Highschool Wife

Highschool Wife
Hari Tanpamu



"Peluk!" pinta Firli di ruangan tunggu sebelum ia melepas Andrean pergi. Suaminya begitu menurut. Ia peluk tubuh Firli dengan erat berusaha menabung energi agar tidak dikuasai rindu nanti. "Di sana jangan nakal pada perempuan, ingat anak istri di rumah!" nasehat Firli. 


Andrean mengangguk. "Kamu bicara seperti ibu-ibu saja!" ledeknya. Firli tertawa kemudian Andrean menepuk jidat. Ia menatap perut Firli. "Iya-ya. Sekarang memang sudah menjadi ibu-ibu," candanya.


Firli tertawa. "Dan bapak-bapak," lanjut Firli sambil menekan hidung Andrean dengan jempol dan telunjuk. Kontan Andrean tertawa. Ia menatap ke arah jam. Lima belas menit lagi akan ada panggilan masuk ke dalam pesawat. Artinya hanya lima belas menit lagi ia akan sedekat ini dengan istrinya. 


Andrean mengusap rambut Firli. Ia tidak peduli kemesraan mereka akan mengundang sikap iri dari orang lain. Andrean tertawa. "Aku yakin pasti mereka pikir kita pasangan kekasih yang akan pacaran jarak jauh," tebaknya. Lagi-lagi Firli tertawa.


Tidak lama Andrean mulai mengingat sesuatu yang mengusik batin. "Ingat, sering-sering lihat foto Rean, jangan terlalu banyak dekat-dekat Rai, apalagi Gama!" ancam Andrean. Sejak kemarin-kemarin Andrean selalu memperingatkan Firli agar tidak melihat Rai dan juga Gama. Ia tidak ingin wajah anaknya mirip dengan mantan gebetan Firli, Rai juga tidak ingin sikap anaknya sama menyebalkan dengan Gama. 


"Mana bisa dia mirip dengan orang lain, bibitnya 'kan darimu!" kelakar Firli. Namun Andrean tidak semudah itu mengiyakan. Ia masih ketakutan melihat wajah seorang bayi yang mirip artis Korea hanya karena ibunya senang menonton drama.


Akhirnya apa yang mereka takuti mulai terdengar. Panggilan masuk pesawat memaksa Andrean melepas pelukannya pada Firli. "Aku pergi ya, sayang," pamitnya. Firli mengangguk. Ia juga mulai melepaskan lengannya di pinggang Andrean. Mereka saling berpegangan tangan. Kemudian Andrean mulai berjalan mundur menuju antrean pemeriksaan berkas. Satu per satu jari mereka yang bertautan mulai terlepas. Jarak semakin panjang diantara mereka. Firli melambaikan tangan menatap wajah suaminya yang tidak akan ia lihat secara dekat beberapa bulan lamanya. 


Firli menarik napas panjang yang ia hembuskan perlahan untuk menguatkan batin. Hingga Andrean berbalik dan hanya punggung pria itu yang terlihat dari kejauhan, Firli mengusap perutnya dengan lembut. "Bilang dadah pada Papa," ucap Firli sendu. 


Punggung Andrean mulai tidak terlihat. Ia akhirnya pergi meninggalkan Firli di sana. Bahkan hanya beberapa detik Firli sudah rindu. Tanpa sadar ia menangis. Firli berjongkok sambil melipat kedua tangannya memeluk lutut. "Suamiku, " panggil Firli dengan rasa yang menyesakkan dada dan membuat napasnya tersendat. 


Tidak ada istri yang ingin kehilangan suaminya, tapi demi masa depan, ia akan mencoba bertahan. Hanya tiga bulan dan mereka akan bertemu lagi menikmati hari demi hari bersama.


***


Firli berbaring di atas tempat tidur sambil memeluk bonekanya. Ia mulai tidak tenang. Setelah satu tahun lebih berusaha terbiasa dengan adanya Andrean di kamar ini, kali ini Firli kembali harus terbiasa tanpanya. Kamar ini terasa sepi, tiada Andrean yang sering mengumbar godaan serta candaan. Firli kesepian lagi. Bagian paling buruk, tidak ada sekolah yang menjadikannya tempat melepas kesepian. 


"Nak, sudah tidur?" tanya sebuah suara dari balik pintu kamarnya. Firli terperanjat, ia turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Wajahnya nampak sumringah ketika melihat Anita dan Abellard di sana membawa sebuah nampan berisi susu, buah dan sandwich.


"Lho, ini sudah hampir tengah malam kenapa masih terjaga?" tanya Anita. Firli menggeleng. "Pasti karena ingat Andrean, ya? Ia masih dalam pesawat, tidak perlu khawatir," nasehat Anita. Firli mengangguk. Perlu delapan belas jam tiba di London dan dua jam hingga Manchester. Mungkin esok sore Andrean baru bisa menghubunginya.


"Ayah dan Bunda sendiri kenapa belum tidur?" tanya Firli. 


Anita tersenyum. "Sebelum pergi suami kamu sering mengomel katanya kamu kalau tengah malam selalu ingin camilan. Jadi ia takut kami lupa mengantarkanmu makanan," jelasnya. 


Mendengar itu rasanya ada satu rasa sakit yang mulai merasuk. Firli menatap makanan di nampan yang Anita pegang dengan tatapan kesedihan. "Ayo duduk, Nak. Jangan berdiri terlalu lama," nasehat Anita. Wanita itu menuntun menantunya masuk ke dalam kamar dan duduk di atas sofa. Anita menyimpan makanan yang dibawanya di meja. "Makanlah, nanti bayimu kelaparan."


"Sepertinya Ayahmu itu sangat keukeuh jika cucunya laki-laki," ucap Anita kesal. Hampir setiap hari mereka berdebat tentang jenis kelamin cucu mereka. Anita yang sejak dulu berharap memiliki anak perempuan tentu bersemangat ingin memiliki cucu perempuan. Lain dengan Abellard yang berharap cucunya sebagai pengganti keberadaan Andrevan.


"Laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting itu cucu kita," tekan Abellard. 


Anita mencubitnya. "Berani berkilah kau, Yah! Kau membelikan mobil ini tentu karena berharap cucumu laki-laki, kan?" omel Anita. Melihat pertengkaran mertuanya membuat Firli terpancing untuk tertawa. Sejenak ia lupa jika merasa kesepian. Andai jika Andrean masih di sini, ia pasti ikut-ikutan berdebat dan membuat suasana semakin hangat.


Firli mengusap perutnya lagi. Ia merasa beruntung karena ia hidup dalam sebuah keluarga yang sangat menyayanginya dan menyambut hangat kedatangan anak dalam kandungannya. "Sydah jangan memulai pertengkaran, biarkan menantumu makan dengan lahap." Abellard dan Anita duduk mengapit Firli. Mereka memperhatikan bagaimana dengan lahapnya anak itu memakan makanan yang mereka suguhkan. 


"Ayah dan Bunda juga tolong ikut makan, ya?" pinta Firli. Abellard dan Anita mengangguk. Putra mereka juga mengatakan jika Firli makan harus selalu ditemani. Jika tidak begitu ia akan nekat tidak makan. 


"Bunda jadi ingat saat dulu mengandung suamimu," Anita mengawang. Ia mulai mengingat masa-masa berat di saat ia harus membagi perhatian antara kesehatan Andrevan dengan keadaan bayi dalam kandungannya saat itu. "Rean itu hampir setiap malam membuat Bunda mengidam ingin anggur. Sampai satu malam Ayah lupa menyuruh pelayan membeli anggur dan membuat Bunda kesal," cerita Anita.


"Sampai kau memukulku dengan buku tebal dan menendang pantatku," celetuk Abellard lagi-lagi membuat Firli tertawa. Rupanya sikap mertuanya tidak beda jauh dengan Firli dan Andrean. "Sejak dulu kau ini memang tidak hentinya meledekku," komentar Anita kesal.


"Benar, Bun. Andrean juga begitu. Bahkan sebelum pergi saja ia masih sempat meledek," adu Firli. 


Abellard tertawa. "Namanya juga Ayah dan anak, kalau beda itu artinya Bundamu main dengan tetangga," kelakar Abellard. 


Anita menyunggingkan sebelah bibirnya. "Kapan aku kenal dengan tetangga sebelah. Jangankan kenal, wajahnya saja tidak pernah aku lihat. Kalau wajah satpamnya aku ingat," timpal Anita. 


Abellard tertawa kencang. "Tidak ku sangka istriku mengidolakan satpam," ledeknya lagi hingga membuat Anita mencubitnya dengan gemas. Mereka berdua malam ini benar-benar sukses menghapus kesedihan Firli. Bahkan gadis itu sampai nyenyak tertidur setelah memakan camilannya. 


Anita mengusap rambut Firli. "Semoga kamu diberi kekuatan menjalani ini semua."


****😁😁😁😁


Author mau iklan lagi ya. Bagi yang sempat dan memiliki wp boleh mampir di karya author lain yang masih gress, "The Idol And My Baby" ceritanya tentang Bia, wanita yang berjuang membesarkan anaknya sendiri sementara Dira, Ayah kandung bayi itu justru menikmati hidup bahagian dengan wanita lain.


Kalau sulit nemu bisa cek IG author dan klik link https://linktr.ee/Elaramurako di sana. Nanti kalian akan terhubung dengan karya author yang lainnya. Klik The idol and My Baby lalu langsung terhubung ke wp**.