
"Rai, peka, donk!" ucap manja Briana. Mata Rai melirik ke samping untuk menangkap ekspresi wajah kekasih yang baru ia pacari satu bulan lamanya. Setalah itu, Rai tidak melakukan apa-apa. Ia tetap berjalan lurus hanya lebih pelan agar seimbang dengan Briana.
Sementara itu, Briana yang tidak sabaran terus menempel pada Rai hingga pria itu terpaksa bergeser lagi dan lagi. Sementara si pria semakin bingung, si wanita terus mepet seperti motor.
"Kenapa, Bri?" tanya Rai.
Briana menggembungkan pipinya. Bola mata coklatnya bergerak ke kiri dan ke kanan. "Kalau nih ya, aku jatuh atau kesandung. Apa kamu gak khawatir? Atau tiba-tiba ada yang menculik?" pancing Briana. Seperti biasa, diantara mereka berdua, memang si perempuan yang paling agresif.
Rai masih mengangkat sebelah alisnya. Ia mencoba menelaah. Memang benar kata orang, sepintarnya otak seorang pria belum tentu bisa mendalami pikiran wanita.
"Bri, aku nyerah lagi, lah!" keluh Rai.
Lagi-lagi Briana memaklumi. "Untungnya ya, pacar kamu ini kulitnya tebal, jadi gak malu kalau mepet duluan. Coba kalau pemalu, gak tahu kamu mau pacaran kayak gimana," komentar Briana.
Rai nyengir kuda. Tangan Briana mengulur. "Tuntun, kek!" pintanya. Rai menurut saja. Ia raih tangan Briana dan mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.
Pemandangan manis itu tidak selamanya di sukai orang. Di belakang mereka ada seorang wanita yang menatap dengan iri. Ia berjalan lebih cepat untuk menyusul pasangan itu.
"Memang, ya. Pasangan pengkhianat sama pelakor itu cocok," komentar wanita itu.
Briana yang mencium bau-bau kedengkian kontan berbalik. Ia menemukan sosok Gladis di belakangnya. Hendak melawan, Rai langsung memberi isyarat agar Briana lebih sabar.
"Aku gak nyangka, ya. Pacaran sama dia kamu lebih mirip kayak babunya," komentar Gladis lagi.
Briana mengangkat kedua alisnya. Sementara Rai masih mengantur napasnya. Gladis berkacak pinggang. Ia sungguh tidak terima karena posisinya sebagai calon menantu keluarga Abyapta begitu saja digulingkan perempuan lain, yanga datang tidak tahu dari mana.
"Bahkan dari tadi, pacar kamu ini kayak p*l*cur. Maksa minta nempel-nempel," komentar Gladis lagi.
Briana berpikir alangkah baiknya mereka pergi dan mengalah. Namun siapa sangka, pria yang di sampingnya ternyata bisa marah juga.
"Kita rangkum dulu apa maksudnya p*l*cur. Hanya karena dia minta dituntun? Hanya karena dia minta diperhatikan? Apa kabar dengan wanita yang minta dibelikan ini dan itu, minta dibawakan ini dan itu juga menempel pada pria lain yang notabene suami orang," sindir Rai sinis.
Gladis tak mampu berkata-kata, sama kagetnya dengan Briana. Baru pertama kali ini dia mendengar Rai begitu ceplas-ceplos.
"Maksud kamu apa?" Gladis berkilah.
Rai tertawa. "Tanyain saja sama diri kamu sendiri. Apa semua orang perlu tahu gimana caranya kita putus?" ancam Rai.
Gladis mendengus. "Satu lagi, dia dan aku pacaran jauh setelah kita putus. Dari mana dia bisa jadi pelakor?" tekan Rai.
Mereka meninggalkan Gladis dengan senyum kemenangan. Sementara yang ditinggalkan masih bingung bagaimana melakukan perlawanan selanjutnya.
"Wow, aku pikir kamu selamanya baik sama dia," puji Briana.
Rai tersenyum malu. "Itu dulu. Alasannya juga karena kasian. Hanya dari sikapnya yang tadi, benar-benar gak bisa dikasihani," jawab Rai.
Briana mengangguk. "Akhirnya kamu dewasa juga." Briana mengusap kepala Rai dengan gemas.
***
Firli berbaring di meja pemeriksaan. Bagian paling menyenangkan adalah melihat langsung di layar usg bagaimana kedua bayinya bergerak. Terdengar suara tawa Andrean.
"Mereka setiap hari begitu?" Andrean begitu antusias melihat bagaimana kedua bayinya berusaha mengisap jempol. Dokter mengangguk.
"Tapi ibunya masih muda dan harus mengandung bayi kembar. Tidak boleh stress juga tidak boleh terlalu kecapean. Makan yang sehat," saran dokter.
Andrean mengangguk. "Makanya saya pulang dan gak tega pergi lagi. Takut kenapa-napa," timpalnya.
Firli mendengus. "Yang takut kenapa-napa itu anak sama istri kamu apa hati kamu yang terancam sama kecantikan wanita seberang?"
Pagi ini Firli masih kesal. Bagaimana tidak, semalam ia ditelpon teman-temannya dari Inggris. Dengan jelas Firli dengar bagaimana mereka menggoda Andrean dengan mengatakan, "Tania sudah balik dari Harvard, loh! Apa gak kangen?"
Ingin rasanya saat itu Firli memaki mereka semua jika saja salah satu atau bahkan kedua bayinya tidak main tendang. Akhirnya Firli hanya bisa nyeringis kesakitan dan membiarkan Andrean berbicara dengan mereka di balkon.
"Apa sih, Mah. Tadi kata dokter kan gak boleh stress. Kalau mikirin yang gak-gak malah makin emosi," nasehat Andrean.
Firli sama sekali tidak menggubrisnya. Ia lebih memilih berpaling tidak menatap wajah suaminya lagi.
Dokter yang melihat kontan tertawa. "Biasalah, namanya juga laki-laki. Apalagi suaminya ganteng. Pasti banyak yang naksir."
"Kalau banyak yang naksir gak apa-apa. Asal jangan ikut gatel saja," omel Firli. Andrean mati kutu mendengarnya.
Setelah pemeriksaan itu, Firli dan Andrean kembali pulang ke rumah. Di jalan wajah istrinya masih saja terlihat masam. Padahal mereka sudah mendapat kabar bahagia karena prediksi kelahiran anak-anak sudah keluar.
"Sudah, sekarang waktunya harus sabar dan ikhlas. Sebulan lagi loh anak kita mau lahir," Andrean mencoba menenangkan. Ia meraih bahu istrinya.
"Awas ya, kalau-kalau kamu diam-diam nelpon teman-teman kamu lagi."
Andrean mengangguk. Di satu sisi ia harus menjaga hati istrinya di satu sisi ia merasa gak enak dengan teman-temannya. Sudahlah, sekarang Firli prioritas utama.
Andrean menepikan mobilnya. Firli bingung karena tiba-tiba suaminya turun dan meninggalkannya di sana. "Mau kemana sih suamiku itu?" Kesal rasanya karena Andrean kalau apa-apa gak pernah meminta izin.
Lumayan lama Firli menunggu, hingga akhirnya Andrean datang membawa sebuah kantong kertas dan juga keresek putih.
"Apa itu?" tanya Firli heran.
Andrean tersenyum membuat lengkungan di bibir tipisnya. "Ini mochi ice cream. Kamu pasti ngemil malam lagi. Dulu waktu sekolah kamu beli ini setiap hari."
Mata Firli berbinar. Andrean masih ingat. "Terus itu?" Kali ini giliran kantong kertas yang Firli tunjuk.
"Bolu susu. Makanan yang kita makan pas kencan pertama karena terkena macet di Lembang," jawabnya.
Mendengar itu rasanya hati Firli luluh. "Dan kamu hanya bawa uang ratusan ribu?"
Kali ini tawa terdengar dari keduanya. Mobil kembali masuk ke jalur jalan. Firli menatap lurus ke depan lalu sesekali menatap suaminya.