Highschool Wife

Highschool Wife
Makan malam



Firli berjalan bolak-balik di kamarnya sementara Andrean masih memperhatikan istrinya yang tak lebih sama seperti setrika. Gadis itu sudah berdandan rapi mengenakan gaun putih dengan rok selutut dan lengan pendek. Sudah sejak satu jam yang lalu Bunda Anita membantunya menata rambut hingga rambut gadis itu memili gelombang di bagian bawahnya. Firli nampak gugup sekali hingga beberapa kali mengelilingi ruang tamu di rumah utama. Lain dengan Andrean yang masih terlihat cuek duduk di sofa putih ruangan besar itu sambil bersandar. Padahal hari ini Andrean sangat tampan mengenakan kemeja krem dengan corak abu-abu berbentuk belah ketupat serta celana putih.


"Lady, tamu yang anda tunggu telah datang," seorang pelayan datang memberi tahunya tentang kedatangan orang yang sedari tadi Firli tunggu. Gadis itu tersenyum licik kemudian berjalan menuju pintu utama diikuti Andrean di belakangnya. Begitu sadar Andrean mengikutinya, Firli langsung berhenti dan membiarkan Rean berjalan lebih dulu. Laki-laki itu memegang tangannya dan memberi tanda agar mereka berjalan bersama.


Benar saja, Angie serta ibu dan ayahnya - yang ternyata Bapak Filri - sudah berada di depan pintu masuk. Angie nampak kaget melihat Andrean ada di sana memegang tangan Firli dan itu membuatnya merasa tidak senang. "Silahkan masuk," ucap Firli sambil menunjuk jalan menuju ruang makan umum yang biasa digunakan untuk makan dengan tamu. Sementara ruang makan keluarga berada di paviliun yang dekat dengan paviliun tempat Firli tinggal dan rumah utama.


Andrean berjalan dan menyapa satu per satu keluarga Angie. Ia hanya menunduk tanda hormat pada Angie dan ibunya namun memberi salam pada ayahnya. Lain dengan Firli yang hanya memberi senyuman kecil. Keduanya menuntun keluarga itu menunju ruang makan yang berada di pintu kanan rumah utama. Ruang makan itu luas dan terhubung langsung dengan dapur. Mejanya berbetuk persegi panjang berwarna hitam senada dengan kursi mewah yang mengelilinginya. Sementara sisi panjang ruangan dihiasi jendela kaca besar dengan gorden putih yang salah satu sisi menghadap langsung ke kolam renang dan sisi lain menghadap ke taman kecil yang memisahkan halaman dengan bangunan rumah.


Andrean mempersilahkan keluarga itu duduk di kursi yang berada di sisi panjang meja sebelah kanan sementara Firli dan Andrean duduk di sisi panjang sebelah kiri menyisakan satu tempat duduk paling dekat ke kursi utama untuk Bunda Anita. Kursi besar di sisi lebar meja adalah miliki Ayah Abellard.


"Rumah anda sangat nyaman, Lady. Saya Magdalena dan ini suami saya Handoko " puji ibu Angie sambil mengenalkan diri.


"Terima kasih. Saya Firlita Freiz dan ini suami saya Andrean Freiz," mendengar Firli menyebut namanya membuat Ayah Angie kaget hingga terlihat jelas tangannya bergetar. Sepertinya ia baru sadar jika anak gadis yang berurusan dengan putri tirinya adalah anak kandungnya sendiri.


"Suami?" tanya Magdalena terdengar aneh mendengar status Firli dan Andrean sementara Angie tak bisa menahan rasa kesalnya hingga napasnya naik turun dengan cepat.


Andrean memperlihatkan cicin di jarinya dan jari Firli. "Kami sudah menikah sejak usia sebelas tahun. Kemarin usia kami sudah memasuki usia ke tujuh belas sehingga pernikahan kami legal secara hukum. Maksud saya beberapa hari yang lalu kami sudah menjadi suami istri secara sah di mata hukum," jelas Andrean. Tangan Angie mengepal tak bisa menahan rasa irinya. Sementara ekspresi Handoko lebih terlihat terkejut, ia tak bisa memalingkan matanya dari putri kandungnya sendiri. Namun apapun yang ia ingin katakan akhirnya hanya bisa tertahan ketika Ayah Abellard dan Bunda Anita datang.


Handoko menatap Bunda Anita kemudian mengangguk-angguk. Ia ingat wanita itu adalah sahabat istrinya ketika kuliah dulu. Ia tak menyangka jika istrinya masih berhubungan erat dengan wanita itu hingga Firli bisa jatuh ke tangannya. Handoko menyesal karena sudah salah perhitungan hingga hanya mencurigai keluarga istrinya yang masih tersisa hingga selama enam tahun lamanya, ia tak bisa menemukan putrinya.


Magdalena berdiri memberi hormat pada pasangan bangsawan itu. Ia sangat merasa terhormat bisa melihat dua orang yang sangat dihormati oleh kalangan atas terutama pemilik bisnis karena keluarga Freiz adalah investor besar. "Silahkan duduk!" izin Ayah Abellard.


Ayah Abellard tersenyum. "Ini istri saya 'Anita', putra kami 'Andrean' dan menantu kami tercinta 'Firlita'. Tak perlu sungkan. Nikmatilah hidangan yang kami suguhkan," balas Ayah Abellard. Tak lama beberapa pelayan datang membawa air putih dan makanan pembuka. Magdalena tak bisa menahan kekagumannya karena yang disajikan adalah hidangan mewah kelas hotel bintang lima.


"Kami selalu mengundang koki restoran untuk memasak hidangan. Andrean dan Firli sangat pemilih sekali tentang makanan," ucap Bunda Anita.


Andrean menatap ibunya kemudian melirik ke arah Angie dan keluarganya sambil tersenyum sinis. Laki-laki ini sangat pintar membaca kepribadian orang. Bagian yang paling ia tidak suka adalah bagaimana ia melihat tatapan kesal mertuanya kepada Firli. Andrean tahu benar tujuan laki-laki itu mencari istrinya, ia sengaja ingin melihat usaha Handoko untuk merebut Firli dari tangannya.


"Tentang masalah putri anda dan istri saya, saya akan menganggap hal itu tidak terjadi. Namun jika sampai terjadi lagi, saya tak bisa jamin ke depannya akan baik-baik saja," ancam Andrean halus hingga membuat Angie dan keluarganya yang sedang menyantap hidangan pembuka kaget.


"Andrean, jaga sikapmu! Mereka tamu kita," nasehat Ayah Abellard.


Andrean tak memperlihatkan wajah menyesal. Ia justru memegang tangan Firli sambil menatap Ayahnya. Firli sendiri kaget hingga melihat suaminya dengan wajah penuh tanya.  "Firli itu istri saya. Dia milik saya dan saya tidak suka ada yang menyakitinya. Karena dia keluarga saya," Andrean memberi tekanan pada kata keluarga yang membuat Handoko dan Angie hampir tersedak air putih yang mereka sedang minum sementara Bunda Anita dan Ayah Abellard hanya menggelengkan kepala melihat perilaku putranya.


Tentu, menjaga istrinya adalah kewajiban seorang suami. Andrean sudah terlalu banyak kaget melihat foto tangan Firli yang memar akibat dirundung oleh Angie. Andrean bahkan sampai meminta sekretaris pribadinya memeriksa latar belakang anak itu.


Firli menatap suaminya. Tangan Andrean bergetar menahan amarah. Melihat itu Firli memegang tangan Andrean hingga tangan yang awaknya terasa dingin itu kembali hangat. Ia tak ingin melihat Andrean emosi hanya karena dirinya. Melihat itu sungguh membuatnya sangat terluka.


"Aku baik-baik saja, Monsieur," ucap Firli sambil menepuk tangan Andrean dengan tangan yang satunya lagi. Andrean mengangguk. Ia mulai mengatur napasnya hingga emosinya mulai turun.