
"Ghea mana?" tanya Misyel ketika ia baru bangun tidur dan melihat semua sudah berkumpul kecuali Ghea, Firli dan Andrean.
"Pagi sekalia katanya ingin lari pagi," jawab Elsa. Misyel hanya mengangguk.
"Sepertinya Firli masih demam. Tadi malam dia bahkan ketiduran di punggung Andrean. Mungkin stress akibat ujian," komentar Nana. Gama menyingkap rambut Nana yang hampir terurai menyentuh piring roti bakar yang sedang Nana santap.
Tiba-tiba mata Elsa jahil menatap Rai yang sedang terpaku melihat ke arah Briana. "Sudah Rai, pepet saja langsung," seru Elsa sambil menepuk pundak pria itu. Jelas Rai kaget bukan main. Ketika sadar apa yang dimaksud Elsa, Rai langsung bergidik.
"Dia bukan tipeku," jawab Rai sambil menyobek sebagian roti bakar miliknya lalu menyuap cepat potongan itu.
Lain dengan Briana yang nampak biasa saja. "Dia memang selalu jual mahal. Mungkin karena selama setahun ini aku tolak," celoteh Briana.
Kali ini Rai tidak ingin kalah. "Sejak satu tahun lalu bahkan hingga hari ini, kau itu tetap bukan tipeku," tegas Rai.
"Sampai hari ini? Artinya ke depannya dia tipemu, donk?" goda Gama. Mendengar itu jelas Rai tidak bisa berkutik. Tiba-tiba ponsel Rai berbunyi, ada pesan dari wanita yang pernah singgah di hatinya. Gladis meminta tolong untuk mengantarnya ke rumah sakit. Belakangan tekanan darah Gladis memang menurub sehingga mudah pusing. Jujur Rai khawatir.
Maaf, aku sedang di luar kota. Pulang dari sini, aku akan mengantarmu.
Rai membalas pesan Gladis dan di waktu bersamaan Briana melihatnya. Gadis itu menelan ludah kemudian berpaling dan berpura-pura santai menikmati roti di atas piringnya. "Sial! Kenapa aku kesal?" batin Briana. Ia melirik ke arah Rai dan menemukan pria itu sesekali tersenyum membalas pesan.
"Kenapa tidak balikan saja," protes Briana. Rai melirik gadis itu tajam. "Kelihatannya kalian masih serasi."
"Gladis terlalu buruk untukmu, jangan!" nasehat Misyel.
"Dia berubah," ucap Rai pendek lalu meminum jus apel yang ia buat sendiri. Briana menjatuhkan pisau dan garpu ke atas piring hingga bunyinya membuat kaget seisi ruang makan resort itu.
"Aku mau susul Ghea lari pagi!" ucapnya lalu berjalan keluar lewat pintu kaca yang dibuka dengan cara digeser.
Elsa menatap Briana dan Rai bergantian. "Yang satu jual mahal, yang satu tidak peka," komentarnya. Misyel menatap Elsa heran.
Disela pembicaraan itu, tiba-tiba Andrean datang. Hanya Firli belum terlihat. Jelas sekali di matanya, pria itu kurang tidur. "Sarapan dulu. Rai buatkan roti dan jus," tawar Gama. Andrean mengangguk.
"Firli masih panas?" tanya Nana lagi. Kembali anggukkan kepala yang Rean perlihatkan.
"Semalaman aku sampai tidak bisa tidur. Ia berkali-kali ingin muntah dan mengeluh badannya sakit. Suhu tubuhnya juga tinggi. Sepertinya aku harus membawa Firli ke rumah sakit," jawab Andrean.
Mendengar itu membuat Nana dan Elsa khawatir. Mereka bangkit lalu berjalan menuju kamar tempat Firli dan Andrean tidur. Firli terlihat lemas setengah terbaring di atas tempat tidur.
"Kamu semakin demam, ya? Tadi malam kenapa ikut-ikutan duduk di luar?" tanya Elsa. Ia duduk di samping tempat tidur. Firli hanya menggeleng. "Panasnya tidak seberapa, hanya mual dan tidak enak perut," jawab Firli.
"Masuk angin itu," Nana menimpali. Tidak lama Andrean datang membawa sebuah nampan dengan roti dan jus apel. Ia suguhkan untuk istrinya.
"Suapi, ya?" pinta Firli manja. Andrean menurut saja. Apapun asal Firli kembali sembuh. Acara bulan madu kali ini gagal bukan hanya karena teman-temannya ikut tapi juga kesehatan Firli.
Melihat pasangan itu terlihat mesra membuat Nana dan Elsa nyengir kuda. "Aku juga ingin punya suami begini," komentar Nana.
Firli menelan rotinya. Ia tersenyum jahil. "Ini karena aku sedang sakit saja. Kalau sehat, malah sebaliknya. Dia yang minta disuapi," ucap Firli sambil mengusap pipi Andrean. Kontan Rean tersenyum malu.
***
Firli duduk di teras seraya memeluk boneka beruangnya. Sementara Andrean sibuk memasukan koper ke dalam bagasi. Para pria melakukan pekerjaan berat itu dan Nana sibuk menjadi mandor.
Firli bangkit. Melihat gadis itu berdiri kontan Andrean langsung terkejut. Niatnya melarang Firli takut gadis itu jatuh, justru keadaan malah sebaliknya. Firli baik-baik saja, justru saat bangun ia kaget karena tiba-tiba Ghea ambruk di depannya. Syukur Firli sempat menangkap kepala Ghea sehingga tidak terbentur ke permukaan.
Karena keadaan itu, semua orang panik. Alih-alih mengkhawatirkan Firli, mereka lebih fokus pada Ghea. Justru Firli mendadak kuat sendiri melihat keadaan sahabatnya.
"Dia tidak salah makan, kan?" tanya Firli saat mereka sudah duduk di depan ruang pemeriksaan.
Nana menggeleng. Jika sarapan bermasalah, tentu mereka semua ikut pingsan. Karena darurat, Ghea dilarikan ke rumah sakit terdekat di Kota Serang.
"Padahal Ghea baik-baik saja tadi," Elsa bersandar di tembok. Ia melihat ke arah pintu ruang pemeriksaan.
Tidak lama pintu ruangan itu terbuka. Dokter terlihat keluar dengan seorang perawat. "Apa ada keluarganya?" tanya dokter. Tidak ada seorangpun yang mengangguk. "Apa pasien punya suami?" lagi-lagi gelengan kepala ditunjukkan geng itu.
"Maaf dokter, karena kami tinggal jauh dari sini, bisakah memberitahukan pada kami saja keadaanya. Biar kami bisa menjelaskan pada orangtuanya," pinta Andrean.
Dokter menggeleng. "Maaf ini privasi. Kami harus menjaganya. Tolong sampaikan pada orangtuanya agar hadir ke sini," tekan dokter tersebut. Setelah Andrean mengangguk dokter meninggalkan ruangan.
Mereka langsung menelpon orangtua Ghea. Butuh empat jam hingga orangtua gadis itu datang. Firli bahkan sudah bersandar lemas di bahu Andrean. Rean sempat memeriksakan Firli syukur, kata dokter Firli hanya stress dan kelelahan. Pantas karena selama ujian sudah harus menghafal, ia juga harus melayani kebutuhan Andrean.
Selesai berbicara dengan dokter, orangtua Ghea keluar dari ruangan. Mereka nampak kesal. "Diantara kalian siapa pacar anak saya?" tanya Papa Ghea menunjuk satu per satu pria di sana.
Kontan tidak ada satupun yang mengiyakan. Lagipula Ghea sendiri bilang tidak jadian dengan Evano.
"Lalu anak saya pacaran dengan siapa?" tanya Papa Ghea lagi.
Benar kata Nana, Papa Ghea menyeramkan. "Pantas saja dia setahun belakangan bertingkah aneh. Dia jadi sering dandan dan berpakaian feminin. Rupanya ia berani pacaran," keluh Mama Ghea. Jelas raut kecewa di wajahnya.
"Tolong katakan pada saya, pacarnya dimana?" tanya Papa Ghea lagi.
"Tapi Ghea bilang ia tidak pacaran dengan Evano, Oom," jawab Elsa bingung.
"Lantas yang menghamili anak saya siapa?" tanya Papa Ghea membuat teman-teman putrinya kaget bukan main.
"Tidak mungkin, Oom," kilah Nana. Ia tahu Ghea tidak akan melakukan hal seburuk itu.
"Sudah empat bulan, lho. Mana mungkin kalian yang dekat dengan dia tidak tahu sama sekali dia dekat dengan pria mana?" Mama Ghea mulai histeris. Ia bahkan mulai menangis dan tubuhnya mulai melemas.
Firli mencoba menenangkan Mama Ghea. Papa Ghea tidak jauh beda. Ia bahkan menunduk sambil mengusap wajah.
"Dasar Evano! Benar kata orang, dia memang ********!" Pekik Misyel.
"Oom, biar kami menyeret anak itu ke rumah Oom. Namun kami minta jangan marahi Ghea. Kasian dia. Evano lebih pantas untuk disalahkan," timpal Rai.
Nana meneguk ludahnya. Ia sempat mengintip Ghea yang terbaring di dalam ruangan dan masih tertidur pulas. Belakangan ini dia sering olahraga berat. Dia juga lebih tertutup dari biasanya. Nana menepuk dadanya yang sesak. "Kamu kenapa bohong?" batin Nana. Firli dan Elsa tidak jauh merasa kecewanya. Apalagi Elsa yang dimintai Ghea belajar berdandan dan memilih pakaian. Ia jauh lebih merasa bersalah.