
"Bayar hutang!" Firli mengulurkan tangannya di depan Andrean ketika pria itu menjemputnya di depan pintu kelas. Jelas Andrean heran dengan tuntutan Firli yang tiba-tiba.
"Memang aku punya hutang apa padamu?" tanya Andrean kebingungan. Pria itu menyimpan telapak tangannya di atas telapak tangan gadis itu lalu menggenggamnya. "Pulang!" tegas Rean. Ia menarik tangan Firli dengan pelan. Gadis itu terpaksa mengikutinya.
"Waktu itu aku tidak jadi makan es krim," mulai Firli. Rean mengangguk, ia mengimbangi langkah istrinya agar mereka berjalan bersamaan. Beberapa orang yang melihat itu merasa iri. Bahkan cahaya matahari yang masuk dari jendela koridor membuat efek glowing di wajah Andrean. Sempat beberapa dari mereka memimpikan menjadi Firli. Sayang, semua orang di sekolah ini sudah tahu mereka resmi menikah.
"Tapi gara-gara ada monster, Firli tidak menghabiskannya," lanjut Firli. Rean mulai merasa ada yang janggal dari kisah itu hingga kedua mata coklatnya menatap gadis itu.
"Ganti!" tagih Firli tiba-tiba hingga membuat Andrean berhenti berjalan. Firli sendiri ikut berhenti.
Andrean manyun. "Yang membuat kamu tidak menghabiskan es krim itukan monster, kenapa Rean yang harus ganti?" tanya Rean heran.
Firli menggeleng. "Firlikan beli eskrim karena kesal dengan Rean. Jadi Rean penyebab segala terjadi hingga Firli jadi ketagihan dan ingin lagi!" Gadis itu mencari-cari kesalahan suaminya.
Andrean tidak ada pilihan lain kecuali menuruti keinginan gadis itu sebelum ia murka dan melemparkan bantal serta selimut Andrean keluar kamar. "Baik! Kita ke Bas**n saja!"
Firli menggeleng. "Aku mau makan es krim di taman!" tekan Firli.
Tak tahu bagaimana ia bisa mengerti keinginan gadis itu. Ia hanya mengangguk dan mencoba memahami dengan menuruti keinginan Firli. Bahkan buku psikologi mana pun tidak membantu saat ia menghadapi istrinya.
Saat turun di tangga koridor lantai dua, mereka berpapasan dengan pasangan yang kontroversial bagi Firli. Yup, Rai dan Gladis. Awalny Rean berusaha bersikap santai hingga ia mengingat pesan Rai yang ia hapus. Barulah Rean merasa kalut.
"Hai!" sapa Gladis. Rai diam saja, bahkan memilih memalingkan wajah. "Bagaimana dengan kencan ganda kita?" Gladis menagih janji yang sebenarnya belum ia setujui. Ia menatap Andrean dan mengingat laki-laki itu menyanggupinya.
"Boleh. Aku kosong minggu ini," jawab Firli membuat Andrean tercengang. Padahal Andrean berniat menjauhkan Firli dan Rai takut perbuatannya terbongkar.
Rai dan Andrean sama-sama memalingkan wajah karena tak ingin bertatapan. Gladis mengangguk senang. "Ok, minggu ini kita ketemu di Sol***a," ide Gladis.
Firli mengangguk. Ternyata kencan ganda itu hanya untuk makan bersama.
"Ok, aku pergi dulu, ya? Apa mau jalan barengan ke depan?" tanya Gladis.
"Tidak perlu!" tolak Rean dan Rai bersamaan.
Gladis terdengar kecewa mendapat penolakan itu. Gadis itu memutar kedua bola matanya lalu melenggang pergi meninggalkan Firli dan Rean di sana.
Sepeninggal kedua orang itu, Firli dan Rean saling tatap. "Kenapa malah kamu terima ajakan kencannya?" tegur Andrean.
"Lha, bukannya di resto waktu itu kamu bilang terima saja," ralat Firli.
Andrean malu sendiri. Gara-gara pesan itu! "Baiklah," ucap Rean terpaksa. Pria itu kembali menuntun istrinya menuju parkiran. Dia sedang rajin sehingga menyupir mobil sendiri.
"Jadi beli es krim, 'kan?" tagih Firli lagi ketika keduanya sudah duduk di dalam mobil.
"Jangan gitu, loh! Aku cuman minta es krim bukan minta dibuatin telaga sama perahu!" protes Firli.
Andrean geleng-geleng kepala. "Lebih baik minta dibuatin telaga, lumayan sumber pariwisata," kilah Andrean sambil tertawa geli. Firli mencubit gemas lengan suaminya. Pria itu menyeringis kesakitan.
Ia menyalakan mesin mobilnya. Ban mobil itu melaju meninggalkan parkiran hingga ke mini market tidak jauh dari rumah. Setelah mobil terparkir, bergegas Firli membuat safety belt lalu membuka pintu mobil dan berlari ke dalam mini market. Andrean sendiri sering-sering mengusap dada melihat tingkah gadis itu.
"Ini! Ini! Ini!" Firli menunjuk tiga jenis es krim yang ukurannya besar.
"Kamu akan habis makan ini?" tanya Andrean. Firli mengangguk. Mau tidak mau Andrean menurut saja. Bergegas Firli menggendong tiga wadah besar eskrim itu ke kasir. "Bayar!" titah Firli.
Andrean memberikan kartu ATM-nya. Setelah dibayar mereka langsung ke luar. "Ke taman, ya!" lagi-lagi Firli memberikan permintaan. Ia meminta tapi langsung berjalan pergi ke sana sehingga lebih terdengar seperti pemaksaan. Andrean berlari menyusul gadis itu dan mengambil keresek es krim di tangan Firli.
Mereka jalan beriringan ke taman. Firli menunjuk semak-semak dimana ia sempat melihat sesuatu yang ia sebut sebagai monster. "Di sana, tuh!" tunjuk Firli.
"Jika tahu ada monster kenapa masih kembali ke sini?" tanya Andrean.
Baru saja akan membuka tutup wadah es krim, tiba-tiba seorang ibu menghampiri mereka. "Dek, nitip anak saya, ya!" ucap ibu itu. Firli dan Andrean kontan menengok kanan-kiri memastikan memang tiada orang di sana kecuali mereka berdua. Ibu ini terlihat tergesa-gesa.
"Memang ada apa, Bu?" tanya Andrean.
"Itu, saya mau kejar anak saya dulu yang besar lari ke sana. Titip, ya!" tanpa menunggu persetujuan, ibu itu lekas berlari meninggalkan mereka ke arah jalan. Andrean masih memperhatikan kepergian ibu itu. Sayang pandangannya terbatas karena terhalang tembok rumah.
Firli menatap bayi mungil yang mungkin masih berusia beberapa bulan karena baru bisa terbaring. "Anak yang lucu," batin Firli. Ia menari trolly itu ke dekatnya lalu mencolek-colek pipi bayi itu.
"Hei, kalau mau sentuh bayi harus bersihkan tangan dulu!" Andrean memberikan Firli tissue basah. Lekas gadis itu melap tangannya dengan tissue itu.
"Adek bayi!" goda Firli sambil menyentuh pipi bayi laki-laki itu. Firli tahu dari pakaian yang bayi itu pakai benar-benar terlihat maskulin.
"Makan es krimnya, biar Rean yang jagain," saran Rean. Ia pindah duduk ke samping Firli setelah mendorong trolly agar berada di sampingnya. Firli mengangguk. Ia kembali membuka wadah eskrim itu kemudian memakan isinya dengan sendok bebek yang ia dapatkan ketika membeli tadi secara cuma-cuma.
Baru beberapa menit, bayi itu menangis. Firli kaget, ia melihat bayinya dengan tatapan bingung. "Ia pasti ingin ibunya," tebak Firli.
Andrean menggeleng. "Ia hanya bosan," ucap Andrean kemudian mengangkat bayi itu dan menggendongnya dengan menyandarkan punggung bayi di dadanya. Benar, bayi itu berhenti menagis. Firli terlihat kagum melihat itu.
"Kamu kok bisa tahu apa maunya bayi?" tanya Firli.
Andrean tersenyum. "Latihan," celetuknya membuat Firli tersipu malu.
Cukup lama Andrean menggendong bayi itu sementara Firli hanya sesekali mengucapkan kata lucu dan melakukan cilukba agar bayi itu tertawa. Namun lama kelamaan keduanya merasa curiga. Bukannya ibu tadi hanya ingin menyusul anak tertuanya yang berlari kabur, kenapa lama sekali. Andrean melihat jam Ro**x di pergelangan tangan kanannya.
"Sudah satu jam," batin Andrean. Ia melihat wadah es krim Firli di meja dan ketiganya sudah kosong Firli makan sendiri tanpa memberinya. Rean tidak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya merasa heran karena si ibu tidak juga kembali