Highschool Wife

Highschool Wife
Hidup Baru



Ujian hidup bukan hanya ada di kehidupan nyata, tetapi juga di sekolah. Mata Briana masih terlihat bengkak karena menangis seharian. Namun pagi ini, dia harus kembali ke sekolah untuk ujian kelulusan. Jika ingin egois, Briana lebih memilih untuk ikut mati bersama tunangannya. Namun ia punya keluarga, Papa dan juga Mamanya yang kini menyimpan harapan agar suatu hari nanti Briana bisa mengembalikan keadaan ekonomi keluarga mereka.


Beberapa kali Briana melenguh. Di tangannya ada sebuah tag yang berisi kartu ujian. Kartu yang kodenya harus di tap ke mesin absen ujian. Masih pukul sembilan, jam ujian Briana akan dimulai sekitar tiga puluh menit lagi.


"Makan!" Seseorang mengasongkannya sepotong sandwich. Briana mendongak dan melihat wajah pria yang selama ini sering kabur setiap melihatnya. Senyum tipis terkembang di bibir Briana. Sangat lucu karena kali ini pria itu tiba-tiba mendekat dan memberikan sepotong makanan.


"Aku tidak lapar," jawab Briana. Dia masih menjaga harga dirinya.


Rai mendengus. "Aku dengar jelas suara perutmu," ledeknya. Briana manyun, akhirnya ia rebut sandwich yang diasongkan Rai.


"Masih lama." Rai melihat jam tangannya. Briana mengangguk sambil menggigit dengan lahap sandwich pemberian Rai. Pria itu hampir tersedak karena heran melihat Briana mampu mengigit setengah bagian sandwich hanya dalam sekali gigit.


"Makannya pelan-pelan," nasehat Briana. Padahal dirinya yang justru makan tergesa-gesa.


Rai membuka botol minumnya lalu meneguk beberapa kali air di dalam botol. Setelah itu, ia kembali menutup botol itu dan menyimpannya di sisi kiri kursi.


"Matamu bengkak," ucap Rai setelah rasa tidak enak di tenggorokannya mereda.


Briana mengangguk. "Kenapa? Kau kecewa melihatki tidak cantik lagi?" timpal gadis itu.


Rai menggerak-gerakkan dua telapak tangannya ke kanan dan kiri. "Bukan itu. Kenapa kau ini selalu salah paham padaku. Lagipula menurutku kau tidak cantik," ralat Rai.


Briana manyun sambil menatapnya tajam. "Jadi aku jelek?" Briana berkacak pinggang. Melihat itu Rai merasa seram juga. Ia menjadi ciut lalu menggeleng. "Iya, kau cantik," ucap Rai terpaksa.


Barulah Briana kembali mendingin. Rai menatap lurus ke depannya. Ada pohon cemara yang berbaris rapih di samping koridor untuk menghalangi cahaya matahari yang terlalu silau.


"Aku punya seorang adik perempuan. Dia lucu sekali. Saat itu aku masih SMP dan dia masih SD. Namun dia tidak seperti anak lainnya," cerita Rai.


Briana menatap Rai heran. Ia mulai tertarik untuk mendengarkan cerita pria itu. "Sejak lahir dia sakit. Sehingga ia tidak bisa keluar rumah. Bahkan tidak boleh terlalu lelah. Setiap hari dia hanya menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Namanya Raya," Rai mengawang dan memgingat wajah adik kecilnya.


"Suatu hari aku datang ke kamarnya untuk membacakan buku dan memperlihatkan foto-foto yang aku ambil. Ia terlihat senang walau hanya meluhat dunia luar dari layar kamera. Sampai tiba-tiba dia bilang memiliku satu keinginan. Ia ingin menerbangkan layang-layang."


Briana menatap Rai iba. Ia bisa merasakan perasaan itu juga muncul setiap kali ia melihat Revan di rumah sakit.


Rai menghembuskan napas berat. Ia meneguk ludahnya seakan mengingat hal itu begitu perih di ulu hati. "Malam harinya dia pingsan. Keadaannya semakin menurun. Saat itu aku ingin memaki diriku sendiri. Semua itu salahku. Lalu pagi harinya, adikku meninggal. Kau bisa bayangkan bagaimana aku membenci diriku saat itu. Aku merasa jika akulah yang membunuhnya. Jika saja aku tidak membawanya bermain layangan, mungkin ia masih tetap ada bersama kami."


Briana bingung bagaimana ia harus menimpali. Walau mereka berada di posisi yang sama, tapi rasa kehilangan Rai tentu lebih besar. Karena mereka keluarga sesungguhnya.


Rain menghela napas. "Kamu tahu apa yang membuat aku akhirnya memaafkan diriku sendiri?" tanya Rai. Briana menggeleng. "Jika aku tidak mengajaknya bermain layangan saat itu, mungkin seumur hidup keinginananya tidak pernah terpenuhi. Lalu aku yakinkan diriku sendiri saat melihat wajahnya yang tersenyum ketika menghembuskan napas terakhir. Dia bahagia. Akhirnya aku sadar, ia pergi bukan karena lelah. Dia pergi karena apa yang paling ia inginkan dalam hidupnya terpenuhi. Dan aku bahagia karena bisa mewujudkannya," jawab Rai.


Briana tersenyum. Ia melihat cerminan dirinya pada Rai. Hari itu sebelum ia pindah ke Bandung, ia sempat datang menjenguk Revan. Saat itu ia banyak bercerita dan tiba-tiba Revan memegang tangannya. Briana ingat apa yang ia katakan pada Revan saat itu, "Aku ingin menikah denganmu."


Saat itu Briana melihat Revan tersenyum. Mengingat itu sedikit rasa sakitnya mulai terobati. Saat itu tanpa sadar Briana sudah mengabulkan keinginan Revan, menerimanya sebagai calon suami.


Air mata Briana kembali mengalir. "Revan," panggil Briana lirih sambil mengusap dadanya. Rai meraih sapu tangan di dalam tas. Ia usap air mata Briana dengan sapu tangan itu.


"Tidak apa jika kau masih ingin menangis. Saat adikku pergi, aku juga menangis. Apa salahnya," ucap Rai. Briana mengangguk.


Sementara itu tangan Andrean digenggam oleh Firli. Dia menatap Briana dengan iba dari kejauhan. "Bahkan kekasihnya saja ia tinggalkan begitu saja. Kenapa pria tidak bertanggung jawab itu harus jadi kakakku!" ucap Andrean.


Firli menepuk bahu Andrean. "Jangan berkata seperti itu. Aku yakin Kak Revan juga tidak ingin semua berakhir seperti itu," tukas Firli.


Rean menatap Firli kesal. "Kalau bukan karena dia, kita tidak akan menikah terlalu muda," protes Andrean.


Firli manyun. "Jadi kamu menyesal?" tanya Firli.


Andrean menggeleng. "Satu-satunya hal yang paling membuatku bahagia karena ulah kakakku adalah menikahi kamu," jawab Andrean.


Ia masih memperhatikan Rai dan Briana. Sejenak bebannya berkurang melihat Briana mulai makan dengan lahap. Tentu ia harus hidup lebih baik dan mendapatkan pria yang bisa menjaganya. Hidup harus berjalan meskipun salah satu dari kita pergi. Karena kehilangan terasa sakit karena belum terbiasa.


"Jika aku bisa menitipkan Briana pada orang lain, aku pikir Rai orang paling tepat," ucap Andrean.


Firli mengangkat sebelah alisnya. "Jadi bukannya karena kamu takut dia merebutku?" pancing Firli.


Rean menatapnya kesal. "Padahal aku sedang sedih, tapi kamu malah memaksaku terus bercanda. Orang lain akan mengataiku gila," protes Andrean sambil mencubit gemas pipi Firli.