
"Pernah dengan cerita malin kundang?" Angie memulai obrolan di kantin siang itu. Jelas sekali suara terdengar hingga meja Firli dan teman-temannya karena ketiga wanita itu duduk di kursi yang bersebelahan. Firli berusaha tidak memedulikannya.
"Jadi, ada anak yang lupa dengan ayahnya sendiri hanya karena diangkat oleh orang kaya," lanjut Angie.
Arlitha dan Bella fokus mendengarkan. "Dia bahkan tidak mau menyapa ayahnya sama sekali."
"Ih, durhaka sekali," komentar Arletha.
"Bilang saja dia tidak mau hidup miskin," tambah Bella.
Namun jelas sekali pandangan mata mereka bertiga menuju pada Firli. Nana mengelus punggung Firli, Andrean sempat bercerita tentang apa yang harus dilalui gadis itu.
"Tahu tidak, ada seorang perempuan merebut suami orang sampai suami orang itu meninggalkan anak dan istrinya." Tiba-tiba Ghea mengeluarkan suara. Ia berkedip-kedip ke arah teman-temannya.
"Laki-lakinya sendiri kenapa tidak bertanggung jawab, sih? Apa dia tidak memikirkan nasib anak dan istrinya?" Elsa menimpali sementara Firli hanya menunduk.
"Untung saja ada orang kaya yang ingin mengurus anaknya," timpal Nana.
Mendengar celotehan ketiga gadis itu, Angie bangun dan mendekati mereka. "Apa maksud kalian?" tegur Angie.
Ghea melipat kedua tangannya di dada. "Kita hanya mengobrol," timpal Ghea.
Angie menggebrak meja. "Aku tahu ya, kalian sedang menjelek-jelekkan keluargaku!"
"Memang siapa duluan yang menjelekan orang!" balas Elsa.
"Ya, kalau memang merasa baguslah!" timpal Angie.
"Ya! Kalau kamu juga merasa, baguslah!" Ghea mengeluarkan suara seolah meledek diikuti gelak tawa dari Elsa dan Nana.
Angie bangkit, berbalik lalu meraih kerah kemeja gadis itu. "Beraninya kamu!"
Kali ini Elsa berusaha menepis tangan Angie dari kerah Ghea tapi Arlitha menghalanginya. "Jangan ikut campur, ya! Ini masalah Angie sama Firli!" tekan Arlitha.
"Bukannya kalian duluan yang ikuta campur dengan mengomentari dia!" Elsa tidak mau kalah.
Firli menggebrak meja. Ia mengambil gelas minumannya dan menyiram wajah Angie. Jelas gadis itu langsung mengusap wajahnya. Melihat Angie lengah, ia datangi Angie lalu mendorong Angie dengan kuat. Hampir saja gadis itu terjungkal. "Kamu pikir, keluarga kamu itu suci! Enaknya hidup kamu bisa mendapatkan kasih sayang ayahku sementara aku dan ibuku harus hidup sendiri! Sekarang kamu menghakimi seolah aku ini tersangka dan kalian korban? Ibuku mati karena ibumu, jangan lupakan itu!"
Angie balas mendorong Firli. "Jika memang ayahku sudah tidak ingin bersama ibumu, relakan saja," ucapnya enteng.
Firli tersenyum sinis. "Jika memang aku tidak ingin menerima ayahku, relakan saja!" timpal Firli.
"Memang tidak tahu diri!" umpat Angie.
"Kamu yang tidak tahu diri! Seenaknya menghakimi orang! Aku korban di sini dan ujung dari semua ini adalah ibumu yang pelakor itu!"
Angie meraih rambut Firli dan menjambaknya. "Beraninya kamu mengumpat ibuku!"
Firli balas menjambak rambut Angie. "Ibu kamu memang jahat!" balas Firli. Mereka saling mendorong hingga sama-sama terjungkal di lantai. Teman-teman Firli otomatis berusaha melerai, tapi mereka juga ditahan Arlitha dan Bella. Syukur tidak ada yang menahan Nana sehingga gadis itu mampu melerai keduanya.
"Hentikan! Kalian ingin dipanggil kepala sekolah?" Nana mengingatkan. Ia menarik tubuh Firli tapi Angie terus meraih Firli.
Keadaan itu semakin pelik ketika Nana tidak bisa membuat Firli dan Angie berhenti untuk saling memukul dan mencakar. Jelas terlihat di wajah gadis itu luka cakaran akibat kuku Angie yang panjang. Begitu juga dengan Angie.
"Lihat, ya! Suatu hari suami kamu pasti akan meninggalkan kamu!" ancam Angie.
Jika saja tidak terdengar peluit saat itu, mungkin perkelahian mereka masih berlanjut. Sepertinya ada yang melaporkan peristiwa itu pada kepala sekolah karena Pak Fathur tahu-tahu sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
***
Firli dan Angie tidak saling menatap, mereka lebih memilih saling memunggungi. Saat ini Pak Fathur mengamankan keduanya sambil menunggu orangtua mereka datang.
Magda dan Handoko datang lebih dulu. Magda memerika keadaan putrinya yang memiliki luka lebam dan cakaran di pipinya. "Siapa yang memperlakukan kamu seperti ini, Nak? Wajah anak Mama yang cantik." Magda mengusap wajah putrinya. Angie menunjuk Firli dan membuat kedua orangtuanya terkejut.
"Kamu lagi?" bentak Magda sambil menunjuk Firli. Namun gadis itu hanya berpaling.
Handoko memegang tangan Magdalena agar perempuan itu bisa menahan emosinya. "Dia putriku, Mah!"
"Iya, aku tahu! Bukan artinya kamu biarkan dia menyakiti putriku. Hanya karena dibesarkan di keluarga bangsawan dia bisa seenaknya," omel Magda.
Firli bangkit. "Putri anda yang memulai duluan, kenapa saya yang dihakimi di sini!" balas Firli.
"Dia mengatai Mama pelakor!" adu Angie.
Magda semakin geram. "Memang kamu itu tidak sopan!"
"Memang iya kok, Tante yang menggoda Bapak saya, 'kan!" Firli tetap mempertahankan harga dirinya.
"Fir, tolong. Bagaimanapun Mama Magda itu istri Bapak, dia ibu kamu juga." Handoko menengahi.
Firli membuka matanya lebar. "Dia bukan ibu saya, ibu saya sudah meninggal. Dan saya tekankan, sejak anda pergi meninggalkan rumah. Sejak itu saya tidak punya ayah!" tekan Firli.
Handoko meraih tangan Firli tapi langsung ditepis gadis itu. "Dia sudah hidup enak dengan keluarga kayanya, mana mau dia menerimamu!" Magda ikut campur.
"Sampai kapanpun dia memang tidak akan menerima kalian," tekan seseorang yang datang bersama Bu Helda.
"Rean," panggil Firli lembut. Ia berlari menghampiri suaminya.
"Jika kalian ingin warisan dari Nenek Firli, ambil saja! Asal jangan pernah menganggu istri saya lagi!" Andrean langsung menghadapi Handoko.
"Dia putriku, darah dagingku. Sementara pernikahan kalian bahkan tidak mendapat restu dariku." Handoko semakin berani.
"Saya tidak perlu restu dari seorang ayah yang tidak bertanggung jawab," tegas Andrean.
Firli memegang erat lengan Rean. "Saya akan pastikan pernikahan kalian batal!" ancam Handoko.
Andrean mendengus. Namun Firli ditelan ketakutan. "Aku mohon! Katakan saja apa mau Bapak, tapi jangan pisahkan Firli dengan Andrean. Lebih baik Firli mati dan ikut Mamah daripada jauh dari dia," tekan Firli.
Ibu Helda mengusap punggung Firli. "Ibu, Andrean itu suami Firli. Firli tidak mau jauh dari Rean," adu gadis itu.
Andrean memeluknya. "Tidak, kita tetap bersama," ucap Andrean menenangkan.
Andrean menatap tajam mata Handoko. "Jika anda datang dalam hidup dia hanya untuk menyakiti perasaannya, lebih baik anda menghilang saja seperti dulu," tekan Andrean.
Ia menarik tangan Firli dan membawanya keluar ruangan. Sempat Handoko menahan Firli di sana tapi langsung ditepis gadis itu.
Handoko sempat mengejar Firli keluar. Ia gagal karena ditahan oleh bodyguard Andrean. "Ibu dan Bapak duduklah," pinta Bu Helda. Magda langsung memanggil Handoko dan memintanya mendengarkan penjelasan Bu Helda.