk. Jadi masalah keluarga itu tentang kakakmu?" tebak Ed mencoba mencari sedikit celah atas apa yang Rean ucapkan. 


Andrean menggeleng. "Kakakku sudah meninggal berbulan-bulan lalu sebelum aku pergi ke Manchester. Malah sekarang keluargaku sudah mulai berjalan normal. Calon istrinya juga sudah punya pacar lagi."


"Kau pasti sangat terpukul?" tebak Tania. 


Andrean mengangguk. "Kehilangan anggota keluarga mana ada yang tidak sakit. Makanya lebih memilih keluar dari kampus. Aku gak mau kehilangan belahan jiwaku."


Ed, Brussel dan Tania mengangkat sebelah alis saat Andrean mengatakan belahan jiwa. "Berat sekali katamu itu. Belahan jiwa macam apa?" tanya Ed meski dengan nada bercanda.


Andrean terkekeh. "Siapa lagi, istriku lah!" jawab Andrean enteng.


Baik Ed dan Brussel malah tertawa. Mereka masih menganggap itu hanya main-main. "Yang benar saja. Emang kamu niat banget pengen nikah, ya? Kalau gitu, tuh Tania siap. Mau disuruh keluar dari kampus juga gak apa-apa," canda Brussel. Tania menunduk malu.


Lagi-lagi Andrean menanggapinya dengan tawa. " Aku serius. Aku itu gak mau pisah sama istri. Makanya balik ke sini." Sejurus kemudian, Firli tiba-tiba datang di depan pintu ruang tamu. 


"Pah! Lagi apa?" tanya Firli kura-kura dalam perahu. Ed, Brussel dan tentu Tania menengok ke sumber suara. 


"Lagi ada teman aku dari Inggris. Mah, sini kenalan dulu," pinta Andrean. 


Firli mengangguk. Ia masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum menatap satu per satu tamu Andrean. Ketiganya bukan hanya terpaku melihat seorang wanita memanggil Andrean dengan sebutan 'Pah', tapi juga perutnya yang sudah membesar. 


"Ini istriku. Lagi hamil dia, delapan bulan." Andrean mengusap kepala Firli ketika mengatakannya.