
"A!" Firli memaksa Andrean membuka mulutnya. Lagi-lagi istrinya itu melakukan kebiasaan yang sama dulu, menyuapi Andrean meski tahu suaminya tidak lapar. Kalau bukan karena bawaan orok, Andrean juga pasti lebih memilih kabur.
Sesendok salad buah langsung mendarat di dalam mulut Andrean. Tak mau kalah, Andrean punya cara sendiri untuk balas dendam. Ia ambil sendok di tangan Firli dan balas menyuapi perempuan itu.
"Gak mau," tolak Firli. Bibirnya mengerucut. Namun Andrean tetap memakasa dengan alasan, demi kesehatan si jabang bayi.
"Maksa banget!" Akhirnya Firli tetap memakannya meski tidak mau. Pagi yang cerah dan indah di halaman belakang paviliun. Kedua suami dan istri itu duduk di kursi taman yang menghadap ke kolam. Oksigen menghiasi udara sekitar. Menuju musim hujan dimana gerimis masih jarang hadir.
"Di Inggris Helen gak macam-macam, kan?" Firli sedang berusaha menagih laporan suaminya.
Jelas saja jawabannya gelengan. "Gak ada aturan dia itu. Setiap bertemu pasti teriak manggil-manggil Andrean. Bagian paling parah, nempel-nempel kayak lem," aku Andrean.
Firli mengangguk-angguk. Dari nada kesal suaminya sudah jelas jika Andrean sendiri muak dengan wanita itu. Lega hati Firli. Setidaknya sampai.
"Aku mau buat pengakuan boleh?" Andrean pikir ia memang harus jujur. Daripada membuat rahasia dan suatu hari nanti terbongkar.
Sambil mengupas salak Firli mengangguk. Dia bisa mengupas buah apapun termasuk durian. Meski menantu orang kaya, ia telaten.
"Di Inggris kamu tahu aku punya teman satu kelompok?" Andrean membuka topik. "Ed, Brussel, Patricia dan Tania. Mereka orang baik semua. Hanya saja sepertinya mereka sering salah paham padaku," cerita Andrean.
Firli memang sering mendengar cerita tentang empat anggota kelompok Andrean itu. "Salah paham kayak apa?"
Andrean sedikit berpikir. Ia sendiri bingung menilai keadaannya. "Kan aku pernah bilang kalau punya istri. Aku juga bilang kamu lagi hamil. Tapi mereka gak percaya, anggapnya aku ini bercanda. Lama-lama jadi kesal sendiri jadi gak dibahas lagi. Mereka juga gak nanya lagi."
Firli ngerti keadaan itu. Dulu juga ia sempat buat pengakuan sudah menikah pas SMP pada teman-temannya. Hasilnya ia malah disebut halu. Dari situ ia gak pernah bahas lagi.
"Mungkin aneh saja, di Inggris rata2 mereka menikah di usia 30 atau 40 tahunan."
"Nah, betul begitu. Tapi masalahnya gak gitu. Mereka sering jodoh-jodohin aku sama Tania." Saat mengucapkannya Andrean biasa saja, tidak ada wajah senang apalagi merona. Tapi ... tangan Firli begitu kuat menghantam meja.
Jelas mendengar itu Andrean merasa tersudutkan. Begini saja sudah menakutkan apalagi kalau mengaku hatinya sempat terpengaruh. Andrean mengatur napas. Mau tidak mau ia harus mengaku.
"Tania itu anaknya memang baik dan menyenangkan. Dia juga lumayan cantik ...."
"Kamu mau minta izin nikah lagi?" todong Firli. Hampir saja Andrean tersedak kopi yang sedang ia seruput.
"Gak lah, bukan itu. Maksud aku ini mau ngaku kalau sempat tertarik. Makanya mau jauhin. Jaga hati dan perasaan."
Tidak tahu bagaimana hancurnya nasib salad buah diaduk kasar dan kencang oleh Firli. Pantas juga kalau istrinya marah.
"Kamu tahu gak gimana rasanya lagi tidur pulas perut ditendang. Lagi jalan tiba-tiba mules. Lagi makan tiba-tiba mual. Gak enak banget! Pengen nangis tapi malu. Segitu susahnya hamil. Yang di sini anak kamu juga. Lha ayahnya malah sembarangan gatel sama perempuan," omel Firli.
Andrean nyengir kuda. "Iya maaf, lagian juga sudah usaha jauhin. Ini juga milih pulang, Mamah."
Andrean berpikir. "Dari perilaku sepertinya dia suka aku. Biarin saja ah, lagipula aku gak akan balik lagi."
Firli terdiam. "Gak akan balik lagi gimana?" tanyanya bingung.
"Iya, gak balik lagi. Aku mengundurkan diri dari kampus. Jangan marah, gak bisa aku jauh-jauh dari kamu. Dari awal juga bilang begitu, kan?"
Firli terdiam. Rasanya ia merasa bersalah. Kalau saja ia bisa menjaga agar tidak hamil dulu, Andrean tidak mungkin berkorban sejauh itu.
"Kuliah kamu gimana?" tanya Firli. Daripada itu Firli takut Andrean dimarahi ayahnya.
"Tahun depan bisa mengulang. Briana bilang di Australia ada kampus yang tidak jauh bagusnya. Anak-anak juga bisa kita bawa ke sana." Andrean nampak terlihat ikhlas. Cita-cita bagi seorang ayah tentu saja melihat anaknya tumbuh. "Ah, kan lumayan satu tahun ini bisa cari uang. Bisnis onlineku loh, incomenya sudah nembus puluhan juta."
Firli tidak heran melihat Andrean begitu santai kehilangan waktu belajar di kampus. Dia sejak dulu belajar bisnis pada ayahnya sendiri. Pelajaran yang jauh lebih berharga daripada yang ia dapat di bangku sekolah.
"Pokoknya, kamu lahiran nanti aku biayain sendiri. Buat baju anak-anak juga ada."
***
Wajah itu masih berkerut kesal. Yang ia tunggu belum juga datang. Padahal orang itu yang duluan mengajak bertemu. Akhirnya Rai merasakan balas dendam paling kejam. Hatinya mulai merasa lega melihat dari jendela wanita ia tunggu akhirnya turun dari mobil.
Dengan tas selempang yang menggantung di satu bahu, celana jeans dan kaos hitam, wanita itu jalan masuk ke dalan restoran. Ia tidak tersenyum juga melambai saat melihat Rai. Benar-benar membuat Rai merasa frustrasi.
"Telat?" sindir Rai.
Wanita cantik itu tidak memperlihatkan rasa bersalah. Ia hanya duduk di depan Rai. "Aku gak lama cuman mau bilang sesuatu."
Rai mengangkat sebelah alis. "Apa sih, Bri? Jangan aneh-aneh lagi!" ancam Rai.
Briana terdiam. "Aku harap kamu bahagia dengan Gladis. Dia berubah baik dan jagain kamu. Soal ciuman waktu itu, anggap saja bonus. Sekarang aku mau pamit. Lusa aku pulang ke Sidney," ucap Briana. Setelah itu tiada angin juga tiada hujan, Briana langsung pergi meninggalkan Rai di kursi restoran.
Rai terdiam mematung. Siapa wanita itu, sejak awal datang menyebalkan dan dipertengahan membuat iba. Kemudian nekat mendekati tanpa henti. Kini bilang mau pergi. Cukup, Rai merasa hatinya dipermainkan. Lebih dari itu, ia mulai merasa terusik.
Rai bangkit. Ia berlari menyusul Briana. Baru saja wanita itu membuka pintu mobil, Rai meraih pergelangan tangannya dan menarik Briana mendekat.
Wajah mereka saling berhadapan dan dekat. Katakan jika Rai salah mengartikan, tapi berada dekat Briana meski menyebalkan ia justru senang. Rai raih pipi gadis itu dan mencium bibir merah mudanya.
Lega, Briana tidak menolak juga melawan. Justru ia ikut permainan Rai. Begitu lama menautkan bibir masing-masing dalam cinta. Hingga tersadar saling melepas dan memandang.
"Tuh bener, kan! Kamu suka aku, tapi jaim!" seru Briana.