
"Wah, dede bayi sudah besar," ucap Firli sambil mengusap perut besar Ghea. Si ibu langsung tersenyum melihat teman-temannya hadir dalam acara tujuh bulanan malam ini.
Ghea sudah siap dengan tubuh yang dibalut kain batik dan bolero dari bunga melati. Rambutnya juga dihiasi bando dari sulaman bunga putih itu. "Wih, sekarang sudah ibu-ibu gak bisa lagi manjat pagar," ledek Elsa.
"Bagaimana tadi wisudanya? Pasti ramai ya? Ingin ikut tapi malu. Sekarang dedek gak bisa disembunyikan lagi," keluh Ghea.
Elsa menoyor jidat gadis itu. "Makanya kamu itu, apa hubungannya putus cinta sama bikin anak coba?" Elsa melipat tangan di depan dada.
Firli mengangguk-angguk. "Tanyakan saja pada yang sudah nikah. Stress langsung hilang, ya?" tanya Ghea pada Firli. Jelas Firli langsung manyun.
"Yang sudah nikah siapa yang melarang," protes Firli. Ia menepuk punggung Ghea lumayan keras.
Akhirnya prosesi tujuh bulanan Ghea digelar. Firli dan teman-teman cukup senang karena hubungan keluarga Ghea dan Putra mulai menghangat. Firli juga iri dengan perhatian Putra pada Ghea. Saat Ghea kedinginan setelah acara siraman, Putra memeluk Ghea sambil melingkarkan handuk di tubuh istrinya. Putra juga menggendong Ghea dari halaman ke kamar untuk berganti pakaian menuju acara selanjutnya.
"Andrean mau makan?" tawar Firli ketika semua tamu mulai dipersilakan untuk menikmati hidangan. Andrean mengangguk. "Firli ambilkan, ya? Sekalian disuapin."
Firli rajin membawa piring dan mengisi hidangan dua porsi dalam piring yang sama. "Rean bisa makan sendiri," keluh Andrean.
Firli menggeleng. Ia bersikeras ingin menyuapi suaminya. "Firli nangis lagi kalau Rean gak mau!" ancam Firli membuat Andrean mengangguk saja.
Mereka duduk di barisan kursi paling belakang bersama sahabat yang lain. Sikap Firli yang keukeuh menyuapi suaminya membuat teman-teman lain menjadikan Andrean bahan ledekan.
"Sudah gede, An. Jangan disuapi mulu." Gama menepuk-nepuk punggung Andrean.
Semakin hari sahabatnya itu semakin tidak sopan saja. "Berani ucapkan lagi, besok jangan salahkan uang Ayahku melayang dari perusahaan Papamu," ancam Andrean membuat Gama langsung diam.
"Ngeri sekali ancaman kamu itu adik ipar," protes Briana. Andrean tidak menimpali. Bertengkar dengan Briana akan membuat keadaan semakin rumit saja.
"Aaa ... lagi," titah Firli. Andrean membuka mulut untuk menerima suapan dari istrinya.
"Kalau begini terus, Rean bisa semelar kamu, Fir!" protes Andrean.
"Biarlah, kalau kamu gendut si Helen rubah itu akan mundur." Firli mengepalkan tangannya ke udara tanda bersemangat sementara Andrean menepuk jidat.
Melihat sikap mereka membuat Rai tersenyum. Ia sedikit iri melihat teman-temannya begitu romantis dengan pasangan masing-masing. Sementara itu hubungannya dengan Gladis semakin tidak menentu. Ia ingin kembali tapi hati berat memaafkan.
"Kalau mau disuapi juga, minta mamamu sana," ledek Briana pada Rai ketika tanpa sengaja menangkap pria itu memperhatikan Firli dan Andrean.
Rai menggaruk kepalanya dan menunduk malu. "Sesama jomlo jangan saling melukai," komentar Rai.
"Sesama jomlo lebih baik kita bersatu," celetuk Gama kontan mengundang tawa diantara mereka.
Sementara iti Ghea duduk di kursi pelaminan dengan Putra. Satu persatu tamu yang hadir memasukan beberapa lembar uang pada kain batik yang ia simpan dalam pangkuan.
"Padahal aku ngantuk," keluh Ghea. Putra mengusap rambutnya.
"Sabar, hanya hari ini saja," Putra mencoba menyemangatinya.
"Lha, nanti si bayi lahir kamu malah semakin gak bisa tidur. Belum dia nangis ingin susu, belum ngompol. Apalagi kalau nangisnya sudah tidak jelas ingin apa," Mama Ghea malah sengaja menakuti putrinya. Ghea bergidik. Ia usap perutnya.
***
"Itu tidak perlu kamu bawa, kan?" Andrean mengambil paksa boneka beruang kesayangan Firli. Koper Firli sudah penuh dan ia memaksa memasukan bonekanya.
"Firli gak bisa tidur kalau gak meluk itu," keluhnya.
Andrean mendengus. "Nanti aku bikin lelah sampai tidur, mau?" ancamnya. Jelas Firli menggeleng.
Mereka akan tinggal satu bulan di Jakarta sebelum berangkat ke Manchester. Firli sangat tidak sabaran, ia ingin cepat-cepat merasakan timggal di negara itu. Ia membayangkan rumah sendiri dimana setiap hari ia dan Andrean hanya akan berdua.
"Jam berapa Pak Bram antar kita ke Jakarta?" tanya Firli. Ia harus bersiap-siap ganti pakaian karena masih mengenakan piyama.
"Sebentar lagi, makanya cepat mandi," nasehat Andrean.
Firli mengangguk. Ia lekas masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Selesai berpakaian, Firlu sudah menemukan kopernya tidak ada di kamar. Senyum terkembang di wajah Firli. Ia memutar melihat setiap sudut kamar yang ia tempati sejak berusia 11 tahun. Kini Firlu sudah 18 tahun. Tidak terasa sudah semakin dewasa.
Ia akan berkunjung beberapa jam ke rumah Bapaknya dulu untuk berpamitan. "Dah kamar, dah balkon, dah jam berisik, dah semua barang-barang. Sampai bertemu empat tahun lagi," ucap Firli.
Ia berjalan keluar kamarnya. Tiba di tangga ia melihat wajah sedih pelayan yang selama ini melayaninya sebagai Lady di rumah ini.
"Aku pergi, ya?" pamit Firli. Andrean sudah menunggu di depan pintu bersama Pak Bram, Abellard juga Anita.
"Cepat donk istriku! Lama sekali!" keluh Andrean.
Firli menepuk kuat punggung Andrean ketika berada dekat suaminya. Sempat Andrean memekik kesakitan.
"Kalian hati-hati, ya? Jangan bertengkar!" nasehat Anita. Firli mengangguk. Ia peluk mertuanya secara bergiliran.
Pak Bram naik ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil. Melihat itu napas Abellard semakin berat. Rasanya kali ini jauh lebih menyakitkan dibanding saat melepas Andrean ke London dulu.
"Bahkan kali yang pergi bukan hanya putraku, juga putriku," keluh Abellard. Andrean merasakan sesak yang sama. Ia terlanjur terbiasa hidup dengan orangtuanya lagi dan kini ia harus pergi.
"Jaga Lady baik-baik. Jadilah suami yang bertanggung jawab. Jangan langsung marah setiap ada masalah," nasehat Abellard pada putranya. "Firli juga, layani suami dengan baik. Ingatkan ia jika berbuat salah. Sabarlah menghadapinya." Kali ini giliran Firli yang dinasehati.
Kedua remaja itu mengangguk. Andrean sudah bersiap naik ke atas mobil. Firli juga menyusul suaminya hingga di depan pintu ia merasa sesuatu menganggu pencernaannya.
"Aku mual!" keluh Firli sambil memegangi perut lalu berlari ke toilet di lantai dasar. Andrean kembali turun dari mobil, ia melihat istrinya dengan tatapan heran.
"Firli sakit lagi?" tanya Anita bingung. Andrean hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Ketiganya masih menunggu Firli di depan teras. Seorang pelayan berlari ke teras dengan wajah panik. "Monsieur Andrean, Lady pingsan di kamar mandi," ungkap pelayan itu.
Kontan baik Andrean, Abellard dan Anita berlari ke tempat yang dimaksud pelayan tadi. Andrean kaget melihat Firli sudah pingsan dengan tubuh tergeletak di atas lantai dekat wastafel. Ia angkat tubuh Firli dan dibawanya ke kamar untuk direbahkan.
"Ayah sudah panggil dokter. Sebaiknya suruh Pak Bram menunggu dulu," saran Abellard. Andrean sama sekali tidak peduli dengan rencana hari ini. Melihat wajah istrinya sangat pucat dan keringat dingin bercucuran membuat pikirannya kacau. Ia harap tidak ada sesuatu yang buruk menimpa istrinya.