
Andrio dan Firgio mungkin menjadi bayi paling beruntung saat ini. Bahkan di usia yang baru beberapa hari, mereka sudah memiliki harta yang berlimpah. Jika kebanyakan bayi mendapat kado berupa pakaian baru, alat-alat mandi hingga alat makan, si kembar dilimpahi harta kekayaan karena terdaftar dalam susunan ahli waris serta pemilik saham beberapa perusahaan. Iya, bayi sekecil itu yang hanya tahu menangis jika lapar dan haus sudah dituliskan namanya akan kepemilikan aset keluarga Freiz.
Mungkin terdengar berlebihan, tidak. Ketika menjadi menantu keluarga Freiz, Firli juga mendapat hal yang sama. Itu sudah menjadi aturan dalam keluarga. Tidak heran jika Helen mati-matian ingin posisi itu.
Gio tertidur lelap dalam gendongan Firli sementara Rio digendong Andrean. Anak pertama itu harus berada di tangan Papahnya karena sangat aktif. Meski mata tertutup saja, tangannya masih bergerak-gerak.
"Lucunya. Dia mirip sekali kamu ketika kecil," puji Tante Andrean.
Pesta penyambutan dilaksanakan dengan meriah. Ruang tamu utama di rumah keluarga Freiz dihias dengan dekorasi berwarna biru muda. Bahkan Tante Andrean memberikan tas untuk membawa barang-barang bayi dengan merk H*rm*s.
Gio dan Rio akhirnya dibaringkan di atas tempat tidur bayi rancangan salah satu merk populer Italia. Firli dan Andrean berdiri di samping mereka. Salah satu pengacara keluarga membacakan surat keputusan ahli waris.
"Andrio Firzio Freiz dan Firgio Andreno Freiz tercatat mulai hari ini tanggal 3 September 2020 di Bandung sebagai pemilik sah sepuluh persen aset milik keluarga Freiz dengan rincian sebagai berikut."
Banyak yang iri mendengar banyaknya tanah, saham serta uang yang ada dalam daftar kepemilikan dua bayi itu. Andrean juga sempat menolak, tapi sangat tidak adil jika anaknya tidak mendapat hal yang sama seperti yang ia dapatkan ketika lahir.
Setelah itu, satu per satu tamu melihat kedua bayi itu meski dalam jarak tertentu. Banyak diantara mereka terpana melihat rahang lancip kedua bayi dan mata almondnya. Bahkan usia empat minggu sudah terlihat hidung mancung kedua bayi itu.
"Kayaknya aku setuju. Untung mereka mirip kamu, bukan aku," bisik Firli. Andrean tertawa mendengarnya.
"Memang kenapa, kalau mirip kamu juga bagus. Mereka pasti imut dan lucu." Mata Andrean begitu hangat menatap istrinya. Firli menunduk malu.
Di sela keramaian itu, ada dua orang yang saling pandang dari kejauhan. Mereka mungkin bisa blak-blakan di kampus atau di luar. Namun di depan keluarga besar mereka, tidak begitu.
Nama Briana masih sangat santer sebagai calon menantu keluarga Freiz. Briana juga tidak menampik jika ia masih merasa tidak enak pada Ayah dan Bunda Andrevan. Ia belum berani mengakui tentang keberadaan Rai.
Syukur keadaan Rai juga sama. Keluarga Abyapta yang notabene masih bergantung pada investasi keluarga Freiz sangat menghormati keluarga itu. Tidak masalah bagi keduanya, toh mereka juga masih ingin menikmati hubungan yang indah sebagai sepasang kekasih.
Mungkin orang yang paling kesal malam itu adalah Angie dan Magdalena. Keduanya tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat cibiran pada Firli. "Dia cuma beruntung saja. Kalau tidak dijodohkan juga, mereka gak akan nikah. Monsieur Andrean pasti lebih memilih wanita seperti putriku." Magdalena mengusap rambut Angie.
Handoko melihat sinis ke arah istrinya. "Memang apa yang salah dengan putriku? Jika ia buruk, ia tidak akan bertahan sebagai menantu di keluarga ini!"
Masalah ini sudah sering mereka bahas. Handoko berharap istri dan anak tirinya bisa memperlakukan Firli sama seperti Handoko menerima Angie.
"Hati-hati, Pah. Zaman sekarang banyak pelakor. Kamu mana bisa yakin rumah tangga anak kamu akan awet. Apalagi suaminya sekaya itu." Magdalena sepertinya masih belum menyerah berharap Firli jatuh ke dalam masa terdalam.
Handoko tidak menimpali. Daripada mendengar suara nyinyiran istrinya, ia lebih baik berjalan mendekati putri kandungnya yang tengah bahagia.
"Kamu yang nurut pada suami kamu, jadi ibu yang baik. Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti orangtua kamu," nasehat Handoko. Ia memang merasa tidak pantas menasehati Firli. Namun itu kewajiban yang harus ia lakukan.
Firli mengangguk. Andrean ikut maju, ia memberikan salam pada mertuanya. Seperti yang lain, Handoko juga terlihat kagum melihat kedua cucunya.
"Tampan dan gagah sekali seperti Papahnya," puji Handoko. Ia memegang tangan kedua bayi kembar itu.
Nampak Rio balas memegang jari kakeknya, sementara Gio memiliki hal lain meski tidak seaktif Rio, ia tersenyum dengan memperlihatkan lesung di pipinya dan membuat kedua matanya melengkung sempurna saat dipejamkan. Siapa yang tidak jatuh hati melihat ekspresi Gio setiap kali ada yang menyapanya.
"Putramu yang satu ini kelihatannya senang sekali bergaya." Handoko sampai tertawa melihat Gio.
Baik Andrean dan Firli ikut tertawa. Magdalena dan Angie melihat dari jarak 1 meter tanpa berani mendekat. Namun hati mereka sama saja kotornya, melihat dua bayi itu sama sekali tak tersentuh.
"Ini Gio, Pak. Yang paling aktif itu Rio, kakaknya." Sekilas mereka memang tidak bisa dibedakan. Hanya Gio memiliki bentuk alis seperti Firli.
Abellard dan Anita menghampiri Handoko. Mereka bersalaman sebagai tanda hormat sebagai besan. Andrean melingkarkan lengannya di pinggang Firli. Ia mencuri waktu mengecup kepala istrinya.
"Selamat Papa dan Mama baru!" seru seluruh anggota geng ribut. Andrean panggil begitu karena kemanapun temannya dan teman Firli pergi pasti ributnya luar biasa. Rai saja yang pendiam jika sudah bergabung sama berisiknya.
Firli memeluk keempat sahabatnya. Tentu yang paling berisik adalah Briana. Melihat Gio dan Rio dia langsung terlihat histeris. "Aw, hati-hati ya kalian! Kalau besar nanti harus nikah dengan anak tante!"
Firli tertawa. "Memang kapan Tante punya anak? Nikah saja belum," sindir Firli membuat Briana manyun.
Andrean menepuk pundak Rai. "Jangan sembunyi terus, maju jalan sana!" Sengaja dia mendorong Rai hingga jatuh dan memeluk Briana. Untung mereka tidak terjungkal.
Melihat Rai dan Briana kontan membuat teman lainnya membunyikan koor ciee. Anita dan Abellard yang tidak mengerti kontan bertanya. "Ada apa ini? Kalian sedang main jodoh-jodohan?"
Rai menggeleng-geleng. Ia memberikan kode ke arah Andrean agar tutup mulut. Namun sama saja itu sia-sia. "Bunda memang gak tahu, sebentar lagi Briana akan jadi menantu keluarga Abyapta," bocornya.
Sempat Briana dan Rai terlihat takut. Namun Anita dan Abellard justru terlihat senang. "Benarkah? Kapan kalian menikah? Biar Bunda dan Ayah menyiapkan semuanya," tawar Abellard.
Briana menggeleng-geleng. Rai juga nyengir kuda. "Maaf Monsieur Abellard, kami masih tahap penjajakan," jelas Rai.
Abellard sengaja pura-pura menatap tajam Rai. "Gak bisa begitu, kalau sudah saling pegangan tangan harusnya tidak lama sudah lamaran," candanya.
Rai terlihat kaget. Ia panik sendiri sementara yang lain malah tertawa menanggapi ucapan Abellard. "Jangan dengarkan ucapan dia, kalian nikmati saja masa muda. Kuliah yang rajin. Biar urusan susah mengurus anak bagian Andrean dan Firli saja." Anita menepuk pundak Rai dan Briana bersamaan.