
“Andrean tadi sih sama Gama. Ada apa, Fir?” tanya Ghea begitu Firli menelponnya dan menanyakan keberadaan suaminya. Andrean meninggalkan Firli di rumah. Ia sempat menanyakan pada pelayan dan jawaban mereka, suaminya itu sudah berangkat ke sekolah.
“Andrean pergi ke sekolah tanpa bangunin aku,” jawab Firli. Terdengar gaung suaranya di balik sana. Sepertinya Ghea sengaja mengaktifkan speaker ponselnya. Jelas, karena ada Nana dan Elsa juga mendengarkan.
“Kalian bertengkar semalam gara-gara video call aku?” tanya Elsa khawatir. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan bagaimana Firli dan Andrean saling bentak dan memaksakan argumen masing-masing. Apalagi ditambah info dari Misyel tentang pertengkaran Andrean dengan Rai. “Lu sih, punya suami kece badai kayak Shawn Mendez begitu masih saja ngejar-ngejar cowok yang bucin sama cewek palsu!”
“Apaan, aku sama Andrean sudah baikan tahu!” dengus Firli. Mendengar itu membuat ketiga sahabatnya bernapas lega. Walaupun mereka masih bingung apa yang bisa membuat kedua pasangan itu cepat sekali berbaikan. “Pagi-pagi aku bangun Andrean sudah gak ada. Malah nitip surat yang isinya gombal,” tambah Firli diselingin cengar-cengir.
“Memang tadi kamu kesiangan? Andrean bilang katanya kamu sakit demam,” Elsa terdengar heran. Andrean ini memang menyebalkan terkadang. Daripada ia harus berbohong lebih baik membangunkan Firli, ‘kan?
Firli menggeleng. “Suhu tubuhku normal, malah tadi habis olahraga dengan Mrs. Charlotte. Dasar Andrean yang tidak membangunkan aku. Ketika bangun tahu-tahu sudah jam sebelas siang. Kalau begini rasanya jadi istri yang gagal,” keluh Firli. Elsa, Nana dan Ghea mengangguk. Istri pemalas macam apa yang bangun jam sebelas siang sementara suaminya pergi sekolah. “Hanya Andrean bertindak aneh semalam,” Firli mengubah topik. Ia menggaruk-garuk dahinya.
“Aneh? Apa dia masih marah?” tebak Nana.
Firli menggeleng. “Jadi, tadi malam dia nyium aku. Di bibir, bukan pipi,” Firli mulai bercerita. Jelas itu membuat ketiga temannya iri. Apalagi yang jomlo seperti Nana dan Ghea. “Habis itu dia tiba-tiba membelakangi aku dan gak mau natap lagi. Nah, pas sudah semakin malam dia cium aku lagi, terus munggungin lagi. Pagi-paginya malah gak bangunin aku. Biasanya juga dia tega mukul aku pake bantal kalau aku susah bangun buat ke sekolah,” jelas Firli.
Ketiga sahabatnya meneguk ludah mereka masing-masing. “Jadi kalian sudah tidur satu tempat tidur?” tanya Elsa jahil. Firli belum pernah mengakui ini pada mereka.
Mendengar itu membuat Firli nyengir kuda. Ia angkat kedua kakinya ke atas ayunan putih di balkon lalu melipatnya dan menyandarkan bahu di sandara ayunan. Benda putih itu maju mundur secara otomatis akibat menahan tubuh Firli. “Tentulah! Dari hari pertama Andrean datang, kami tidur di kamar yang sama,” jawab Firli.
“Memang gak gitu-gituan?” tanya Ghea jahil hingga mulutnya di keplak Nana. Mereka bertiga sengaja menurukan volume suara ponsel takut Firli menjawab sesuatu yang ‘iya-iya’. Padahal posisi mereka ada di rooftop yang notabene kosong. Hanya ada taman dan kolam air mancur di sana. Kebanyakan malas memanjat sampai rooftop apalagi jika sudah siang atau sore akan terasa panas. Hanya empat sahabat ini selalu rajin membawa tenda rancangan mereka sendiri yang disembunyikan di salah satu gudang dekat rooftop.
Firli manyun. “Memang kalian kira aku perempuan macam apa?” protes Firli.
“Kalian ‘kan sudah resmi menikah. Mau bagaimana juga sudah bebas. Bukannya kemarin waktu kalian ulang tahun langsung peresmian ke catatan sipil?” tanya Nana. Ulang tahun Firli dan Andrean yang sebenarnya jarang diketahui orang karena alasan privasi. Biasanya mereka baru akan melaksanakan pesta ulang tahu satu atau dua bulan setelah ulang tahun yang sebenarnya, bisa juga lebih awal.
“Tak tahulah! Aku belum siap yang seperti itu. Memikirkan sikap Andrean tadi malam saja aku pusing,” timpal Firli.
Elsa cengar-cengir. “Masa kamu gak tahu maksud dia. Mungkin dia ‘mau’ kali, Fir,” tebak Elsa. Kali ini kepalanya jadi sasaran empuk toyoran kedua sahabatnya.
“Mau apa?” tanya Firli dengan polosnya membuat ketiga sahabatnya tertawa terpingkal-pingkal.
“Lo saja yang sudah nikah gak tahu, apalagi kita!” celetuk Ghea.
“Siapa bilang? Bukannya terakhir kali lo yang paling doyan nonton adegan ciuman sampai di slow dua kali?” tegur
Nana.
Firli mendengus. “Woy, aku nonton sama kalian, ya! Kalian yang punya ide!” Firli tak mau kalah.
“Nonton apa?” tanya seseorang membuat Firli kaget dan mematikan ponselnya. Ia bangkit dan berdiri menatap ke pintu sambil menyembunyikan ponsel di balik punggungnya. “Nonton apa, Nyonya Andrean?” tanya orang itu lagi.
Firli nyengir kuda. “Itu. Itu bukan itu, Rean,” jawab Firli gelapan. Karena ketiga sahabatnya masih di sekolah, ia tidak sadar jika ini sudah jam pulang sekolah dan mungkin Andrean akan pulang ke rumah segera. Barulah ia kaget melihat suaminya sudah berdiri bersandar di rangka pintu kaca sambil melipat tangan di depan dada.
Ia menunduk malu sambil menggaruk pergelangan tangannya padahal tidak gatal. “Itu bukan itu apa? Sering pura-pura polos di depan suami sendiri tidak tahunya nonton sesuatu yang tidak pantas dengan teman kamu?” terka Andrean. Firli menggeleng dan pipinya merona.
Andrean menurunkan tangannya lalu masuk ke dalam kamar. Firli menepuk jidatnya kemudian mengikuti sang suami pujaan hati. Ia menyusul suaminya dan membantu membuka blazer seragam Andrea lalu dasinya. Tak tahu kenapa sejak Andrean pulang, ia jadi terbiasa melakukan semua itu. Andrean membuka dua kancing kemeja paling atas lalu duduk bersandar di atas sofa mengangkat lengannya ke atas sandaran sofa.
Mendadak jantung Firli berdebar melihat tulang selangka Andrean dibalut otot-otot kekar yang melintang dari leher dan membujur ke bagian bahu hingga ke dada. Gadis itu memilih memeriksa blazer suaminya untuk menemukan benda-benda di saku sebelum menyimpannya di keranjang cucian.
“Kamu gak jawab pertanyaan aku?” tegur Andrean lagi. Firli masih berdiri tidak jauh dari sofa dimana Andream
duduk.
“Itukan hanya drama Korea,” jawab Firli. Mendengar itu membuat Andrean sedikit lega walau masih sulit untuk percaya sepenuhnya. “Lagipula kenapa tiba-tiba kamu baik banget gak maksa aku bangun pagi?” tanya Firli. Kali ini ia sengaja melihat ke arah Andrean untuk melihat reaksi suaminya.
Tidak seperti Andrean yang songong dan ketus, kali ini pria itu memalingkan wajah dan sekilas pipinya memerah. “Siapa suruh buat suami kamu khilaf,” celetuknya namun dengan suara yang pelan.
“Apa?” tanya Firli memastikan.
Andrean bangkit. Ia menghadap ke arah wajah Firli namun wajahnya menghadap ke samping kanan sehingga kedua matanya tidak menatap istrinya. “Sebaiknya memang kita tidur di kamar yang terpisah,” ucapnya pelan lalu berjalan ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Firli mengerutkan dahi. “Maksudnya apa? Kamu masih marah? AKu salah apa?” tanya Firli mengejar Andrean sampai ke pintu kamar mandi tapi laki-laki itu malah menutup pintunya erat. Firli mengetuk pintu sambil mendengus. “Andrean! Jelasin salah aku apa?” teriak Firli.
Dibalik pintu Andrean menarik napas pelan lalu menghembuskannya. Wajahnya memerah. Andrean hanya bisa tersenyum malu sambil mengusap dada. “Sudah aku tebak pasti dia tidak mengerti,” keluh Andrean lalu menepuk jidatnya.