Highschool Wife

Highschool Wife
Menunggu



Melahirkan di usia muda dengan dua bayi di dalam rahim bukan hal yang mudah. Di balik rasa bahagia terselip ke khawatiran, takut ada masalah selama proses kelahiran baik itu karena ibu atau juga keadaan bayinya.


Dalam benak terbayang bagaimana kelamnya hari itu ketika Firli mengeluh perutnya yang tiba-tiba terasa sakit. Seharusnya hari kelahiran masih satu minggu lagi. Syukur Andrean selalu ingat kata dokter, bisa jadi lebih maju daripada prediksi dokter.


Andrean khawatir, sangat hingga jantungnya tanpa berhenti berdebar. Ia ingin menangis jika saja teman-temannya tidak ada di sana. Jadi Firli mendadak kontraksi saat mereka tengah makan bersama merayakan acara lamaran Gama yang sukses meski harus bergelut pelik selama hampir satu bulan dengan ayahnya.


Wajah Andrean memucat dan tubuhnya gemetar. Semuanya terasa sangat sedih baginya. Setidaknya sampai ia menemani Firli di samping meja persalinan. Kesedihan, kekhawatiran, gundah gulana semua hilang. Bagian yang tersisa hanya rasa sakit karena menjadi bulan-bulanan istrinya. Dicubit, dijambak, dipukul sampai dikatai. Tahu begini, ia lebih baik menunggu di luar saja.


"Ini karena kamu! Aku sudah bilang pakai pelindung! Jadi aku hamil! Sakit tahu!" bentak Firli sambil menarik-narik kerah Andrean. Dokter yang menolong juga tidak bisa berbuat banyak. Boro-boro menolong Andrean, mereka sendiri sedang sibuk menangani Firli.


"Santai kenapa sih, Fir! Rean sakit!" keluh Andrean.


Firli sesekali menarik napas dan mendorong dengan tenaga yang ia punya. Namun ketika merasa sakit, ia kembali menjadikan suaminya bulan-bulanan.


"Mana yang lebih sakit? Kalau mau coba sini lahirin anak sendiri!" bentak Firli lagi.


Di luar, Abellrad dan Anita akhirnya tiba setelah menghadiri acara di Jakarta. Mereka nampak khawatir dengan keadaan Firli padahal anak mereka yang sedang dalam bahaya.


Tiga jam lamanya berjuang, akhirnya terdengar suara tangisan. Si tampan lebih dulu lahir. Sepertinya Firli akhirnya tahu siapa tersangka perutnya yang sering merasa sakit


Persis ketika bayi laki-lakinya lahir, kaki kecil itu begitu aktif menendang sambil menangis.


Baru juga Firli menarik napas lega, ia merasa kontraksi lagi. Ia lupa jika di dalam perut masih tersisa satu lagi. Namun yang kali ini lebih tenang. Rasa sakitnya tidak terlalu sesakit pertama. Tidak tahu mungkin karena jalan keluar yang sudah lebar atau memang si bayi yang terlalu kalem.


Tangisan bayi kedua juga tidak terlalu kencang seperti bayi pertama. "Gados cantikku sudah lahir?" tanya Firli. Dokter terdiam. Bingung bagaimana mengatakan pada ibu muda itu.


"Keduanya ternyata laki-laki, Lady." Mendengar itu Andrean rasanya geli ingin tertawa sementara Firli mematung membayangkan semua impian mendandani bayi perempuan dengan baju-baju cantik sirna.


Meski tenaganya hampir habis, Firli masih bisa menyimpan dendam kemudian kembali memukul Andrean. "Aw! Sekarang apalagi?"


"Kenapa laki-laki semua sih kamu bikinnya?" protes Firli.


"Kita bikin berdua, kenapa aku saja yang salah?"


Pertengkaran singkat mereka membuat perawat dan dokter tertawa. "Ibunya jangan marah dulu. Yuk, disusui dulu bayinya." Dokter membiarkan kedua bayi kembar itu menelungkup di atas dada ibunya. Secara alami mereka mencari sendiri air susu ibunya.


Hampir setiap garis wajah kedua bayinya mirip dengan Andrean. Hanya salah satu bayi memiliki alis yang sama dengan Firli. Warna rambut dan mata juga mirip dengan Andrean.


"Rasanya seperti mimpi," ucap Firli. Air matanya mengalir. Ia sama sekali tidak menyangka telah menjadi seorang ibu. Andrean mengusap kepala mungil satu per satu bayinya. Ada gejolak perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.


"Hai, akhirnya Papa lihat kalian." Jari telunjuk Andrean dengan lembut menyentuh pipi bayinya.


Kedua bayi itu seperti tahu siapa pria yang menyentuh mereka. Tangannya mencoba meraih jari Andrean bahkan sampai berebut. Bayi pertama lebih perkasa hingga adiknya memilih mengalah. Melihat itu rasanya Andrean ingat kakaknya. Rean mengkat telunjuk satunya lagi dan membiarkan si adik menggegamnya. "Jangan rebutan, ya."


***


"Rean juga bingung. Padahal kemarin di USG katanya satu perempuan."


"Biasa itu, Kak. Dulu juga kamu juga begitu. Mungkin karena sembunyi jadi kurang terlihat jenis kelaminnya." Rasanya ia jadi ingat waktu ia melahirkan Andrean dulu, antara khawatir dengan keadaan bayi dalam kandungan juga keadaan Revan yang masuk rumah sakit lagi. Ah, masa lalu itu sudah ia lewati. Kini saatnya ia bahagia menyambut keturunan baru keluarga Freiz.


"Nama bayinya sudah kepikiran diganti?" tanya Abellard. Andrean menggeleng. Firli diminta istirahat dulu karena banyak mengeluarkan energi juga darah. Kedua bayi juga berada di ruang bayi untuk dipantau keadaanya dan dipastikan sehat.


Anita lega mendengar berat badan dan tinggi kedua bayi itu normal. Ia sempat takut karena Firli terlalu muda. Belum lagi Firli sempat mengalami stress.


Abellard menelpon Mrs. Charlotte dan meminta agar ruangan bayi ditata hanya untuk dua bayi laki-laki.


"Selama, Bro! Akhirnya nyusul jadi bapak-bapak!" ucap Gama. Keduanya saling tos.


"Siap-siap saja bergadang setiap malam," timpal Ghea. Ibu muda itu merasakan bagaimana tiga bulan pertama begitu sibuk karena mendengar suara tangis bayi hingga tidak bisa istirahat cukup.


"Makanya, kamu harus batun Firli jangan main game terus!" nasehat Anita sambil mengusap rambut putranya.


Jujur, Andrean masih merasa ini seperti mimpi. Ia jadi seorang ayah dari dua bayi jagoan.


"Ini kenapa?" Gama tanpa sengaja melihat memar di lengan Andrean.


Sambil memutar bola matanya, Andrean mendengus. "Kamu pikir siapa yang jadi korban di ruangan itu? Hampir setiap kontraksi pasti aku yang kena pukul."


Gama tertawa begitu juga Abellard, Anita dan semua orang yang menunggu di ruang tamu lantai VVIP. "Anggap saja itu balasan karena gangguin istri kamu tiap malam," ledek Gama.


Kali ini ia mendapat cubitan di perut dari Andrean. "Lagian Firli jauh lebih sakit pas lahirin anak kamu. Mana dua."


"Iya tahu, makanya gak protes."


Gama mengangkat sebelah alisnya. "Tadi protes, loh!"


"Itu karena kamu yang tanya!" Andrean menoyor jidat Gama. Jelas Gama membalas perbuatan itu.


"Aku mau ketemu Firli. Dia baik, kan?" tanya Elsa khawatir.


Andrean mengangguk. "Baik, kok. Hanya lelah saja jadi harus istirahat. Dokter bilang ada baiknya jangan diganggu dulu. Makanya aku ke sini."


Elsa mengangguk. Setidaknya mereka mulai lega. "Gak ada yang mau lihat bayiku?" tawar Andrean.


Semua orang di sana mengangguk. "Nanti saja kalau di rumah. Sekarang gak boleh dulu banyak orang datang," celetuk Andrean.


"PHP ini bapak!" protes Gama. Andrean tertawa.