Highschool Wife

Highschool Wife
Karena Aksen



"Bagaimana sidangnya?" tanya Andrean. Ia melepas blazer hitam dan dasinya. Firli membantu Andrean menyimpan blazer dan dasi itu ke dalam keranjang setelah ia pastikan tidak ada benda-benda penting terselip di sana. Andrean kadang tanpa sadar memasukan blazer ke dalam keranjang dengan earphobe bahkan selembar uang seratus ribu di kantong.


"Firli sebenarnya tidak ingin mengikuti sidang itu. Hanya membuat perasaan Firli tidak karuan saja."


"Memang apa yang terjadi? Ayah tidak mengatakan padaku hal yang perlu dikhawatirkan."


"Bahkan Pak Handoko sempat menantang Ayah," jawab Firli. Andrean mengangkat sebelah alisnya. Ia mengikuti istrinya hingga ke kamar mandi sementara Firli sedang menyiapkan air hangat dan handuk untuk Andrean mandi.


"Aku takut," ucap Firli. Gadis itu duduk di samping bathtub. Sambil menyandarkan dagunya di sisi bak mandi berwarna putih itu. Andrean duduk di sampingnya sambil mengusap rambut Firli yang hitam dan panjang. Sejenak hanya terdengar suara air panas yang mengalir dari keran berwarna emas.


"Tidak ada yang perlu ditakuti," ucap Andrean menenangkan istrinya.


Firli bergerak mendekati Andrean. Ia raih lengan pria itu dan disandarkan di bahunya. Kedua lengannya melingkar di pinggang Andrean. Syukur pria itu dapat mengerti maksudnya, Andrean balas memeluknya erat.


"Dia mengatakan seolah akan merebut Firli dari Ayah," adu gadis itu.


Andrean menepuk-nepuk punggungnya. "Dengar, pernikahan kita sudah sah secara hukum. Sekarang, kamu adalah tanggung jawabku. Dia tidak akan bisa memisahkan kita berdua," tegas Andrean.


Firli mendongak. "Tahu darimana?" tanya gadis itu.


"Secara hukum, perempuan berusia di atas enam belas tahun sudah bisa menikah dan pria di bawah sembilan belas tahun bisa menikah dengan izi orang tua. Lalu dimana salahnya?" tanya Andrean.


Firli manyun. "Kita menikah usia sebelas tahun," ralat Firli. Andrean tertawa. "Itu masalahnya, bisa saja dia menjadikan itu sebagai jalan untuk menjatuhkan Ayah."


Firli melepas pelukannya. "Airnya sudah siap. Mandi dulu," ucapnya. Ia berbalik. Namun baru selangkah, Andrean memeluknya dari belakang. Firli terdiam.


"Dengar, kita sudah terpisah selama enam tahun, bagaimana bisa aku terima jika harus terpisah lagi denganmu. Jika perlu biarkan seluruh dunia tahu jika aku istriku," bisiknya lalu melepaskan pelukan. Firli tersenyum dengan jantung yang berdebar kencang.


Gadis itu berjalan keluar kamar mandi agar suaminya lekas membersihkan diri. Setelah menutup pintu kamar mandi, Firli melihat tas Andrean yang tersimpan di atas meja belajar. Ia penasaran dengan isinya walau ia sendiri bisa menebak di sana hanya akan ada buku-buku dan juga tablet PC. Namun gadis itu tetap menghampiri tas dan membuka isinya.


Tas hitam dengan merk terkenal dari prancis itu terbuka saat Firli melepas ritsletingnya. Benar, ada buku-buku berbahasa Inggris dan sebuah tablet PC. Jarang siswa SMA Bimasakti membawa tempat pensil akibat alat tulis sudah tersedia di dalam laci meja.


Namun ada sesuatu yang menyita perhatian Firli. Ia menemukan sebuah gantungan kunci dengan karakter kartun Jepang. Firli melihat setiap bagian gantungan yang terbuat dari jumping clay tersebut. Di bagian punggung clay itu terukir sebuah nama, Andrevan piere Freiz. Firli mengangkat sebelah alisnya.


"Tunggu, pembuat boneka ini apa salah menulis nama Andrean?" batin Firli. Ia ingat betul nama suaminya adalah Andrean Peter bukan Andrevan Piere. Firli menggaruk-garuk kepalanya walau tidak gatal. Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Firli memasukan kembali boneka itu ke dalam tas lalu menutup ritsletingnya.


Andrean keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di bagian bawah tubuhnya sementara handuk kecil ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Firli tertegun melihat kotak-kotak di perut suaminya. Namun sepertinya Andrean tidak memperhatikan hal itu, ia membuka pintu walking closet dan masuk ke dalamnya.


"Andrean keterlaluan! Padahal ada pintu dari kamar mandi ke lemari, kenapa malah harus lewat sini?" protesnya. Firli mengusap dada. Tinggal satu kamar dengan pria itu memang perlu kesabaran tingkat tinggi.


Lekas gadis itu berjalan menuju telpon. Ia meminta pelayan menyiapkan camilan karena setelah ini, Andrean pasti akan melanjutkan kelas online dengan konsultan keluarga. Tak lama Andrean keluar dengan pakaian lengkap.


"Kamu ada kelas, 'kan? Aku minta camilan untuk diantar ke sini," ucap Firli.


Andrean mengangguk. "Camilan apa?" tanyanya.


Matahari sudah mulai berwarna jingga. Angin sore menyibak rambut Firli. Di bawah sana suasana mulai sepi dan hanya sesekali terdengar suara desiran air kolam yang tertiup angin dan juga batang pohon kering yang jatuh.


"Sepertinya Mr. Chandlers belum menutup kelas," keluh Andrean.


Firli mengangguk. "Bukankah ini belum tepat pukul lima?" ralat Firli. Andrean melihat jam di layar laptop dan menyadari kesalahannya. "Kau terlalu bersemangat suamiku," tekan Firli.


"Hari ini aku menunggu saran tentang pemilihan jurusanku nanti. Sepertinya aku akan memilih Inggris lagi untuk kuliah," timpal Andrean. Firli mengusap rambut kecoklatan pria itu.


Andrean berpaling pada sepiring biscuits di atas piring yang masih tersimpan di nampan. "Kenapa asin?" keluhnya.


Firli mengerutkan dahinya. "Kau bilang ingin biscuits." Firli berkacak pinggang.


Andrean mendengus. "Inilah, karena itu aku sering protes pada Ayah untuk mengganti guru bahasa Inggrismu."


"Apa hubungannya dengan guru bahasa Inggris?"


"Setelah lulus kita akan tinggal di Inggris. Jadi mulai perbaiki kosakata britishmu." Andrean mencubit gemas pipi Firli.


"Apa yang salah wahai suami?" Firli masih kebingungan.


Andrean menunjuk biscuits. "Kenapa kau bawa kue yang rasa asin, wahai Istri?"


"Iya karena biscuits rasanya asin," jawab Firli.


"Di Amerika. Jika di Inggris biscuits yang asin dan manis namanya sama. Pantas saja kau tidak bertanya rasa biscuits yang aku inginkan."


"Maaf." Firli menaikan kedua kakinya ke atas sofa dan duduk bersila.


"Kita sering berbeda pengertian karena ini." Andrean menatapnya.


Firli tertawa. Ia ingat saat memesan keripik kentang di restoran untuk Andrean karena ia sangka chips itu keripik kentang. Nyatanya chips di London itu sama dengan french fries. "Kau masih kesal dengan masalah keripik?" tanya Firli. Ia masih tertawa.


Andrean meraih tangan Firli dan menariknya hingga wajah mereka berdekatan. "Namun di Inggris dan di Amerika hal ini mengandung arti yang sama," ucapnya.


"Apa?" tanya Firli penasaran.


Andrean memajukan wajahnya lalu mencium bibir Firli hingga istrinya tertegun. Ketika bibir Andrean melepaskan bibirnya dari bibir gadis itu, ia tersenyum jahil. "Itu sama-sama artinya kiss," ucapnya.


**Maaf baru up karena aku harus tamatin dulu novelku yang berjudul nariswari. Jika ingin tahu tentang novel itu bisa cek IGku : digi8saikai_nha.


Novel yang ikut lomba juga sebentar lagi akan tamat. 😭 Terharu sekali karena tugas sudah hampir selesai. Ouh iya, rencananya akan aku ubah cover highschool wife. Nanti batu pilih di IG ya 😊.


Mudah-mudahan minggu ini sudah mulai bisa up rutin**.