
Firli berjalan kesana kemari bersama Ghea di sampingnya. Ia memeriksa setiap sudut kelas untuk menemukan perempuan yang membuat hidupnya terasa sengsara. Jika saja ia tak menganggap ide yang diberikan Andrean itu brilian, ia tak akan melakukannya. Benar, Firli berencana mencari Angie dan mengajaknya makan malam besok.
Tak seperti biasanya gadis itu tak bisa dicari kemana-mana. Angie biasanya akan berpetualang untuk sekedar tebar pesona dengan seisi penghuni sekolah. Untung saja ia cantik, jika tidak ingin rasanya melempar cermin ke wajahnya.
Akhirnya Firli sampai di kelas yang tidak jauh dari kelasnya. Ketika ia berusaha mengintip ke dalam kelas, Firli dikejutkan dengan wajah Rai di depannya. Firli kaget hingga hampir terjungkal. Untung saja Ghea dengan sigap menangkapnya.
"Ngapain di sini?" tanya Rai penasaran. Firli menggeleng. Ia masih berusaha mengintip ke dalam kelas itu. Namun Rai masih berusaha menghalangi. Firli tak mau kalah, ia mendorong tubuh Rai agar tak menghalangi pemandangannya. Firli ternyata tak bisa mengimbangi berat tubuh laki-laki itu. "Dengar gue tanya, gak?" tekan Rai.
"Gue nyari Angie," jawab Firli kesal. Lagipula bukannya Rai sedang marah, lalu kenapa sekarang malah mendekatinya? Justru itu membuat Firli menjadi marah padanya. Sikapnya membuat Firli bingung.
"Buat apa? Lo gak takut dia bully lo lagi?" nada bicara Rai meninggi. Jidat Firli tertekuk sambil menatap lurus ke arahnya. "Gue sekarang punya Gladis. Mungkin duli setiao hari bisa ngawasin lo. Sekarang gak, gue gak mau lo dilukai dia!'" omelnya.
Firli terdiam. Ia biarkan tangan Rai menyentuh pipinya dengan lembut. Perlahan perasaan yang dulu sempat tertidur kembali bangun. Jantung Firli berdebar dan ia yakin itu bukan karena penyakit. "Lo tetap adek gue. Gue gak mau lo disakiti siapapun," ucapnya lembut. Mata Rai berkaca-kaca dan memancing sesak di hati Firli. Ia tak menyangka Rai masih tetap sama.
"Rai," panggil Firli lirih. Ia memegang tangan Rai dengan mata yang mulai basah. "Maafin gue ya, gue gak mau kita berantem," ucapnya.
Rai mengangguk lalu membelai rambut gadis itu. "Gue yang harusnya minta maaf karena marah. Harusnya sebagai kakak gue ingetin lo, bukannya ngamuk-ngamuk gak jelas," ucap Rai. Ia tarik tangan Firli kemudian memeluknya. "Dengar, pokoknya jangan sampai berurusan sama Angie dan gengnya lagi," nasehat Rai. Firli mengangguk dalam pelukan sahabatnya itu.
"Iya Rai, Firli janji. Lagipula Firli kapok terus dibully," ucap Firli dengan wajah yakin.
Sementara Ghea menggeleng-geleng menyaksikan drama bukan keluarga yang terjadi di depannya. Ia senang melihat Firli dan Rai kembali akur meski sempat terpisah karena fitnah kejam penyihir Gladis. Namun Ia teringat akan sesuatu yang membuatnya terusik. Kemudian ia memisahkan Rai dan Firli yang masih berpelukan hingga keduanya menatap Ghea dengan heran.
"Rai, ingat loh. Nanti Gladis marah," nasehat Ghea membuat Rai dan Firli sama-sama tersadar jika yang keduanya lakukan itu salah. "Fir, ke kelas, yuk!" Ghea menarik Firli agar menjauh dari Rai.
Firli mengangguk. "Rai, Firli ke kelas dulu," pamitnya. Ia melambai pada Rai kemudian dibalas laki-laki itu. Firli tak bisa menyembunyikan rasa senangnya akibat bisa berdamai dengan Rai.
Setelah keduanya berada jauh dari Rai, Ghea mencubit lengan Firli dengan gemas hingga gadis itu memekik kesakitan.
"Lo gila ya? kalau sampai suamilo lihat bagaimana?" Ghea mengingatkan Firli akan kebodohan yang baru saja ia lakukan. Firli menoyor jidatnya sendiri. Hubungannya dengan Andrean mulai dekat, jika sampai Andrean lihat hubungan mereka pasti renggang. Firli tak mau itu terjadi. Ia sayang pada suaminya itu meski baru beberpa hari mereka kembali bersama.
"Sekarang ayo cari Angie!" ajak Ghea.
"Suami lo itu Tuan Muda Andrean, dia bilang suruh kita nyari Angie dan lo malah nurutin Rai. Lo mau jadi istri durhaka?" Ghea menunjukkan dukungannya untuk Andrean. Dia tak mau Firli menjadi budak cints Rai lagi dan terluka sementara Andrean tadi terlihat begitu mencintainya.
Firli berpikir sejenak. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu benar juga. "Ayo cari Angie!"
Keduanya kembali berjalan menyusuri setiap kelas. Rencana mereka bersambut. Di dekat koridor menuju halaman belakang keduanya berpapasan dengan Angie, Arlitha dan Bella. Firli dan Ghea langsung berkacak pinggang. Ia dekatin ketiga wanita itu
"Hai, Lady!" sapa Angie seperti biasa dengan senyum palsu seperti yang ia lakukan saat di kantin tadi.
"Orang tua gue mengundang keluarga lo makan malam besok di rumah sebagai tanda damai," ucap Firli dengan ketus.
Angie tersenyum puas. Ia mengangguk-angguk untuk mencerna kalimat Firli. "Tentu saya dan keluarga dengan senang hati datang ke rumah Lady," balasnya.
"Tak perlu gue kasih tahupun lo pasti dimana rumah keluarga Freiz," tambah Firli dengan sombongnya. Tanpa pamit dengan orang yang ia ajak bicara, Firli langsung melenggang pergi diikuti Ghea. Ia sangat puas bisa bertindak layaknya ratu sekolah ini.
Sementara itu Angie menarik napas panjang lalu menghembuskannya dalam sekaki hempasan. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai dan tangannya mengepal dengan kuat. Ingin rasanya ia membalas perlakuan Firli jika saja masa depannya tak dipertaruhkan. Keluarga Freiz menginvestasikan uang hampir di banyak sektor jasa dan barang termasuk pendidikan. Ia takut tak bisa melanjutkan kuliah ke universitas bergengsi hanya karena mengikuti amarahnya.
"Kenapa juga cewek jelek begitu bisa lahir di keluarga kaya sih!" gerutunya yang langsung dibalas anggukan Arlitha dan Bella.
"Sabar, Ngie. Sementara ini kita lepasin saja dia. Lebih baik lo konsen rebut hati laki-laki yang sama Rai di kantin tadi," ucap Arlitha yang langsung diiyakan Bella.
Angie tersenyum licik. "Jangan panggil gue Angie kalau gak bisa buat laki-laki itu bertekuk lutut di hadapan gue," tekannya.
Lain dengan Firli yang masih terlihat senang bisa berbuat semena-mena dengan Angie, Nana malah masih bingung dengan perasaannya. Sejak tadi ia membolak-balikan halaman buku yang sama tapi tak ada yang masuk ke dalam memorinya. Dalam pikiran ia hanya mengingat Gama. Belum lagi pagi sekali Gama sudah menunggunya di depan pintu masuk gedung sekolah lalu memberinya sebatang bunga lili putih. Nana tersenyum tanoa sadar ketika mengingat itu. Apa ia terima saja?
"Senyum kamu manis." Hampir saja Nana memukulkan buku di tangannya jika saja bukan melihat Gama yang bicara. Tak tahu sejak kapan laki-laki itu tiba-tiba duduk di sampingnya. Nana mengelus dadanya. "Bukan karena memikirkan laki-laki lain, kan?" tanya Gama.
Nana menggeleng.