Highschool Wife

Highschool Wife
extra part 3



"Apa-apaan sih ini?" tanya Firli ketika Andrean menutup matanya dengan selembar kain lalu menuntunnya ke suatu tempat. Suaminya itu berkata jika hari ini ia ingin ditemani untuk pertemuan bisnis. Nyatanya, sebelum turun dari mobil mata Firli sudah ditutupi kain.


"Ikut saja. Percaya sama suami kamu ini," ucap Andrean. Mereka menaiki lift dan Firli hanya bisa berpegangan pada suaminya saking kaget beberapa kali merasakan guncangan lift dengan mata tertutup.


Akhirnya mereka tiba di tempat yang sudah Andrean persiapkan. Barulah ia mulai membuka penutup mata Firli. Alangkah kagetnya wanita itu, melihat sebuah ruangan dengan meja makan yang sudah ditata rapi makanan di atasnya juga lilin-lilin di atas meja.


"Wah!" seru Firli takjub.


"Ayo duduk," ajak Andrean sambil menuntun istrinya agar duduk di atas kursi makan mereka masing-masing.


Ditemani nyala lampu lilin dan wanginya, mereka memulai ritual makan malam. Makanan mewah dari pembuka hingga hidangan penutup mereka santap. Tak lupa sebotol anggur Henri Jayer Cros Parantoux menemani indahnya ruangan makan privat malam itu.


"Masih mau makan?" tawar Andrean.


Firli menggeleng. "Kamu ini, mentang-mentang istri kamu gembul. Makan saja sampai ditawari dua putaran. Gak, sekali saja. Aku mau diet."


Andrean terkekeh. "Kamu kenapa belakangan koar-koar diet terus?" tanyanya.


"Di kantor pasti banyak wanita cantik. Aku gak mau ya, kalau sampai terjadi seperti di televisi. Istrinya mengeluh ku menangis karena suaminya punya simpanan tapi bukan deposito." Firli menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Andrean mengangguk saja. Istrinya itu kalau punya tekad di awal-awal memang keras. Kalau sudah malas, nanti juga berhenti sendiri.


Namun, Firli masih merasakan keanehan. "Ada apa tiba-tiba mengajakku makan malam? Hadiah sebelum wisuda?" tanyanya.


Andrean merogoh sakunya. Ada sebuah kotak kecil di sana. Kemudian, Andrean bangun dan mendekati istrinya. Di depan wanita itu, Rean berlutut.


"Sudah lama aku pikirkan ini. Dulu, aku pikir ini tak perlu. Namun, aku salah. Aku ingin melakukannya dengan benar seperti pria lain."


"Apa?" tanya Firli bingung.


Andrean membuka kotak kecil berwarna merah itu. Isinya sebuah cincin dengan bentuk mahkota yang cantik. "Firlita Edwina, maukah kamu menikah denganku dan hidup denganku selamanya?" tanya Andrean. Ia tak percaya, melamar istri sendiri saja jantungnya berdebar hingga seperti ini.


Firli terdiam. Dia sama gemetarannya. Lebih dari itu, ia terharu. Kadang jika melihat drama Korea, ia ingin merasakan dilamar seperti pemeran utama wanita di drama. Namun, ia pikir itu tidak mungkin karena ia sudah menikah dan punya dua anak.


"Aku mau," jawab Firli dengan bibir yang gemetaran dan tangan yang dingin saking gugupnya.


Andrean tersenyum. Ia mengambil cincin dan memasangkannya di jari manis kanan Firli. Mereka berpelukan dan sesekali bibir mereka bertautan untuk bertukar rasa cinta.


Malam yang indah dengan pemandangan kerlipan lampu di bawah sana. Keduanya menikmati saat-saat romantis sambil mendengarkan penampilan grup biola. Tangan Andrean memegang tangan Firli dengan erat. Mata keduanya saling tatap dan dimabuk asmara.


"Aku mencintaimu," ucap Andrean lalu mengecup punggung tangan Firli.


"Aku juga," timpal Firli sambil berbisik.


Keduanya mengangkat gelas wine lalu bersulang. Mereka meneguk minuman merah itu lalu tertawa dan bertukar cerita. "Aku merasa sempurna malam ini," ucap Firli.


Andrean mengangguk. "Besok akan lebih lagi. Aku sudah mempersiapkan semuanya," timpal Andrean.


🌿🌿🌿


Pelaminan yang dipenuhi bunga, lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan juga pohon-pohon imitasi yang menghias ruangan itu. Semua yang Firli bayangkan dan tulis dalam novelnya jadi kenyataan. Ditambah keberadaan keluarga dan sahabat-sahabatnya di sana.


Firli diam di sebuah ruangan tunggu. Ia mengenakan gaun berekor panjang tanpa lengan dan tudung kepala yang panjangnya melebihi rok. Sebuah rangkaian bunga ada dalam genggamannya.


"Bapak?" panggil Firli melihat pria yang mengasuhnya saat kecil dulu mengenakan jas.


"Andrean minta Bapak mengarmu ke altar hari ini," jelasnya.


Mata Firli ikut berkaca-kaca. Ia memeluk Bapaknya. Impian yang lebih penting dari semuanya, merasakan diantar oleh ayah hingga ke genggaman calon suami. Firli ingin merasakan itu sejak dulu. Kini, semua jadi kenyataan.


Handoko memegang tangan Firli. Ditemani lagu pernikahan, ia menuntun Firli berjalan di atas karpet putih yang ditaburi bunga mawar. Di depan sana, Andrean menunggu mengenakan jas putih dan sebatang bunga mawar di sakunya.


Langkah demi langkah akhirnya ia tiba di depan pria yang akan menjadi suaminya sekali lagi. Pernikahan pertama saat mereka sebelas tahun, pernikahan ke dua saat mereka tujuh belas tahun dan itu hanya menandatangani dokumen pernikahan. Kini, semua bagian dari pernikahan mereka lewati dengan cara yang seharusnya.


"Andrean, aku serahkan putriku padamu agar kau jaga dan sayangi seumur hidupnya," ikrar Handoko. Andrean mengangguk. Ia ulurkan tangan untuk menyambut Firli.


Handoko meraih tangan Firli dan memberikannya pada Andrean. "Pergilah kalian menuju hidup baru yang penuh kebahagiaan," doa Handoko.


Andrean dan Firli hari itu mengucap kembali janji pernikahan mereka. Keduanya saling memasangkan cincin di jari manis, memotong kue dan saling menyuapi. Bukan hanya itu, Firli juga melempar buket bunga pada para gadis yang datang di pernikahannya hari itu.


"Mamah, Papah, selamat hari pernikahan!" seru Rio dan Gio sambil memeluk kedua orangtuanya.


"Mamah cantik sekali," puji Gio sambil mengusap ball gown putih mamahnya.


"Gio juga tampan sekali, mirip dengan Papah," balas Firli.


"Kalau Rio?" tanya Rio tak mau kalah. Firli tersenyum. Ia kecup pipi kedua putranya bergantian. "Anak mamah keduanya sama-sama tampan. Habis mirip Papah semua," jawab Firli.


"Kalau gitu, kita mau punya adik perempuan biar mirip, Mamah," pinta Rio membuat Firli terbelalak.


Sementara itu, Andrean tersenyum penuh kemenangan. Kedua anaknya sangat menurut jika dinasehati. Firli menatap Andrean dan suaminya itu langsung memalingkan pandangan.


"Kata siapa ingin punya adik perempuan?" tanya Firli curiga.


"Papah bilang kalau punya adik perempuan pasti mirip Mamah, lucu," jawab Gio dengan polosnya.


Andrean menepuk kening. Sementara Firli mengembuskan napas dengan berat. "Iya, nanti kalian akan punya adik perempuan yang lucu. Tapi, janji kalian harus jaga, ya?"


Rio dan Gio mengangguk. Kedua pengantin itu lalu sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu. Termasuk dari sahabat-sahabatnya.


"Wah, hadiah ulangtahun pernikahan, malah hari pernikahan lagi," seru Gama.


Andrean tertawa.


"Kalian sudah nikah tiga kali, masa kami belum," keluh Misyel sambil melirik ke arah Elsa.


"Perempuan menunggu dilamar, bukan melamar!" protes Elsa.


Tawa terkembang diantara mereka. "Ada ucapan selamat dari Rai dan Briana. Mereka masih bulan madu," potong Gama.


"Mentang-mentang bulan madu, benar-benar mereka lakukan sebulan," protes Firli.


"Kamu gak tahu, ya? Mereka gak bisa kembali karena Briana dokter bilang kemungkinan hamil. Jadi harus menunggu sampai benar-benar bisa terlihat," jelas Nana.


Firli dan Andrean terlihat kaget. "Mereka selama bulan madu segiat apa sampai jadi begitu?" tanya Andrean dan Firli bingung.