
Firli menghabiskan jus melon hanya dalam satu tegukan. Rean sampa kaget melihat istrinya begitu berapi-api hingga jus dingin saja ia teguk seperti orang kesurupan. Sebelum dirinya yang dimakan bulat-bulat lebih baik Rean mengusap punggung Firli hingga gadis itu tenang.
"Cerita pelan-pelan," ucap Rean sambil mengaitkan rambut panjang dan hitam Firli ke bahunya. Suasana di kantin masih sepi karena jam pelajaran masih berlanjut. Sebenarnya Rean paling tidak suka meninggalkan kegiatan belajarnya, hanya Firli membuatnya sangat khawatir.
"Jadi Firli dipanggil Ibu Helda ke ruang kepala sekolah, di sana ada Angie dan keluarganya. Angie yang Firli cerita waktu di taman itu loh," ceritanya. Andrean hanya mendengarkan saja sambil berusaha mencerna apa yang akan diungkapkan istrinya.
Tiba-tiba air mata Firli kembali mengalir, ia simpan gelas jusnya di atas meja kantin yang berwarna coklat kemudian menarik blazer seragam Andrean. Wajahnya ia dekatkan dengan dasi kemeja Rean yang berwarna hijau tua dengan garis putih.
"Ternyata Papanya Angie yang sering ia banggain ke sana sini itu, Bapaknya Firli." Tangan gadis itu meremas lengan blazer Andrean. Sementara suaminya menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan mulut agar dapat berpikir jernih.
Andrean memeluk istrinya sambil mengusap rambut Firli berkali-kali. Dia sebenarnya tak pernah dipertemukan dengan ayah mertuanya itu. Bunda dan mamah Firli memang saling mengenal sejak kuliah. Mamah Firli dan Bunda sama-sama berasal dari keluarga berada. Sudah jelas Bunda menikah dengan Ayah Abellard yang kaya raya meski dijodohkan. Sedang Mamah Firli terjebak cinta hingga kawin lari.
Karena menikah tanpa persetujuan orangtua mereka hidup lumayan sulit. Sejak bayi Firli harus ditinggal orang tuanya bekerja. Karena itu Bunda Anita menawarkan Firli diasuh bersama Andrean di rumah kemudian dijemput setelah Mamahnya pulang bekerja.
Bapak Firli tak pernah mengenal keluarga Freiz yang memang sangat tertutup dengan orang asing. Karena itu setiap akhir pekan jika Firli main ke rumah Andrean Bapak tak pernah tahu. Hal yang disyukuri Mamah Firli karena dengan begitu ia bisa menyembunyikan putrinya selama enam tahun ini.
"Lalu Bapak kamu gimana?" tanya Andrean. Firli mendongak wajah mereka begitu dekat hingga hidung mereka hanya berjarak 3 cm.
"Dia gak kenal sm Firli," jawabnya.
justru mendengar itu membuat Andrean puas. Selama ini tujuan keluarga Freiz memang menyembunyikan Firli dari Bapaknya. Karena itulah keputusan untuk menikahkan mereka diambil. Sekarang Firli dan Andrean secara hukum sudah menjadi suami istri setelah kemarin Ayah Abellard mendaftarkan pernikahan itu. Artinya Bapak Firli akan kehilangan hak asuhnya.
"Biarlah, lagipula selama ini juga dia gak mau nyari aku," ucap Firli lirih mencoba memenangkan dirinya.
Rean masih membelai rambut gadis itu. "Dia mencari kamu, tapi yang dia inginkan bukan anaknya. Namun apa yang akan anaknya dapatkan," ungkap Rean.
Firli menatapnya heran. Ia hapus air matanya dan siap-siap mendengar penjelasan Rean. "Dia tahu Mamah kamu meninggal. Dia ingin warisan yang Mamah kamu tinggalkan," tambahnya.
Seingat Firli ia memang tahu jika keluarga Mamahnya adalah priayi. Kakek dan Neneknya meninggal ketika Firli lulus SD. Saat itu Firli sudah menikah dengan Andrean.
"Ketika Kakek dan Nenekmu meninggal, dia mencari kamu. Namun tak ada satu orangpun yang mengungkap keberadaan kamu di keluarga ini. Ia mungkin juga tak menyangka Mamah memiliki hubungan akrab dengan keluarga Freiz," cerita Andrean.
"Setelah kamu dewasa harta itu akan diserahkan pihak bank padamu. Harta yang selama ini Bapak kamu inginkan," cerita Andrean.
Firli terdiam. Ingin rasanya ia percaya jika Bapak sangat menyayanginya. Namun mendengar ini Firli tahu jika ia tak berarti apapun untuk orang tuanya sendiri dibandingkan uang. Ingin rasanya Firli memaki, melihat laki-laki itu begitu membela Angie sementara ia tak peduli dengan anaknya sendiri.
"Wanita itu, aku sudah memeriksa latar belakangnya. Ia dan Bapakmu sudah lama berselingkuh. Kira-kira sejak kita kelas 3. Ayah juga tahu itu. Dulu dia atasanya Bapakmu di kantor. Sepertinya memang Bapak itu senang mencari wanita kaya," jelas Andrean. Firli mengangkat sebelah alisnya. Selama ini dia kira laki-laki itu adalah panutan. Bahkan meskipun di depan matanya Mama menyebut alasan Bapak meninggalkannya karena wanita lain, ia berusaha tak percaya.
"Kamu punya Ayah Abellard dan Bunda, memang mereka bukan orang tua?" tanya Andrean sambil tersenyum geli. Ia ingin memecahkan suasana penuh kesedihan diantara mereka.
"Ayah sama bunda itu kan orang tua kamu." Dengan gemas Firli mencubit pipi Rean. Pria mendesis kesakitan.
"Mereka lebih sayang sama kamu. Buktinya sedikit-sedikit Rean kamu harus begini sama Firli, begitu sama Firli. Kapan pernah bilang Firli harus begini sama Rean," protesnya. Dilihat begini wajah Rean sangat lucu.
"Jadi kamu cemburu?" tanya Firli.
Rean menggeleng. "Gak apa-apa. Aku nurut sama Ayah dan Bunda. Tinggal aku bikin kaku nurut sama aku. Jadi adil, kan?" godanya.
Keduanya tertawa geli bersama sambil saling berpelukan sampai beberapa penjaga kantin menatap iri pada keduanya.
"Apa-apaan ini?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di sisi lain meja. Rean dan Firli menatapnya kaget kemudian tersenyum lega karena tahu itu Gama.
"Memang kamu aja yang bisa nempel-nempel sama perempuan. Aku juga, dong," sindir Rean.
Gama menggeleng-geleng. "Dia masih teman statusnya," kilah Gama.
Firli menatap kedua laki-laki itu bergantian. Jadi Rean sama Gama teman, pikir Firli. "Ini mau peluk-pelukan juga sudah sah," serang Rean membuat Gama murung.
"Jadi Gama kenal Andrean?" tanya Firli.
"Kan Rean sudah bilang dia teman SMP waktu di London," cerita Rean. Firli menoyor jidatnya sendiri. Rean melepaskan pelukannya. "Dia katanya naksir temanmu," bocor Rean membuat Gama salah tingkah.
"Nana," tebak Firli sambil menunjuk dan menatap nakal ke arah Gama. Laki-laki itu mengangguk sambil menunduk. "Nanti Firli comblangin," tambahnya membuat Gama terlihat bersemangat.
Setelah itu mereka banyak berbicang. Gama sempat bercerita tentang ketidak percayaannya jika Andrean sudah menikah. hingga akhirnya ia melihat Firli secara langsung ketika kelas satu.
"Jadi kamu sering mata-matain Firli?" tanya Firli kesal.
Andrean dan Gama malah tertawa. "Andrean tuh, maksa banget setiap nelpon nanya istri aku lagi ngapain. Kalau gak di jawab ngomel-ngomel," jelas Gama.
Firli mencubit pinggang Rean. Laki-laki itu balas dengan menggelitiknya. "Tanggung jawab kalian, gara-gara mata-matain Firli malah kepincut temannya," aku Gama.
Terlihat sekali ia sudah tidak sabar ingin cintanya terbalaskan. Namun Nana bukan wanita yang mudah, justru itu semakin membuat Gama menggila. "Apalagi pas di acara ulang tahun si Rai. Ya ampun cantiknya," ucap dia lagi gemas sambil myengir-nyengir seperti orang gila.