Highschool Wife

Highschool Wife
Bisikan Iblis



"Bagaimana?" tanya Briana. Ia masih penasaran dengan nasib Andrean. 


Firli tersenyum. "Masih hidup. Memang kau tidak bertemu dengannya tadi?" tanya Firli. Hari ini Briana berangkat dari rumahnya sendiri setelah kedua orangtuanya kembali ke Indonesia. Papa Briana juga sudah mulai dipindahkan ke rumah sakit negeri di Bandung.


"Yah!" keluh Briana. Sepertinya ia sangat mengharapkan Firli akan menghabisi suaminya. "Padahal aku ingin memberikan dia pelajaran," ucap Briana jahil.


Firli mengankat sebelah alisnya. "Kau ini kenapa sangat ingin menjahili Andrean?" tanya Firli.


Briana nampak berpikir. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Karena dia termasuk golongan pria tampan kurang peka," jawab Briana.


Firli menepuk jidat. "Sepertinya Briana memiliki keinginan menguasai seluruh pria di dunia ini," batin Firli. Gadis itu cekikikan sendiri. Satu hal yang Firli syukuri, akhirnya Briana mulai dapat membereskan alat tulis sendiri walau beberapa masih belum masuk ke dalam tempat seharusnya. Ia bahkan menyimpan buku paket bersamaan buku tulis di dalam laci meja.


Dalam laci meja pelajar di sekolah Firli, ada beberapa sekat dengan ukuran yang berbeda disesuaikan dengan ukuran berbagai jenis alat tulis. "Mau makan?" tawar Firli. Briana mengangguk. Keduanya langsung berjalan ke luar kelas. Begitu turun dari tangga Briana sempat melihat pemandangan yang mengganggu matanya kemarin. 


"Lihat! Dia wanita yang kemarin?" tunjuk Briana. Firli menurunkan tangan gadis itu. "Kenapa?"


"Dia tukang bully. Dia dan Angie adalah Ratu di sekolah ini. Belum lagi Angie sedang diskors. Aku yakin Gladis semakin sok berkuasa," jawab Firli. 


Briana menggeleng-geleng. "Itukan dulu sebelum Briana ada." Sama sekali tidak Firli bayangkan sebelumnya, Briana berjalan mendekati Gladis. Begitu mereka bersebelahan, Briana langsung menyenggol sikut gadis itu hingga Gladis menubruk dinding koridor.


"Sialan!" umpat Gladis. Briana yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhi Gladis langsung berbalik dan memeletkan lidah lalu kabur. Firli geleng-geleng kepala lalu menepuk jidat. Ia ikut berlari menyusul Briana sementara Gladis mengumpat mereka dari kejauhan. 


Briana tertawa puas, begitu juga Firli. "Asli! Kau ini pemberani sekali!" Firli menepuk pundak Briana. 


"Dengar adik ipar! Jika kau menunduk di depan mereka, semakin kau ditindas. Sekali kau melawan, mereka semakin memperhitungkanmu," nasehat Briana. Firli mengangguk. Ia benar-benar kagum dengan gadis cantik itu. Walau Briana belum mandiri, tapi ia sangat kuat. Mungkin karena pernah menghadapi penyakit mematikan.


"Memang kau tidak takut?" tanya Firli.


"Saat organ hatiku rusak karena kanker, itu lebih menakutkan daripada menghadapi mereka," jawab Briana.


Firli menunduk. Setiap manusia pasti memiliki kesulitan hidup sendiri. "Kehilangan ibuku juga menakutkan. Mungkin karena ada Bunda dan Ayah yang melindungiku, aku jadi merasa harus selalu berlindung dan tidak berani bergerak sendiri. Aku lebih patuh pada orang lain. Bukan apa ... aku hanya takut ditinggalkan lagi. Aku selalu berpikir jika aku baik, mereka juga sama," ungkap Firli.


Briana menatap gadis itu dengan lirih. "Boleh aku tanya? Kenapa kamu benci Bapakmu?"


Firli menggigit ujung bibirnya. "Saat itu sebelum ulang tahunku yang ke sebelas, aku harap Bapak pulang. Melihatnya ada di pintu, aku senang bukan main. Namun setelah itu, justru ia pergi lagi dan tidak pernah kembali. Setiap hari aku hanya makan nasi putih karena Mamah mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar untuk makan nasi yang aku antarkan ke depan pintu kamar. Saat itu ingin rasanya aku menangis. Namun jika aku ikut tumbang, siapa yang akan menjaga Mamah," jawab Firli.


Tangan Briana mengepal mendengarnya. Bahkan di saat ada seorang ayah yang menjaga putrinya siang dan malam hingga jatuh sakit, ada ayah lain yang menelantarkan anaknya begitu saja. "Aku yakin Andrean akan menjadi ayah yang baik."


Firli menatap Briana. "Karena keadaan Revan, ia juga merasakan kekurangan kasih sayang sepertimu. Aku yakin kalian pasti akan menjadi orangtua yang sangat penyayang," jelas Briana. Firli mengangguk. "Karena itu, kau harus pastikan dia menjadi milikmu."


Firli tertawa. "Tentu dia milikku, dia suamiku," ucap Firli bangga.


Firli menepuk lengan Briana dengan keras. "Kau memikirkan apa?" tanya Firli dengan wajah merona.


Briana manyun. "Jangan bilang kalian belum melakukan 'itu' sekalipun?" todong Briana.


Firli mengedip-ngedipkan mata. "Itu apa?" tanya Firli heran.


Briana menepuk jidat. "Kasian sekali Tuan Muda Andrean memiliki istri sepolos bubur tanpa kacang," ledek Briana.


Gadis itu menarik Firli ke dekatnya dan membuat Firli bingung. "Dengar! Andrean itu sudah dewasa. Kamu pikir kalau Helen buka-bukaan di depannya dia akan tahan? Karena itu ... sebelum itu kau memang tidak ingin mendahului?" goda Briana.


Tatapan Firli menaja, hatinya mulai panas. "Apalagi jika pria sudah nyaman, akan terus menetap hingga menggila. Contohnya Bapakmu, mungkin." Briana semakin jadi.


"Memang Helen mendekati Rean seperti apa?" tanya Firli penasaran.


Briana nampak berpikir. "Aku sering kumpul dengan mereka walau sekolah di negara yang berbeda. Kau tahu sendirilah, lingkaran anak-anak bangsawan. Setiap kali kita jalan-jalan bersama, Helen hanya akan hadir jika ada Andrean. Ia juga masuk di klub yang sama. Dia sering memaksa duduk di samping Rean dan aku pernah melihat Helen sengaja membuka kancing kemejanya di depan Rean. Yah, aku tidak tahu bagaimana Rean menanggapinya," jawab Briana.


Firli menendang pot di sisi koridor hingga Briana sendiri kaget mendengar suara pot itu jatuh hingga pecah. "Wanita itu benar-benar!"


Briana melingkarkan lengannya di leher Firli. Ia sudah bersiap membisikan nasehat sesatnya. "Lekas jadikan dia milikmu. Kau tahu, mungkin bayi bisa mengikat Andrean."


Firli menggeleng. "Aku masih sekolah, Bri!" tolak Firli.


"Lalu kau rela Helen memberikan anak lebih dulu?" pancing Briana. Firli menggeleng. Tentu ia tidak bisa membiarkan statusnya sebagai istri Rean diambil begitu saja.


Firli menatap ke arah lapangan tengah. Rean tengah berjalan bersama Gama ke arah mereka. Melihat Firli dari kejauhan, Rean melambaikan tangan dan berlari kecil ke arah Firli.


"Briana, bagaimana menggoda suami agar mau pada kita?" tanya Firli.


Briana menepuk jidat. "Mana ku tahu, pacaran saja terakhir kali enam tahun lalu," batin Briana. Ia menggaruk jidat dan mengandalkan kemampuannya membaca novel romansa. "Jika kalian berduaan, menempel padanya seperti ulat dengan baju seksi," jawab Briana.


Firli mengangguk. Ia berlari ke arah Andrean hingga mereka bertemu, Firli memeluk erat suaminya. Andrean mengusap kening Firli dan tak lama kaget karena Firli tiba-tiba mengecup bibirnya. "Ada apa ini?" tanya Andrean bingung.


"Jadikan aku milikmu," ucap Firli.


Rean mengerutkan jidat. Ia berpaling ke belakang istrinya dan melihat Briana berdiri di lantai koridor. Ditatap Rean, Brian kontan berbalik memalingkan wajah. "Pasti dia mengatakan yang macam-macam lagi," batin Andrean.


Maaf kemarin belum sempat up 🙏 karena author sedang ada tugas lapangan. Jangan lupa follow IG author : digi8saikai_nha untuk mengintip karya author yang lainnya.