
Tak pernah Firli bayangkan sebelumnya jika ia akhirnya akan merasakan hal yang dirasakan gadis lain di usia 17 tahun - kencan dengan seorang pria. Sayangnya Firli tak sempat membuat daftar kegiatan yang ingin dilakukan karena kencan ini dilakukan mendadak. Andrean membawa mobilnya sendiri meski sudah dilarang Pak Bram. Firli yakin dia akan diomeli lagi oleh Ayah, tapi yang bersangkutan terlihat tak peduli.
"Punya referensi tempat makan yang bagus?" tanya Andrean sambil menyetir tanpa tujuan. Ia hanya membawa mobilnya keluar gerbang rumah dan menyusuri jalan kompleks perumahan elite dimana rumah mereka dibangun.
"Restoran di hotel Hilton enak," jawab Firli membuat Andrean manyun.
"Jangan di tempat mahal. Rean uangnya gak banyak," keluhnya membuat Firli mengangkat sebelah alisnya. Firli tahu seberapa kaya keluarga mertuanya, tak mungkin jika Andrean tak punya uang. "Gini loh, Say! Hari ini Rean mau ajakin kamu main tpai pakai uang yang aku punya sendiri," jawab Andrean.
"Uang sendiri darimana?" tanya Firli penasaran. Ia harap suaminya itu tak melakukan hal-hal aneh lagi yang membuat keluarganya marah.
Andrean nyengir kuda. "Biasalah jualan online. Rean bantu jual beberapa barang buatan teman. Uangnya lumayan," jawabnya membuat Firli heran. "Aku ini punya istri. Masa masih nebeng ke orang tua. Aku rencananya mau punya rumah sendiri," jelasnya.
Firli mengusap pipi Rean. Ia tak bisa marah dengan laki-laki itu. Justru Firli kagum dia begitu dewasa dan bertanggung jawab. Mendengar itu rasanya Firli tak perlu merasa khawatir dengan masa depannya karena suaminya begitu bertanggung jawab.
"Memang dapat uang berapa?" tanya Firli penasara. Ia dengan nakal mengambil dompet Andrean dari saku celananya. Kemudian tertawa melihat dompet itu hanya berisi uang lima ratus ribu. Lebih lucu lagi karena ada ATM dan kartu kredit di dalamnya yang jelas-jelas isinya uang yang ditransfer oleh Ayah. "Kenapa ini di bawa juga?" tanya Firli sambil tertawa jahil.
Andrean nyengir. "Jaga-jaga kalau khilaf ada yang nalangin," ikrarnya memancing tawa Firli lagi. Jika begitu rasanya Firli tak jadi terharu.
Sejenak mereka terdiam. Kemudian Firli ingat akan sesuatu. "Rai minta maaf sama Firli," ucapnya. Andrean tertegun. Jauh dalam hatinya itu sangat menganggu. "Firli maafkan sih, tapi janji nanti gak akan terlalu dekat dengannya." Firli mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. Namun itu tidak cukup membuat persaan Andrean menjadi tenang.
Lagi-lagi keduanya terdiam. Firli menyandarkan bahunya ke pintu mobil lalu melipat tangannya di depan dada. Sebenarnya ia masih ngantuk. Namun mendengar kata jalan-jalan membuat semangatnya terbakar. Mobil abu-abu itu sudah meninggalkan gerbang kompleks rumah dan masuk ke jalan kota. Pemandangan pohon berubah menjadi toko-toko yang masih tutup karena jam baru menunjukan pukul sembilan. Hanya sebagian mini market yang buka.
Firli ingat sesuatu. Ia membuka matanya lalu mengambil ponsel di dalam tas selempangan kecil yang ia kenakan. Gadis itu mengecek instagram teman-temannya. "Firli mau ke sini," Firli memperlihatkan layar ponselnya pada Andrean. Laki-laki itu menepikan mobilnya ke jalur kiri dan mengurangi kecepatan.
"Lock lokasinya," titah Andrean yang langsung diiyakan istrinya.
Jarak tempat itu lumayan dekat dengan rumah walau ada di luar kota Bandung. Hanya saja kompleks elite dimana kediaman Freiz berdiri memang dekat perbatasan sehingga cukup dekat dengan tujuan dibandingkan tengah kota.
Jalan yang mereka lalui mulai menanjak tanda akan memasuki daerah dataran tinggi. Seperti biasanya jalan ini akan macet jika akhir pekan. Itu akibat banyaknya wisatawan yang datang.
"Dulu waktu kita kecil tidak sampai begini," Andrean heran ketika mengintip ke spion kanan ia melihat barisan mobil di belakangnya begitu panjang. Firli juga kaget karena tak pernah ke daerah ini sebelumnya.
Keadaan mobil mereka benar-benar membingungkan - mundur tak bisa, maju apalagi. Kalau begini Firli jadi menyesal memilih tempat yang ia lihat di instagram Ghea. "Kalau gini kapan sampainya. Sudah lima belas menit bahkan gak gerak-gerak," keluh Firli. Jangankan penumpang, bahkan supirnyapun sudah tersiksa dengan pegal yang melanda hampir sekujur tubuh.
Andrean menyalakan televisi kecil di dashboard mobilnya. Televisi itu tersambung langsung dengan wifi yang masih tangguh meski mereka mulai memasuki kawasan pegunungan. Firli menonton video kpop dari sana.
"Perempuan mengapa sangat tergila-gila sekali dengan Korea? Di London juga," ucapnya membuka topik.
"Bukan karena ganteng?" tanyanya lagi. Firli mengangguk, itu juga bagian tak terpisahkan dari Kpop. "Kalau jadi artis wajah begini laku, ya?" kelakarnya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Keduanya tertawa. Kemudian Firli melihat jam tangannya. Sudah pukul 12 siang dan mereka belum makan apapun. Firli membuka kaca mobilnya. Ada beberapa penjual bolu susu yang berjualan di sisi jalan. Firli memanggil salah satunya dan memesan dua dus kue rasa vanila dan coklat. Setelah itu Firli tutup kembali kaca mobilnya.
"Ini apa?" tanya Andrean.
"Bolu susu. Makan! Kamu pasti laper," tawar Firli. Ia mengambil sepotong bolu yang sudah terpotong kemudian menyuapi suaminya. Andrean menerima suapan Firli kemudian tertegun. "Kenapa?" tanya istrinya.
"Enak," jawab Andrean sambil tersenyum senang. "Untuk dua ini hanya seratus ribu?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya ada kembalian tapi Firli kasih saja," jelasnya. Justru Andrean semakin marasa heran. Untuk sepotong bolu dengan rasa yang hampir sama saja Andrean biasanya membeli lebih dari seratus ribu. "Makan juga kamu!" ucap Andrean.
Firli mengangguk dan langsung memakan sisa potongan kue yang sempat Andrean gigit. "Ih jorok, ambil lagi yang baru!" tegur Andrean.
"Sisa suami sendiri juga," bantah Firli.
Andrean manyun tak lama ia tersenyum jahil. "Makan sisa digigit suami sudah mau, berarti diajakin mandi bareng juga mau," kelakarnya.
Kali ini Firli menutup dus kuenya lalu memukul Andrean dengan dus itu. "Sabar, nanti!" tegas Firli.
"Kapan?" tanya Andrean tak sabar. Firli terlihat berpikir. Ia tak mau salah biacara dan malah membuat Andrean marah. Jauh dalam hatinya Firli masih merasa cinta pada Rai. Ia takut justru itu akan menjadi bom atom suatu hari nanti.
"Kartu keluarga kita sudah ada, KTP juga, buku nikah juga, kurang apa?" pancing Andrean.
"Aku gak mau punya anak sebelum lulus SMA. Lagipula kalau kamu selingkuh aku yang rugi," protes Firli.
Andrean mengangkat sebelah alisnya. Ia berpaling ke arah kanan sambil bergumam, "Dia yang selingkuh malah takut diselingkuhi."
Namun ternyata gumaman itu terdengar oleh Firli hingga lagi-lagi Andrean terkena pukulan dus kue. "Kan kuenya jadi gak enak!" protes Rean.
"Salah kamu juga!" lawan Firli.
Gara-gara mereka adu mulut, mobil dibelakang sampai soak membunyikan klakson tanda jalan di depan sudah lengang. Jelas pasangan muda ini langsung ribut dan Andrean buru-buru menginjak gas mobilnya. Untung saja mereka tidak ditabrak dari belakang.