
Semua ini bukan kebetulan. Ada kisah unik dibalik semuanya. Sejak awal Andrean memang berencana kembali ke Indonesia. Tiket hingga izin meninggalkan Inggris sudah ia kantongi. Namun rencana itu hampir batal tat kala profesor Alan memintanya ikut study banding ke Harvard. Bagi Andrean itu memang penting. Ia meminta izin istrinya untuk pergi dan Firli dengan pasrah membiarkannya.
Namun beberapa hari sebelum profesor Alan mengajukan visa kunjungan ke Amerika Serikat, kegalauan itu mulai muncul. Bukan hanya masalah waktu milik keluarganya yang akan terenggut, tapi ada hati yang harus dijaga. Andrean sadar, ia hanya seorang pria kesepian yang jauh dari istrinya selama beberapa bulan. Anggap saja ia sedang 'lapar' dan ada seorang wanita yang memberikannya perhatian. Normal jika mendadak tertarik, Tania tidak hanya cantik dan pintar. Ia juga lembut dan perhatian.
Jika hanya karena satu tatapan saja Andrean mulai khilaf, bagaimana ia bisa melewati waktu satu bulan? Akhirnya keesokan harinya Andrean datang pada Profesor Alan. Pria itu mengadu tentang keadaan istrinya di Indonesia. Bagaimanapun ia mengharapkan Andrean menjadi bintang yang gemilang hingga ke luar sana, Profesor Alan memaklumi keadaan mahasiswanya. Ia hanya memberi Andrean syarat mencari pengganti.
"Jadi siapa yang pergi?" tanya Firli.
Andrean nyengir kuda. Dosanya kali ini tidak tahu bisa diampuni atau tidak. "Aku meminta Ed. Dia mau pergi, sih. Hanya aku harus memberikan sesuatu padanya," aku Andrean.
Katakan saja ia terlalu mengenal suaminya. Wajah Andrean yang seperti itu pasti berujung ia memberikan sesuatu yang tidak akan Firli setujui. "Demi kamu, loh! Itu hanya pengorbanan kecil, jauh dibandingkan apa yang anak kita pantas dapatkan," ucapnya manis. Namun Firli tidak sebodoh itu.
"Apa?" tanya Firli sambil menghembuskan napas berat saking tidak sabarannya.
Lagi-lagi Andrean terlihat bingung antara harus bilang atau diam. Ia tahu pasti ujungnya akan kena marah juga. "Aku berikan dia Xb * x-ku," jawabnya sambil menunduk. Tidak ada repon apapun dari Firli. Andrean mendongak dan heran karena melihat fakta justru malah tersenyum senang. "Gak apa-apa? " tanya Andrean.
"Bercanda? Aku malah senang. Kan kamu jadi berhenti main game terus. Sekalian PS sama nintend*-nya juga kasihkan sama dia. Aku ikhlas sekali," ucap Firli lega tapi menyisakan duka di hati suaminya.
Jika saja mereka tidak mendapat panggilan untuk turun ke tempat upacara diadakan, obrolan itu masih akan panjang karena diisi ratapan Andrean minta alat bermain gamesnya kembali. Kedatangan pasangan muda ini disambut hangat oleh tamu yang berasal dari keluarga dan juga teman Firli dan Andrean. Malam ini Andrean nampak tampan dengan cara yang lain karena mengenakan busana adat sunda.
Dalam bahasa Sunda upacara itu disebut tingkeban. Menurut petuah, setelah acara ini dilakukan maka si ibu tidak boleh bercampur dengan suaminya. Semua itu dilakukan demi kesehatan bayi. Firli duduk di atas kursi jati yang sudah dihiasi rangkaian bunga dan juga hiasan dari daun kelapa muda. Prosesi siraman dilakukan sebanyak tujuh kali oleh tujuh orang yang berbeda.
Setiap guyuran Firli akan di selimuti kain batik yang berbeda. Siraman pertama dilakukan oleh suaminya. Siraman kedua oleh Handoko, siraman ketiga oleh Magdalena, keempat oleh Anita, kelima oleh Abellard, ke enam oleh Mrs. Charlotte dan ke tujuh oleh Tante Andrean dari permintaan.
Setelah guyuran ke tujuh, seekor belut disentuhkan ke perut Firli. Jelas perempuan itu sempat bergidik jijik melihat makhluk licin nempel di perutnya. Bersamaan belutnya jatuh ke tanah, Andrean membelah kelapa gading dengan golok. Terbelah tepat di tengah.
Jangan ditanya lagi bagaimana Firli setelah prosesi itu. Ia kedinginan hingga sedikit mengigil, Andrean sudah siap dengan handuk dan menggendongnya ke kamar untuk mengganti pakaian dan juga sedikit menghangatkan tubuh.
"Dingin?" tanya Andrean.
Firli mengangguk. "Diguyur malam-malam masa iya gak dingin, sih?" protesnya.
Setelah mengganti pakaian, Firli dan Andrean kembali turun. Kali ini ia menuntun istrinya yang membawa bakul rujak keliling menjual rujak pada para tamu. Tentu bukan jualan sesungguhnya karena yang beli menukarnya dengan genteng yang sudah dikikis bulat.
***
Mungkin hanya Helen saat ini sedang kesal karena Andrean meninggalkan kampus. Ia mendengar kabar jika Andrean pergi ke Amerika selama satu bulan. Ia nekat menyusul meski mendapat izin kunjungan ke sana bukan hal mudah. Pokoknya ia harus menyusul Andrean ke Amerika dan tidak membiarkan Tania mendapat kesempatan.
Helen salah, Tania juga merasakan hal yang sama dengannya. Profesor Alan tidak pernah membahas jika Andrean batal mengikuti kegiatan. Sejak di bandara melihat keberadaan Ed, Tania hilang semangat. Bahkan selama di pesawat ia tidak hentinya merengut dan merahi Ed setiap kali di tanya. Sampai di Harvard juga begitu.
"Tan, mau beli kopi di dekat sini, gak?" tanya Ed perhatian. Ia tidak bermaksud apa-apa, hanya mengajak Tania beristirahat sementara. Namun yang diajak masih sensitif.
"Kenapa kamu gak bilang sih kalau Andrean gak jadi ikut?" tanya Tania melipat lengan di depan dada. Ed menggaruk kepalanya. "Aku jauh-jauh ke sini supaya bisa berduaan dan dekat dengan dia. Eh, malah liat kamu datang. Hancur sudah harapan aku, Ed!" omel Tania.
Ed memperlihatkan wajah penuh rasa bersalah. "Habis dia kasih aku Xb*x, Tan. Dia juga bilang ada urusan darurat di sana dan harus ketemu keluarganya. Gak tahu apa," jelas Ed.
Tania sempat bertanya pada Profesor Alan tentang alasana Andrean batal ikut. Profesor Alan hanya menjawab masalah keluarga. Itu membuat Tania khawatir. Ia takut Andrean mengalami kesulitan di sana. Perasaanya juga tidak tenang. Tania juga tidak punya tempat menggali informasi tentang keluarga Andrean. Hanya Helen yang Andrean kenal dan pasti Tania tidak bisa bertanya pada wanita itu.
"Ed, kamu bisa carikan aku alamat Andrean di Indonesia?" tanya Tania.
Ed mengangguk. Jelas Andrean pernah mengisi formulir kesediaan anggota. Di sana ia juga menulis asal negara dan juga alamat di negara asal. "Memang kenapa, Tan?" tanya Ed penasaran.
Tania tersenyum. Ia ingin membulatkan tekadnya. "Sepulang dari sini kalau Andrean masih belum kembali ke Manchester, aku mau memperjuangkan cintaku. Ed, aku mau nyusul Andrean ke sana dan menyatakan perasaanku padanya," ungkap Tania.
Ed mengangguk-angguk. Ia mengerti perasaan gadis itu. Andrean memang lain, memiliki aura kebaikan dan wajahnya juga tampan. Pantas untuk diperjuangkan hingga garis akhir. Meski yang diperjuangkan kini sedang membaringkan kepalanya dengan manja di pangkuan istrinya. Ia mengusap perut Firli dan mengecupnya dengan gemas.
"Anak Papah, cepetan lahir. Ayok main sepedahan," ajak Andrean membuat Firli terkekeh.
**😘😘😘😘
Yeay! Pembaca The Idol And My Baby sudah tembus 1 k 🎇✨✨✨🎇🎇🎉🎉🎉🎉🎈🎊
Terus baca, vote dan komen, ya. Biar author semangat upnya 😘**