
" Firli!" panggil Andrean untuk ke sekian kali. Firli melempar pulpen di tangannya ke atas meja. Semakin lama, ia semakin kesal.
"Apa lagi, sih? Memang kamu tidak bisa melakukan semuanya sendiri?" tanya Firli kesal sambil membalikan kursi putarnya.
Andrean terdiam, ia cukup kaget dengan respon istrinya. "Kita hidup bersama sudah hampir setahun. Sebentar lagi ujian dan setelah itu kamu kuliah. Apa akan selalu kekanak-kanakan begini!" omel Firli. Kali ini kesabarannya sudah hampir habis.
"Memang sudah tugas kamu, 'kan? Lagipula semakin ke sini kamu malah semakin melawan!" Andrean tidak terima.
Firli mengambil buku di mejanya. "Kamu lihat tidak istri kamu sedang apa?"
Mata Rean sempat melirik ke arah buku di tangan Firli. Sebentar lagi mereka harus mengikuti ujian nasional. "Kamu belajar untuk apa? Hanya karena malu kalau tidak lulus?"
"Maksudnya?"
"Belajar itu kamu lakukan sejak masuk sekolah, bukannya ketika mendekati ujian!" tekan Andrean begitu menusuk ke hati Firli.
Gadis itu berdiri dari kursinya. "Iya, apa sih yang bisa dilakukan gadis bodoh seperti aku? Jauh jika dibandingkan dengan pria pintar seperti kamu!" sindir Firli lalu berjalan ke luar kamar. Ia bahkan sengaja membanting pintu kamar dan pindah ke kamar sebelah.
"Dia pikir dia pintar, tapi mengambil minum sendiri saja masih memanggil orang lain!" dengus gadis itu.
Andrean mengambil ponsel di atas mejanya. Ia sengaja membuka browser dan mencari kata kunci 'penyebab istri galak'. Sempat muncul beberapa artikel dan sempat ia pelajari satu per satu. Namun akhirnya, "Sialan! Kenapa semua isinya menyalahkan aku semua?"
***
"Kenapa lagi?" tanya Ghea. Dalam enam hari sekolah, hampir setiap hari ia melihat Firli manyun di meja kantin.
"Andrean lagi?" tanya Nana. Firli mengangguk. "Wajar, sih. Kalian sudah setahun ini hidup bersama, pasti sudah mulai memperlihatkan karakter masing-masing."
"Ibarat kata, sudah saling gak punya malu," timpal Elsa.
"Bukan masalah setahunnya. Adik iparku sejak dalam kandungan sudah diciptakan untuk menyebalkan," celetuk Briana yang sedang membuka cangkang kuaci. Setelah berhasil, ia menatap Firli dan menepuk pundak gadis itu. "Bersabarlah adikku! Jika kau berniat mencari yang baru, aku siap meracuninya."
"Jangan!" tolak Firli.
"Kenapa?" tanya temannya bersamaan.
"Aku cinta dia!" tegasnya.
Teman-teman Firli langsung menepuk jidat. "Mungkin aku saja sedang emosi karena memikirkan ujian dan nilai. Apalagi ujian simulasi kemarin. Nilaiku benar-benar mengecewakan," keluh Firli.
"Andrean tahu?" Ghea memasang tampang ingin tahu. Firli mengangguk. "Terus dia bilang bagaimana?"
"Dia bilang, kalau seperti ini jangankan masuk kampus di Inggris. Masuk kuliah di indonesia saja sudah tidak ada harapan," jawab Firli sambil menunduk.
Elsa dan Ghea menatapnya iba karena mereka berdua juga mengalami hal sama. "Memang orang bodoh tidak punya cara lain untuk memiliki masa depan cerah?" protes Elsa.
"Andrean bilang kalau cara belajarku seperti ini terus, dia juga merasa rugi membayarkan kuliahku."
Briana meremas sedotan jus semangkanya. "Sudah, kau racuni saja dia dan ambil hartanya," lagi-lagi ia mengucapkan hal gila hingga mendapat toyoran manja dari Nana.
"Lagipula yang membayar kuliahmu Ayah dan Bunda. Untuk apa dia ikut campur?"
"Apa kamu lupa sejak dua bulan yang lalu Andrean minta agar Ayah tidak menghidupi kami lagi? Dia mulai menanam saham di beberapa perusahaan dan hasil investasinya lumayan," jelas Firli.
Elsa dan Ghea bertepuk tangan. "Jangan kau lepaskan. Tidak apa-apa jadi babu suamimu juga," komentar Elsa.
Firli melotot. "Kalian temanku apa bukan?"
Firli menggeleng. "Karena Andrean tidak ingin merepotkan orang tuanya," batin Firli.
"Eh, kalian sudah baca episode terbaru "Marry with sorry", belum? Adegannya semakin panas saja," tiba-tiba Nana merubah topik.
Novel itu memang sedang ramai dibicarakan di kalangan remaja. Bukan hanya karena ceritanya seru tetapi juga scene plus-plus di dalamnya.
"Iuh, kalian membaca novel seperti itu?" tanya Firli.
"Aku yakin, ya. Penulis novel ini pasti pria. Dia begitu vulgar menulis adegan hot," tebak Ghea.
Nana geleng-geleng kepala. "Aku malah percaya jika dia wanita kesepian alias jomlo. Karena itu daya khayalnya kuat," ralat Nana.
"Mungkin juga dia ibu-ibu," Briana tidak mau kalah.
***
"Jadi semakin parah?" tanya Rai ketika ia bersama Gama, Misyel dan Rean duduk di karpet taman. Andrean mengangguk. "Bukannya lebih baik kamu mengalah? Biarkan Firli tenang dulu sampai ujian selesai."
"Benar kata, Rai. Kau ini menjadikan dia istri atau pembantu?" Gama ikut berkomentar.
"Kalian mana mengerti. Kalian tidak punya istri, sih! Aku hanya ingin mendidik Firli. Di sini mungkin dia bisa bermanja-manja karena fasilitas yang Ayah berikan. Namun di London lain. Tidak ada pelayan, juga tidak ada kemewahan," jelas Andrean.
"Kamu memang tidak takut kalau Monsieur Abellard berpikir jika kamu ingin pergi dari keluarga?" tanya Misyel.
Andrean mengangguk. "Mereka lelah dan aku ingin mereka beristirahat walau hanya sejenak. Beban mereka terlalu berat," jawab Andrean.
"Yakin akan kembali ke Inggris?" tanya Gama. Andrean mengangguk. Hidup sejak akhir KS 1 di sana membuat ia mudah beradaptasi untuk mandiri dengan Firli nanti.
"Aku hanya ingin membangun keluarga kecilku dengan Firli."
"Keluarga kecil macam apa? Kalau kalian tidak pernah bersentuhan mana bisa membuat keluarga," celetuk Gama membuat Andrean sampai terbatuk-batuk.
"Memang masih belum?" tanya Misyel. Rean mengambil sepotong apel lalu mengigitnya.
Baik Gama, Misyel dan Rai sama-sama menepuk jidat. "Sudah baca novel yang aku berikan kemarin?" tanya Misyel. Andrean mengangguk.
"Aku coba, hasilnya Firli malah marah-marah," keluh Rean.
Gama menggaruk ujung sebelah alisnya. "Aneh, padahal novel Marry with sorry itu novel sejuta wanita."
"Istriku itu hanya terlalu polos saja," ucap Andrean.
"Bagaimana dengan ide bulan madu?" tanya Gama.
"Kita semua akan ujian, mana bisa pergi bulan madu saat seperti ini?" Rai menggeleng.
Keempat pria itu kembali terdiam untuk berpikir. Hanya untuk merancang agar terjadi malam pertama antara Andrean dan Firli saja, mereka sampai melakukan rapat hampir setiap hari. Parahnya, mereka gagal selama setahun ini. Termasuk tadi malam saat Andrean bermaksud memancing Firli agar selalu menempel padanya, malah berakhir dengan pindahnya gadis itu ke kamar sebelah.
"Adik ipar!" panggil seseorang dari koridor gedung yang tidak jauh dari taman. Mendengar suaranya saja Rai sampai bergidik.
"Kalian pikirkan saja bertiga, aku akan menyelamatkan diri!" celetuk Rai lalu berlari pergi dan membuat ketiga sahabatnya tertawa terpingkal-pingkal. Andrean melirik ke sumber suara. Ia lihat istrinya juga ada di sana bersama Briana, tapi Firli memalingkan wajah.
"Dia masih marah," batin Rean.
Ada apa dengan sepatu dan bulan agustus? Tunggu hal baru yang akan author sajikan. Pengumumannya akan muncul di Instagram : digi8saikai_nha