
"Aku ikut, ya?" pinta Tania saat Andrean sudah beranjak dari tempat duduknya. Andrean mengangguk. Kedua orang itu berjalan keluar kelas yang memiliki desain modern tetapi dindingnya begitu klasik. Pintu dengan dua daun mereka lewati sambil berbincang.
"Makasih soal rendangnya, loh," ucap Tania. Andrean mengangguk. Ia senang jika orang lain mengakui kemampuannya. "Lain kali bikinin lagi, ya?" pinta Tania. Kali ini ucapannya mendapat respon tawa dari Andrean. "Apa yang salah, sih? Kali saja ke depannya bukan kamu, malah aku yang masakin?" kelakar Tania.
Lagi-lagi itu membuat Andrean tertawa. "Aku gak mau, ya. Potong daging saja gak bisa. Mana bisa jamin aku baik-baik saja pas makannya?" ledek pria itu hingga mendapat cubitan ganas di tangan. Andrean nyeringis kesakitan. Di satu sisi keadaan itu memancing koor ciee dari teman-temannya yang lain. Apalagi Ed.
"Sudah, jadian saja kalian sana!" goda Ed sambil mendorong pelan punggung Andrean dan Tania. Wajah Tania nampak tersipu, tapi Andrean masih terlihat santai menanggapinya. "Daripada jodohin orang terus, lebih baik kamu cari pacar aja. Lama jomblo apa gak takut garing?" ledek Andrean.
Ed menggetok kepalanya. "Jangan asal kalo ngomong jomlo. Gue jomlo karena keputusan gue sendiri, ya." Es protes tidak menerima jika keadaannya sekarang karena ia kurang laku.
"Keputusan karena terlalu banyak ditolak," timpal Tania yang langsung menerima persetujuan dari Andrean. Kontan ia dan Andrean saling tos. Sementar Ed menunduk kecewa. Bagian yang membuat Andrean nyaman dengan teman-temannya di Inggris adalah mereka tidak memandang asal keluarganya. Lain dengan di Indonesia dimana ia selalu diperlakukan hormat hingga sulit untuk bercanda.
Patricia masih memperhatikan Tania yang berjalan di samping Andrean. Ia menyusul dari belakang lalu sengaja mendorong Tania. Lagi-lagi kejadian di dapur terulang dimana Tania jatuh ke dalam pelukan Andrean dan lagi-lagi keduanya saling pandang. Syukur tidak terlalu lama. "Jangan jual mahal kamu Andrean. Dari tatapan tadi saja sudah jelas kalian saling suka," goda Patricia.
Tania memukul lengan sahabat wanitanya itu. "Ih, jangan macam-macam, ya. Akukan jadi gak enak sama Andrean," protes Tania - malu-malu tapi mau. Andrean hanya nyengir kuda. Ia mengusap dadanya yang berdegup kencang. Tidak seperti biasanya ia begini jika dekat dengan wanita. Tania menatap Andrean. "Kamu kenapa?" tanya Tania. Andrean menggeleng.
"Bagus, ya! Dasar pelakor murahan!" Tiba-tiba saja seorang wanita menjambak rambut Tania hingga wanita itu berteriak kesakitan. Andrean yang melihatnya langsung menghentikan keadaan itu. Ia mencoba melepaskan Tania dari gengaman tangan wanita yang di wajahnya tersirat kecemburuan.
"Helen! Lepas!" tegas Andrean.
Helen melepas jambakan itu. Sebagai ganti, ia memeluk Andrean dengan erat. "Aku gak suka teman-teman kamu itu sering jodohin kamu dengan dia," protes Helen. Andrean masih berusaha melepaskan lengan Helen dari pingganya. Hasilnya nol, Helen begitu lekat sekali memeluknya. "Apa kamu gak malu? Lepasin!" tegas Andrean lagi. Helen menggeleng dengan manja.
"Kamu itu milik aku, sampai kapanpun aku akan terus ngejar kamu," tekan Helen membuat Andrean pusing sendiri. Kali ini saja Andrean berharap bisa menghilang begitu saja. Tania melihat bagaimana mesranya Helen menyandarkan pipi di dada bidang Andrean. Wanita itu menyimpan rasa kecewa berlari pergi begitu saja.
Andrean melihatnya dari jauh. Ia bingung menjabarkan perasaannya. Melihat kepergian Tania membuat ia kecewa pada dirinya sendiri. Andrean mendorong Helen dengan sekuat tenaga hingga wanita itu terjatuh. "Andrean! Kamu kenapa tega sama aku?" protes Helen.
Andrean menatap Helen tajam. "Berapa kali aku tekankan jangan ganggu hidupku lagi. Dan cara kamu memperlakukan Tania tadi, aku gak suka," tekan Andrean. Ia berlari ke arah Tania pergi untuk menyusulnya. Hendak Helen mengejar Andrean, tapi Patricia langsung menghalanginya.
***
"Tan," panggil Andrean melihat Tania menangis di bawah pohon ek. Gadis itu berpaling pada Andrean lalu mengusap air matanya. "Maaf, An. Aku hanya sedih mendengar penghinaan Helen barusan. Aku hanya tidak bermaksud ...," kalimat Tania tidak ia lanjutkan. Wanita itu masih tidak bisa menahan air matanya agar tidak mengalir. Andrean duduk di sampingnya. "Maaf, ya?" ucap Tania lagi.
Tania mengangguk. Ia sandarkan kepalanya di bahu Andrean sambil menatap lurus ke halaman kampus yang luas. "Makasih, ya. Selalu membelaku kalau aku di hina Helen. Aku tahu aku itu gak pintar bergaul," ucap Tania mengadu.
Menjadikan bahunya sebagai sandaran Tania awalnya membuat Andrean tidak nyaman, tapi ia juga tidak kuasa meminta Tania menjauh. Ia juga bingung dengan sikapnya pada gadis itu. "Aku hanya berusaha menjaga perasaanku agar tidak terpengaruh pada Helen," ucap Andrean.
Tania mengangguk. Ia mendongak dan satu jurus kemudian Andrean menunduk, membuat mata mereka saling berpandangan lagi. Andrean melihat garis-garis wajah Tania yang halus. Wanita yang cantik, pintar dan juga baik. "Jangan," ucap Tania lembut seperti bisikan di telingan Andrean. Pria itu mengangguk.
Tania masih bersandar di bahu Andrean, begitu juga dengan Andrean yang masih diam saja membiarkan itu terjadi. Tiba-tiba Brussel memanggil dari kejauhan. Keduanya terperanjat. Mereka langsung bangkit dan mendekati Brussel.
"Hoy, pacaran saja! Dipanggil profesor," ucap pria berwajah skandinavia itu. Andrean mengangguk. Ia dan Tania bergegas pergi menuju ruangan profesor mereka. Gawat jika mereka telat karena pria dengan perut buncit itu selalu ingin segala urusan selesai tepat waktu.
Di ruangan dengan barang-barang antik di dalamnya, Andrean dan Tania masuk. Keduanya langsung menghadap profesor Alan. Pria itu menatap wajah kedua mahasiswa favoritnya di balik kaca mata. "Kita akan ke Harvard," ucap profesor tanpa basa-basi.
"Maksudnya, Sir?" tanya Andrean.
"Siapkan akomodasi kalian. Kita akan ke Harvard untuk study banding. Kalau sampai ini berhasil, kalian akan mendapat tiket kuliah strata dua di sana," ucap Profesor Alan.
Tania terlihat senang mendengarnya. "Hanya aku dan Andrean?" tanya Tania memastikan. Profesor Alan mengangguk.
"Kapan, Sir?" tanya Andrean. Ia harap itu tidak akan ...
"Minggu ini dan kita baru akan kembali bulan depan," tegas Profesor Alan. Tania terdengar antusias hingga memegang lengan Andrean sambil tertawa senang. Sementara itu Andrean terlihat bingung. Ia ingin pergi, demi masa depannya. Hanya saja, ia janji akan pulang pada Firli. Diam diantara iya dan tidak, Andrean menatap Tania. Wanita itu terlihat berbinar sambil menatap Andrean penuh harap agar mengatakan iya.
"Apa tidak bisa diundur, Sir?" tanya Andrean lagi. Ia meminta tenggat waktu. Profesor Alan menggeleng.
"Andrean, tidak ada tenggat waktu jika kau ingin sukses. Itu pilihanmu, ingin ikut atau tidak. Namun aku tekankan jika kepergian kali ini akan sangat berpengaruh pada CV-mu," tekan Profesor Alan.
Andrean mengepalkan tangan. Kapan lagi kesempatan ini bisa terulang. "Saya ikut," jawabnya. Meski masih ada rasa berat dalam dada. Ada Anita dan Abellard yang akan melindungi Firli. Lagipula hanya satu bulan, setelah itu Andrean bisa pulang dan menemani Firli melahirkan. Hanya kali ini saja.